Cintai Aku Walau Sejenak

Cintai Aku Walau Sejenak
Aku mencintaimu


__ADS_3

"Tidakkk…" teriak Gracia.


"Daddy," ucap David. 


Bocah kecil itu terpaku melihat daddy yang sangat disayanginya terbaring di tengah jalan tak sadarkan diri, ia menatap mommynya yang sedang memangku daddynya sambil menangis tersedu-sedu, bocah kecil itu menangis tanpa suara menyaksikan semuanya.


"Mas, bangun Mas! Mas Brian nggak boleh ninggalin aku dan David, Mas Brian harus bertahan. Mas Brian harus kuat! Aku mencintaimu Mas, sangat mencintaimu, aku mohon bangunlah Mas, bangun...!" tangis Gracia pecah melihat orang yang dicintainya terbaring tak berdaya.


Wanita itu menepuk-nepuk pipi Brian berharap orang yang dicintainya itu sadar. Namun, hasilnya masih tetap sama, Brian tak kunjung membuka mata.


"A-ku ju-ga sa-ngat men-cin-tai-mu!" ucap Brian terbata dan masih memejamkan matanya menahan sakit.


Deg


Anton yang mendengar ucapan Gracia dan Brian kini terpaku, ia sudah mendengar dengan jelas bahwa perasaan wanita itu tidak ada yang berubah begitupun sebaliknya. Perasaan itu masih tetap sama, mereka saling mencintai dan dirinya hanyalah orang ketiga di antara mereka. Jujur ia sangat kecewa mendengar ucapan keduanya. Namun, ia mengerti karena ia sendiri yang memaksakan kehendaknya untuk memiliki wanita itu, meskipun ia tau bahwa cinta itu sulit untuk berpaling.


"Dokter, kenapa Dokter diam saja? Cepat bantu Mas Brian! Jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya!" ucap Gracia.


Ucapan Gracia membuyarkan lamunan pria itu, ia bergegas kembali ke mobilnya dan menyuruh masyarakat sekitar untuk segera membawa Brian ke dalam mobil tersebut.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


Sesampainya di rumah sakit Gracia masih syok dengan apa yang terjadi. Ia menangisi Brain tanpa perduli pada orang di sekitarnya.


"Sayang, gimana keadaan Brian?" tanya Silvia. Wanita paruh baya itu baru sampai, ia dihubungi oleh Gracia. Sebagai seorang ibu tentunya Silvia sangat cemas mendengar putranya kecelakaan. Ia datang bersama dengan suaminya Aaron. Aaron menatap Gracia tidak suka.


"Mas Brian...," ucapan Gracia terpotong, ia menangis tersedu-sedu di kursi tunggu ruang operasi.


"Cia, Brian kenapa?" tanya Silvia lagi, saat melihat menantunya itu hanya menangis.


"Mas Brian lagi di ruang operasi Mom, Mas Brian luka parah, semua ini karena Gracia," ucap Gracia sambil menangis sesenggukan dI luar ruangan operasi. Wanita itu menyalahkan dirinya sendiri.


Silvia ikut menangis saat mendengar ucapan Gracia, ia tidak tahu harus mengucapkan kata apa? Tetapi wanita itu juga tidak menyalahkan Gracia atas kejadian yang menimpa putaranya.


"Mommy," ucap David. Bocah itu duduk di sebelahnya Gracia. Namun, ia seakan di lupakan saat mengingat keadaan Brian. Gracia menoleh menatap David. Lalu wanita itu memeluk putranya erat.


"Apakah David akan kehilangan daddy lagi Mom?" tanya bocah itu dengan air mata yang terus mengalir dari kedua pelupuk matanya.


Deg.

__ADS_1


Gracia terkejut mendengar ucapan David. Selain karena Brian ayahnya David. Ia juga tidak bisa memungkiri bahwa ia masih sangat mencintai pria itu.


"David jangan bilang gitu sayang! Daddy nggak akan pernah meninggalkan kita, daddy menyayangi David, pasti daddy akan berjuang demi David." ucap Gracia sambil menghapus air mata putranya itu. Sedangkan Silvia terus menangis menyandarkan kepalanya pada Aaron.


Setelah beberapa saat, kini ruangan operasi terbuka dan Anton pun keluar dari ruangan tersebut.


"Bagaimana keadaan Mas Brian Dok?"


"Bagaimana keadaan anak saya Dok?"


Silvia dan Gracia menanyakan keadaan Brian bersamaan.


"Operasinya berjalan lancar. Namun, ia koma. Tipis kemungkinannya untuk bertahan!" ucap Anton.


Anton menundukkan kepalanya, ia melangkah meninggalkan Gracia dan Silvia. Ia begitu sedih melihat keadaan Brian yang sangat menghawatirkan karena walau bagaimana pun, Brian adalah sahabatnya. Sahabat yang sangat disayanginya, tetapi Cinta menghancurkan segalanya.


Anton berjalan menuju ruangannya, setelah sampai di sana, ia duduk di kursinya dengan wajah yang penuh dengan kesedihan.


"Maafkan aku Bri, selama ini aku egois, demi mendapatkan cintanya, aku sampai menyakitimu bertahun-tahun, aku sengaja menutupi keberadaan Gracia agar aku bisa mendapatkannya. Namun, ternyata aku salah. Sekuat apapun aku untuk memisahkan kalian, aku tidak akan pernah bisa karena cinta kalian terlalu kuat," batin Anton


...❤️❤️❤️❤️❤️...


Di sebuah apartemen seseorang masih berdebat dengan sepupunya.


"Aku sudah memberi tahunya, jadi dia nggak mungkin mencariku karena dia juga lagi keluar," ucap pria itu santai. Orang tersebut tiduran di sofa sambil terus menggoda adik sepupunya itu.


"Din, kamu yakin akan kembali ke Paris?" tanyanya pada Dinda. Ada perasaan sedih di hati orang itu karena ia sangat tahu bahwa Dokter sesat itu selalu menolaknya berkali-kali.


"Memangnya kenapa?" tanya Dinda. Gadis itu mengerutkan sebelah alisnya.


"Jangan jawab pertanyaan dengan Pertanyaan," ucap Pria tersebut santay.


"Kenapa sih? Kamu mau nitipin apa untuk Maudy?" tanya Dinda. Gadis itu menaik turunkan alisnya menggoda sepupunya itu.


"Maudy? Aku bukan kamu kali Din, yang nggak bisa move on dari jaman purba. Pria itu bales mengejek Dinda.


"Din kamu beneran 'kan kembali ke Paris?" tanyanya lagi.


"Kenapa sih? Udah nggak usah berbelit-belit, katakan apa yang kau inginkan!" tanya Dinda.

__ADS_1


"Enggak ada apa-apa, cuma nanya aja!" ucap pria itu santai.


"Ryan...! Dari dulu sampai sekarang kau tetap menyebalkan." Dinda melempar bantal yang ada di ruang tamu itu pada sepupunya tersebut.


Ryan langsung menangkap bantal yang dilemparkan Dinda, sebelum wajahnya menjadi korban. Pria itu tersenyum melihat tingkah Dinda.


"Menyebalkan!" gerutu Dinda.


"Kau ditolak lagi sama Dokter sesat itu?" tanya Ryan mengejek.


"Apa sih, kepo banget jadi orang!" ucap Dinda. Ia mengalihkan tatapannya dari Ryan.


"Bukan kepo, tapi aku 'kan kasian sama kamu, ngejar dia tetapi kau sama sekali tidak dihargai," ucap Ryan.


"Aku nggak perlu dikasihani." Dinda beranjak, lalu melangkah meninggalkan Ryan di ruang tamu. Gadis itu sangat kesal mendengar ucapan Ryan, meskipun itu adalah sebuah kenyataan.


"Din, kau mau kemana?" tanya Ryan yang melihat langkah Dinda semakin menjauh.


"Mau buat minuman untukmu!" teriak Dinda.


......❤️❤️❤️❤️❤️......


Sedangkan di rumah sakit, Gracia dengan wajah sendunya menatap Ryan dari balik kaca, ia menatap Brian yang terbaring koma di ruang ICU. Gracia sudah tidak mengeluarkan air mata lagi, tatapannya kosong.


"Salju, ikutlah ke ruanganku sekarang!" ucap Anton setelah memeriksa keadaan Brian.


"Baik, Dok!" ucap Gracia. Wanita itu mengikuti langkah tunangannya itu dengan perasaan tak menentu.


Sesampainya di ruangan Anton, pria itu duduk di kursi kebesarannya dengan Gracia yang duduk di seberangnya.


"Salju, maafkan aku!" ucap Anton. Pria itu melepas cincin dari jari manisnya lalu menyerahkan cincin tersebut pada Gracia.


Deg.


Gracia terkejut, karena tiba-tiba saja Dokter sesat itu melepaskan cincinnya. Wanita itu memutar ingatannya mencari kesalahan apa yang sudah diperbuatnya.


"Maafkan aku Dok! Aku tau Dokter Anton melakukan ini karena punya alasan yang cukup kuat. Aku yakin, kesalahan itu datangnya dari diriku sendiri," ucap Gracia.


"Kau tidak perlu merasa bersalah, ini semua memang salahku yang memaksamu untuk mencintaiku, walaupun aku sadar bahwa sampai kapanpun kau tidak akan mencintaiku karena cintamu pada Brian terlalu dalam." Anton menatap Gracia dengan senyum kaku. Sedangkan yang ditatap menundukkan kepalanya karena merasa bersalah.

__ADS_1


...^^^💋💋💋💋💋^^^...


...TBC...


__ADS_2