Cintai Aku Walau Sejenak

Cintai Aku Walau Sejenak
Adin bangun! S2


__ADS_3

"Mas..." Dinda lari ke arah suaminya, lalu memeluknya erat.


"Aku takut," ucap Dinda.


"Tenang saja! Aku di sini untukmu," ucap Pria itu.


"Jangan tinggalkan aku lagi! Aku sangat takut," ucap Dinda.


"Aku janji tidak akan meninggalkanmu lagi,"


Tanpa Di sadari oleh semua orang kini Alex bangkit dan langsung lari ke arah Anton dan Dinda yang sedang berpelukan.


Dinda yang melihat Alex lari ke arahnya sambil memegang pisau dan tertuju pada punggung Anton, ia langsung memutar tubuh suaminya hingga ia pun yang terkena tusukan itu.


Anton terkejut, saat melihat Dinda yang tertusuk dari belakang. Sedangkan Dinda tersenyum sambil menahan sakitnya.


"I Love you, Mas Anton."


"Tidakkk..." teriak Anton.


Dinda memejamkan matanya setelah mengucapkan kata itu, wanita itu ambruk dalam pelukan Anton.


Sementara Alex sangat terkejut setelah melihat siapa yang ia tusuk, pria itu terpaku melihat orang yang dicintai kini terluka karena dirinya, dan ia pun pasrah saat polisi datang untuk menangkapnya juga ayahnya.


"Tidak...! Bangun Adin, bangun! Dengarkan aku, aku mencintaimu, sangat mencintaimu, ayo bangun dengarkan aku! Dengarkan Adin! Dengarkan!" teriak Anton dengan air mata yang menetes tanpa henti.


"Kau bilang padaku, kau ingin mendengarku mengucapkan kata 'I love you', ayo bangun! Aku akan mengucapkan ribuan kali untukmu, tapi aku mohon buka matamu! Buka Adin, Buka!" Anton syok melihat Dinda tak sadarkan diri.


"Apa yang kau lakukan? Cepat bawa istrimu ke rumah sakit, jangan buang-buang waktu lagi!" ucap George.


Anton yang menyadari tentang kondisi istrinya, ia langsung menggendong tubuh Dinda dan membawanya ke dalam mobil menuju rumah sakit.


Setelah sampai disana, ia langsung berteriak minta bantuan di rumah sakit itu, dan Dinda pun langsung ditangani oleh Dokter dan dibawanya ke ruang operasi.


Anton berjalan mondar mandir di depan ruang operasi. Lalu ia duduk di kursi tunggu sambil menutup mukanya dengan kedua telapak tangan. Ia memegang dadanya yang terasa sesak dan mengatur nafasnya yang begitu berat.


"Kenapa sesakit ini melihatmu terluka Din, padahal sebelumnya aku tidak pernah merasa takut kehilangan sampai seperti saat ini," gumam Anton.


Dokter membuka pintu ruang operasi setelah beberapa Saat kemudian, Anton pun menghampiri Dokter tersebut dengan penuh pertanyaan.


"Bagaimana dengan keadaan istri saya Dok?" tanya Anton khawatir.


"Alhamdulillah, operasinya berjalan dengan lancar, Tuan! Dan bisa dipindahkan ke ruang rawat," ucap Dokter tersebut seraya tersenyum.

__ADS_1


"Terima kasih Dok!" ucap Anton.


Kini Dinda dipindahkan dari ruang operasi menuju ruang VIP yang telah di pesan oleh Anton.


Pria itu mengikuti Brankar istrinya yang didorong oleh para perawat disana. Sesampainya di ruangan itu, Dinda dibaringkan di tempat tidur king size yang telah dipesan oleh Anton agar dirinya dapat beristirahat dengan nyaman di sebelah istrinya.


Setelah semuanya tertata sempurna, para perawat pun keluar dari ruangan itu meninggalkan Anton dan Dinda berdua.


Anton mendekati Dinda, lalu tidur di samping wanita itu, ada perasaan lega saat mengetahui bahwa Istri dan anaknya kini dalam keadaan baik-baik saja.


Anton menatap Dinda dari samping, ia merasa kesepian saat orang yang mewarnai hidupnya kini terbaring lemah dan tidak berdaya, hatinya pun terasa sakit saat melihat Dinda masih betah memejamkan matanya.


"Adin, cepat bangun! Apapun yang kau inginkan aku akan berusaha mengabulkannya, aku tidak akan mengecewakanmu lagi, maafin aku! Selama ini aku hanya bisa menyakitimu dengan penolakanku, aku baru menyadari bahwa aku hanya mencintaimu, sudah tidak ada masa lalu lagi dalam hatiku, karena hati ini hanya milikmu seutuhnya," bisik Anton di telinga Dinda.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


Keesokan harinya.


Anton mengerjapkan mata saat merasakan sebuah tangan yang membelai kepalanya lembut. Anton mendongak, pemandangan pertama yang ia lihat di pagi itu adalah senyum menyejukkan dari istrinya.


Anton berbinar saat melihat istrinya kini sadar kembali, dan ada kebahagiaan tersendiri yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Kau sudah sadar sayang?" tanya Anton tersenyum lembut.


Dinda terkejut dengan panggilan suaminya karena sebelumnya ia tidak pernah mendengar Anton memanggilnya seperti itu.


"A-aku..." Dinda bingung tidak tahu harus mengucapkan apa.


"Kamu kenapa hm? Apa lukamu terasa sakit?" tanya Anton mengerutkan kening.


Dinda menggeleng pelan, "ya sudah istirahatlah! Kau butuh banyak istirahat," ucap Anton.


"Bolehkah aku mendengar panggilanmu untukku tadi Mas?" ucap Dinda dengan tatapan sayunya.


"Yang mana?" tanya Anton sengaja menggoda istrinya.


"Ya sudah kalau lupa, aku tidur lagi!" ucap Dinda seraya memejamkan matanya.


"I Love you so much Dindaku sayang," Anton menatap istrinya dengan senyum lembut.


Dinda yang mendengar ucapan Anton, ia langsung membuka matanya.


"Apa aku sedang bermimpi ya?" gumam Dinda. Dinda memejamkan matanya kembali.

__ADS_1


"I Love you More Dindaku sayang," ucap Anton lagi.


Dinda membuka matanya kembali, lalu menoleh, menatap suaminya itu. Anton yang gemas dengan tingkah istrinya, ia langsung menarik hidung Dinda hingga wanita itu mengaduh.


"Auhhh...," seru Dinda.


"Bagaimana? Apakah kau sudah percaya bahwa ini nyata?" tanya Anton tersenyum lembut.


"Jadi Kanda beneran mengucapkan kata 'I love you' untukku?" tanya Dinda.


"Kanda?" Anton mengerutkan keningnya mendengar kata Kanda.


"Iya, Kanda 'kan bilangnya tadi 'I love you Dindaku sayang,' berarti kalau Mas Anton panggil aku Dinda, aku manggil Mas Anton Kanda aja, 'kan jadi panggilan yang sangat serasi dan romantis, dengan panggilan 'Kanda dan Dinda," ucap Dinda tersenyum konyol.


"Kau ada-ada saja, namamu 'kan memang Dinda," ucap Anton tersenyum melihat senyum konyol Istrinya.


"Kanda 'kan biasanya manggil aku Adin, kalau panggilan 'Dinda' dari Kanda 'kan beda?" ucap Dinda.


"Terserah kamu saja, sekarang cepat istirahat! Jangan banyak berpikir! Aku mau mandi dulu," ucap Anton seraya beranjak dari ranjang tersebut.


"Mau ku mandiin Kanda?" tanya Dinda menggoda suaminya.


"Jangan kebanyakan gaya, mandi sendiri saja belum tentu bisa," ucap Anton meninggalkan Dinda yang sedang tersenyum aneh.


"Ah... Kandaku manis sekali, apa benar ya Mas Anton mencintaku? Atau karena dia kasian melihatku terluka?"


"Tidak! Aku sedang bahagia, aku tidak mau menghapus kebahagiaan ini hanya dengan pikiran negatifku," gumam Dinda.


Wanita itu menatap suaminya yang sudah menghilang di balik pintu kamar mandi. Tidak pernah terbayangkan olehnya bahwa ia benar-benar mendapatkan hati pria yang selalu menjauhinya sejak ia kenal.


Bertahun-tahun ia mengejar cintanya. Penolakan demi penolakan yang ia dapatkan. Namun, tiada lelah ia mengejar cinta itu hingga pada akhirnya ia mendapatkan buah dari kesabaran itu sendiri. Dinda bahagia hingga ia tidak bisa mengungkapkan rasa bahagianya dengan sebuah ungkapan kata.


...💋💋💋💋💋...


...TBC...


Assalamualaikum Readersku sayang 🥰


Sebentar lagi TAMAT


Jangan lupa jejaknya Thank you


Dan makasih atas dukungan kalian selama ini ❤️

__ADS_1


__ADS_2