Cintai Aku Walau Sejenak

Cintai Aku Walau Sejenak
Bimbang


__ADS_3

"Kau sudah pulang Cia? Kemana Dokter Anton? Apakah dia nggak mampir lagi?" tanya Pradita.


"Oh, ya! Kemana David kenapa kau pulang duluan, bukankah kau kesana ingin menjemput dia?" Serentetan pertanyaan terus terlontar dari bibir wanita paruh baya itu.


"Aku capek Mom, aku mau ke kamar dulu!" ucap Gracia.


Gracia melewati Pradita yang sedang duduk di ruang keluarga tanpa menjawab pertanyaannya itu. Wanita itu sudah kelelahan karena menangis. Ia lebih memilih langsung ke kamarnya dari pada menceritakan masalahnya pada Pradita.


"Tuh anak kenapa lagi?" gumam Pradita. Wanita paruh baya itu heran melihat Gracia yang tampilannya acak-acakan dan ucapannya seakan tersirat kesedihan yang mendalam.


"Aku nggak tau dia kenapa? Tetapi apa yang membuatnya kayak gitu? Apakah Dokter Anton? Tapi nggak mungkin, selama ini dia selau bisa menjaga perasaan putriku." Pradita bergumam sendiri.


"Grandma...," teriak David. Teriakannya membuyarkan lamunan wanita paruh baya itu. Berbeda dengan Gracia, David terlihat sangat bahagia sepulang dari mall.


"Cucu grandma sudah pulang?" tanya Pradita. Wanita paruh baya itu merentangkan kedua tangannya, sedangkan David lari menghambur ke pelukan Pradita.


"Iya Grandma," ucap David.


"Oh iya! Tadi David ketemu sama mommy nggak di mall?" tanya Pradita.


"Iya Grandma, tapi cuma sebentar, karena daddy meminjam mommy. Daddy bilang mau minjam mommy sebentar tapi David tunggu ternyata lama, ya sudah David pulang sama bik Sumi aja." David tidak berhenti mengembangkan senyumnya.


"Grandma baru tau kalau cucu grandma manggil Dokter Anton dengan sebutan 'Daddy!" ucap Pradita.


"Bukan Om Anton Grandma, tapi daddy Brian," ucap David.


"Kamu ketemu sama daddymu sayang?" tanya Pradita.


"Iya Grandma, David udah dua kali ketemu daddy," ucap David jujur.


"Dua kali?" Pradita mengerutkan keningnya. Wanita paruh baya itu bingung karena setahunya Brian tidak mengetahui bahwa David adalah putranya.


"Iya grandma, pertama aku ketemu di bandara, dan yang kedua tadi kita ketemu di mall," ucap David polos.


"Apakah daddymu tau kalau kau putra kandungnya?" tanya Pradita.

__ADS_1


"Tadinya tidak Grandma. Kami ketemu juga karena tidak sengaja. Tapi mungkin sekarang sudah tau karena tadi daddy ketemu dengan mommy juga om Anton di mall," ucap bocah kecil itu.


"Terus?" tanya Pradita.


"Mommy di ajak pergi sama daddy! Kata daddy 'Daddy pinjam mommy sebentar, tapi mereka nggak balik-balik. David nggak tau daddy ajak mommy kemana." jawab David menggemaskan.


"Om Anton juga ikut?" tanya Pradita lagi.


"Nggak, Om Anton tidak ikut. Om Anton bilang mau ke rumah sakit," ucap David.


"Ya udah kalau gitu, David mau ke kamar dulu Grandma, David capek mau istirahat," ucap David.


"Mau grandma gendong?" tanya David.


"Nggak ah, David udah besar." Bocah kecil itu langsung lari menuju kamarnya. Sedangkan Pradita hanya tersenyum melihat tingkah cucunya itu.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


Tok tok tok


"Masuk!" ucap Gracia.


"Cia, kau kenapa sayang?" tanya Pradita lembut sambil membelai rambut putrinya itu.


"Enggak apa-apa Mom, Cia cuma sedikit nggak enak badan," ucap Gracia. Wanita itu menjawabnya dengan datar seakan tidak ada apa-apa. Namun, air matanya mengalir deras.


Pradita menghela nafas, ia tidak tau apa yang dibicarakan antara putri dan menantunya itu, hingga Gracia terlihat begitu kacau.


"Aku tau Nak, kamu sedih. Ceritalah pada mommy, siapa tau mommy bisa bantu mengurangi kesedihanmu itu." ucap Gracia.


Gracia balik badan, lalu tidur pada pangkuan mommynya, sekuat tenaga ia menahan tangisnya. Namun, pertahanan itu runtuh seketika, saat mommynya mencoba untuk menghibur.


"Mommy, apa yang harus Cia lakukan, Cia bingung ketika dihadapkan pada dua pilihan, aku masih mencintai Mas Brian. Namun, aku takut tersakiti kembali. Selain itu, aku berjanji pada Dokter Anton untuk membuka hatiku untuknya, aku kembali ke negara ini juga karena ingin melanjutkan hubunganku dengan dia ke jenjang yang lebih serius," ucap Gracia. Wanita itu tidak hentinya menangis, bahkan air matanya sampai membasahi gaun Pradita.


"Ikutilah kata hatimu Nak! Mommy nggak bisa ngasih saran. Kamu harus menerima Brian kembali, atau kau akan melanjutkan hubunganmu dengan Dokter Anton. Yang tau hanya dirimu sendiri Nak, karena kau yang akan menjalaninya."

__ADS_1


"Maka dari itu Mom, Cia bingung! Cia masih sangat mencintai Mas Brian tapi Cia tidak bisa menyakiti Dokter Anton, karena Cia terlalu banyak hutang budi padanya." Gracia masih menangis tersedu-sedu.


"Pikirkan baik-baik, selain kau memikirkan perasaanmu sendiri! Ada David di antara kalian. Jangan sampai dia ikutan terluka karena keputusanmu yang salah," ucap Pradita. Wanita paruh baya itu tersenyum untuk menenangkan hati putrinya.


"Cia tau Mom, jika Cia memberi kesempatan untuk Mas Brian, terus bagaimana dengan Dokter Anton, dia terlalu baik untuk disakiti. Selain itu, Cia juga nggak tau perasaan mas Brian pada Cia bagaimana? Cia takut terluka lagi Mon. Sudah cukup Cia sakit hati saat bersamanya."


"Iya, sekarang mas Brian berjanji untuk tidak menyakiti Cia lagi. Tetapi bagaimana jika mas Brian mengulanginya kembali?" ucap Gracia.


"Pikirkan baik baik Nak, ikuti kata hatimu. Berhentilah menangis jika kau sudah puas, karena itu tidak akan menyelesaikan masalah." Pradita tersenyum lembut. Gracia duduk, lalu menatap mommynya.


"Kalau menurut Mommy aku harus bagaimana?" ucap Gracia.


"Jika kau tidak bisa memutuskan sendiri, tanyalah pada David, dia lebih memilih siapa! Brian atau Anton?" ucap Pradita.


"Jika tanya pada David aku sudah tau jawabannya apa?" ucap Gracia.


"Ya sudah, pikirkan baik-baik. Mommy hanya akan merestui pada siapapun pilihanmu. Baik Brian maupun Dokter Anton mereka Sama-sama orang baik."


"Semoga keputusanmu akan menjadi kebaikan bagi semuanya," ucap Pradita.


"Ya sudah mommy mau menyiapkan makan siang dulu, kamu istirahat saja!" ucap Pradita.


Gracia menganggukkan kepalanya. Sedangkan Pradita langsung beranjak dari tempat tidur itu.


Ia membelai rambut Gracia sebelum berbalik dan mengayunkan langkahnya.


Setelah Pradita menutup pintunya, ia menangis kembali, ia sudah menolak Brain. Gracia sedih, sedih karena mungkin sebentar lagi dia akan resmi bercerai dengan orang yang dicintainya itu.


"Aku harus apa? Aku nggak tau harus melangkah kemana saat ini. Kenapa kau harus hadir kembali dalam hidupku Mas, kenapa?" Gracia berteriak karena ia tidak mampu untuk menahan rasa sesak di dadanya itu.


"Aku sudah mulai membuka lembaran baru, tapi kenapa kau datang kembali dan menawarkan sebuah harapan bahagia untukku." Gracia menangis tersedu-sedu.


"Aku tau David membutuhkanmu, begitupun denganku, tapi apakah aku bisa bahagia di atas penderitaan orang lain? Apalagi orang itu adalah orang yang membantuku untuk bangkit dari keterpurukanku."


"Maafkan aku Mas Brian, aku harus menepati janjiku untuknya, semoga kau mendapatkan orang yang lebih baik dariku!" gumam Gracia.

__ADS_1


...💋💋💋💋💋...


...TBC...


__ADS_2