Cintai Aku Walau Sejenak

Cintai Aku Walau Sejenak
Menanggung penderitaan S2


__ADS_3

Anton membaringkan tubuh istrinya perlahan, lalu mengecup keningnya lembut.


"Maafkan aku!" ucap Anton. Lalu pria itu beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Dinda sebenarnya sudah bangun semenjak pria itu menggendongnya. Namun, ia malas untuk memberontak hingga ia memilih tetap diam saja.


Dinda melanjutkan tidurnya dengan perasaan yang tak menentu, jujur saja dia bahagia atas perlakuan manis suaminya. Namun, ia juga sedih karena cinta Anton terlalu sulit untuk ia gapai.


"Rasanya aku ingin menyerah Mas, tapi sekarang di antara kita sudah ada pengikat, hingga aku tidak mudah untuk pergi jauh, jika sampai anak ini lahir kau belum juga mencintaiku, maka aku akan pergi menjauh darimu, karena bersamamu membuatku semakin terluka."


Dinda kini terlelap kembali setelah Anton keluar dari kamar mandi. Pria itu menatap istrinya yang tidur menyamping, lalu melanjutkan langkahnya menuju ruang ganti.


Setelah selesai menggunakan baju tidur, Anton menuju dapur untuk membuatkan susu untuk istrinya itu, tak lupa juga menyiapkan makan malam untuk Dinda.


Setelah sampai di kamarnya, Anton membangunkan istrinya perlahan agar tidak terkejut, lalu Dinda mengerjapkan Mata melihat orang yang dicintainya itu tengah tersenyum menatapnya.


Wanita itu duduk dengan wajah ngantuknya, ia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk meyakinkan apa yang ia lihat.


"Oh, senyumnya," Dinda tersenyum aneh dengan wajah mengantuk, "tapi sayang aku cuma mimpi!" gumam Dinda.


Wanita itu tidur kembali dengan membelakangi suaminya. Tetapi di detik berikutnya ia langsung duduk, saat merasakan tangan Anton yang menyentuhnya kembali.


"Adin, cepat bangun! Nanti tidur lagi kalau sudah makan malam, kasian anak kita kelaparan," ucap Anton menahan senyum.


Pria itu sudah ingin meledakkan tawanya. Namun karena gengsi, ia menahan tawanya melihat tingkah konyol Dinda.


"Aku bukan mimpi?" Dinda melebarkan mulutnya karena terkejut. Anton yang sudah tidak tahan melihat tingkah aneh Dinda langsung menyendokkan nasi dan disuapkan pada mulut wanita itu yang sedang menganga supaya Dinda sadar bahwa yang terjadi bukanlah mimpi melainkan kenyataan.


"Akhhhh..." Dinda terkejut saat Anton menyuapkan nasi begitu saja pada mulutnya, lalu mengunyah makanan yang disuapi Anton. Pria itu tersenyum saat melihat wajah aneh Dinda.


"Aku bisa makan sendiri," ucap Dinda setelah makanan di mulutnya habis.


Anton menyerahkan piring itu pada istrinya, tetapi ia tak juga beranjak, pria itu asyik menatap Dinda yang sedang makan dengan begitu lahap.


Dinda yang menyadari bahwa dirinya tengah ditatap oleh Anton langsung menghentikan kunyahannya dan membalas tatapan suaminya itu dengan tatapan bingung.

__ADS_1


"Kenapa kau menatapku seperti itu Mas? Apakah ada yang aneh?" tanya Dinda. Wanita itu mengusap-usap pipinya takut ada sisa makanan yang menempel.


"Nggak ada yang aneh, aku cuma sangat senang melihatmu makan dengan lahap," ucap Anton tersenyum lembut.


"Ya udah kita makan bersama! Mas Anton pasti belum makan 'kan?" tanya Dinda tersenyum kaku.


Anton mengangguk tanpa suara, entah mengapa ia sangat nyaman saat dekat dengan istrinya. Ia bingung dengan apa yang ia rasakan, ia tidak tahu ada apa dengan dirinya?


Ketika bersama Dinda, ada rasa bahagia yang tidak bisa dijabarkan dengan kata, yang tidak pernah ia rasakan ketika bersama orang lain.


Dinda menyuapi suaminya dengan perasaan yang teramat bahagia, ia tidak pernah membayangkan bahwa ia akan bisa sedekat itu dengan orang yang ia cintai, meskipun ia tahu bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan.


"Mas, Seandainya aku pergi jauh darimu, apakah kau akan merindukanku?" tanya Dinda tersenyum.


"Tidak," ucap Anton datar.


Deg


Dinda terkejut mendengar ucapan suaminya. Ia bahkan menghentikan suapannya karena nafsu makannya pun menghilang saat mendengar ucapan Anton.


"Memangnya kau mau pergi kemana? Aku tidak akan merindukanmu karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi menjauh dariku," ucap Anton datar.


Seketika hati Dinda merekah bagaikan ditaburi bunga, ada kelegaan dalam hati wanita itu saat mendengar ucapan suaminya.


"Kemana pun kau pergi aku akan mengikutimu, dan aku akan mengikatmu dengan cintaku yang akan segera tumbuh," ucap Anton tersenyum.


"Aku tidak butuh janjimu Mas, aku butuh bukti jika kau bersungguh-sungguh belajar mencintai ku," ucap Dinda.


"Apakah perlakuanku selama ini tidak cukup membuktikan bahwa aku sudah berusaha mencintaimu," ucap Anton menatap Dinda lekat.


"Entahlah, aku memang merasakan ketulusanmu, tetapi aku tidak bisa merasakan kesungguhanmu untuk mencintaiku." Dinda membalas tatapan Anton.


"Kau perlu bukti apalagi?" tanya Anton menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


Dinda langsung *****'* bibir Anton tanpa permisi, wanita itu terus melanjutkan aksinya tanpa memperdulikan Anton yang sama sekali tidak membalas ciumannya.


Dinda merasa kecewa dengan sikap Anton yang tidak meresponnya, ia melepaskan tautan bibirnya perlahan, lalu beranjak dari tempat itu karena malu akan tingkahnya yang terlalu agresif. Namun, di detik berikutnya wanita itu dibuat terkejut dengan tingkah suaminya.


Anton menarik tangan Dinda dan langsung menyambar bibir wanita itu tanpa permisi. Pria itu *****'* bibir Dinda dengan rakus. Suara kecapan demi kecapan menggema dalam kamar Anton.


Nafas keduanya pun memburu, Anton yang sudah tidak tahan menahan gair'hnya, ia langsung menelusupkan tangannya pada baju Dinda dan memegang sesuatu yang menjadi favorit setiap kaum pria.


Anton terus memainkan tangannya disana membuat Wanita itu meracau nggak jelas. Anton yang mendengar suara Dinda, gair'hnya semakin terbakar dan langsung melepaskan satu persatu yang menjadi penghalang bagi keduanya.


Nafas mereka tersengal, Anton yang sudah tidak tahan melihat tubuh polos istrinya, ia langsung menanamkan terongnya pada kebun yang di penuhi dengan rumput liar.


Pada malam itulah, Anton menemukan jawaban dari keraguan perasaannya pada wanita itu, ia sadar bahwa ia hanya takut mencintai wanita tersebut, padahal sebenarnya ia sudah jatuh didalamnya.


Baik Anton maupun Dinda nafasnya tersengal setelah melakukan aksi panas itu, Anton tidur di samping Dinda dengan Dinda yang tidur membelakangi suaminya karena malu.


"Maafkan aku," ucap Anton merapatkan badannya pada Dinda.


"Jadi Mas Anton menyesal?" tanya Dinda kecewa.


"Bukan begitu, tidak seharusnya aku melakukan ini padamu karena kau masih hamil muda," ucap Anton datar.


"Apakah Mas Anton Bener-bener tidak menyesal?" tanya Dinda lagi.


"Tidak!" ucap Anton tersenyum. Pria itu mengelus perut istrinya yang mulai membuncit. Ada kebahagiaan tersendiri bagi pria itu saat memegang perut Istrinya.


"Terima kasih, karena kau tidak membuangnya meskipun kau menanggung penderitaan karenanya," ucap Anton.


Dinda tidak menjawab pria itu, ia langsung memejamkan matanya karena merasa sangat lelah. Ia bukan tidak perduli dengan ucapan suaminya tetapi ia tertidur karena lelah yang menderanya.


Akhirnya pada malam itu mereka tidur berpelukan dengan Anton yang memeluk Dinda erat. Sementara Dinda menikmati pelukan suaminya.


...💋💋💋💋💋...

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2