
"Pagi sayang...!" ucap Brian membuka pintu kamar David. Bocah itu tidur dengan menutup seluruh badannya.
"Daddy tau, kau sedang tidak tidur, sini cerita sama daddy apa yang membuat anak daddy sedih?" ucap Brian. Pria itu duduk di pinggiran tempat tidur David.
David membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Ia berbalik lalu duduk dan memeluk Brian erat.
"Daddy, tolong bilang sama mommy 'David tidak mau memiliki daddy lain selain Daddy," ucap David dengan berlinang air mata.
"Aku hanya ingin sama Daddy, aku tidak mau daddy yang lain," David masih menangis sesegukan.
"Aku juga nggak mau kau punya daddy lain Nak! Tetapi daddy tidak berhak melarang mommymu untuk mencari kebahagiaannya, jika mommymu lebih memilih orang lain, maka daddy bisa apa? Daddy tidak ingin menjadi penghalang kebahagiaannya," batin Brian.
Pria itu menitikkan air mata mendengar tangisan David. Namun, ia langsung menghapus air mata itu sebelum putranya menyadari.
"Dad, boleh nggak David minta sesuatu pada Daddy?" tanya David. Bocah itu melepaskan pelukannya lalu menatap Brian yang sedang tersenyum.
"Memangnya David mau minta apa sayang?" tanya Brian.
"David mohon sama Daddy, Daddy jangan pernah kasih David mommy baru ya?" ucap bocah kecil itu dengan air mata yang terus mengalir.
Brian tersenyum, lalu mengangkat tubuh David dan memangkunya. Pria itu menghapus air mata putra kesayangannya dan memeluknya erat.
"Selamanya, hanya akan ada mommy Gracia dalam hidup David. Daddy janji enggak akan ada mommy lain selain mommy Gracia." Brian memejamkan matanya sambil memeluk David.
"Daddy janji!" David balik badan, lalu mengacungkan jari kelingkingnya pada Brian.
"Janji!" ucap Brian. Pria itu mengaitkan jari kelingkingnya pada putranya tersebut.
"Terima kasih, Daddy! David sangat menyayangimu," ucap David. Bocah itu memeluk Brian kembali dengan sangat erat.
"Daddy juga sangat menyayangimu Nak! Bagi daddy kau adalah sumber kebahagiaan, kau penyemangat daddy. Daddy tidak membutuhkan apapun ketika daddy bersama David," ucap Brian.
"Daddy...! Aku ikut ke kantor Daddy ya sekarang? Boleh 'kan?" tanya David.
"Sangat boleh sayang, bahkan daddy Sangat senang jika David ikut," ucap Brian.
"Terima kasih Daddy! David ganti baju dulu!" ucap David berbinar.
"Mau daddy mandiin?" tanya Brian.
"Enggak mau, Daddy ambilin baju David saja," ucap bocah kecil itu.
__ADS_1
"Ya udah sana mandi! Daddy akan ambilin kamu baju!" ucap Brian.
Bocah kecil itu langsung beranjak. Ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Sedangkan Brian menatap putranya sendu karena ia tidak bisa mengabulkan permintaan David untuk mencegah Garacia bersama orang lain. Ia sadar bahwa karena kesalahannya Gracia pergi.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
"Mas Anton...!" tunggu aku napa?" Dinda mengejar Anton yang keluar dari ruangannya. Sedangkan Anton tidak menghiraukan panggilan gadis itu.
"Adin...! Bisa nggak, kamu nggak nyusahin aku?" ucap Anton setelah Dinda berhasil mengejarnya dan bergelanyut manja di lengan Anton.
"Siapa yang nyusahin, aku cuma merindukanmu doang," ucap Dinda memanyunkan bibirnya.
"Pulang sana! Aku masih banyak kerjaan disini!" ucap Anton.
"Kamu suka bohongi aku, aku tadi udah nanya ke perawat, katanya kamu nggak punya jadwal lagi siang ini," ucap Dinda.
Anton tak menanggapi Dinda, ia terus berjalan menuju mobilnya. Sedangkan Dinda tidak melepaskan lengan Anton.
"Adin, lepaskan tanganmu! Aku mau makan siang sama tunanganku, sana kau pergi!" ucap Anton.
"Nggak mau! Aku mau ikut...," ucap Adin manja.
"Terserah, mau obat nyamuk, obat tidur atau obat perang*sang sekalian aku nggak akan pergi. Aku akan tetep ikut kamu!" ucap Dinda. Gadis itu membuka pintu mobil Anton, lalu duduk di sebelah kursi kemudi.
"Turun!" perintah Anton.
"Nggak mau."
"Turun!"
"Nggak."
"Aku bilang 'Turun!" hardik Anton.
"Terserah, kalau aku bilang nggak ya nggak," ucap Dinda yang masih betah duduk di samping kursi kemudi."
Akhirnya Anton menyerah, ia masuk ke mobil lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membuat gadis itu ketakutan.
"Dasar Dokter sesat sialan! Kurangi kecepatannya! Atau kau sengaja mau bunuh diri? Aku tau kau memang sayang padaku, tetapi gengsi tuk mengucapkannya, lebih baik kita bersama di dunia dulu, baru deh nanti ke syurga setelah kita punya keturunan." Dinda mengoceh sambil memeluk tubuh Anton dari samping.
"Dasar gila!" umpat Anton.
__ADS_1
"Aku gila karena kau selalu menolak cintaku," ucap Dinda.
"Sampai lebaran monyet pun, aku tidak akan menerima cinta konyolmu itu," ucap Anton. Pria itu menurunkan kecepatannya. Ia mengendarai mobil tersebut dengan kecepatan sedang.
"Cinta konyol? Cintaku itu tidak konyol, aku sungguh mencintaimu dari lubuk hatiku yang terdalam," ucap Dinda. Gadis itu memegang dadanya sambil tersenyum aneh, membuat Anton bergidik ngeri.
"Ngapain kamu disini sih, bukankah kau menetap di Paris?" tanya Anton.
"Duh... calon suamiku ini, perhatian banget sih sama calon istrinya," ucap Dinda.
"Calon suami, calon suami. Aku udah punya calon istri dan yang terpenting itu bukan kamu." Anton menoleh sambil menatap Dinda tajam.
"Terserah! Pokoknya kalau aku bilang kau itu calon suamiku, ya calon suamiku!" ucap Dinda.
"Sinting!" umpat Anton.
"Aku sinting karenamu," Dinda tersenyum, sambil menaik turunkan alisnya. Sedangkan Anton hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Gracia kini duduk termenung di sebuah taman, ia memikirkan masa depan David, ia tidak tau harus melangkah kemana?
Hutang budi dan janjinya pada Anton membuatnya dilema karena ia tidak tega menyakiti hati pria itu.
Dia selalu teringat tangisan David yang melarangnya untuk mencari daddy lain. Namun, ia tak menghiraukannya hingga bocah itu sangat murka pada wanita itu dan tidak mau bicara lagi dengannya.
Entah keputusannya sudah benar atau sebaliknya? Ia tidak mau menyakiti seseorang. Namun, ia malah menyakiti hati banyak orang, termasuk putranya sendiri.
"Arghhhh...." teriak Gracia di taman itu.
"Kenapa aku di hadapkan pada pilihan yang begitu sulit? Aku tidak mau menyakiti hati orang lain, lalu apa yang harus ku lakukan agar tidak ada hati yang tersakiti," teriak wanita itu. Gracia duduk bersimpuh di dekat bangku taman yang ia duduki tadi. Gracia menangis sepuas hatinya karena taman itu sepi tidak ada seorang pun di taman tersebut.
Setelah puas menangis akhirnya Gracia berdiri lalu melangkah menjauh dari taman itu, Gracia langsung pulang ke mansionnya dengan penampilan yang acak-acakan. Pradita yang melihatnya, langsung menghampiri putrinya itu.
"Apakah David masih marah Nak?" tanya Pradita.
Gracia tidak menjawab pertanyaan Pradita. Ia langsung pergi ke kamarnya dengan air mata yang terus mengalir. Sedangkan Pradita hanya menatap kepergian putrinya dengan tatapan sendu. Ia sedih melihat putrinya yang terpuruk. Namun, ia tidak mau mencampuri urusan pribadi putrinya lagi. Seperti dulu, ia memaksakan kehendaknya untuk menikahkannya dengan Brian, hingga banyak hati yang terluka karena perjodohan itu.
...💋💋💋💋💋...
...TBC...
__ADS_1