Cintai Aku Walau Sejenak

Cintai Aku Walau Sejenak
Bukti kebenaran 2 S2


__ADS_3

Mentari pagi menelusup dari celah-celah jendela kamar Anton, pria itu mengernyitkan dahinya karena silau akan sinar sang surya di pagi hari itu.


Anton membuka mata sambil mengedip-ngedipkan nya, pria itu beranjak dan duduk di pinggiran tempat tidur sambil meregangkan otot-ototnya.


Anton bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Pria itu bersemangat untuk menunjukkan bukti yang ia dapatkan dari rumah sakit itu pada daddynya.


Seusai mandi Anton bergegas untuk sarapan bersama George, pria itu menuruni anak tangga dengan senyum yang tersungging dari bibirnya.


"Sepertinya kau lebih bersemangat hari ini," sambut George dari meja makan. Pria itu sudah duduk di kursinya dengan asisten Herman yang berdiri di belakangnya.


Anton tidak menjawab pertanyaan George. Pria itu hanya melirik Herman sekretaris ayahnya.


"Duduklah Om! Kita sarapan bersama hari ini! ucap Anton tersenyum.


"Tidak! Terima kasih Tuan, saya sudah sarapan tadi di rumah," ucap Herman.


Anton tersenyum, lalu kedua pria itu sarapan bersama dengan kesunyian, dan hanya dentingan sendok yang meramaikan meja makan tersebut.


Seusai sarapan, Anton membuka percakapan dengan daddynya. Pria itu menatap George dengan wajah seriusnya.


"Daddy, aku mau bicara dengan Daddy berdua di ruang kerjaku," ucap Anton.


"Kau mau bicara apa?" tanya George.


"Aku mau bicara hal penting dengan Daddy," ucap Anton.


"Baiklah!" George beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkah mendahului Anton. Pria paruh baya itu sebenarnya bingung dengan apa yang akan di bicarakan oleh Anton padanya, karena tidak biasanya Anton bersikap aneh kayak gitu dengan bicara hanya berdua saja. Namun, George berpikiran positif bahwa Anton hanya ingin membicarakan kerjaan bukan hal yang lain.


Sesampainya di ruang kerja Anton, George duduk di sofa dengan Anton yang juga duduk di sebelahnya.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya George.

__ADS_1


Anton beranjak, lalu ia pergi ke meja kerjanya, pria itu mengambil kunci yang sudah di simpannya. Lalu membuka sebuah laci yang sudah ia kunci untuk menyimpan bukti yang akan ia tunjukkan pada daddynya.


Anton mematikan CCTV di ruangan itu untuk mencegah seseorang yang telah berani menghianati keluarga Cassilas, agar tidak mendengarkan pembicaraannya dengan George.


"Kau aneh, sebenarnya apa yang ingin kau tunjukkan pada daddy?" tanya George.


Anton membuka laci tempat ia menyimpan berkas juga flashdisk yang ia dapatkan dari rumah sakit tanpa menjawab pertanyaan George. Namun, sesuai dengan dugaan Anton, bahwa berkas itu sudah tidak ada lagi.


"Berarti ada penghianat di mansion ini, karena orang luar tidak mungkin bisa menyusup ke ruang kerjaku dengan penjagaan yang ketat," ucap Anton tersenyum tipis.


"Maksudmu?" tanya George mengernyit.


"Anton menyimpan sebuah bukti tentang tante Lestari yang tidak melakukan apapun pada mommy, ia tidak bersalah, ia hanya dikambing hitamkan oleh seseorang." Anton melangkah mendekati pintu rahasia yang mana hanya George dan dirinya yang mengetahui letak ruang rahasia itu.


George mengernyit. "Memangnya bukti apa yang kau dapat?" tanya George.


"Aku melihat sendiri dia memegang bantal dan semua alat yang membantu mommymu untuk bertahan hidup berantakan tak karuan di ruang ICU waktu itu." George mengepalkan tangannya saat mengingat tentang kejadian 35 tahun lalu.


Setelah mendapatkan apa yang ia cari, pria itu duduk di sebelah daddynya dan menunjukkan rekaman CCTV dan juga file yang menunjukkan bahwa, mommynya Anton sulit tertolong dan hanya ada kemungkinan kecil untuk wanita itu pulih kembali meskipun tidak ada orang yang berniat untuk membunuhnya. Rekaman CCTV itu menunjukkan bahwa Lestari tidak bersalah dan membuat George menyesal karena kebodohannya di masa lalu.


Flashback on.


Pada waktu itu ada seseorang yang menyusup masuk ke ruang ICU dan melepas alat bantu pernafasan mommynya Anton hingga wanita itu keadaannya makin kritis. Di waktu bersamaan Lestari datang untuk mengecek keadaan mommynya Anton. Namun, yang ia lihat ada seseorang yang menutup kepalanya dan menahan bantal itu agar mommynya Anton tidak bisa bernafas dan orang tersebut langsung lari dari ruangan itu setelah menyadari kehadiran Lestari.


Lestari yang terkejut, ia langsung lari dan mengambil bantal yang masih menutupi kepala mommynya Anton. Namun, disaat yang bersamaan, George datang dan menampar Lestari karena salah faham.


Lestari hanya meloloskan air matanya karena ia tidak mengenali orang yang berniat membunuh mommynya Anton itu, hingga tidak bisa menjawab George dan membela dirinya bahwa ia tidak bersalah dan orang tersebut memakai masker juga kaca mata hitam.


Lestari hanya diam membisu mendengar hinaan demi hinaan yang George ucapkan pada Lestari. George bahkan mendorong tubuh Lestari hingga jatuh terjerembab. Lalu George menghampiri istrinya yang sudah menghembuskan nafas terakhirnya.


Dengan kesalahan yang tidak pernah Lestari lakukan, ia mendekam di penjara selama 2 tahun dan membuat wanita itu hancur karirnya. Ia di pecat secara tidak terhormat dari kerjaannya dan tidak diterima di rumah sakit manapun karena statusnya yang seorang narapidana.

__ADS_1


Namun, ia beruntung karena ada seseorang yang sangat mencintai wanita itu hingga ia rela melakukan apapun untuk Lestari termasuk meringankan hukuman wanita itu dan segera mengeluarkannya dari penjara.


Kemudian, Lestari menikah dengan pria tersebut dan di karuniai seorang putri yaitu Dinda. Namun, Pria itu meninggal dunia saat usia Dinda 5 tahun. Pria itu meninggal dunia karena penyakit yang di deritanya yaitu leukemia dan pada saat itu Lestari sangat terpuruk karena ia baru merasakan kebahagiaan bersama orang yang dicintainya setelan move on dari George.


Lestari pun memulai kehidupan barunya tanpa seorang suami dan membangun rumah sakit sendiri dengan harta warisan yang ditinggalkan oleh suaminya tersebut.


...Flashback off....


Kini George melamun dengan pemikirannya sendiri, penyesalan yang dialaminya membuatnya berada dalam perasaan bersalah.


Anton yang melihat ayahnya melamun, langsung menutup laptopnya dan menaruh bukti-bukti itu ke tempatnya kembali.


"Siapa yang tega melakukan ini pada keluarga kita?" tanya George setelah Anton duduk di sampingnya kembali.


"Selama ini aku dibodohi seseorang. Namun aku yang bodoh tidak pernah menyadarinya," ucap George.


"Iya betul Dad, dan Anton yakin orang itu ada di mansion ini," ucap Anton.


"Kenapa kau se yakin itu?" tanya George.


"Karena aku juga menaruh copy an dari bukti itu di laci, dan sekarang copy an itu menghilang entah kemana." Anton menatap daddynya dengan wajah serius.


"Lihatlah Dad! CCTV semalam nggak ada, orang luar tidak mungkin bisa menghapus rekaman CCTV ini." Anton membuka laptopnya kembali dan menunjukkan rekaman CCTV itu pada daddynya.


"Kau benar, ternyata kau cukup pintar, daddy bangga mempunyai anak sepertimu." George menepuk pundak Anton setelah menutup layar laptopnya.


"Kau cari lagi tentang kasus kejadian kecelakaan mommymu! Daddy yakin orang yang merencanakan tentang kecelakaan mommymu ada disekitar kita sampai saat ini, entah apa tujuannya yang penting kita harus hati-hati." George menatap Anton dengan wajah seriusnya.


"Betul Dad, kita tidak boleh mempercayai sembarang orang disini," ucap Anton.


...🌾🌾🌾🌾🌾...

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2