Cintai Aku Walau Sejenak

Cintai Aku Walau Sejenak
Sikap Dingin S2


__ADS_3

"Mommy benar, sekarang kau sudah menjadi istriku, pulanglah bersamaku! Mulai sekarang kau harus tinggal denganku di apartemen!" ucap Anton.


..."Apartemen? Kenapa harus apartemen?Bukankah dia tinggal di mansion? Apakah aku hanya dijadikan simpanan olehnya?" batin Dinda....


Setelah itu Anton membuka pintu mobil untuknya. Gadis itu masuk dengan wajah bingung.


"Masuk!" ucap Anton dengan wajah datar.


Dinda hanya mengangguk tanpa suara, banyak pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan dalam benaknya.


Setelah itu mereka pulang. Kini keduanya sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Wanita itu bungkam, ia tidak tahu harus mengucapkan apa, pada orang yang sudah sah menjadi suaminya.


Dalam perjalanan pulang dari KUA, baik Anton maupun Dinda tidak ada yang membuka suara, sesekali Dinda melirik suaminya yang sedang fokus mengemudi.


Ia bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, mengapa orang tua Anton bisa merestui hubungannya dengan pria itu? Padahal yang ia tahu bahwa George sangat tidak menyukai dirinya.


Beberapa saat kemudian mereka sampai di apartemen Anton, hati wanita itu teriris melihat sikap dingin suaminya. Namun, ia tidak menampakkan hal itu pada Anton.


Anton keluar dari dalam mobil, lalu meninggalkan Dinda yang masih betah berada di dalam mobil tersebut.


Mata Dinda pun mengembun, sejak hamil dia begitu sensitif. Wanita yang biasanya kebal dengan sikap dingin Anton, kini sekarang sudah tidak lagi. Ia seakan mau pergi menjauh dari suaminya. Namun, ia sadar bahwa ia sangat membutuhkan pria itu.


Beberapa saat kemudian, kini Leo sekretaris dari Anton menjemput Dinda, ia menunjukkan kamar Anton pada wanita itu.


Tok tok tok...


"Tuan, Nona Dinda sudah ku jemput. Bolehkah Nona masuk?" tanya Leo.


"Masuk!" jawab Anton dari dalam.


"Silahkan masuk Nona! Saya pergi dulu," ucap Leo.


"Terima kasih," ucap Dinda tersenyum.


"Sama-sama," jawab Anton. Pria itu berbalik lalu meninggalkan Dinda di depan kamar bosnya itu. Dinda begitu grogi keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya, dan jantungnya pun sudah berpacu cepat saat Leo meninggalkan dirinya di depan kamar suaminya tersebut.


Dinda membuka pintu kamar itu, aroma mint pun menyeruak ke Indra penciuman Dinda, ia menatap isi kamar tersebut, yang pertama ia lihat adalah suaminya yang duduk di sofa kamar dan fokus menatap layar laptop tanpa menyambut kehadirannya.


Anton tetap fokus pada layar laptop meskipun menyadari kehadiran wanita itu, hingga Dinda memilih tetap berdiri di dekat pintu tanpa meneruskan langkahnya karena ia bingung tidak tahu harus melangkah kemana? Apakah ia harus mendekati Anton? Atau tidur di ranjang pria tersebut.


"Sampai kapan kau akan terus berdiri di situ? Istirahatlah! Jangan terlalu kelelahan karena jika kau kelelahan, pasti akan berpengaruh pada bayi kita," ucap Anton dingin tanpa menoleh pada Dinda.


Deg.

__ADS_1


Dinda tersayat mendengar ucapan Anton karena ia tahu bahwa pria itu hanya perduli pada bayi yang ada dalam kandungannya bukan pada dirinya.


"Tidurlah! Aku masih punya kerjaan yang belum terselesaikan," ucap Anton.


Dinda tidak menjawab, Wanita itu hanya mengikuti perintah suaminya. Dinda mendekati ranjang, lalu ia duduk selonjoran di atas tempat tidur sambil menyandarkan tubuhnya pada ujung tempat tidur.


Wanita itu memejamkan mata, rasa mual dan pusing yang selalu menderanya kini tidak dirasakan lagi saat ia berada di dekat Anton. Aroma khas tubuh pria itu mengobati rasa mual yang biasa ia rasakan tiap hari.


Anton menutup laptopnya, lalu beranjak dari tempat duduk itu dan melangkah keluar dari kamar tersebut tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Dinda.


Dinda yang begitu sensitif, ia mengira bahwa Anton akan meninggalkan ia sendirian di apartemen itu, karena ia tahu bahwa suaminya tersebut punya mansion mewah.


"Aku yakin, Mas Anton hanya menjadikanku istri ke duanya. Jika aku memanglah istri satu-satunya, tidak mungkin aku di bawa kesini, pasti dia membawaku ke mansion nya bukan ke apartemen ini," batin Dinda.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


Aaron membuka pintu ruangan Gracia untuk menemui Brian karena merasa khawatir melihat cucunya yang masih terus menangis ingin menemui mommynya.


Bocah itu di jaga oleh Silvia. Namun, Silvia tidak mampu membujuknya hingga ia memilih untuk memberitahu Brian melewati suaminya yang kebetulan saat itu datang untuk melihat cucunya tersebut.


"David sudah sadar, cepat temui dia! Dari tadi dia menangis memanggil-manggil mommynya, ia menangis histeris dari tadi, mungkin kau bisa menangkan hati anakmu itu!" ucap Aaron setelah berada di dekat Brian.


"Baik Dad," jawab Brian. Pria itu berdiri dari tempat duduknya, ia mencium kening Gracia sebelum keluar dari ruangan itu.


"Aku pergi untuk menemui anak kita sebentar, cepatlah sadar!" bisik Brian. Pria itu beranjak. lalu, pergi dari ruangan tersebut.


Aaron mendekati menantunya, lalu duduk di dekat Gracia sambil menatap wanita itu dengan perasaan yang begitu sedih.


"Cepatlah sadar! Lihatlah anak dan suamimu yang begitu terpukul saat melihatmu seperti ini. Jangan biarkan mereka terus menerus berada dalam kesedihan, jika kau tidak membuka matamu secepatnya, maka jangan salahkan daddy jika daddy menjodohkan Brian dengan wanita lain yang bisa mengurus anak dan suamimu," ucap Aaron.


Gracia meneteskan air mata saat Aaron mencoba mengajaknya bicara, Aaron yang melihat reaksi itu tersenyum sendu.


"Kau bisa 'kan mendengarkan daddy? Jangan kecewakan daddy, cepatlah sadar sebelum Brian menikah dengan orang lain," ucap Aaron kembali.


Sedangkan di ruangan David.


Bocah kecil itu terus menangis tanpa hentinya. Merengek ingin bertemu dengan Gracia. David terus menyalahkan dirinya sendiri karena telah mengajak Gracia ke kantor Brian lagi, padahal Gracia sudah mengajaknya pulang.


"Pokoknya David mau menemui mommy, jika mommy baik-baik saja kenapa mommy tidak menemui David? Grandma membohongiku 'kan?" ucap David.


"Tidak sayang, Grandma tidak membohongi David," ucap Silvia. Wanita paruh baya itu kewalahan untuk membujuk cucunya yang tidak mau berhenti menangis sebelum bertemu dengan mommynya.


Ceklek...

__ADS_1


Suara pintu dibuka membuat David berhenti menangis dan menatap ke arah pintu ruang rawat tersebut. Namun, setelah melihat siapa yang datang membuat bocah itu semakin mengencangkan tangisannya.


"Daddy..." teriak David. Bocah itu duduk selonjoran di ranjang pasien, ia tidak bisa bergerak karena luka-luka di sekujur tubuhnya belum kering, dan penyangga lengannya pun membuatnya kesulitan untuk bergerak.


Brian menutup pintu ruang rawat David, pria itu mendekati putranya, ia mengganti posisi Silvia yang duduk disisi ranjang. Brian memaksakan senyumnya agar tidak membuat putranya itu semakin sedih.


"Sayang, David kenapa nangis?" tanya Brian lembut. Pria itu menatap putranya dengan tatapan lembut.


"Dad, David mau lihat mommy, mommy pasti terluka lebih parah dari pada David 'kan? Makanya mommy tidak menemui David ke sini?" tanya David.


"Ini semua terjadi karena salah David yang mengajak mommy untuk kembali ke kantor daddy, andai saja David tidak memaksa mommy, pasti semuanya tidak akan terjadi," tangis David.


"Sayang, ini semua sudah takdir. David jangan menyalahkan diri David sendiri, karena kita tidak bisa melawan takdir." Brian tersenyum. Bocah kecil itu hanya menangis sesenggukan tanpa menjawab daddynya.


"Sayang, apakah David tidak merasakan sakit pada tubuh David hingga David memaksa untuk menemui mommy?" tanya Brian.


"Sakit Dad, aku tidak mau mommy merasakan apa yang David rasakan, aku berharap mommy baik-baik saja! Please Dad, izinkan David menemui mommy sebentar saja," ucap bocah itu memohon.


"Jika David merasakan sakit pada tubuh David, begitu pun dengan mommy. Daddy yang melarang mommy untuk menemui David agar mommy cepat sembuh! Jika mommy mendengarkan ucapan daddy, masak David tidak mau mendengarkan juga. Daddy melakukan ini agar kalian cepat sembuh," ucap Brian tersenyum.


"Daddy tidak membohongi David 'kan?" tanya bocah itu.


"Tidak, berhentilah menangis! Jangan membuat mommy semakin sedih jika melihat David terluka seperti ini. Pastikan keadaanmu sudah membaik saat mommy menemui David nanti," bujuk Brian sambil menghapus air mata putranya yang terus menetes. Brian terpaksa berbohong untuk menenangkan putranya.


"Baiklah Dad," ucap David yang akhirnya luluh. Bocah itu tersenyum, lalu tidur kembali dengan Brian yang membantunya.


"David mau istirahat biar cepat sembuh, ya udah sana! Daddy jaga mommy saja biar mommy tidak sendirian, David mau di jaga grandma di sini Dad," ucap bocah itu.


"Tapi David jangan nangis lagi, kasian grandma, grandma sedih jika lihat David nangis seperti tadi," ucap Brian.


"Iya Dad, David janji tidak akan nangis lagi!" ucap David.


"Anak pintar," Brian mengecup kepala David. Lalu pria itu beranjak dari ruang rawat putranya itu, dan di depan pintu ruangan David ia melihat mommynya yang duduk di kursi tunggu. Silvia pun menoleh, lalu menghampiri pria tersebut.


"Mom, titip David! Dia sudah tenang dan sudah mau di jaga mommy lagi," ucap Brian.


"Iya sayang," jawab Silvia. Wanita paruh baya itu menatap putranya sendu.


......💋💋💋💋💋......


...TBC...


Assalamualaikum Readersku sayang 🥰

__ADS_1


Malam ini Othor update lebih banyak dari biasanya 2 Bab di jadikan 1 Bab saja ❤️


Semoga betah dan tidak bosan dengan karya Othor, dan terima kasih atas dukungan Kalian ❤️🥰


__ADS_2