
🌿🌿🌿🌿🌿 Hati resah tak tentu arah
ku titipkan rasa sesakku pada hati yang mampu menghapusnya.
Aku ingin kita abadi dalam cinta yang sejalan, seperti burung merpati yang selalu berdampingan.
Namun, harapanku hanyalah angan.
Kau tak pernah memandangku walaupun hanya dalam hayalan.
Kau seperti angin yang tak bisa ku lihat dan tak bisa ku sentuh.
Namun, aku dapat merasakannya.
Jika aku bisa menghilangkan rasa ini, maka pasti sudah ku lakukan sejak dulu.
Namun, rasa ini terlalu membekas hingga aku tidak bisa mencobanya walaupun berkali-kali ku berusaha.
Bahkan kecewaku padanya terlalu dalam hingga aku tak bisa menyelaminya.
Namun, entah apa yang membuatku tidak bisa membenci dirinya, walaupun luka yang selalu ia torehkan.
Terkadang aku seperti orang yang tidak punya harga diri, tetapi aku menepis rasa malu 'ku. Alasanku cuma satu yaitu 'CINTA.'
Cinta yang tak pernah akan ku dapatkan sampai kapan pun. 🌿🌿🌿🌿🌿
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Dinda menatap lurus ke depan, pikirannya kosong, ia bingung harus maju atau mundur.
Ia sadar dengan cintanya yang buta hingga ia merelakan sesuatu yang sangat berharga dari dirinya.
Arggghhhh...
"Aku benci kamu Mas Anton, aku sangat membencimu!" teriak Dinda. Ia menangis dan menyandarkan kepalanya pada pintu kamar apartemennya. Dinda meluruhkan badannya di balik pintu kamar tersebut sambil menangis tersedu-sedu.
"Aku tidak ingin menyerah. Namun, aku sudah sangat lelah mengejar cintanya. Sampai kapan aku harus begini? Aku ingin membencinya tetapi aku tidak bisa." Dinda memegang dadanya yang terasa sesak.
Setelah puas menangis, gadis itu berdiri dan melangkah ke kamar mandi, ia berendam untuk menghilangkan segala kesedihannya. Kesedihan yang tak pernah terobati bahkan kesedihan itu terus tumbuh dan berkembang dalam diri gadis itu.
Setelah lama berendam, ia mengganti pakaiannya dan menghibur diri untuk tidak sedih kembali.
Gadis itu melangkah menuju arah dapur. Namun, ia mendengar bel berbunyi. Dinda melangkah untuk membuka pintu apartemen itu. Ia heran karena tidak biasanya ia mendapat tamu
__ADS_1
"Kamu!" ucap Dinda.
"Apa kabar?" ucap Pria itu tersenyum.
"Silahkan masuk!" ucap Dinda datar
"Hey, kenapa wajahmu cemberut gitu? Kau tidak senang aku datang?" ucap Pria itu.
"Biasa aja! Ngapain aku seneng? Paling kamu di suruh mommy untuk mengikuti langkahku," ucap Dinda.
"Sama sepupu sendiri Kok gitu sih jawabnya? Harusnya kau menyambutku dengan pelukan!" ucap pria itu. Ia tersenyum usil menatap Dinda.
"Ogah aku pelukan sama kamu, mending aku pelukan sama Mas Anton," ucap Dinda tersenyum seperti biasanya, menutupi sedihnya di depan orang lain.
"Dokter sesat itu lagi, aku heran sama kamu yang bisa mencintai orang kayak gitu," ucap Pria itu.
"Memangnya kenapa kalau aku mencintai Mas Anton, dia baik. Hanya saja terkadang seseorang tidak menampakkan kebaikannya di depan orang lain," ucap Dinda memutar bola matanya matanya malas.
"Ck, kau selalu membela Dokter sesat itu, padahal jelas-jelas dia selalu menolakmu mentah-mentah!" ucap Pria tersebut.
"Kau hanya sepupuku. Jadi kau tak pantas mengatur hidupku. Kau saja di tolak sama Maudy orang yang kau cintai, hanya demi seorang Brian yang lebih kaya darimu!" ucap Dinda.
"Kau tidak perlu membahas masa lalu! Aku memang ditolak, tetapi aku tidak mengemis cintanya, setidaknya aku lebih mending dari pada kamu, aku masih punya harga diri makanya aku tidak memperdulikan dia lagi, walaupun sejujurnya aku kesulitan untuk membuang perasaan itu," ucap pria tersebut.
"Jadi maksudmu, aku tidak punya harga diri?" tanya Dinda.
"Aku punya harga diri, makanya aku nyerah dan ingin kembali ke Paris untuk melupakan segalanya, dia sudah bertunangan dan sangat mencintai tunangannya."
"Aku tidak mau menjadi orang ketiga!" ucap Dinda. Gadis itu tersenyum sendu.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Keheningan di dalam mobil terjadi, Gracia bingung dengan apa yang sedang terjadi pada tunangannya itu. Ia melihat Anton tidak seperti biasanya, pria itu bungkam saat mobil melaju memecah jalanan.
Gracia sesekali menatap tunangannya itu. Namun, Anton tetap tidak kunjung membuka percakapan, membuat Gracia bingung dengan sikap Dokter sesat itu.
"Kita akan pergi kemana?" tanya Gracia membuka percakapan.
"Kemana pun yang menurutmu tidak membosankan," jawab Anton.
"Bagaimana kalau kita ke bioskop, kita nonton saja!" Gracia tersenyum kaku. Wanita itu berusaha untuk melupakan segalanya dan mencintai tunangannya itu.
"Kamu sudah sehat 'kan?" tanya Anton basa basi.
__ADS_1
"Sudah!" ucap Gracia.
"Baiklah kita ke bioskop, tapi jika kau masih kurang sehat, jangan paksakan! Kita masih bisa nonton di lain waktu." Anton menatap Gracia yang mengalihkan tatapannya dari pria itu.
Di tengah perjalanan ia memberanikan diri untuk menjelaskan kesalahannya pada Gracia. Namun, ia tidak mempunyai keberanian dan membuat pria itu bungkam. Namun, di detik berikutnya ia menghela nafas dan memejamkan matanya sesaat, lalu ia bertanya pada Gracia dengan wajah tanpa menatap wanita itu.
"Salju, jika aku membuat suatu kesalahan, apakah kau akan memaafkanku?" tanya Anton.
Gracia tersenyum, lalu menatap tunangannya itu dari samping. Ia tidak tahu Dokter sesat itu kenapa? Tapi yang ia lihat, Anton tidak seperti biasanya. Pria itu seperti sedang menutupi sesuatu darinya.
"Memaafkan itu mudah saja Dok, asalkan kesalahannya tidak terlalu fatal, tetapi jika kesalahannya fatal, maka mungkin kita bisa memaafkan, tetapi untuk melupakan rasanya sulit, karena bekas itu tidak semudah angin menerbangkan debu," ucap Gracia. Anton tersenyum sendu. Namun, senyuman itu tidak ia tampakkan pada Gracia.
Mereka kini telah sampai di area parkiran mall. Anton pun membuka pintu mobilnya dan hendak membukakan pintu mobil untuk tunangannya itu. Namun, Gracia sudah membukanya terlebih dahulu membuat Anton mengurungkan niatnya.
Sebelum masuk ke dalam mall, Gracia melihat David dengan Brian berada di sebrang jalan mall tersebut, membuat Gracia heran dengan apa yang akan mereka lakukan di restoran Jepang itu. Gracia yang penasaran dengan apa yang di lakukan anaknya memutuskan untuk pergi menemuinya sebentar, lalu minta izin pada Anton untuk mengajak anaknya itu.
"Dok, saya lihat David disana." ucap Gracia menunjukkan sosok Brian di sebrang mall itu.
Bolehkah aku menghampirinya sebentar?" tanya Gracia tersenyum.
Anton membalas senyuman Gracia, lalu pria itu menganggukkan kepalanya. Sedangkan Gracia langsung berbalik dan mengayunkan langkahnya menghampiri putranya tersebut.
Gracia senang melihat putranya di sana, hingga ia tidak menyadari keadaan sekitar, ia takut kehilangan jejak David, Gracia buru-buru dan di tengah jalan saat ia akan melintas, ia tidak menoleh terlebih dahulu dan ia tidak menyadari bahwa ada mobil yang akan melintas dan tiba-tiba...,
"Salju...!" teriak Dokter Anton. Pria itu lari menghampiri tunangannya itu.
"A...." Teriak Gracia.
Bruk
Tubuh Gracia terpental ke pinggiran jalan karena ada seseorang yang mendorongnya.
Ia terkejut melihat pria yang menolongnya itu.
Tubuhnya terpaku menatap tubuh seseorang yang sudah menolongnya yang dipenuhi dengan cairan merah.
Deg.
Gracia berdiri lalu menghampiri orang yang sudah menolongnya, ia melangkah mendekat lalu duduk di samping orang yang sudah mengorbankan nyawanya demi dirinya, tubuh yang terbaring di jalan karena terluka parah.
Hati Gracia sesak menyaksikan kejadian itu, ia seakan sulit untuk bernafas, jantungnya seakan berhenti berdetak, ia tak mampu menyaksikan semua itu, tubuh yang terluka parah karena dirinya.
"Tidak..."
__ADS_1
......💋💋💋💋💋......
...TBC...