Cintai Aku Walau Sejenak

Cintai Aku Walau Sejenak
Aku tidak mau kehilanganmu S2


__ADS_3

"Tidak..." teriak Brian.


Seketika Brian bangun dari tidurnya, pria itu ternyata hanya bermimpi, setelah menoleh ke samping, ia sangat terkejut saat mendapati seseorang yang sangat ia rindukan suaranya kini tengah menatap dirinya dengan senyuman lembut.


"Sayang, kau benar-benar sudah sadar?" Brian duduk dari ranjang Gracia, lalu menampar dirinya sendiri untuk memastikan apakah dia bermimpi atau tidak? Namun, kini tamparannya terasa sakit hingga pria itu tersenyum dengan air mata yang menerjang. Pria itu refleks memeluk tubuh istrinya itu dengan tangis harunya.


"Aku tidak mau kehilanganmu, jangan pernah membuatku terluka dengan melihat kondisimu yang seperti ini! Aku mohon cepat sembuh lah! Aku bagaikan burung tanpa sayap jika kau tak berada sisiku," ucap Brian.


Sedangkan Gracia mengelus punggung suaminya yang kini tengah menyalurkan rasa bahagianya karena melihat wanita itu kini sadar kembali.


"Auw... " Gracia melenguh saat Brian mengeratkan pelukannya.


Seketika Brian sadar dengan reaksinya yang tanpa sengaja menyakiti Gracia. Brian melepaskan pelukan itu dari Gracia, lalu dengan cepat ia memanggil Dokter untuk mengecek istrinya tersebut.


"Bagaimana dengan keadaan istri saya Dokter?" tanya Brian.


Dokter yang memeriksa Gracia tersenyum. "Berkat doa Anda, Nona Gracia keadaannya sudah stabil, ini sungguh keajaiban dari yang kuasa karena keadaan nona Gracia sebelumnya tidak memungkinkan untuk sadar kembali dan kemungkinannya sangat kecil," ucap Dokter itu.


Brian tersenyum menatap istrinya yang kini sudah terlepas dari alat-alat yang memenuhi seluruh tubuhnya. Wanita itu tidur dengan posisi kepalanya lebih tinggi seperti orang yang sedang duduk, hanya jarum infus yang masih tertancap di tangannya.


Setelah Dokter itu keluar dari ruangan Gracia, Brian duduk disebelah istrinya dengan senyum yang tak kunjung memudar, lalu pria itu memeluk Gracia lagi sambil memejamkan matanya.


"Aku meindukan mu, please jangan pernah membuatku khawatir sampai seperti ini lagi, rasanya aku tidak bisa bernafas melihatmu seperti kemarin." Brian masih trauma dengan mimpinya hingga ia tidak mau melepas Gracia sedikit pun.


"Aku tidak akan meninggalkan mu Mas, aku masih di sini bersama mu," ucap Gracia tersenyum.


"Tapi mimpi itu, mimpi itu membuatku sangat takut, takut kau pergi meninggalkanku," ucap Brian.


"Memangnya kau mimpi apa Mas?" tanya Gracia.


"Aku bermimpi kau meninggalkanku untuk selamanya, dan aku tidak mau hal itu terjadi. Setelah ini, aku tidak akan meninggalkanmu walau sedetik pun," ucap Brian.


"Lebay ah," ucap Gracia tersenyum.


"Terserah," jawab Brian.


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Namun, sepasang suami istri itu tidak menyadari bahwa ada yang membuka pintu ruangan tersebut.


"Kalian masih di rumah sakit, kalau mau melakukan sesuatu nanti di rumah setelah menantu sembuh," ucap Aaron yang masuk ke ruang rawat Gracia bersama dengan Silvia. Lalu Aaron duduk di sofa ruangan itu. Sedangkan Silvia mendekati anak dan menantunya.

__ADS_1


Brian melepaskan tubuh istrinya setelah mendengar suara Aaron dari arah pintu masuk. Pria itu terkejut. Namun, tanpa malunya ia masih betah duduk di sisi istrinya sambil menyandarkan kepala Gracia ke bahunya.


"Bagaimana keadaanmu sayang?" tanya Silvia tersenyum pada menantunya itu.


"Aku baik Mom, cuma kepala ku masih terasa pusing dan agak berat. Juga ada beberapa luka di tubuhku yang masih perih dan terasa sakit," keluh Gracia.


"Dengan melihatmu seperti ini Mommy sangat bahagia, aku sangat bersyukur masih bisa melihat senyumanmu lagi Nak," ucap Silvia tersenyum sendu.


"Keadaan David bagaimana Mom?" tanya Gracia khawatir. Ia baru mengingat bahwa dia kecelakaan bukan hanya seorang diri.


"David sudah membaik Nak! Mungkin 5 hari lagi sudah boleh pulang," ucap Silvia tersenyum.


"Syukurlah..." ucap Gracia.


"Sayang... " ucap Pradita dari arah pintu masuk sambil menyemburkan air matanya karena terlalu bahagia melihat putrinya kini sadar kembali.


Silvia datang bersama dengan Ashok. Namun, pria itu diam saja, dan hanya m engekori istrinya dari belakang.


Pradita melangkah mendekati putrinya mengganti posisi Silvia yang tadi duduk di sisi Gracia.


Wanita itu memeluk putrinya erat, dan tanpa sengaja membuat Gracia mengeluh karena kesakitan saat tangan Pradita mengenai luka di tubuh putrinya itu.


"Maaf sayang, Mommy tidak sengaja," ucap Pradita dengan cemas.


"Tapi..."


"Enggak apa-apa, ini hanya luka kecil," ucapnya dengan senyum yang mengembang.


"Ternyata putri daddy sangat kuat, daddy senang melihatmu seperti ini Nak!" ucap Ashok tersenyum lembut.


"Terima kasih Daddy," ucap Gracia tersenyum sambil menatap Ashok.


Sedangkan Ashok hanya membalas ucapan Gracia dengan senyuman. Ia sangat senang melihat putrinya yang sangat dicintai oleh suaminya itu.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


Sedangkan di sebuah apartemen. Baik Anton maupun Dinda sama-sama diam setelah kejadian yang memalukan itu, Dinda mengalihkan tatapannya dari Anton karena rasa malunya yang tak kunjung mereda.


"Sebaiknya kau sarapan dulu! Aku mau pergi ke kantor. Ada kerjaan yang belum terselesaikan," ucap Anton.

__ADS_1


"Aku harus segera menyelesaikan urusanku sampai kelar karena aku berencana untuk membangun rumah sakit di negara ini. Aku tidak mau berhenti menjadi seorang Dokter, karena itu adalah cita-citaku dari sewaktu aku kecil," ucap Anton.


"Tentang pernikahan kita, aku akan menjelaskan semuanya padamu nanti malam, sekarang aku pergi dulu! Jangan terlalu banyak berpikir, jaga anak kita dengan baik!" ucap Anton datar.


Dinda hanya mengangguk karena bingung harus jawab apa. Akhirnya dia hanya diam mendengarkan suaminya.


"Bolehkah aku menyapanya?" tanya Anton sambil tersenyum kaku.


Dinda membalas senyuman Anton, lalu menganggukkan kepalanya. Ada rasa haru pada diri wanita itu saat ia tahu bahwa Anton sangat menyayangi anak yang ia kandung, meskipun belum lahir ke dunia.


Anton duduk, mensejajarkan tubuhnya pada perut Dinda yang masih rata. Pria itu mengecup perut istrinya dengan sangat lembut.


"Baik-baik di perut mommy ya sayang, Daddy kerja dulu, jangan bikin mommy susah!" ucap Anton tersenyum. Pria itu mengecup perut rata Dinda kembali, lalu beranjak dan hendak pergi. Namun, Dinda menahan pergelangan tangan Anton hingga pria itu menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" tanya Anton saat menoleh menatap istrinya itu.


Dinda mengambil tangan Anton, lalu menyalimi tangan suaminya. Anton tersenyum tipis melihat tingkah isterinya yang lebih lembut dari biasanya.


"Hati-hati dijalan Mas," ucap Dinda tersenyum.


"Hm..." jawab Anton datar setelah Dinda menatap dirinya.


Pria itu melangkah setelah Dinda menyalimi pria tersebut. Sedangkan Dinda hanya menatap suaminya itu dengan senyum yang terukir indah di wajahnya.


...💋💋💋💋💋...


...TBC...


Assalamualaikum Sahabat Othor Barbar 🤭


Bagaimana perasaan kalian nih?


Jadi nggak nyantet Othor 🤣


Maafin Othor yang sedikit dramatis,


tegang nggak sih di Bab sebelumnya?


Pastinya tidak terlalu ya! 🙈

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya buat Othor dan makasih banyak untuk yang mengikuti karya Othor sampai di episode ini.


Tanpa dukungan kalian Othor hanyalah debu 🙈


__ADS_2