Cintai Aku Walau Sejenak

Cintai Aku Walau Sejenak
Extra part 1


__ADS_3

Usia kandungan Gracia dan Dinda kini memasuki 5 bulan. Brian melakukan USG dan bayinya berjenis kelamin laki-laki kembali. Sedangkan bayinya Anton dan Dinda kembar yang berjenis kelamin perempuan.


Saat dalam perjalanan dari rumah sakit menuju mansion, Gracia tiduran dipangkuan Brian dengan Brian yang terus membelai kepala wanita itu.


"Mas, aku mau makan Bakso yang dipinggir jalan di sebrang butik dong, aku kangen pengen makan baksonya Mang ujang," ucap Gracia mendongak menatap wajah Brian.


"Kita ke restoran saja! Di sana kau bisa memesan apapun yang kau inginkan," ucap Brian tersenyum.


"Tapi aku maunya bakso Mang Ujang, aku nggak mau Bakso restoran," ucap Gracia memanyunkan bibirnya.


"Tapi..."


"Pokoknya aku mau baksonya Mang Ujang, Titik!" ucap Gracia.


"Tapi makanannya bersih 'kan?" tanya Brian.


"Bersih Kok, Mas!" ucap Gracia tersenyum.


"Ya sudah, kita ke sana!" ucap Brian pasrah.


Sesampai di tempat itu, Gracia makan dengan lahapnya hingga membuat Brian menaik turunkan jakunnya karena menelan saliva.


"Mas mau?" tanya Gracia seraya menyodorkan sendoknya.


"Nggak! Aku sudah kenyang melihatmu makan," ucap Brian.


"Yakin nggak mau?" tanya Gracia lagi.


"Nggak," tolak Brian.


Di detik berikutnya Gracia menyuapi Brian tanpa permisi lagi hingga pria itu tidak bisa menolaknya.


"Enak 'kan?" tanya Gracia dengan mata yang berbinar.


"Apapun makanan yang kumakan, kalau disuapi istriku pasti akan terasa nikmat," ucap Brian tersenyum.


"Gombal,"


"Bukan Gombal, tapi apa yang ku katakan memang itulah kenyataannya," ucap Brian seraya mengerlingkan sebelah matanya.


"Kenapa tuh mata? Awas ya kalau kayak gitu sama wanita lain," ucap Gracia cemberut.


"Idih... ngambek," goda Brian.

__ADS_1


"Siapa yang ngambek? Mas Brian tuh ngeselin," ucap Gracia.


"Ya sudah, habiskan baksonya kita pulang sekarang!" perintah Brian.


Gracia menghabiskan baksonya tanpa menjawab Brian, lalu Gracia beranjak terlebih dahulu meninggalkan Brian yang masih membayar bakso yang dipesan istrinya.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


Di sebuah ruangan kerja di mansion Anton, Dinda merasa bosan karena melihat suaminya terus bekerja tanpa mengajak ia bicara. Dinda yang sudah lama berdiam diri di sana, akhirnya ia menemukan ide untuk mencari perhatian suaminya. Dinda beranjak dari sofa menuju kursi di sebrang meja kerja Anton, lalu duduk di sana sambil menatap suaminya yang tidak mengalihkan tatapannya sedikit pun.


"Kanda, boleh nggak Dinda molesin wajah Kanda?" tanya Dinda.


"Maksudnya?" tanya Anton yang masih fokus dengan laptopnya.


"Aku mau dandanin Kanda, pasti Kanda cantik kalau pake make up," ucap Dinda tersenyum dengan wajah memohon.


"Aku, laki-laki Adin! Mana mungkin aku mau didandani? Yang ada nanti aku kayak banci," ucap Anton menghentikan kerjaannya karena mendengar permintaan konyol Dinda.


"Pokoknya Kanda harus mau! Kanda tidak ingin 'kan anak kita ileran karena Kanda nggak mau nuruti keinginan Dinda?" ucap Dinda tersenyum penuh arti sambil menaik turunkan alisnya.


"Ya sudah terserah kau saja!" ucap Anton pasrah.


"Tapi bisa dihapus 'kan?" tanya Anton.


"Ya sudah! Tapi nanti kamu hapus sendiri!" ucap Anton menatap Dinda dengan wajah tidak rela.


"Iya Kanda, iya!" jawab Dinda. Lalu wanita itu berdiri dan menarik tangan Anton, lalu membawa pria itu ke kamarnya.


Sesampainya di kamar, Dinda membaringkan Anton di pangkuannya setelah mengambil peralatan alat make up.


"Sayang, kamu masih hamil lima bulan perutmu sudah sebesar ini, gimana nanti kalau sudah 9 bulan, pasti kau akan kesulitan," ucap Anton seraya mengelus perut Dinda yang membuncit.


"Mungkin karena kembar Kanda! Nggak apa-apa lah kesulitan, 'kan ada Kanda yang bantuin aku," ucap Dinda sambil memoles wajah Anton.


Saat Anton memegang perut Istrinya, tiba-tiba perut Dinda seperti ada getaran di tangan pria itu.


"Sayang anak kita nendang, kau bisa merasakan 'kan getaran tadi?" tanya Anton.


"Iya lah aku bisa ngerasa, mereka 'kan ada di perutku, Mas Anton diem ah, jangan gerak-gerak! Nanti lipstiknya belepotan," kesal Dinda karena pria itu sibuk mengelus perut buncitnya.


"Sayang, Anak kita sepertinya merindukan daddynya deh, makanya dia nendang pas aku sentuh," ucap Anton.


"Kalau rindu ya udah di elus aja! Mau diapain lagi," ucap Dinda yang masih sibuk mendandani Anton.

__ADS_1


"Bukan rindu seperti itu sayang, mereka ingin berjumpa dengan daddynya melalui..." Anton mengehentikan ucapannya.


"Selesai," ucap Dinda mengembangkan senyum setelah melihat karyanya sendiri yang menurutnya sangat lucu.


"Sayang," ucap Anton.


"Iya Kanda! Melalui apa? Mereka 'kan belum lahir, jadi mana mungkin mereka bisa menemuimu?" Dinda menatap Anton dengan wajah polosnya.


"Kau ingin tahu gimana caranya mengobati rasa rindu itu?" tanya Anton.


"Boleh," jawab Dinda dengan wajah bingung.


Tanpa bertanya lagi Anton langsung menekan kepala istrinya hingga tertunduk dan menyambar bibir itu dengan rakus membuat Dinda terkejut sampai melototkan matanya.


"Mmmphhh,"


Dinda melepaskan ciumannya dari Anton karena ia lupa untuk bernafas hingga nafasnya tersengal.


"Kalau mau cium bilang dulu Mas! Jangan mengagetkan seperti itu," ucap Dinda cemberut.


"Katanya kau ingin tahu gimana cara mengobati rindu!" ucap Anton tersenyum simpul.


"Emang apa hubungannya rindu dengan ciuman?" tanya Dinda polos.


"Nanti kau akan tahu sendiri jawabannya," ucap Anton melanjutkan ciuman panas itu.


...💋💋💋💋💋...


...TBC...


Assalamualaikum Readersku sayang 🥰


Lanjut yuk Nanti akan ada cuplikan lanjutan dari karya Othor yang ini.


Tentunya kisah dari Anak-anak Brici dan Andin


Jangan pernah lupa untuk dukung Othor


Thank you 😍


Extra partnya masih ada 🤭


Bentar Othor nulis lagi 🤣🤣🤣🙈

__ADS_1


__ADS_2