
"Honeyyy...!" teriak Dinda saat membuka pintu ruangan Anton.
Anton menatap Dinda males. Sedangkan orang yang ditatapnya melangkah dengan begitu riangnya, gadis itu tersenyum lalu memeluk Anton yang sedang duduk di kursi kerjanya dari belakang.
"Lepas!" ucap Anton melepaskan tangan Dinda yang mengalung di lehernya.
"Honey, kamu nggak seneng aku datang?" tanya Dinda.
"Adin... bisa nggak sih, sehari... saja kau tidak menggangguku.
"Nggak!" ucap Dinda cepet.
"Ck..., kapan kau akan kembali ke Paris?" tanya Anton. Menatap Dinda datar.
"Setelah menikah denganmu!" ucap Dinda tersenyum sambil mengerlingkan sebelah matanya.
"Bisa nggak sih, kau jawab yang bener?" tanya Anton yang menahan kekesalan.
"Aku selalu menjawab pertanyaanmu dengan sangat bener kok, memangnya ada yang salah?" tanya Dinda. Gadis itu beranjak, lalu duduk di kursi sebarang Anton.
"Otak kamu tuh yang salah! Kau perlu obat." Anton menatap Dinda tajam.
"Iya, aku butuh obat! Obatnya adalah kamu." Dinda tersenyum usil.
"Adinnn...! Keluar dari ruanganku sekarang!" bentak Anton yang membuat gadis itu menutup telinga dengan kedua telapak tangannya.
"Jahat banget sih!" Dinda cemberut. Ia mengembungkan kedua pipinya, melihat Anton
yang sedang menahan amarah.
Pria itu beranjak pergi dari ruangan tersebut, meninggalkan Dinda yang masih terus mengganggunya.
"Tunggu Honey!" Dinda mengejar Anton yang terus melangkah tanpa memperdulikan dirinya.
"Kenapa kamu ninggalin aku?" ucap Dinda setelah berhasil mengejar Anton. Sedangkan Anton tidak perduli dengan ucapan gadis itu, Anton melangkah ke arah taman dengan Dinda yang masih mengekor di belakangnya.
"Adin, lepas!" ucap Anton.
"Enggak," ucap Dinda.
"Lihatlah orang di sekitar kita, mereka menatap kita aneh," ucap Anton.
"Terserah, aku tidak perduli," ucap Dinda.
Anton melanjutkan langkahnya lalu duduk di kursi panjang yang berada di taman rumah sakit itu.
"Ngapain disini sih?" ucap Dinda. Gadis itu duduk di sebelah Anton dengan meletakkan dagunya di bahu pria itu.
"Kamu bisa enggak, duduk yang manis tanpa pegang-pegang?" tanya Anton.
__ADS_1
"Enggak!" ucap Dinda tersenyum aneh.
"Bisa-bisa aku gila jika di dekatmu terus." Anton berdiri. Namun, Dinda menariknya hingga pria itu duduk kembali.
"Bisa nggak sih, jangan lari-larian? Aku capek tau," ucap Dinda.
"Aku tidak menyuruhmu untuk mengejarku, jadi tetep diam di situ. Jangan ikuti aku lagi!" ucap Anton.
"Nggak...! Pokoknya aku mau ikuti langkahmu kemana pun kau pergi!" ucap Dinda.
"Terserah!" ucap Anton. Pria itu akhirnya pasrah karena percuma saja ia menghindar, toh! Dinda terus mengikutinya.
"Dok!" ucap seseorang dari belakang Anton dan Dinda.
Deg.
Anton terkejut mendengar suara itu, suara yang tidak asing baginya, suara yang mampu membuatnya tersenyum dan suara yang selalu ia rindukan di setiap hembusan nafasnya.
Anton menoleh pada orang yang memanggilnya. ia berdiri di belakang bangku itu, bangku yang diduduki oleh dirinya juga Dinda.
"Salju!" ucap Anton.
Deg.
Dinda terkejut, mendengar panggilan Anton pada seseorang yang sedang menatap dirinya juga Anton.
Gadis itu seketika melepaskan tangannya, tangan yang memegang pergelangan tangan Anton. Ia bungkam seribu bahasa, ia iuga tak mampu menahan sesak di dadanya.
"Siapa dia?" tanya Gracia datar.
Dinda yang mendengar pertanyaan Gracia, ia langsung berdiri dari tempat duduknya dan mendekati wanita itu.
"Aku Dinda!" Gadis itu mengulurkan tangannya dengan senyum tulusnya.
"Cia!" ucap Gracia.
"Kamu kerabatnya Dokter Anton?" tanya Gracia.
"Nggak! Aku cuma sahabatnya," ucap Dinda dengan senyum yang dilakukan. Sedangkan Gracia hanya mengangguk-nganggukkan kepalanya.
"Ya udah, ayo kita pergi ke tempat lain!" Anton menarik tangan Gracia.
"Eh..." Gracia terkejut karena Anton menariknya begitu saja.
Sedangkan Dinda hanya berdiri di tempat tersebut. Menatap kepergian Anton dan Gracia tanpa berniat mengejarnya.
"Dok, kenapa kau menarikku begitu saja? Memangnya Dinda nggak apa-apa di tinggalkan tanpa permisi?" tanya Gracia setelah sampai di mobil Anton.
"Nggak apa-apa!" ucap Anton tersenyum lembut.
__ADS_1
Anton melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah sakit. Ia tak memperdulikan Dinda yang sedang menahan sesaknya di abaikan oleh orang yang ia cintai.
Gadis itu melangkah dengan tatapan kosongnya, wajah cerianya hilang seketika saat Anton meninggalkannya dan pergi bersama orang yang dicintai pria itu yaitu tunangannya sendiri.
Gadis itu melangkah tanpa tujuan, meninggalkan rumah sakit tempat Anton bekerja. Ia mengingat ketika malam itu, malam yang membuatnya menyesal telah mendatangi apartemen orang yang dicintainya hanya untuk memastikan bahwa pria itu baik-baik saja. Ia mendengar dari sahabatnya bahwa pria itu sedang mabuk di club malam. Hingga ia memberanikan dirinya untuk mendatangi apartemen pria tersebut.
"Aku begitu hina sekarang, apa yang ku harapkan darinya? Jika aku memberi tau tentang kejadian tadi malam, pasti dia akan semakin ilfil padaku. Dia hanya akan menganggapku murahan. Aku tidak tau sekarang harus melangkah kemana? Hidupku sudah hancur." Dinda menatap jalanan itu dengan tatapan kosong.
"Dia begitu cantik dan sempurna. Pantas saja Mas Anton tidak pernah menoleh padaku. Apa aku menyerah saja? Mungkin kembali ke Paris adalah jalan yang terbaik untukku," gumam Dinda.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
"Daddy...! panggil David.
Bocah itu lari ke arah Brian yang menunggunya di dekat mobil pria itu, David sudah pindah sekolah ke negara itu dan yang menjemput David dari sekolahnya adalah Brian sendiri.
Brian tidak mengizinkan sopir yang menjemputnya kecuali sopir itu bersama dengan Gracia.
"Dad, Boleh nggak malam ini David tidur di rumah Daddy?" tanya David setelah Brian melajukan mobilnya.
"Boleh saja sayang, asal pamit dulu sama mommy," ucap Brian tersenyum sambil menoleh pada putra kesayangannya itu.
"David hanya ingin merasakan kasih sayang daddy yang selama ini tidak pernah David rasakan," ucap bocah kecil itu menatap daddynya yang sedang mengemudi.
"Maafkan daddy?" ucap Brian.
"Daddy akan mengganti waktu 6 tahun itu dengan kasih sayang yang sangat besar untuk David. Apapun keinginan David, daddy akan penuhi jika daddy bisa." Brian membelai kepala bocah kecil itu.
"Terima kasih, Daddy! Daddy adalah Daddy terhebat di dunia, aku bangga punya daddy seperti Daddy," ucap David tersenyum.
"Daddy juga bangga punya David, bagi daddy David adalah anugerah terindah dalam hidup daddy." Brian menoleh menatap David yang tersenyum ke arahnya.
"Kita pulang ke mansion mommy dulu ya sayang! Jika David diizinkan nginep di mansion daddy, maka David ikut Daddy! Jika tidak, maka David tidak boleh membantah mommy! Jadilah anak yang patuh," ucap Brian.
"Baik Daddy, aku akan selalu mengingat ucapan Daddy," ucap David.
"Anak pintar," ucap Brian. Pria itu menoyor kepala David. Sedangkan bocah itu tersenyum menatap daddynya.
...💋💋💋💋💋...
...TBC...
Assalamualaikum Readers sayang...
Maafin Othor ya..!
Othor nggak bisa Graczy up
karena ada kegiatan lain
__ADS_1
Jangan pernah bosen untuk mendukung karya receh Othor
Thank you 🥰