
"Selamat Pagi," ucap Anton seraya tersenyum menatap istrinya. Seperti biasa Anton sudah rapi dengan setelan kemeja dan jas yang melekat pada tubuhnya.
Dinda mengerjap-ngerjapkan mata, ia melihat Anton yang sedang duduk di sofa sambil memangku laptopnya.
"Mas Anton sudah mau berangkat?" tanya Dinda.
"Iya, hari ini aku dan Daddy akan keluar kota, kamu nggak apa-apa 'kan di sini sama ART?" tanya Anton.
"Nggak apa-apa kok Mas," jawab Dinda.
"Ya sudah, sana mandi dulu! Kita sarapan di bawah dengan daddy," ucap Anton.
"Hm," jawab Dinda. Wanita itu beranjak lalu membersihkan diri.
Beberapa saat kemudian Dinda telah selesai dengan ritual mandinya, ia menggunakan baju santai. Namun, kecantikannya yang alami mampu membuat Anton terpana melihatnya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu Mas? Apa ada yang salah dengan penampilanku?" tanya Dinda sambil memutar-mutar tubuhnya di depan cermin.
"Nggak ada." Anton keluar kamar mendahului Dinda karena ia merasa salah tingkah saat dekat dengan istrinya itu.
"Tuh kan, katanya mau belajar mencintaiku, tapi mana buktinya, dia keluar duluan tanpa mengajakku, Dasar dokter sesat sialan!" umpat Dinda dalam hati.
Setelah itu Dinda keluar kamar mengikuti langkah Anton yang sudah menjauh. Wanita itu memanyunkan bibirnya karena sikap suaminya yang tidak peka.
Sesampainya di meja makan, George dan Anton sudah menunggunya. Kedua pria tersebut sudah di dampingi sekretaris masing-masing. Leo berdiri di sebelah kursi Anton, sedangan Herman berdiri di samping George.
Dinda duduk di sebelah suaminya, ada perasaan tidak enak saat tatapan seluruh ruangan itu tertuju padanya.
Dinda menundukkan kepalanya karena malu, Anton yang mengerti akan hal itu, ia langsung mengambilkan makanan untuk istrinya tersebut.
Mereka bertiga makan dalam keheningan, hanya suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dalam meja makan tersebut.
Setelah makan, kini tatapan George tertuju pada menantunya itu, membuat orang yang di tatap kini salah tingkah.
"Bagaimana perkembangan cucuku? Apakah dia sehat?" tanya George datar.
"Sehat Dad," ucap Dinda lembut.
"Aku dan Anton akan ke luar kota untuk meeting dengan klien, ada Herman disini yang akan menjagamu," ucap Pria paruh baya itu.
"Baiklah Dad, Dinda ngerti!" ucap Wanita itu tersenyum.
"Aku berangkat dulu," ucap Anton tersenyum, lalu beranjak sambil mengusap kepala istrinya.
"Herman, aku percayakan menantuku padamu! Jaga dia baik-baik! Dan kau Leo, kau ikut kita meeting," ucap George.
"Baik, Tuan!" ucap Leo dan George bersamaan.
George meninggalkan meja makan dengan Anton yang mengekor dibelakangnya.
Dinda mengejar suaminya, entah kenapa ada perasaan tidak tenang dalam dirinya saat Anton mengatakan ingin ke luar kota.
"Mas...," panggil Dinda.
__ADS_1
Anton yang hendak membuka pintu mobil langsung menoleh menatap istrinya yang sedang tergesa-gesa ingin menghampirinya.
"Ada apa?" tanya Anton setelah Dinda sampai di dekatnya.
Dinda memeluk suaminya tanpa menjawab pertanyaan dari suaminya itu. Entah perasaan dari mana, ia tidak rela suaminya pergi.
"Kenapa?" tanya Anton lagi.
"Katakan padaku Mas, kalau Kau mencintaku!" ucap Dinda.
"Kenapa aku harus bilang kayak gitu, aku akan bilang nanti saat waktunya tiba," ucap Anton tersenyum lembut.
Deg.
"Tapi kapan Mas?" tanya Dinda.
"Secepatnya," ucap Anton.
"Ya sudah, aku pergi dulu!" Anton menaiki mobilnya dan melambaikan tangan pada Dinda sambil tersenyum tanpa memperdulikan wanita itu yang sangat berharap suaminya mau menuruti keinginannya.
"Sesulit itukah kau mencintaiku Mas?" Dinda menatap mobil Anton yang menjauh.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Pada malam harinya Dinda masih memikirkan perasaan Anton, ia sangat terluka karena merasa diabaikan, perlakuan manis itu nyatanya tidak mampu membuat Dinda bahagia tanpa sebuah ungkapan cinta.
"Sampai kapan aku harus menunggu cintamu Mas? Aku sudah merasa muak dengan semua ini, aku terluka tanpa cinta darimu Mas, aku tidak sekuat itu untuk selalu bertahan di sisimu," gumam Dinda.
Tiba-tiba pintu di dobrak dari luar membuat wanita itu terkejut dan ketakutan saat seorang yang bertopeng menyodorkan sebuah pisau pada dirinya.
"Kamu siapa?" tanya Dinda gemetaran.
"Aku siapa? Ya aku manusia lah Masak kucing? Hahaha..." ucap orang itu tertawa.
"Kenapa kau mau membunuhku?" tanya Dinda sambil beranjak dari tempat tidur dan melangkah mundur.
"Aku sangat membenci mertuamu, karena dia aku kehilangan istriku, aku memang sudah berhasil membunuh istrinya, tetapi aku belum puas sebelum melihatnya hancur."
"Tapi apa hubungannya denganku?" ucap Dinda gemetaran.
"Dengan kematianmu, Anton akan terpuruk dan akan sulit untuk bangkit. George pasti akan sangat menderita melihat putranya terpuruk. Aku akan menyiksanya perlahan dengan cara membunuh orang terdekatnya. Dia harus merasakan penderitaan yang selama ini aku rasakan."
"Kau salah," ucap Dinda dengan air mata yang berlinang.
"Dia tidak mencintaiku, percuma saja kau membunuhku karena aku bukanlah orang yang berharga baginya. Jika kau ingin membunuhku, Silahkan bunuh aku, aku sudah pasrah jika itu yang akan membuatmu merasa puas."
"Setelah ini berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan mengganggunya lagi," ucap Dinda.
"Hahaha... Dasar bodoh!" umpat penjahat itu.
"Jika itu yang menjadi keinginanmu, baiklah aku akan menurutinya," ucap penjahat itu, lalu ia bersiap menusukkan pisaunya pada Dinda. Namun, sebelum itu terjadi, Anton datang dan menendang orang tersebut dari belakang hingga ia jatuh tersungkur.
"Mas Anton," ucap Dinda.
__ADS_1
Ia terkejut melihat suaminya yang tiba-tiba datang. Anton terus bergelut dengan penjahat itu hingga akhirnya ia berhasil membuka penutup mukanya.
"Herman?" Anton tersenyum sinis.
"Ternyata benar bahwa kau yang menjadi dalang dari semuanya," ucap Anton.
"Ha... ha... ha..." Herman tertawa kencang. Namun tawanya meredup saat George datang dan memukul pria tersebut.
Akan tetapi tanpa di duga seseorang datang membantu Herman, dan Dinda pun terkejut setelah melihat siapa yang datang membantu penjahat itu, ia datang tanpa menggunakan topeng hingga Dinda dapat melihat wajahnya dengan jelas.
"Alex," ucap Dinda.
Baik Alex maupun Anton menoleh pada Dinda. Alex pun ikut terkejut saat menyadari bahwa orang yang akan di bunuh oleh ayahnya adalah orang yang ia cintai.
"Jadi Dinda yang akan ayah bunuh?" tanya Alex.
"Cepat jangan buang-buang waktu sebelum polisi datang!" ucap Herman sambil saling baku hantam dengan George.
"Tidak ayah, aku tidak bisa membunuh sahabat sekaligus orang yang kucintai," ucap Alex diam mematung menatap Dinda.
"Bunuhlah siapa saja yang kau bisa," ucap Herman.
"Akhirnya Alex menyerang Anton, mereka berempat bergelut dan saling baku hantam, hingga akhirnya Herman dan Alex kalah. Mereka pun tumbang di tangan Anton dan George.
"Mas..." Dinda lari ke arah suaminya, lalu memeluknya erat.
"Aku takut," ucap Dinda.
"Tenang saja! Aku di sini untukmu," ucap Pria itu.
"Jangan tinggalkan aku lagi! Aku sangat takut," ucap Dinda.
"Aku janji tidak akan meninggalkanmu lagi,"
Tanpa Di sadari oleh semua orang kini Alex bangkit dan langsung lari ke arah Anton dan Dinda yang sedang berpelukan.
Tesss
Tusukan itu tepat mengenai punggungnya hingga darah pun mengalir deras dari balik punggung itu.
"I Love you Mas Anton,"
"Tidakkkk....."
...💋💋💋💋💋...
...TBC...
Assalamualaikum Readersku sayang 🥰
Beberapa Bab lagi menuju TAMAT
Maaf jika adegan baku hantamnya nggak menarik, Othor nggak pengalaman bikin kayak gituan 🤭🙏🙏🙏
__ADS_1