Cintai Aku Walau Sejenak

Cintai Aku Walau Sejenak
Dasar gila


__ADS_3

Air mata tak selamanya jatuh karena kesedihan, terkadang pula air mata jatuh karena sebuah kebahagiaan.


Air mata itu tak 'kan Abadi, pasti suatu saat akan hilang dan terganti dengan senyum bahagia yang selalu dinanti.


Brian duduk termenung di balkon kamarnya, ia melihat halaman mansionnya yang tertuju pada Kolam renang yang melingkar indah di depan mansion tersebut. Pria itu melihat putranya main kejar-kejaran sama Silvia dan Aaron. Ia tersenyum melihat tingkah konyol putranya itu.


Namun, tiba-tiba ia terkejut dengan kehadiran Gracia di mansionnya. Ia melihat David lari ke dalam mansion setelah melihat kedatangan mommynya.


Gracia mencoba mengejar David. Namun pintu depan langsung di tutup oleh David, ia tidak memberikan mommynya kesempatan untuk berbicara.


"David buka pintunya sayang! Mommy mau bicara sebentar sama David," ucap Gracia.


"Mau bicara apa lagi Mom? Percuma David bicara sama Mommy. Apakah Mommy mendengarkan ucapan David? Tidak 'kan? Jadi silahkan Mommy pergi, David nggak mau bicara sama Mommy," ucap David dari balik pintu.


Gracia menangis mendengar ucapan putranya, ia tidak menyangka bahwa ia akan melukai David. Gracia pikir anak se kecil David tidak tau apapun. Namun, pada Kenyataannya David sangat marah saat mengetahui bahwa mommynya akan menikah dengan orang lain.


"Sudahlah Nak! Mommy yakin, David akan segera menerima kenyataan bahwa kalian tidak bisa bersama. Dia cuma butuh waktu untuk menerima kenyataan," ucap Silvia. Wanita itu memegang pundak Gracia yang menangis sesegukan di depan pintu utama.


"Maafin Cia Mom," Gracia berbalik. Ia menghambur, memeluk mantan mertuanya dengan perasaan bersalah karena telah melukai perasaan Brian.


"Kau tidak perlu minta maaf Nak! Mungkin itu memang hukuman yang pantas untuk putra mommy," ucap Silvia sambil membelai rambut Gracia yang menangis terisak di pelukannya.


"Daddy tau kau terluka dengan sikap Brian, tetapi sebelum kau mengambil keputusan, seharusnya kau pikirkan dulu kebahagiaan putramu! Jangan hanya mementingkan ego saja! Aku tau kalian masih saling mencintai, entah alasan apa yang membuat kalian menghancurkan keluarga kecil kalian! Hingga membuat cucuku terluka dengan ke egoisan kalian itu!" ucap Aaron dari belakang Silvia.


Deg.


Gracia semakin terisak mendengar ucapan mantan ayah mertuanya itu, Aaron langsung pergi dari tempat tersebut menuju mobil yang diparkir di garasi Brian, ia melajukan mobilnya keluar dari halaman mansion Brian. Sedangkan Silvia, masih menenangkan Gracia yang masih menangis tersedu.


"Sudahlah Nak! Jangan pikirkan ucapan daddy! Dia bicara kayak gitu karena tidak tega melihat David menangis karena pertunanganmu tadi malam. Ia sangat menyayangi David hingga tidak rela siapapun membuatnya terluka termasuk kau dan Brian. Daddy memang tipe orang yang posesif," ucap Silvia.


"Tetapi apa yang dikatakan daddy benar adanya Mom, aku egois aku hanya memikirkan perasaanku sendiri dan aku tidak pantas untuk dimaafkan," ucap Gracia.


Wanita paruh baya itu mengendurkan pelukannya lalu menatap Gracia intens yang masih dibanjiri air mata.


"Tenangkan dirimu Nak! Pikirkan dengan matang, apa yang akan kau lakukan setelah ini! Mommy tidak menyuruhmu untuk meninggalkan Anton dan kembali pada Brian. Namun, mommy ingin kau mengambil keputusan yang tidak akan kau sesali suatu hari nanti." Silvia tersenyum menatap wanita yang sempat menjadi menantunya itu.

__ADS_1


Gracia hanya menangis seiring dengan isakan yang terus menggema di teras Brian. Sedangkan Brian menatap Gracia dari balkon kamarnya. Pria itu ingin menghampiri Gracia dan menghapus air matanya. Namun, ia sadar bahwa itu bukan haknya lagi.


Brian meninggalkan Balkon itu, lalu menyusul putra kesayangannya karena ia tau bahwa David pasti menangis sehabis mengusir mommynya dari mansion tersebut.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


Sementara di rumah sakit, Anton memikirkan Gracia yang sama sekali tidak tersenyum saat melangsungkan acara pertunangannya. Pria itu senang karena apa yang ia inginkan terkabul. Namun, Anton juga merasa sedih karena meskipun ia bisa memiliki wanita itu, ia merasa sangat jauh dengannya. Bahkan, ia hanya melihat wajah Gracia datar saat ia menyematkan cincin ke jari manisnya.


"Kau memang menerimaku Salju, tapi tidak dengan hatimu. Hatimu masih milik orang lain dan hatimu terlalu jauh untuk ku gapai, bisakah aku membuatmu bahagia dengan paksaan?" Anton melamun.


Tok tok tok...


"Masuk!" ucap Anton.


"Dokter, ada tamu untuk Anda!" ucap seorang perawat di rumah sakit itu.


"Suruh ke ruanganku saja!" ucap Anton.


"Baik Dok!" ucap perawat itu.


"Kamu!" ucap Anton.


"Hai sayang...!" ucap gadis itu.


"Ngapain kamu kesini?" tanya Anton.


"Ngapain ya...?" gadis itu menggerak-gerakkan jari telunjuk di dagunya, sambil bibir yang mengerucut tak lupa pula memutar bola matanya seakan-akan sedang berpikir.


"Dasar cewek gila!" umpat Anton.


"Wow... cewek gila? Berarti kita serasi dong? Aku gila sedangkan kamu sesat!" ucap gadis itu berbinar. Anton hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah gadis di hadapannya itu.


"Kamu kenapa sih? Kalau sama cewek lain aja kau seperti kegatelan, giliran aku kau cuekin. Aku 'kan pengen dimanja juga seperti mereka!" ucap gadis itu.


"Adin..., aku tidak bisa memanjakanmu, kamu tidak dimanja aja udah kayak gitu, apalagi diperlakukan dengan manis, pasti kau hanya akan menyusahkanku," ucap Anton.

__ADS_1


"Kenapa sih kamu panggil aku Adin? Namaku Adinda dipanggil DIN-DA!" ucap Dinda. Sambil menekankan ucapannya pada Anton.


"Sama saja!" ucap Anton datar.


"Ish... kau menyebalkan!" ucap Dinda cemberut.


"Ya udah sana pergi jika aku menyebalkan. Lagi pula kau hanya menggangguku disini." Anton menatap wajah gadis itu datar.


"Aku baru pulang dari luar Negeri, seharusnya kau menanyakan 'kapan kau pulang Dinda?' gitu! Bukan malah ngusir aku," ucap Dinda memanyunkan bibirnya.


"Nggak penting," ucap Anton.


"Lagi pula aku sudah bertunangan, ngapain aku ngurusi kamu yang manja. Mending aku menghabiskan waktuku bersama tunanganku saja, dibandingkan membuang waktuku hanya untuk ngurusi anak manja seperti kamu!" ucap Anton.


"What?" Gadis itu terkejut mendengar kabar bahwa Anton sudah bertunangan.


"Kamu pasti bercanda 'kan?" tanya Dinda.


"Ngapain aku bercanda, nih lihat!" Anton memamerkan cincin tunangannya pada Dinda.


"OMG...! Kau tega mengkhianati cintaku?" ucap Dinda melototkan matanya.


"Tapi nggak apa-apa! Kalian kan belum menikah, jadi aku masih punya kesempatan untuk memilikimu," ucap Dinda tersenyum.


"Dasar gila! Sekalipun aku tidak jadi menikah, aku tidak akan menikah denganmu!" ucap Anton.


"Ketemu sekali saja sudah membuatku hampir gila, apalagi tiap hari! Bisa-bisa aku beneran gila kalau sampai aku menikah dengannya," gumam Anton.


"Aku masih bisa mendengarnya," ucap Dinda.


"Terserah," jawab Anton.


"Jahat...!" Dinda pura-pura mewek.


...💋💋💋💋💋...

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2