
Berangkat
Pagi itu pukul 05.00 Friska sedang mengecek kembali barang bawaannya. Kemudian ia menghampiri ibunya di meja makan.
“Sudah siap?” tanya ibunya.
“Sudah. Semoga ayah akan senang melihat Friska.” kata Friska.
“Iya nak. Hati-hati.” kata ibunya muram.
“Ibu tenang aja. Friska bisa jaga diri. Ayah juga pasti mengawasi Friska dari sana.” Friska mendekati ibunya dan memeluknya.
Friska dan ibunya sarapan bersama pagi itu. Mereka berdua hidup bahagia walaupun ayah Friska telah tiada. Ibunya tidak mau menikah lagi karena menjaga kesetiaannya pada almarhum suaminya. Setelah sarapan, Friska pun bersiap untuk berangkat. Ia mencium tangan ibunya dan berpamitan. Tiba-tiba ada suara orang mengetok pintu. Ibu Friska membukanya.
“Ada apa nak?” tanya ibu Friska pada seorang anak laki-laki yang pagi-pagi sudah bertamu ke rumahnya itu.
“Em, saya Krisna teman Friska.” kata Krisna yang sudah mengenakan atribut lengkap layaknya pendaki gunung.
Krisna mengenakan celana yang banyak sakunya dan kaos serta topi yang semuanya berwarna hijau tua. Friska tersentak ketika ia mendengar suara yang tak asing di telingnya itu ada di rumahnya. Friska berlari keluar.
“Sudah mau berangkat?” tanya Friska ketika melihat Krisna.
“Iya, sebagai leader aku nggak mau kamu telat aku kesini. Rumah kita kan dekat.” kata Krisna.
“Terlalu berlebihan.” sahut Friska dingin.
“Eh, sudah-sudah. Katanya mau berangkat pagi? Nak Krisna tolong jaga Friska ya.” kata ibu Friska kemudian.
“Iya bu.” jawab Krisna.
Krisna dan Friska kemudian berangkat bersama. Lagi-lagi mereka berjalan dengan kesunyian. Tidak ada yang membuka pembicaraan. Friska merasa senang sekali saat melihat Krisna datang ke rumahnya tadi.
Saat berjalan dengan Krisna pun ia merasa bahagia walaupun Krisna diam seribu kata. Entah apa yang merasuki Friska saat itu hingga ia merasa begitu bahagia. Dalam hati Friska tersenyum dan sesekali memandang Krisna yang ada di sampingnya.
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di sekolah. Banyak peserta lain yang telah datang berkumpul di lapangan. Krisna melirik jam tangannya. Masih pukul 05.30. Mereka berdua memandang sekeliling.
Akhirnya mereka menemukan Irwan dan Erik yang duduk di bawah pohon sawo di sebelah timur. Krisna dan Friska pun berjalan ke tempat itu.
“Sudah lama?” tanya Krisna.
__ADS_1
“Belum. Kak, kok nggak berangkat sama pacar barunya?” tanya Erik.
Krisna merasa sesak dadanya. Ia kembali teringat dengan kelakuan Jeny yang tidak menyenangkan hatinya.
“Nggak kok.” jawab Krisna singkat.
Friska duduk di sebelah kanan Irwan. Tidak lama kemudian Jeny datang bersama Aldi. Aldi membawakan barang bawaan Jeny. Tas gunung hitam lengkap dengan matras di punggungnya. Kemudian tangan kanannya membawa tas kecil berwarna pink dan tangan kirinya membawa tas besar berwarna pink pula. Krisna sudah bisa memastikan kalau itu semua punya Jeny.
“Pagi sayang…” sapa Jeny pada Krisna.
“Ciee..cie.. pacar kakak udah datang tuh.” kata Erik dan Irwan hampir bersamaan.
“Pagi.” jawab Krisna memandang ke arah Jeny dengan pandangan yang dingin.
“Kamu kok cuek gitu sih kak?” tanya Jeny cemberut.
“Nggak apa-apa. Sebaiknya kita lekas menyiapkan segala peralatan.” kata Krisna kepada semua anggota.
Krisna mengambil cacatan perlengkapan di tasnya dan bersiap mengecek semuanya.
“Ini pasti gara-gara kamu!” teriak Jeny pada Friska.
Friska menatap Jeny dengan pandangan datar. Friska tetap diam.
Friska tetap diam tak bereaksi apapun.
Semua hanya terdiam melihat kelakuan Jeny.
“Tadi dia juga bareng kak Krisna berangkat kesini.” Erik tiba-tiba angkat bicara.
Friska memandang Erik dengan tatapan tajam. Erik pun tidak berani mengatakan sepatah kata lagi.
“Apa maksudmu mendekati Krisna?” tanya Jeny semakin mendekati Friska dan berjongkok di depan Friska.
Friska masih saja diam tanpa ekspresi sedikit pun.
“Jawab!” suara Jeny meninggi hingga semua yang telah hadir menoleh ke arah mereka.
Krisna bingung harus berbuat apa. Kini semua terasa menyesakkan dada karena kebohongannya sendiri.
__ADS_1
“Friska, jangan ganggu ketenangan Jeny ya.” Aldi ikut bicara membela Jeny.
“Fris, sebaiknya kamu cari cowok lain aja.” Irwan turut menasehati Friska.
“Kamu dengar apa kata mereka?” tanya Jeny di depan muka Friska.
Friska menatap mata Jeny tanpa berkedip. Saat itu Friska terlihat sangat berani. Ia tidak takut sedikitpun pada Jeny walaupun mungkin semua anggota regu itu membela Jeny.
Krisna semakin bingung saat semua anggota memojokkan Friska. Ia merasa kasihan terhadap Friska.
“Cewek murahan.” kata Friska dingin.
Belum sempat Krisna berkata apapun tamparan Jeny telah melayang ke pipi Friska.
“Sudah! Diam semua!” untuk kali ini mereka semua mendengar Krisna marah.
“Kalian hanya menyia-nyiakan waktu! Ini sudah pukul 05.45!” lanjut Krisna masih dengan amarah.
Krisna merasa sangat tidak dihargai sebagai seorang leader di regu itu. Krisna mendekati Jeny. “Bisa nggak kamu hargai aku sebagai leader regu ini. Tolong jangan seenaknya!”kata Krisna tegas pada Jeny.
Semua peserta memandang ke arah regu mereka. Krisna sadar semua mata memperhatikannya. Kemudian ia menarik tangan Jeny dan menyuruhnya duduk di sampingnya.
“Tidak ada yang akan merebutku dari kamu.” kata Krisna menenangkan Jeny.
Sedangkan Friska masih memegangi pipinya. Friska memandang semua anggota regunya dengan tatapan yang sangat dingin dan ganas. Ada sebongkah dendam yang masuk ke hatinya. Kini kesedihan yang selalu ia rasakan dihatinya ditambah luka dari regu dan perjalanan ini. Friska merasa sangat menderita saat itu. Krisna hanya menunduk saat Friska menatapnya.
Krisna tahu sebagai seorang leader ia telah gagal dalam membina anggotanya.
“Tapi bagaimana kata orang kalau aku membela Friska?” tanya sisi gelap Krisna.
Tapi kini Krisna hanya bisa terdiam dan tertunduk malu. Sedikit kebohongan yang ia lakukan kini mejadi bertambah dan terus bertambah.
Krisna tak tahu sampai kapan ia akan kuat menghadapi kebohogan pada dirinya sendiri kalau sebenarnya ia tidak mencintai Jeny. Ia menjadi pacar Jeny hanya sebatas memenuhi tantangan rival abadinya. Sedangkan hati Friska terkoyak amarah. Tapi ia mencoba untuk bersabar.
Pukul 06.00 Andre sudah mulai memberikan penjelasan terhadap seluruh peserta.
“Pagi semua! Alam yang sejuk dan indah telah menanti kita. Langsung saja kalian naik ke bus sesuai dengan regu kalian. Penjelasan tentang kegiatan akan dilaksanakan setelah kita sampai lokasi. Kota Purworejo telah menanti.” kata Andre.
Semua peserta menaati perintah Andre. Tahun ini peserta terdiri dari 10 calon leader dan 50 calon anggota. Selain itu ada sekitar 20 senior yang bertugas mengawasi mereka. Mereka berangkat dengan 2 bus. Jeny merasa sangat beruntung karena ia tidak satu bus dengan Rudi.
__ADS_1
Krisna menyuruh Jeny untuk duduk dengan Friska saat di bus. Tapi Jeny tidak mau dan terpaksa Krisna duduk dengan Jeny. Sedangkan Friska duduk dengan Irwan. Krisna hanya terdiam tidak mengajak Jeny berbicara. Tapi lain dengan Jeny dia ngoceh panjang lebar. Krisna ingin sekali menutup telinganya saat itu.
Namun mungkin ini sudah nasib yang harus ia terima. Perjalanan yang belum dimulai itu sudah menjadi sangat membosankan di mata Krisna. Krisna hanya memandang ke jendela dan matanya mencoba untuk tidur. Sedangkan telinganya terus terusik dengan suara Jeny.