CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN

CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN
Selingkuh


__ADS_3

Selingkuh


Kira-kira pukul 14.00 itu Rudi dan Jeny sedang jalan-jalan di mall. Seperti yang dilakukan Jeny kepada Krisna, ia pun mengajak Rudi menemaninya belanja. Tapi berbeda dengan Krisna, Rudi sangat bersemangat.


“Bagus yang mana kak?” tanya Jeny sambil mengangkat dua baju.


“Bagus yang kuning. Itu cocok buat kamu.” kata Rudi sambil tersenyum.


Rudi dengan setia menemani Jeny belanja dan memberi masukan-masukan. Entah kenapa Rudi tampak begitu senang.


“Em,,, Jen sebenarnya kamu dan Krisna gimana?” tanya Rudi.


“Ya itu kak, seperti yang tadi malam aku ceritain.” kata Jeny yang sibuk memilih pakaian.


“Lalu kenapa kamu nggak putus sama Krisna?” tanya Rudi.


Jeny memandang Rudi sejenak. Ia mendekati Rudi dan memeluknya.


“Aku takut kak. Mungkin besok setelah lintas alam itu aku aka putusin dia dan setelah itu aku akan jadi pacar kakak.” kata Jeny memelas.


Rudi pun tersenyum senang. Kini harapan di hatinya tumbuh subur. Ia sangat percaya dengan kata-kata Jeny itu.


“Kamu nggak usah takut. Sekarang ada aku.” kata Rudi meyakinkan Jeny.


Akhirnya Jeny berhasil meluluhkan hati Rudi. Jeny tersenyum penuh kemenangan. Tapi tak jauh dari tempat itu ada seseorang yang melihat semua kejadian itu. Friska. Ia sedang mengantarkan ibunya memilih baju dan ia sendiri sedang mencari topi. Friska tidak sengaja melihat mereka.


Dengan penasaran ia mendekati mereka dan bersembunyi di belakang rak baju. Rudi dan Jeny pun berpindah tempat mereka bergandengan tangan dengan mesra. Friska ingin mengikutinya.


“Friska?” ibunya memanggilnya ketika ia mulai melangkah.


Ia pun mengurungkan niatnya untuk mengikuti mereka.

__ADS_1


“Kemana aja sih kamu? Ibu mau tanya, bagus yang mana?” tanya ibu Friska sambil menunjukkan dua baju yang dipilihnya.


“Bagus yang biru muda.” kata Friska sambil tersenyum.


“Kalau begitu ibu ambil yang kamu pilih.” kata ibunya. Friska tersenyum.


“Katanya kamu mau nyari topi buat besok?” tanya ibunya. Friska mengangguk.


Friska dan ibunya berjalan mencari topi. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan mereka berjalan ke kasir dan kemudian pulang. Saat menuju keluar ternyata Jeny ada beberapa meter di belakangnya. Jeny melihat Friska dengan terkejut. Dengan segera ia melepaskan tangannya dari Rudi.


“Kenapa sayang?” tanya Rudi.


“Nggak kenapa-napa.” jawab Jeny.


Rudi memandang cewek yang dipandang Jeny. Friska tidak mempedulikan Jeny. Friska bersama ibunya keluar. Walaupun begitu, Jeny sangat takut kalau Friska menceritakan itu pada Krisna. Jeny terus menerus dihantui rasa takut apalagi besok mereka akan bertemu dan bersama dalam kegiatan itu.


Setelah menemani ibunya, sampai di rumah Friska bersiap untuk pergi lagi. Ia memakai topi, kaos dan celana. Ia mulai berlari dari halaman rumahnya. Hal tersebut yang sering dilakukan Friska saat dia akan melakukan perjalanan jauh. Dari SMP dia sudah biasa melakukan hal tersebut.


Dulu saat SMP dia sering mengikuti aktivitas pecinta alam. Selain itu ayahnya sering mengajaknya pergi naik gunung. Setiap kali Friska memiliki acara perjalanan yang ada hubungannya dengan itu semua, ia pasti mempersiapkan fisiknya terlebih dahulu.


“Aku leader? Aku harus gimana?” tanya Krisna pada dirinya sendiri.


Tiba-tiba ia tersentak melihat Friska berlari melewati halaman rumahnya. Ia membuka matanya lebar-lebar. Ternyata memang benar Friska. Ia berlari ke kamar mandi untuk cuci muka dan langsung keluar.


Ia mengejar Friska yang sedang berlari itu.


“Sejak kapan kamu suka lari-lari?” tanya Krisna setelah sampai di sampingnya.


“Untuk persiapan besok. Sejak tiga hari yang lalu aku berlari pagi dan sore.” jawab Friska datar.


Krisna terdiam melihat kenyataan itu. Ia tahu Friska memang benar-benar berbeda. Tidak seperti Jeny yang mempersiapkan hal-hal yang tak penting. Friska ternyata lebih mengerti apa yang harus dilakukan.

__ADS_1


Krisna tenggelam dalam pikirannya. Sedangkan Friska terbelenggu kebingunggannya. Ia tidak tahu harus bagaimana setelah melihat kelakuan Jeny bersama Rudi tadi. Sebenarnya Friska kasihan dengan leader regunya itu. Tapi ia juga nggak mau kalau merusak hubungan mereka.


Friska tidak mau ikut campur hubungan mereka. Mungkin ia berdosa telah melakukan itu. Tapi apa boleh buat, ia tidak punya keberanian untuk menyatakan yang sebenarnya termasuk perasaannya pada Krisna.


Di hati Friska yang paling dalam pun ia masih menyimpan sepercik benci untuk Krisna karena ia tidak membelanya saat Rudi menghinanya. Hatinya sakit ketika semua orang tidak peduli padanya hanya karena dia tidak begitu cantik.


Saat ia mengingat kejadian itu emosinya meluap dan ia akan sangat membenci Krisna. Tapi di sisi lain ia merasakan perasaan yang aneh saat bersama Krisna. Ia merasakan ada sesuatu yang kembali. Namun rasa itu terlalu semu hingga ia bingung mengartikannya.


“Besok jangan sampai telat ya.” kata Krisna memecahkan kesunyian di antara mereka.


“Iya kak.” jawab Friska sambil memandang Krisna.


Krisna tersenyum kepadanya. Ia langsung menunduk, tanpa ia sadari mukanya merah. Entah kenapa ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir perlahan di dadanya dengan lembut dan sangat tenang.


Ia merasakan sebuah kenyamanan yang menyelimuti hatinya yang dingin itu. Rasa yang kelihatan sangat semu dan jauh dari hatinya itu membuatnya mulai menduga-duga. Entah rasa apa yang mulai menaungi Friska saat itu.


Sore itu Krisna berlari bersama Friska tanpa dilalui dengan banyak percakapan. Mereka terkukung dengan pikirannya masing-masing. Tanpa mereka sadari ada satu pasang mata yang melihat mereka dengan benci dari sebuah mobil yang melewati jalan raya. Jeny melihat mereka sekilas saat ia pulang dari mall.


Saat Jeny melihat mereka berbicara, Jeny berpikir kalau Friska sudah menceritakan itu semua. Seketika bencinya ia tujukan hanya untuk Friska. Jeny pun tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi besok antara ia dan Krisna.


Jeny sangat dendam dengan Friska setelah melihat hal itu. Jeny sangat takut kalau Friska merebut Krisna darinya. Dalam mobil Jeny diam dan terus memikirkan apa yang akan terjadi besok. Ia memikirkan bagaimana membohongi Krisna agar tetap percaya kepadanya.


Sebenarnya ia sangat takut kalau Friska membongkar rahasianya itu. Jeny masih ingin bersama Krisna meskipun ia tidak benar-benar mencintai Krisna. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Jeny menatap layar ponselnya dan tersenyum. Ia mengangkat telepon itu dan menyapa orang itu dengan manja.


Sementara Friska dan Krisna masih saja terdiam sepanjang jalan. Friska bingung apa yang harus ia lakukan untuk mengisi kekosongan itu. Sama halnya dengan Krisna, ia juga merasa sangat kaku karena tidak ada pembicaraan di antara mereka. Namun keduanya tidak ada yang mengeluarkan suara sampai akhir perjalanan mereka.


“Mampir ke rumahku.” kata Krisna agak canggung.


“Tidak. Terima kasih.” kata Friska kemudian berlari kembali.


Krisna hanya memandangi Friska yang berlari itu. Baginya Friska cewek yang sangat aneh.

__ADS_1


“Aku masih tak bisa pergi dari tempat semula. Gunung es itu belum dapat aku takhlukan.” kata Friska sambil berlari.


Friska terus berlari dan kemudian duduk di bawah pohon yang cukup rindang. Ia memandang ke langit cukup lama dan kemudian diam termenung merasakan hatinya yang begitu dingin.


__ADS_2