
Menemukan Sedikit Ketenangan
Bus melaju dengan lambat di tengah kota. Setelah melewati Kulon Progo bus berjalan di jalan yang cukup sepi. Sepanjang jalan Krisna mengamati itu masih wilayah Kulon Progo. Belum ada yang menarik perhatiannya. Hanya pandangan yang sering ia lihat saat ia pergi bermain ke rumah neneknya di Kulon Progo.
Di setiap perjalanan Krisna hanya berdoa supaya semua lancar walaupun anggotanya saat ini sedikit memusingkan kepalanya. Jeny sangat manja dan Friska sangat dingin. Dua wanita di regunya itu sangat ia khawatirkan apabila mereka bertengkar.
Tak lama kemudian bus telah melewati batas provinsi. Mereka memasuki wilayah Jawa Tengah dan meninggalkan Yogyakarta. Beberapa saat kemudian Krisna memandang gapura yang bertuliskan “Selamat datang di Purworejo”.
Krisna memandang sekeliling. Tidak tampak olehnya ada gunung. Kemudian ia melihat ada papan petunjuk yang bertuliskan Goa Seplawan. Tapi bus tidak membelok ke jalan itu. Setelah itu Krisna melihat ada patung kambing yang di bawahnya di kelilingi buah durian dan manggis.
Beberapa saat kemudian ia tersentak. Ia teringat Friska. Ia menoleh ke belakang. Tampak olehnya Friska memandang jendela tanpa berkedip. Ia tidak dapat menafsirkan apa yang dirasakan Friska saat itu. Kemudian ia melirik Jeny. Jeny masih sibuk melihat wajahnya di kaca. Tadi Friska mengatakan kalau Jeny cewek murahan. Apa maksudnya Krisna sama sekali tidak tahu.
Banyak pertanyaan timbul di benak Krisna. Di mata Krisna, Friska benar-benar aneh dan sangat dingin. Hatinya seolah-olah terbuat dari es. Saat semua cewek di sekolahnya memujanya dan berharap jadi pacarnya, Friska hanya bersikap dingin kepadanya. Krisna merasa dirinya tidak berarti di mata Friska atau mungkin tidak ada.
Krisna sadar kelakuannya tadi sangat tidak adil dengan Friska. Saat itulah Krisna mulai meragukan dirinya sendiri. “Pantaskah aku menjadi leader?”tanya Krisna dalam hati. Ia menunduk. Tapi menjadi seorang leader adalah keinginannya sejak dulu.
Ia tidak mau hal tersebut hanya menjadi mimpi belaka. Akhirnya, ia memutuskan untuk mencoba adil pada anggota kelompoknya walaupun posisi Jeny saat ini adalah pacarnya. Pacar dari hasil tantangan Rudi dan kebohogannya. Sungguh ironis.
Kira-kira 15 menit kemudian, Krisna mulai sampai di pusat kota kecil itu. Ia dapat menyimpulkan itu merupakan pusat kota karena ada lapangan besar yang sering disebut alun-alun.
Krisna sedikit heran karena alun-alun kota itu sangat besar. Bus mulai mengitari jalan di dekat alun-alun. Ketika bus berbelok Krisna melihat monumen yang bertuliskan “Purworejo” berwarna hijau dan pada huruf O ada semacam topi di atas huruf tersebut. Semua penumpang dalam bus itu melongok ke jendela.
Ternyata memang benar dugaan Krisna kalau itu merupakan pusat kota. Setelah itu ia melewati kantor bupati di sebelah selatan, masjid agung di sebelah barat dan pendapa kabupaten di sebelah utara.
Selanjutnya bus melaju lurus ke arah timur. Kemudian berbelok ke kanan. Bus terus melaju dan ketika ada perempatan, bus berbelok ke kanan. Seketika pandangan semua anak dalam bus tertuju pada patung yang mungkin sebuah monumen. Patung tersebut membawa biola. Ketika bus melewati samping patung itu, Krisna memandang patung itu dengan seksama.
“Patung W. R. Soepratman.” kata Friska dari belakang. Krisna menegok ke arah Friska.
“Pencipta lagu Indonesia Raya. Kakak nggak tahu ya?” kata Friska sambil mencoba tersenyum tapi masih kaku karena kemarahannya. Krisna hanya diam saja.
“Jangan sok tahu lah!” bentak Jeny sinis.
Friska tidak mempedulikan Jeny dan langsung kembali memandang jendela. Bus melewati jalan menurun dan kemudian menaik. Dan lima menit kemudian bus berhenti di sebuah lapangan kecil.
__ADS_1
Anak-anak semua turun dan duduk di tengah lapangan itu. Mereka duduk berdasarkan kelompok. Mereka memandang sekitar. Di sebelah barat sudah berdiri tenda besar yang mereka tahu itu merupakan sekretariat panitia.
Tidak lama kemudian, Andre telah berdiri di depan para peserta dan mulai memberikan penjelasan. Semua peserta memasang telinga.
“Kadang hal yang kecil selalu dilupakan. Tapi tanpa hal kecil, hal besar tidak akan mungkin ada. Kalian mungkin bertanya-tanya mengapa ke tempat ini. Tidak ada gunung yang akan kita daki dan tidak ada tebing yang akan kita panjat. Kita akan menelusuri gua. Tapi penelusuran gua kali ini berbeda.” kata Andre.
Semua peserta meperhatikan.
“Waktu kalian 3 hari dan kalian harus sudah sampai tempat ini lagi pada hari ketiga pukul 13.00. Kalau ada regu yang belum turun saat itu dianggap gugur. Tugas kalian selain menelusuri gua adalah mencari rumah kelahiran W. R Soepratman dan mengumpulkan informasi tentang beliau.” lanjut Andre.
Semua peserta sedikit ribut. Bahkan ada yang protes perihal informasi yang mereka belum tahu sedikit pun. Krisna hanya memandang ke arah Friska.
“Apakah dia sudah tahu?” tanya Krisna dalam hati.
Gua yang akan mereka telusuri adalah gua Seplawan. Gua Seplawan merupakan salah satu gua yang berada di kabupaten Purworejo. Gua ini terletak di gugusan bukit menoreh perbatasan Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo tepatnya berada di Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing, sekitar 20 kilometer ke timur dari pusat kota Purworejo dan berada di sekitar 700 meter dari Permukaan laut.
Gua Seplawan itu merupakan peninggalan sejarah peradaban masa lalu terbukti dengan ditemukannya sebuah arca emas 22 karat setinggi 9 cm dengan berat 2,5 kg. Pada 15 Agustus 1979 di salah satu sudut goa. Arca Kencana itu berupa patung sepasang pria dan wanita yang sedang bergandengan tangan.
Para ahli arkeolog meyakini bahwa patung itu adalah Dewa Siwa dan Dewi Parwati, Arca itu merupakan peninggalan pada zaman Hindu Siwa. Kini arca tersebut disimpan di Museum Nasional dan sebagai gantinya Pemerintah membangun replika arca di depan mulut goa, replika itu ukurannya lebih besar dari yang sebenarnya.
Andre terus memberikan penjelasan.
“Waktu kalian 3 hari dan ketika pukul 17.00 kalian harus berhenti meneruskan perjalanan kalian dan harus mendirikan tenda untuk tidur. Kalian tidak boleh melakukan perjalanan di malam hari. Kami para senior memiliki base camp yang tersebar di seluruh tempat dan kami akan selalu mengawasi kalian. Batas waktu kalian kembali adalah hari ketiga pukul 13.00. Setelah waktu berakhir, kalian dianggap menyerah dan kami dari panitia akan mencari kalian. Ada pertanyaan?” tanya Andre kemudian.
Rudi mengangkat tangannya.
“Mengapa kita harus ke tempat yang belum kita kenal dan bukan merupakan tempat yang sudah terkenal?” tanya Rudi heran.
Semua mata ke arah peserta memandang Rudi.
“Pertanyaan yang cukup bagus. Kalian bukanlah seorang petualang sejati ketika tempat yang kalian lewati kalian kenal. Di tempat-tempat terkenal kita sudah sering meliatnya di mana saja. Kesan menarik akan di peroleh pada pertama kali bertemu.” kata Andre.
Krisna menyadari perkataan Andre. Ia tahu memang saat ia dulu mendaki gunung Merbabu, ia sudah melihat rutenya dari bebagai sumber dan ia tidak mendapat kesulitan apapun saat menjalani pendakiannya. Ia tahu mungkin Andre juga pernah merasakan apa yang ia rasakan. Kemudian kali ini membuat rute sendiri yang belum ada dan belum diketahui banyak orang.
__ADS_1
“Inilah tantangannya” gumam Krisna. Semua anggota kelompok Krisna menengok ke arahnya.
“Kalian harus tetap semangat karena itulah tantangannya.” kata Krisna sambil tersenyum.
“Iya kak.” jawab Friska sambil tersenyum.
Krisna mengernyitkan dahi dan heran melihat kelakuan Friska yang bisa berubah-ubah drastis. Mereka semua kembali memperhatikan Andre.
“Masing-masing leader regu silakan maju ke depan untuk mengambil undian. Nomor undian yang kalian ambil merupakan urutan kalian berangkat dan selisih waktu pemberangkatan antar kelompok 30 menit agar rute yang kalian ambil tidak sama. Kecepatan kalian dalam melakukan perjalanan ini bergantung pada ketepatan kalian memilih rute.” kata Andre.
Krisna maju ke depan mengambil undian.
“Setengah jam? Lama banget.” kata Jeny mengeluh.
“Iya lama banget.” kata Erik.
Beberapa saat kemudian Krisna kembali dengan muka sedikit muram.
“Kenapa kak?” tanya Aldi.
“Kita berangkat terakhir.” kata Krisna lemas.
“Ngambil undiannya gimana sih!” bentak Jeny seperti menjerit.
“Aku juga nggak tahu!” kata Krisna keras.
“Udah lah. Kita bisa kok lewati tantangnnya. Optimis aja.” kata Irwan mencairkan suasana.
Sedangkan Friska duduk sambil meniup permen karet yang ia makan.
Krisna menatapnya. Seperti biasa rambut Friska di kucir kuda dan kali ini ia mengenakan topi berwarna hijau tua. Ia duduk dengan santai sambil mengunyah permen di mulutnya dan meniupnya sesekali.
Muka Friska begitu tenang dan dari mukanya ia tidak berada dalam masalah. Kemudian Krisna memandang Jeny yang cemberut. Jeny sangat tidak sabar menghadapi setiap masalah. Entah kenapa, saat Krisna memandang wajah Friska yang begitu tenang itu, ia merasa menemukan ketenangan juga.
__ADS_1
Tiba-tiba Krisna teringat perkataan Andre “…. Kalian para leader regu harus memilih 3 dari anggota regu kalian untuk diajukan sebagai anggota Cintalindo selanjutnya….”. Kini Krisna tahu menjadi leader tidaklah mudah.