CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN

CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN
Pandangan yang Teralihkan


__ADS_3

Pandangan yang Teralihkan


“Dari Rudi.” kata bunda memandang Krisna. Krisna beranjak dari tempatnya.


“Halo, ada apa Rud?” tanya Krisna.


Rudi tertawa mendengar kata-kata Krisna.


“Aku sudah hampir mendapatkan Jeny. Dia kini sudah akrab denganku. Siap-siap aja buat kalah dari aku.” kata Rudi sombong.


Pikiran Krisna tersentak dengan kata-kata Rudi. Ia sadar kalau ia benar-benar tak mau kalah.


“Aku belum mulai Rud. Lihat saja hasil akhirnya.” Krisna menggertak.


“Ok, siapa takut? Aku juga nggak mau kalah darimu.” kata Rudi.


Krisna berjalan ke kamarnya dengan pikiran yang kacau. Akhirnya ia putuskan untuk menyelesaikan masalah Jeny terlebih dahulu dan untuk Friska dia akan menundanya. Keputusannya sudah mantap, ia akan menyatakan cintanya kepada Jeny besok saat persiapan untuk acara hari minggu. Ia duduk di depan laptopnya. Ia mencari-cari bagaimana menyatakan cinta. Akhirnya ia putuskan untuk memberinya bunga mawar.


“Semoga, ia tak memilih Rudi.” gumam Krisna menenangkan diri.


***


Hari Jumat yang ditunggu Krisna pun datang. Hari itu semua yang akan berangkat lintas alam menyiapkan diri mereka. Masing-masing regu berada di lapangan itu untuk membahas pembagian tugas dan kelengkapan peralatan. Regu Krisna telah berkumpul.


Friska, Jeny, Erik, Aldi dan Irwan sudah menunggunya dengan senyum. Krisna duduk diantara mereka dengan heran karena melihat senyum Friska yang sangat kaku dan dibuat-buat.


“Ok, kali ini kita cek semuanya. Untuk tenda gimana?” tanya Krisna.


“Beres.” Irwan menyahut.


“Untuk peralatan masak dan bahan makanan gimana?” tanya Krisna lagi.


“Sudah ada semua.” jawab Friska.


Krisna melanjutkan pemeriksaannya. Ternyata semua sudah lengkap.


“Besok Minggu kita berangkat pukul 06.00. Aku harap kalian on time dan nggak ada barang yang keluapaan. Jadi besok kita bawa tenda dua. Satu tenda untuk cewek dan yang satu untuk cowok. Untuk barang-barang yang berat biar cowok yang bawa. Lalu seperti yang Andre katakan, kita dilarang membawa alat elektronik apapun dan makanan instan pun kita nggak boleh bawa. Kita hanya boleh bawa beras dan sayuran. Jadi aku harap kalian mematuhi kata-kata itu. Tetap semangat! Alam yang sejuk telah menanti kita dua hari lagi. Tapi jangan lengah, karena kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan dalam kegiatan itu.” kata Krisna memberi ceramah. Semua anggota regunya hanya mengangguk-angguk.


“Ada pertanyaan?” tanya Krisna kemudian.


“Tidak.” jawab mereka hampir bersamaan.

__ADS_1


Friska dan Jeny tidak pernah kelihatan ngobrol dan anggota kelompok yang lain pun menjauhi Friska. Krisna bingung apa salah Friska di mata mereka. Dalam regunya semua perhatian terarah pada Jeny. Walaupun beberapa hari yang lalu Friska terlihat sangat kaku tapi ternyata dia mengerjakan tugas dengan baik.


Lain halnya dengan Jeny. Dia tak mengerjakan tugas apapun karena tugasnya di ambil alih oleh Erik, Irwan dan Aldi. Mereka dengan senang hati membantu Jeny. Krisna memandang miris ke arah Friska. Tapi yang tampak di matanya Friska tetap datar dan biasa saja.


“Apakah karena Friska tak secantik Jeny?” tanya Krisna dalam hati.


Entahlah. Menurutnya Friska memang cewek yang aneh. Tapi sebagai leader regu itu, Krisna meyakinkan dirinya agar tidak membeda-bedakan anggota.


Regu Krisna selesai lebih awal. Tanpa pikir panjang, Krisna mengajak Jeny duduk di taman dekat lapangan itu. Rudi yang mengawasi dari tadi mengikutinya. Bahkan ia menyerahkan tugasnya kepada salah satu anggota regunya. Krisna dan Jeny duduk di bangku itu.


“Maaf, kalau aku mengganggu waktumu. Aku mau bilang sesuatu.”kata Krisna. “Apa kak?” tanya Jeny dengan muka merah merona.


“Jen, mau nggak kamu jadi pacarku?” tanya Krisna tanpa basa-basi.


“Tunggu!” teriak Rudi.


Krisna dan Jeny memandang Rudi yang tak jauh dari sana. Krisna langsung tahu apa yang akan dilakukan Rudi. Krisna hanya diam melihat Rudi mendekati mereka.


“Jen, tiap malam aku memikirkanmu. Tiap saat aku merindukan wajahmu. Engkau bagai bidadari yang turun untuk menyejukkan hatiku. Sejak pertama kita bertemu aku sadar engkaulah cintaku. Aku tak tahu kapan hadirnya cinta ini, tapi ku ingin kau pun merasakan apa yang aku rasakan. Maukah kau jadi pacarku?” kata Rudi mengeluarkan rayuan mautnya.


Jeny terdiam.


Rudi mengeluarkan mawar berwarna pink. Krisna tak mau kalah. Ia pun ikut mengeluarkan mawar berwarna merah dengan gagap.


“Ambillah mana yang kamu pilih.” Rudi angkat bicara.


Beberapa saat lamanya mereka semua terdiam. Jeny pun terbungkam oleh kebingungan. Tapi sebenarnya dia telah yakin akan memilih Krisna. Yang membuat ia bingung adalah Rudi yang tanpa diduga ikut menyatakan cinta padanya. Ia kasihan terhadap Rudi jika ia menolaknya. Tapi ia memang harus menyatakan pilihan agar ia tidak diliputi kebingunan terus menerus.


Dengan perlahan Jeny menggerakkan tangannya untuk mengambil mawar ditangan Krisna.


“Aku pilih kak Krisna.” kata Jeny sambil tersenyum.


Saat itu hati Rudi sangat hancur.


“Kamu yakin? Kamu akan salah pilih. Kalian tak akan bahagia!” kata Rudi sambil beranjak pergi.


Rudi benar-benar marah akan kekalahannya.


“Terima kasih Jen. Tapi kelihatannya Rudi benar-benar marah.” kata Krisna.


“Sama-sama kak.” kata Jeny.

__ADS_1


“Jangan memanggilku kakak. Panggil aja Krisna.” kata Krisna meniru kata-kata pemain film setelah menyatakan cinta.


Dari kejauhan rupanya Erik melihat semua kejadian tadi. Ia berlari menuju ke tempat regunya berkumpul.


“Ngapain kamu lari kayak dikejar setan?” tanya Aldi.


“Aku nggak sengaja lihat Jeny sama kak Krisna.” kata Erik terengah-engah.


“Nggak sengaja atau niat mau ngintip mereka?” Irwan menuduh.


“Ya itulah, atau apalah nggak penting. Jeny sama kak Krisna jadian.” kata Erik masih menata napasnya.


Erik pun menceritakan semua yang dilihatnya. Semua terheran-heran dan memandang kearah Rudi yang sedang bersama regunya. Friska hanya diam mendengar kisah Erik tadi. Friska tahu, Erik pasti tidak bohong karena kenyataannya tadi Jeny pergi bersama Krisna. Tapi entah kenapa Friska merasakan tusukan yang tajam di hatinya saat ia mendengar mereka jadian.


“Apakah aku cemburu?” pertanyaan itu terus menerus menghantui Friska.


“Tidak mungkin!” Friska berteriak dalam hatinya.


Tidak lama kemudian Krisna dan Jeny datang. Erik, Aldi, dan Irwan telah siap menggoda pasangan baru itu. Friska hanya diam dan menunduk. Sekali lagi Friska merasakan tusukan yang teramat dalam melihat mereka datang bergandengan tangan.


“Entahlah.” bisik Friska untuk dirinya sendiri.


“Ada yang baru jadian nih.” kata Erik sambil melirik mereka.


Muka Jeny langsung merah. Ia tersenyum dan mengangguk. Krisna tetap tanpa ekspresi.


“PJnya mana? Kapan? Trus dimana?” tanya Aldi beruntun.


“Kapan-kapan.” kata Krisna datar.


Semua anggota regu langsung diam. Termasuk senyuman Jeny pun menghilang. Kini semua terbungkam. Krisna tahu seharusnya dia merasa senang telah memenangkan tantangan dari Rudi.


Tapi ada sebongkah penyesalan di hati Krisna yang paling dalam karena telah membohongi hatinya sendiri karena sebenarnya ia belum pernah merasakan apa itu cinta. Kebohongan itu akhirnya membawanya di tengah masalah yang cukup rumit. Ia sadar, kata-kata yang ia keluarkan tadi membuat suasana menjadi kacau.


“Maksudnya kapan-kapan setelah kita pulang naik gunung.” lanjut Krisna kemudian sambil tersenyum.


Semua ikut tersenyum dan tampak oleh Krisna kalau senyuman Friska begitu kaku. Entah kenapa Krisna bisa berpikiran seperti itu. Bahkan senyuman asli dari seorang Friska saja belum pernah dilihatnya.


Ia hanya mengandalkan insting untuk menilai setiap kelakuan Friska. Kini Krisna telah mendapatkan pacar dan ia harus merasa senang walaupun sebenarnya ia tak mendapatkan cinta. Kenyataan itu ia pendam sendiri dan tak seorang pun tahu hal itu.


“Ataukah cinta datang perlahan?” dalam hati Krisna bertanya-tanya.

__ADS_1


__ADS_2