
Dilema Hati
“Fris, kayaknya Kak Krisna ada rasa deh sama kamu.” kata Erik tiba-tiba.
“Kamu ini ngomong apa? Dia itu sama saja dengan Rudi. Dia juga sering ikut mengucilkanku. Dia juga tidak tahu apa-apa tentang diriku.” kata Friska.
“Aku melihat kekhawatirannya saat tadi ia menolongmu. Sepertinya ia sangat khawatir. Tadi dia juga pegang tanganmu lho.” kata Erik.
“Itu,,, mungkin hanya kekhawatirannya sebagai leader saja. Aku yakin nggak lebih.” kata Friska.
Mereka diam. Friska sebenarnya terkejut saat tahu Krisna memegang tangannya. Ia masih belum percaya dengan perkataan Erik. Ia meyakinkan dirinya semua yang dilakukan Krisna hanyalah sebatas tanggung jawabnya menjadi seorang leader.
“Fris, kalau boleh aku tahu, kenapa kamu ingin masuk Cintalindo dan dari cara kamu melalui perjalanan tadi, sepertinya kamu udah biasa menjadi seorang pecinta alam.” kata Erik.
Friska terdiam. Kenangan dua tahun lalu kembali tergores di otaknya.
“Aku nggak boleh tahu?” tanya Erik.
Friska mencoba tersenyum. Meski bongkahan es di hatinya masih sangat keras, Friska mencoba menaruh kepercayaan pada Erik.
“Boleh kok.” kata Friska.
“Ayahku adalah seorang yang gemar menelusuri gua dan naik gunung. Ia selalu berangkat berempat. Ayahku kadang mengajakku saat aku masih SMP. Aku juga sempat jatuh cinta dengan anak teman ayahku. Rio namanya. Ia lima tahun lebih tua dariku dan mungkin ia hanya menganggapku adik. Saat kami berkemah, kami selalu menikmati senja bersama. Tapi kenangan indah itu hilang. Ayahku dan Rio meninggal di atas gunung karena cuaca buruk. Aku sangat sedih. Tiap aku berada di alam bebas seperti ini aku merasa jiwa mereka ada bersamaku dan aku menjadi sangat senang ketika berada di alam yang indah ini.” kata Friska dengan matanya berkaca-kaca.
“Kenangan bersama mereka begitu indah Rik. Aku nggak bisa melupakan semua itu. Setiap detik yang berlalu saat aku berada di alam ini selalu mengingatkanku pada mereka. Saat semua melihatku dengan sebelah mata aku semakin merindukan mereka. Aku merasa hanya mereka dan ibuku saja yang selalu menerima aku apa adanya.” kata Friska dengan air mata semakin banyak keluar.
“Kenapa kamu bisa ngerasa gitu Fris?” kata Erik ingin tahu.
“Nggak usah cari contoh yang lain. Coba lihat posisi aku di regu ini. Aku selalu disalahkan dan disingkirkan. Tidak ada yang peduli dengan aku bahkan saat aku menangis dan kesakitan. Leader regu ini pun yang aku harapkan dapat menjadi pemimpin yang adil saja tidak terjadi.” kata Friska.
Erik terdiam mendengar hal itu. Ia menyadari saat Friska menangis dan kesakitan tidak ada yang mau memepedulikannya dan menolong. Erik merasa apa yang telah ia lakukan selama ini salah.
__ADS_1
“Jangan menangis Fris. Maaf, aku nggak tahu kalau kisahnya begitu membuat hatimu sedih. Sekarang kita hanya bisa mendoakan mereka agar tentram di alam sana.” kata Erik menenangkan Friska.
Erik mengusap air mata Friska yang hampir menetes itu. Dari jauh Krisna melihat semua itu terjadi. Namun, ia tak berani mendekati mereka. Ia hanya bisa menerka-nerka apa yang sebenarnya mereka bicarakan dan merasakan hatinya begitu sakit melihat semua itu.
“Jadi sekarang kamu tinggal bersama ibumu?” tanya Erik.
“Iya, dan kami hanya berdua.” kata Friska.
“Ibumu tidak menikah lagi?” tanya Erik.
“Tidak. Katanya Ibu begitu cinta dengan ayah.” kata Friska.
“Em,, dan kamu Fris?” tanya Erik lagi.
“Aku? Kenapa?” tanya Friska.
“Kamu sekarang nggak pengen cari pengganti?” tanya Erik.
“Pengganti??? Aku masih belum berpikir soal itu. Bagiku, cintaku pada Rio yang besar ini sudah cukup. Rik, aku pernah merasakan kehilangan. Kehilangan itu begitu sakit. Aku belum siap untuk memulai cinta lagi.” kata Friska.
“Oke. Sekarang nggak usah sungkan sama aku ya. Kita teman sekarang. Kamu nggak usah merasa sendiri ya.” kata Erik.
“Makasih ya. Kamu memang baik.” kata Friska.
Dari jauh Krisna semakin cemburu melihat kelakuan mereka. Tapi apa yang bisa ia lakukan. Kini sepercik kebohongan yang ia buat menjadikan sakit yang bertubi-tubi. Dalam hati Krisna menangis menyesali kebohongannya. Setelah itu yang ia melihat Erik masuk tenda dan tidur.
Sedangkan Friska masih duduk sendiri. Entah apa yang dipikirkannya. Krisna sebenarnya ingin berada di dekatnya dan menjadi temannya untuk mencurahkan isi hatinya. Tapi Aldi ada di samping Krisna. Ia tahu Aldi sangat akrab dengan Jeny. Ia tidak mau menyakiti hati Jeny.
***
Pagi pun menjemput. Saat fajar menyingsing regu Krisna sudah siap untuk melanjutkan perjalanan. Friska berjalan sedikit pincang karena kakinya ada yang memar. Sedangkan luka di dahinya sudah hampir kering.
__ADS_1
“Bisa jalan nggak?” tanya Erik.
“Bisa kok.” jawab Friska sambil tersenyum.
Krisna memandang mereka berdua sinis. Ia merasa kesal karena Friska tidak menghargainya.
“Ada apa nih?? Apakah ada cinlok? Kenapa Erik bisa berubah jadi pahlawan gini?” tanya Jeny sinis.
Tidak ada menanggapi Jeny bicara. Mereka tetap berjalan. Krisna masih tetap saja kesal, tapi ia tak bisa marah akan kekesalannya itu.
Mereka menyusuri bukit bercadas dan semak belukar yang tumbuh liar. Matahari semakin menunjukkan wajahnya. Friska berjalan paling belakang dengan ditemani Erik. Seperti biasa, Aldi membawakan barang bawaan Jeny. Beberapa saat kemudian mereka melewati tangga batu yang ditata rapi.
“Kita sudah dekat.” kata Friska.
“Jangan sok tahu!” bentak Jeny.
“Kita coba berpikir. Rumah kelahirannya pasti merupakan rute wisata atau tempat yang banyak dikunjungi orang. Jalan ini membuktikannya.” kata Friska mantap.
Krisna kagum dengan analisis yang selalu diberikan Friska. Krisna merasakan desiran halus di hatinya. Ia ingin lebih dekat dengan Friska, tapi ia tak bisa.
“Fris, kamu kok bisa tahu lebih banyak dari kami?” tanya Irwan dari belakang.
“Hanya mencoba berpikir dan menebak. Kemarin aku juga buka dikit tentang kota ini. Tapi aku tidak sampai ke sejarah W. R. Soepratman.” kata Friska jujur.
“Aku kemarin juga udah cari informasi tentang kota ini. Tapi aku lebih fokus pada gua yang ada disini. Dalam pikiranku juga nggak terlintas tentang sejarah itu.” kata Krisna mencoba ikut berbicara dengan Friska.
“Aku malah nggak tahu kalau beliau berasal dari sini.” kata Irwan kemudian.
“Ya mungkin inilah kejutannya. Inilah tantangannya. Kita bisa kok.” kata Krisna memberikan semangat.
Meski Krisna ingin selalu kelihatan tegar dan selalu memberi semangat kepada regunya, tapi ia sendiri sedang berada dalam kegundahan. Perasaannya masih membingungkan dan ia tak tahu apa yang harus ia lakukan.
__ADS_1
Di sisi lain, ia ingin mendekati Friska, tapi di sisi lain ia sudah memiliki Jeny. Selain itu, ia juga tidak tahu hubungan Friska dan Erik. Mereka sekarang begitu dekat. Hatinya dipenuhi dilema. Tiba-tiba Krisna tersadar ada satu masalah yang belum terpecahkan.
“Fris, kenapa kamu bisa jatuh?” tanya Krisna dan semua anggota regunya kini menunggu jawaban Friska.