CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN

CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN
Dibutakan Oleh Cinta


__ADS_3

Dibutakan Oleh Cinta


Malam itu Jeny masuk ke kamarnya dengan sedikit kesal. Ia merasa kalau Krisna tidak benar-benar mencintainya. Tapi Jeny tidak sedih sama sekali dan malah tersenyum simpul. Tapi ia akan tetap bertahan menjadi pacar Krisna.


Ia merasa pantas berdampingan dengan Krisna karena memang cowok yang paling tampan di sekolahnya. Ia kembali terbayang wajah Krisna yang putih bersih dan tampan. Selain itu tubuhnya pun tinggi, besar dan kekar karena ia seorang pecinta alam. Tidak diragukan lagi, dengan menjadi pacar Krisna, Jeny akan menaikkan reputasinya di sekolah.


Sekarang saja ia sudah menjadi perhatian seluruh sekolah. Ia membuka barang-barang yang dibeli tadi. Tiba-tiba ia teringat Rudi. Ia mengulang kejadian tadi siang. Ia merasa kalau Rudi benar-benar suka padanya. Senyumnya mengembang dan kemudian ia mengambil HPnya.


Rudi yang masih kesal terbaring di tempat tidurnya. Sesaat kemudian HPnya berdering. Ia mengernyitkan dahi ketika melihat nomor baru yang meneponnya.


“Siapa?” gumam Rudi.


Ia mengangkat panggilan itu.


“Halo?” jawab Rudi canggung.


“Kak Rudi ya?” tanya suara itu.


“Iya.” jawab Rudi singkat.


“Ini aku Jeny kak. Aku mau minta maaf.” kata Jeny lembut.


“Ngapain kamu hubungi aku? Apa belum cukup kamu nyakitin aku!!” kata Rudi keras.


Jeny sudah menduga reaksi Rudi akan seperti itu.


“Aku nggak bermaksud gitu kak. Aku juga cinta sama kakak. Tapi aku takut.” kata Jeny berbohong.


“Takut? Kenapa takut?” suara Rudi pun melunak.


Ia kemudian duduk dan memandang ke arah jendela.


“Aku takut kalau aku nerima kak Rudi nanti kak Krisna marah. Aku kan satu regu sama kak Krisna.” Jeny terus berbohong.


“Apa Krisna mengancam kamu?” tanya Rudi.


“Tidak kak. Aku hanya takut saat besok lintas alam dia akan membenciku dan mengucilkanku.” kata Jeny dengan suara memelas.

__ADS_1


Rudi hanya diam saja. Ia bingung apa yang sebenarnya terjadi. Tapi dibalik kebingunggannya ia merasa senang karena itu berarti ia akan mendapatkan Jeny. Sebenarnya ia memang mencintai Jeny.


Tanpa ada persaingan dengan Krisna pun ia tetap akan menyatakan cinta pada Jeny. Ia pikir nasibnya memang tak beruntung, tapi sekarang ia merasakan sedikit kebahagiaaan di hatinya karena ternyata Jeny juga cinta kepadanya.


“Kak, mau nggak nolong aku?” Jeny menyentakkan lamunan Rudi.


“Minta tolong apa?” tanya Rudi.


“Kakak maafin aku ya.” pinta Jeny.


“Iya aku maafin kamu.” kata Rudi sambil tersenyum.


“Kak besok sore ada waktu nggak? Kita jalan-jalan yuk.” kata Jeny.


“Ada kok ada. Jam berapa? Rumah kamu mana ntar aku jemput kamu.” kata Rudi bersemangat.


Jeny menjawab semua pertanyaan Rudi. Di dalam kamarnya Jeny tertawa setelah ia memutus telepon itu. Ia bahagia karena pada akhirnya ia akan mendapatkan kedua bintang itu. Jeny memiliki beberapa rencana untuk Rudi. Ia pun mengambil kesempatan di tengah kesempitan dua rival abadi itu. Itulah Jeny.


***


“Pagi-pagi kok udah nglamun? Ntar ada setan lewat gawat.” kata Sinta yang duduk di belakangnya.


Krisna hanya diam.


“Kris, katanya kemarin kamu jadian sama anak kelas satu yang waktu itu kamu bawa ke UKS?” tanya Sinta.


Krisna pun masih terdiam.


“Krisna!” panggil Sinta sedikit berteriak dan menggoyangkan kursi Krisna dari belakang.


Krisna menoleh. Wajahnya sangat kusut.


“Kamu kenapa?” tanya Sinta.


“Nggak kenapa-napa. Aku cuma ngantuk.” Krisna berbohong.


“Punya cewek baru kok mukanya kusut gitu?” tanya Dika dari jauh.

__ADS_1


“Kalian tahu?” Krisna balik bertanya.


“Ya iyalah! Siapa yang nggak pasang perhatian pada bintang sekolah seperti kamu. Dah gitu kamu juga pernah juara satu rock climbing tingkat provinsi. Orang yang baru dengar nama kamu aja pasti ngasih perhatian lebih.” kata Sinta panjang lebar.


Krisna memegang kepalanya. Ia tak menyangka dampaknya akan lebih parah. Ia menghujam dirinya sendiri karena telah berani berbohong dengan hatinya. Kini ia hanya bisa termangu menunggu keajaiban.


Sungguh sedikit kebohongan ini sangat menyiksa hatinya. Ia tak tahu harus pergi kemana untuk meraikan diri. Ia juga tidak tahu kapan kebohongan ini berakhir karena untuk menutupi kebohongan yang sedikit itu ia harus terus menerus membuat kebohongan pula. Tapi ia sadar ini semua kesalahannya.


“Ya Tuhan, ampuni aku.” kata Krisna dalam hati.


Seharian itu Krisna mengurung dirinya di kelas. Ia tak mau keluar dan melihat banyak anak membicarakannya. Ia hanya duduk dan menunggu kapan bel pulang berbunyi. Teman-temannya pun hanya memperhatikannya dari jauh. Mereka tahu Krisna sedang tidak mau diganggu.


Tidak biasanya ketua kelas itu merenung sendiri. Bahkan Krisna sering menasehati temannya yang memiliki masalah. Krisna yang tadinya periang dan selalu ramah dengan orang lain kini seolah diselimuti awan mendung yang hitam yang tak tau kapan hujan akan turun. Selain itu perubahan sikap Krisna itu membuat semua teman sekelasnya bertanya-tanya.


Bel pulang pun berbunyi. Jeny sudah menunggunya di depan pintu kelasnya. Krisna semakin pening melihatnya. Rasanya ia ingin berlari kabur.


“Kak kok nggak nemuin Jeny tadi?” tanya Jeni sok manis.


“Kakak sibuk di kelas.” kata Krisna datar.


Jeny sebenarnya marah melihat kelakuan Krisna yang acuh tak acuh dengannya. Tapi ia tetap bertahan dengan senyum manisnya itu agar dapat berdampingan dengan bintang sekolah itu. Sedangkan Krisna tidak merasakan senang sedikit pun karena semua orang melihatnya.


Mereka berdua jalan beriringan menuju gerbang sekolah. Banyak mata tertuju pada mereka termasuk Rudi yang selalu mengamati mereka. Sampai di pintu gerbang mereka berpisah. Jeny sudah dijemput Pak Joko.


“Sampai besok ya kak. Semoga besok petualangan kita menyenangkan.” teriak Jeny dari mobil.


Krisna hanya tersenyum miris. Ia sudah tahu betapa manjanya Jeny. Krisna sudah bisa membayangkan betapa repotnya ia bersama seorang ratu manja yang ingin masuk hutan. Krisna menepuk jidatnya.


“Kenapa ujian ini semakin berat?” tanya Krisna pada dirinya sendiri.


Ia menarik napas dalam-dalam dan mencoba mengeluarkan perlahan agar sedikit tenang. Krisna berjalan pulang sendiri. Sepertinya Rudi masih menjaga jarak dengannya. Ia tidak menyalahkan Rudi. Mungkin Rudi sedang patah hati pikirnya. Beberapa saat kemudian Friska lewat dengan sepedanya. Ia menyapa Krisna dengan bel yang ada di sepedanya.


“Kring-kring.” Krisna tersenyum karena cewek itu mulai menghargainya. Walaupun sikapnya itu naik turun seperti suhu di tempat ekstrim Krisna tetap akan menunggunya normal.


“Dasar aneh. Termometer saja sulit mengukur suhumu yang sangat ekstrim. Entahlah. Membingungkan.” gumam Krisna sambil menyusuri jalan itu.


Sementara itu, Rudi masih terbelenggu dalam kebahagiaan. Ia tak pernah menyangka kalau Jeny ternyata menyukainya. Dalam hatinya kini tumbuh semangat lagi karena ia merasa tak kalah dari Krisna. Rudi yang masih berbunga-bunga ingin menjadikan pertemuannya nanti dengan Jeny berjalan dengan lancar.

__ADS_1


__ADS_2