CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN

CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN
Menyusuri Wajah dalam Sampul


__ADS_3

Menyusuri Wajah dalam Sampul


“Pagi teman-teman! Selamat datang di sekolah tercinta kita ini. Perkenalkan nama saya Krisna. Saya salah satu anggota dari Cintalindo. Terima kasih kalian sudah mau bergabung. Tapi kami mohon maaf karena dalam setiap perekrutan anggota baru, harus ada seleksi.” kata Krisna.


“Seleksi itu akan berbeda setiap tahunnya. Nah, hari ini kita akan mulai pendalaman materi untuk seleksi.” lanjut Rudi yang berdiri di samping Krisna.


Tiba-tiba dari luar ada seseorang berlari. Rudi dan Krisna serta semua siswa yang ada disana memandang ke arah pintu.


“Maaf kak. Aku terlambat.” kata cewek dengan rambut lurus dikucir seperti ekor kuda.


“Sudah kami beri tenggang waktu 15 menit dari waktu yang telah disepakati. Kamu harus dihukum.” kata Rudi tegas.


Gadis yang lumayan tinggi itu menatap Rudi. Sepertinya ia tidak punya rasa takut sedikit pun.


“Apa yang harus aku lakukan?” tanya gadis itu.


“Sekarang kamu minta maaf karena sudah terlambat sambil jongkok mengitari ruangan ini tiga kali.” kata Rudi.


“Rud, udahlah. Kasihan.” kata Krisna.


“Dia nggak tahu sopan sama kakak kelasnya. Kamu diam aja!” kata Rudi marah.


Gadis itu berjalan jongkok mengitari ruangan itu sambil mengatakan “Aku minta maaf karena udah terlambat.” Gadis itu tidak merasa malu walaupun semua orang yang ada di ruangan itu tertawa termasuk Rudi dan Krisna serta kakak kelas yang lainnya.


“Iya aku maafin!” teriak salah seorang yang ada di ruangan itu.

__ADS_1


Seketika tawa mulai memenuhi ruangan itu lebih keras. Gadis itu hanya menunduk malu ataukah ia sakit hati. Tidak ada orang yang tahu apa yang ia rasakan. Tidak ada juga yang memperhatikannya.


Setelah selesai gadis itu duduk di barisan paling depan. Ia mengamati Rudi dan Krisna yang sedang memberi penjelasan. Sepanjang penjelasan itu, gadis itu hanya diam dan tidak mengubah ekspresinya. Sepertinya ia sibuk dengan perasaannya sendiri atau mungkin dia sedang memperhatikan.


Tak ada senyum sama sekali di wajahnya. Tak ada kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya. Seolah ada gundukan awan mendung di atas kepalanya dan hujan bisa dating kapan saja. Hal tersebut menjadikan semua siswa yang ada di ruangan itu menganggapnya gadis aneh.


Banyak siswa yang memandangnya dengan sebelah mata dan jarang dari mereka yang mau menyapanya. Dunia ini seperti tak adil baginya. Namun ia menerimanya dengan ekspresi yang datar dan sulit ditebak.


***


Gedung yang kokoh selalu berdiri menyaksikan setiap tahun dan tahun berganti. SMA merupakan gudang kenangan yang tak terlupakan. Awal pijakan menuju kedewasaan dimulai pada masa itu. Kenangan indah maupun bukan membaur menjadi suatu yang berharga ketika kita sudah tua.


Putih abu-abu tidak akan kembali untuk selamanya setelah kita lewati. Kenangan itu akan menjadi hal yang tak ternilai setelah lama kita lewati. Pagi itu bangunan salah satu SMA di Yogyakarta yang kokoh dengan berjuta kenangan yang selalu dicetaknya. Yogyakarta memang istimewa di mata mereka. Disanalah mereka dipertemukan.


Tidak ada hal yang dapat menggantikan kenangan saat SMA. Tapi apakah semua kenangan kita lukiskan dengan indah? Tidak ada yang tahu tentang itu. Kemarin klub pecinta alam SMA itu, “Cintalindo” sedang mengadakan pendaftaran anggota baru.


Seperti biasa, banyak sekali siswa yang mendaftar. Mereka mendaftar dengan berbagai alasan. Alasan yang mereka bentuk tentunya sangat individual karena di Cintalindo mereka pasti sudah tahu bagaimana seleksinya.


Tiga hari kemudian, para peserta berkumpul di lapangan sekolah setelah bel pulang berbunyi.


“Sebagai seorang pecinta alam, kita tak hanya mendaki gunung-gunung terkenal dan memanjat tebing yang sering dilakukan pendahulu kita di sekolah ini. Setelah kami rapatkan, kita akan melakukan lintas alam dengan penelusuran tempat bersejarah.” kata Andre.


Dia adalah leader dari senior dari kelas XII. Krisna dan Rudi duduk di bangku paling depan. Dua orang itulah yang memiliki kemungkinan besar untuk menjadi leader yang selanjutnya. Kedua orang itu pula yang selalu bersaing untuk mendapatkan posisi itu.


Krisna, pemuda berkulit putih dengan rambut lurus dan badan tinggi besar. Dia merupakan idola di sekolah. Dia juga pandai panjat tebing. Bahkan Krisna pernah menjuarai lomba panjat tebing tingkat provinsi. Krisna sangat murah senyum dan selalu menjadi incaran banyak cewek di sekolahnya itu. Namun ia sangat menutup diri dengan perempuan.

__ADS_1


Sedangkan Rudi berkulit sawo matang, tubuhnya hampir sama dengan Krisna. Bahkan Rudi memiliki postur tubuh yang lebih baik dari Krisna, kekuatan fisik Rudi pun sudah tidak ditanyakan lagi. Rudi menekuni bidang caving/menyelusuri gua. Walaupun mereka berdua merupakan rival tapi mereka selalu terlihat rukun. Rumah mereka yang berdekatan memungkinkan mereka bersama setiap waktu hingga seperti saudara.


Kali ini ada 10 calon leader yang akan memimpin setiap regu. Setiap regu terdiri dari 5 orang dan 1 orang dari senior yang menjadi calon leader. Krisna dan Rudi sangat bersemangat dengan hal itu.


Nah, petualangan akan diadakan pada libur semester kali ini. Rival calon leader itu memasang telinga baik-baik pada penjelasan kak Andre. Mereka siap untuk bersaing memperebutkan posisi itu. Tidak ada hari tanpa persaingan di antara mereka.


“Dalam kegiatan kita kali ini, kalian harus dapat memimpin dengan baik regu kalian. Ingat, anggota regu kalian masih kelas X. Jadi kalian harus dapat menjaga mereka dengan baik. Mengenai peralatan yang akan dibawa, nanti akan disampaikan oleh Adel. Sedangkan untuk lokasi dan kegiatannya masih dirahasiakan. Pokoknya kita akan melakukan lintas alam di kota Purworejo untuk menyelidiki sesuatu.” kata Andre yang ditutup dengan sebuah senyuman.


Krisna mengernyitkan kening mendengar penjelasan yang tak semua ia pahami itu. Sedangkan Rudi manggut-manggut sok tahu. Entahlah. Kadang Rudi memang terlihat sombong. Setelah mendengarkan penjelasan dari Kak Adel, Rudi hanya bisa melongo.


Mereka tak boleh membawa alat elektronik apapun saat kegiatan berlangsung. Apabila mereka membawa maka akan diamankan di tempat para senior. Sungguh Rudi memang manusia zaman sekarang, tak bisa hidup tanpa HP, tak bisa tidur tanpa fb dan twitter, tak tenang tanpa instagram dan jejaring sosial lainnya. Itulah Rudi. Tapi bukan Rudi pula kalau ia mau menerima kekalahan dari seorang Krisna untuk sebuah persaingan itu.


Selanjutnya mereka diberi selembar kertas yang berisi nama anggota regu mereka. Ketika mereka keluar, banyak anak kelas X yang sudah menunggu. Setelah mencari anggotanya, Krisna duduk di bawah pohon pinus yang ada di lapangan sekolah. Dia memberikan senyuman termanisnya untuk anggota regunya.


“Friska” katanya mulai memanggil satu persatu anggota regunya.


“Yang aku panggil langsung ngenalin diri aja.” sambung Krisna sambil tersenyum.


“Friska Natasya, panggil aja Friska.” kata cewek yang rambutnya lurus dan dikucir mirip ekor kuda kemarin.


“Itu aja? Ada lagi?” tanya Krisna heran.


Friska mengangguk. Ternyata siswa baru yang sudah dihukum saat pertama kali penjelasan itu ada dikelompoknya.


“Dasar orang aneh. Ini karma atau hukuman buat aku?” tanya Krisna menyesali hal itu dalam hati. Krisna kemudian hanya mengernyitkan kening.

__ADS_1


__ADS_2