
Memahami Kemarahan
Kira-kira kurang 10 menit bel masuk akan berbunyi. Di deretan kelas X banyak anak membicarakan Jeny.
“Lihat, itu Jeny. Diantar dua orang bintang sekolah.” kata salah seorang cewek kelas Xb.
Friska yang mendengar kata-kata itu hanya menoleh ke arah Rudi, Krisna dan Jeny.
“Kamu satu regu sama Krisna dan Jeny kan?” tanya Desi teman sekelas Friska.
“Iya.” jawab Friska.
“Apa mereka pacaran?” tanya Desi lagi.
“Aku nggak tahu Des.” jawab Friska.
Beberapa saat kemudian Friska menunduk karena saat ia memandang mereka, ia bertemu pandang dengan Krisna.
“Friska? Memandangku? Tapi kenapa dia menunduk?” tanya Krisna dalam hati.
Krisna terus menatap ke arah Friska. Tapi Friska malah masuk ke ruang kelasnya.
Krisna tak tahu apa yang terjadi dengan Friska. Yang ia tahu Friska adalah cewek paling aneh yang pernah ia temui di planet bumi ini. Tapi keanehan itu semakin membuat Krisna ingin tahu.
Walaupun begitu Krisna selalu meyakinkan dirinya bahwa rasa ingin tahunya itu karena ia menjadi leader regu dan Friska salah satu anggotanya. Krisna ingin menjadi leader yang baik dengan mengerti setiap keadaan bawahannya.
Krisna sadar di dunia ini diciptakan banyak makhluk yang memiliki sifat yang berbeda-beda. Friska yang pendiam, cuek, susah diajak ngomong, keras kepala itu merupakan salah satu ciptaan Tuhan yang mungkin berbeda dengan yang lainnya.
Untuk itulah ia tak pernah menyalahkan mengapa Friska seperti itu. Tapi kadang ia merasa sangat marah ketika berbicara dengan Friska. Entahlah. Krisna bingung memikirkannya. Tak ada yang dapat meredakan kebingungan Krisna.
“Terima kasih kak.” kata Jeny.
“Iya sama-sama.” jawab Krisna dan Rudi hampir bersamaan.
Mereka berdua pun berjalan kembali menuju kelasnya.
“Lihat Kris, semua mata tertuju pada kita.” kata Rudi bangga.
__ADS_1
“Nggak. Ada seorang yang yang nggak kagum padaku. Bahkan ia cuek denganku.” kata Krisna.
“Siapa?” tanya Rudi heran.
“Friska.” jawab Krisna mantap.
“Aku nggak kenal.” kata Rudi.
“Cewek selain Jeny di reguku. Cewek berkulit putih dengan rambut lurus yang selau dikucir kuda.” kata Krisna.
“Santai Kris. Dia nggak cantik kok. Lagian dia juga orangnya aneh. Dia yang dihukum itu kan? Mending Jeny. Atau mungkin dia nggak normal.” kata Rudi.
Krisna hanya diam saja.
Tanpa mereka berdua sadari ada dua orang yang berjalan di belakang mereka. Saat Krisna akan berbelok masuk ke dalam kelasnya ia melihat orang yang berjalan di belakangnya ternyata Friska dan seorang temannya yang membawa tumpukan buku menuju perpustakaan.
Muka Friska lebih ngeri dari pada sebelumnya. Krisna berhenti dan menatap Friska. Tapi Friska tetap melaju. Krisna masuk ke kelas sambil memegang kepalanya.
“Gara-gara Rudi. Aku lagi yang kena.” kata Krisna dalam hati.
Krisna tahu Friska benar-benar marah. Tapi Krisna tidak merasa bersalah sedikit pun karena yang menghina Friska bukan dia tapi Rudi. Perlahan Krisna buang wajah marah Friska di dalam otaknya dan akhirnya ia melupakan kejadian itu.
***
Tidak seperti Rudi yang suka deketin cewek sana sini. Selama ini Krisna selalu fokus pada sekolahnya dan reputasinya sebagai aktivis pecinta alam di sekolahnya. Jadi dia tak pernah mendekati cewek manapun.
Petualangan Krisna kali ini diwarnai dengan petualangan hati. Tidak hanya untuk menaklukan cinta Jeny tapi untuk mencari tahu isi hati Friska yang sangat aneh itu. Cinta Jeny untuk kepentingan tantangan dari Rudi dan isi hati Friska untuk kepentingan menjadi leader yang baik. Pikirannya kali ini membuat Krisna teringat muka Friska tadi.
“Orang aneh.” gumam Krisna.
Tiba-tiba saat Krisna tenggelam dalam pikirannya, ada seorang cewek menaiki sepeda mendahuluinya. Ia langsung tahu kalau itu Friska. Ia agak marah karena Friska mendahuluinya tanpa menyapa.
“Apa dia marah padaku?” tanya Krisna dalam hati.
Tiba-tiba tanpa di suruh ia berlari mengejar Friska. Entah apa yang mendorong Krisna berlari. Krisna memandangi Friska yang melaju dengan sepedanya sambil berlari secepat mungkin. Ingin rasanya ia berteriak memangil Friska tapi egonya menolak keinginan itu.
Sadar Krisna mengikutinya, Friska pun mengayuh sepedanya secepat mungkin. Selisih jarak yang agak jauh tak membuat Krisna mudah mengejarnya. Tapi entah kenapa Krisna ingin terus mengejarnya untuk menanyakan semua hal aneh dari dirinya. Tanpa disadari Krisna keringatnya bercucuran. Kira-kira sudah lebih 40 meter ia berlari. Rumahnya pun sudah terlewati. Tapi apa daya Krisna, Friska langsung masuk ke rumahnya.
__ADS_1
Krisna berhenti di depan rumah Friska. Ia bingung apa yang harus dilakukannya. Ia duduk di tepi jalan.
“Apa Friska marah kepadaku?” gumam Krisna.
“Tidak! Aku nggak salah apa-apa. Harusnya dia marahnya sama Rudi. Kenapa aku ikut kena?” gerutu Krisna dalam hati.
Dari jendela rumahnya Friska melihat Krisna yang sedang duduk di tepi jalan. Entah kenapa ia menangis.
“Siapa itu?” tanya Ibunya yang tiba-tiba ada di sampingnya.
“Itu leader reguku untuk minggu depan bu.” kata Friska sambil mengusap air matanya.
“Lalu kenapa kamu nangis sayang?” tanya Ibunya lagi.
“Nggak ada apa-apa kok bu.”kata Friska sambil melangkah masuk ke dalam kamarnya.
***
Malam itu Krisna termenung sendiri di kamarnya. Ia tak tahu apa yang yang terjadi pada Friska. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan minggu depan agar ia dapat menjadi leader yang baik. Dalam hati kecilnya ia takut tersaingi oleh Rudi. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk menanyakan masalah Friska pada bundanya.
Bundanya sedang di ruang tengah bersama ayah. Ia duduk di samping bunda.
“Ada apa? Kamu terlihat gelisah?” tanya bunda dengan lemah lembut.
“Em,,, Krisna mau tanya soal Friska bun. Katanya bunda pernah ngobrol dengannya. Kenapa dia begitu aneh bun?” tanya Krisna jujur.
“Aneh gimana? Setahu ibu dia anak yang baik. Friska juga anak yang sangat rajin dan pintar. Ia pindah tujuh bulan yang lalu ke rumah itu bersama ibunya. Tidak ada yang aneh. Mungkin kamu belum kenal saja.”kata ibunya.
“Ayahnya dimana bun?” tanya Krisna kemudian.
“Ayahnya sudah meninggal.” kata ibunya. Krisna terdiam.
“Nak, menjadi seorang pemimpin harus sabar. Ingat, pemimpin yang baik tidak menyelesaikan masalah dengan menduga-duga dan bukan dengan emosi.” kata bunda kemudian.
“Kalau kamu ingin mengenal seseorang dengan baik, kamu harus tahu bagaimana orang itu marah. Dengan begitu kamu akan dapat memahami orang itu dengan baik.” ayah angkat bicara.
“Ayahmu benar. Dulu ayahmu juga tidak pernah memahami ibu. Bahkan awal kami berkenalan, kami sempat bermusuhan. Namun setelah kami merendahkan ego masing-masing dan saling memahami, kami bisa akrab bahkan sampai sekarang.” kata bunda.
__ADS_1
Krisna hanya terdiam. Tiba-tiba telepon rumahnya berdering. Bunda bergegas mengangkatnya.