CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN

CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN
Air Terjun


__ADS_3

Air Terjun


Mereka berjalan melalui jalan yang berbatu. Krisna sadar mereka belum melewati setengah perjalanan. Ia sendiri belum lelah karena sejuknya alam menenangkannya. Malah ia berjalan dengan nyaman karena pandangannya dimanjakan dengan bebatuan yang ada di bawah jurang.


Di bawah jurang dari jalan itu sungai. Di sekeliling jalan ada berbagai macam pepohonan seperti duku, durian, manggis dan kalau melihat ke arah tebing yang ada di samping kiri sungai mereka dapat melihat banyak pohon aren yang sedang berbuah.


Beberapa kali mereka berpapasan dengan orang yang berwisata atau penduduk lokal daerah itu. Dari jalan yang berbatu itu mereka bisa melihat sungai yang mengalir di bawah jurang. Sungai itu berair jernih dan sepertinya merupakan sambungan dari sungai yang tadi.


Ada burung dengan sayap biru dan hitam dengan paruh berwarna oranye yang sesekali turun untuk mencari ikan kecil. Beberapa pohon yang ada disana diberi palang nama. Namun hanya pohon yang ada di dekat jalan saja. Kadang mereka menjumpai tempat istirahat yang atapnya terbuat dari rambut pohon aren yang hitam. Namun mereka tetap meneruskan perjalanan dengan semangat.


Perjalanan mereka terus menaik. Krisna melihat jam tangannya pukul 15.00. Mereka tetap berjalan. Beberapa saat kemudian mereka melewati sungai kecil yang harus mereka seberangi.


“Aku capek!” teriak Jeny dari belakang.


“Ayo Jen, semangat.” kata Aldi mendekatinya.


Krisna dan yang lain tetap berjalan dan menyeberangi sungai kecil itu.


“Krisna!” teriak Jeny.


“Kenapa?” tanya Krisna.


“Aku nggak kuat lagi.” kata Jeny.


Krisna melihat sekitar.


“Baik, kita istirahat 10 menit.” kata Krisna duduk dan mengeluarkan minuman dari tasnya. Semua pun ikut duduk. Friska mengamati petanya.


“Ada apa?” tanya Krisna melihatnya.


“Kita akan berjalan terus menaik menurutku. Dan kira-kira di depan sana sekitar 50 meter lagi kita akan sampai di air terjun.” kata Friska.


“Kamu dengar Jen? Kita istirahat di sana saja. Itu akan lebih menyenangkan.” kata Krisna kemudian.

__ADS_1


“Kenapa kamu nurut gitu sih!” kata Jeny sinis.


“Aku leader di regu ini. Sekarang cepat kita mulai berjalan lagi.” kata Krisna berdiri.


Semua anggota regunya ikut berdiri kecuali Jeny yang masih duduk bermalas-malasan. Krisna tidak banyak bicara dan langsung mendekati Jeny. Ia menarik tangannya Jeny dan menyeretnya.


“Aku bisa jalan sendiri!” jerit Jeny.


“Makanya cepet!” Krisna memandangnya tajam. Jeny kemudian mengikuti perintahnya. Ia berjalan di samping Krisna.


“Kak, kenapa kamu kasar banget sama aku? Aku kan pacar kamu.” kata Jeny sok manis.


“Aku ini leader regu ini dan cita-citaku menjadi leader Cintalindo tahun ini. Harusnya kalau kamu memang pacarku yang baik kamu harus mendukungnya, bukan malah memperburuk suasana.” kata Krisna panjang lebar.


Semua anggota mendengarnya dan terdiam. Mereka berjalan cepat mendengar kata-kata Krisna. Mereka sadar, mereka pun juga harus berjuang karena yang akan direkomendasikan Krisna hanya 3 dari mereka.


Mereka berjalan melawan arus sungai. Mereka melompat dari batu ke batu lain yang ada di sungai. Dari posisi mereka saat ini mereka sudah dapat mendengar derasnya air terjun yang sering disebut curug di wilayah itu.


“Kalian dengar?” tanya Krisna senang.


Krisna tersenyum, kemudian ia mengamati Friska. Friska pun tersenyum. Krisna memandangnya lama. Baru kali ini ia melihat Friska benar-benar tersenyum. Ternyata Friska sangat manis ketika tersenyum.


Sadar Krisna mengamatinya Friska menunduk. Krisna heran dengan apa yang dilakukan Friska. Tapi Krisna menyadari ia mulai menyukai perubahan sikap Friska. Ia menyukai tindakan Friska yang dapat membantunya. Di luar dugaan Krisna, ternyata Friska sangat membantu dalam perjalanannya itu.


Akhirnya mereka sampai di air terjun tersebut. Erik, Irwan dan Aldi berlari ke kolam di bawah air terjun. Jeny pun mengikuti mereka. Friska duduk di tepi kolam itu dan membasuh mukanya. Ia hanya duduk tidak ikut temannya yang bermain air. Krisna duduk di sampingnya. Friska kaget melihat Krisna ada di dekatnya.


“Kenapa tidak ikut?” tanya Krisna.


“Aku lebih senang duduk dan melihatnya dari sini kak. Coba kakak lihat keujung air terjun di atas sana dan perlahan turunkan pandangan kakak. Indahkan?” kata Friska.


Krisna terdiam dan melakukan apa yang dikatakan Friska. Benar apa kata Friska. Ia dapat melihat putihnya air yang membentur bantuan dengan lembut. Gemerisik air itu memanjakan telinganya. Krisna menengok ke arah Friska. Ternyata Friska sedang memejamkan matanya.


Krisna mengikuti apa yang dilakukan Friska. Ia memejamkan mata. Ia merasakan dinginnya udara di pegunugan itu menyusup lembut ke pori-pori kulitnya. Gemerisik air terjun seakan musik yang mengiringi burung-burung bernyanyi. Ia menikmati suasana itu beberapa saat lamanya.

__ADS_1


“Krisna!” teriak Jeny melihatnya.


Krisna membuka matanya. Ia melihat Jeny berjalan mendekat. Jeny menampar Friska yang sedang memejamkan matanya. Friska tergagap hampir jatuh ke samping yang merupakan sungai berbatu. Dengan cekatan Krisna memegang tangan Friska. Friska menangis sambil memegangi pipinya.


“Kenapa sih kamu!” bentak Krisna pada Jeny.


“Cewek nggak tau malu itu mulai deketin kamu ya.” kata Jeny sinis.


Semua anggota regu Krisna mendekati mereka.


“Udah Jen. Kamu yang sabar aja.” Aldi menenangkan Jeny.


“Friska, udahlah jangan bikin masalah terus. Jeny kan jadi marah.” kata Irwan membela Jeny. Erik hanya diam melihat kejadian itu. Krisna menuntun Jeny ke tempat yang agak jauh.


“Bisa nggak kamu berhenti pake kekerasan!” kata Krisna keras.


“Kenapa kamu malah nyalahin aku?” Jeny protes.


“Karena dari tadi kamu bikin kerusuhan terus. Apa kamu nggak kasihan sama Friska. Dia itu nggak salah apapun.” kata Krisna.


“Tuh kan kamu membelanya. Kalau kamu nggak deket-deket dengan Friska aku nggak mungkin gitu lah.” kata Jeny.


“OK! Kalau itu maumu aku lakuin. Tapi kamu harus jaga kelakuanmu.” kata Krisna.


Jeny mengangguk. Mereka berdua kembali ke tempat yang tadi. Di sisi lain Friska menangis merasakan pipinya yang memar karena mendapat dua kali tamparan dari Jeny. Namun tidak ada satu pun yang mencoba menenangkan Friska. Semua yang ada di sana hanya diam memandangnya dan bingung apa yang harus mereka lakukan.


Beberapa saat kemudian Krisna dan Jeny kembali ke tempat itu. Friska sudah mengusap air matanya.


“Sekarang kita lanjutkan perjalananya.” kata Krisna mulai berjalan lagi.


Mereka menaiki tangga di sebelah kanan air terjun itu tanpa ada pembicaraan apapun. Hati Friska sangat sakit karena tidak ada yang mempedulikannya saat ia menangis. Bahkan tidak ada yang menanyakan keaadaannya. Bagi Friska mereka begitu kejam.


“Rio, aku butuh kamu.” kata Friska lirih.

__ADS_1


Friska mengusap air matanya sambil berjalan. Saat itu Friska merasakan kalau dirinya bagaikan sebatangkara dalam perjalanan itu. Tidak ada sedikit perhatian dan kebaikan untuknya.


__ADS_2