CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN

CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN
Kesan Pertama Menyilaukan


__ADS_3

Kesan Pertama Menyilaukan


Hari itu Krisna tidak pulang sekolah bersama Rudi. Rudi benar-benar marah padanya. Hal tersebut sudah biasa ia alami. Ia juga tidak terkejut karena ia tahu semua sifat Rudi. Dulu waktu ia kecil, saat ia bersaing dengan Rudi untuk mendapatkan ikan saat memancing Rudi pun marah saat ia kalah.


Dua hari Rudi tidak berbicara dengan Krisna. Tapi akhirnya ia mau berbicara lagi dengannya. Tapi lain halnya jika Rudi yang menang. Setiap waktu ia akan mengejek kekalahan Krisna. Itulah Rudi. Rival abadi Krisna yang sulit mengendalikan emosi.


“Biasa. Paling besok Rudi udah sembuh dari marahnya.” gumam Krisna.


Saat Krisna sibuk dengan pikirannya sendiri, Friska berhenti di sampingnya. Krisna mencoba menyembunyikan keheranannya.


“Kak, aku minta maaf soal sifatku selama ini. Tapi sebagai seorang yang akan menjadi leader kakak harus tahu mana yang benar dan mana yang salah.” kata Friska dingin.


“Apa maksudmu?” tanya Krisna bingung.


“Apakah kakak setuju dengan sebuah hinaan pada orang yang tak bersalah?” Friska balik bertanya.


Krisna terdiam mengingat kejadian kemarin ketika ia bersama Rudi. Krisna terdiam begitu lama. Ia tidak merasa bersalah karena Rudi yang menghina Friska bukan dirinya. Tapi kenapa Friska menyalahkannya. Krisna tak tahu harus berkata apa.


Dalam hati berdiri kokoh kalimat “Aku tidak salah!”. Tiba-tiba ia menyadari Friska sudah beranjak pergi dengan sepedanya itu.


“Dasar orang aneh!” Krisna berteriak tanpa dosa.


Sampai di rumah ia langsung mandi dan bergegas untuk pergi lagi. Sore itu ia akan jalan-jalan bersama Jeny. Ia pergi ke rumah Jeny. Krisna pergi dengan sepedanya. Krisna memang suka menggunakan kendaraan itu walaupun ia harus keluar kringat.


Krisna suka memakai kendaraan yang satu itu karena ia bisa menembus gang-gang kecil dengan leluasa. Terlebih lagi ia akan melindungi alam ini. Sampai di rumah Jeny ia bertemu dengan ibunya.


“Silakan masuk.” kata ibunya dengan senyum manis.


“Terima kasih. Tante, Jeny mana?” tanya Krisna.


“Sedang mandi. Tunggu sebentar ya.” kata ibunya sambil beranjak ke belakang.


Rumah Jeny memang mewah. Ibunya pun sedikit ramah. Kini Krisna duduk sendiri di ruang tamu itu.


“Lama banget!” Krisna bosan menunggu.

__ADS_1


Kalau Jeny tidak merengek-rengek dia tak akan mau membuang waktunya hanya untuk jalan-jalan. Satu jam kemudian Jeny turun dari kamarnya.


“Udah lama kak?” tanya Jeny.


“Belum kok.” Krisna berbohong.


“Kita mau naik apa kak?” tanya Jeny.


“Naik sepedaku.” kata Krisna datar.


“Aduh. Aku nggak biasa naik sepeda kak. Naik mobilku aja ya kak. Nanti biar pak Joko yang nyetir.” kata Jeny.


Tiba-tiba ibunya keluar.


“Iya naik mobil aja.” kata ibunya datar.


Krisna hanya mengekor saat Jeny melangkah keluar. Krisna dipermalukan dengan lembut oleh kedua wanita itu. Jeny dan ibunya. Krisna terdiam seribu bahasa ketika ia duduk di samping Jeny.


Jeny mengajaknya ke mall. Jeny membeli baju untuk naik gunung. Bagi Krisna itu berlebihan. Walaupun sebenarnya Krisna juga orang kaya, tapi ia tidak menyombongkan diri. Dia lebih suka menjadi orang yang sederhana tapi bahagia karena baginya bahagia lebih penting daripada kekayaan.


“Terserah kamu aja. Semua baju bagus kok buat kamu.” kata Krisna jenuh. Setelah baju, ia mencari celana, topi, dan sepatu.


“Kapan ini selesai?” tanya Krisna dalam hati.


“Dasar cewek! Ini itu ribet banget sih. Milih baju satu aja nggak cukup setengah jam. Milih sepatu satu nggak cukup satu jam.” umpat Krisna pelan. Jeny hanya meliriknya.


Pukul sembilan malam. Krisna melihat jam tangannya. Ia dan Jeny menuju ke kasir.


“Aku yang bayar?” tanya Krisna heran.


“Ya iyalah kak. Kakak kan pacarku.” kata Jeny tak bersalah.


Ia tersenyum ke arah Krisna. Krisna hanya mendesah kesal. Ia mengeluarkan kartu kreditnya. Setelah itu ia membawa barang-barang belanjaannya. Jeny mengajak Krisna untuk makan dulu di sekitar sana.


“Aku harus pulang. Bundaku sudah menunggu.” kata Krisna sambil mengotak-atik HPnya.

__ADS_1


Krisna sangat tersiksa saat itu. Rasanya ia ingin berlari pulang dan tidur di tempat tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut lalu tidur. Kemudian ia akan menganggap kejadian hari itu hanya mimpi yang tak akan terulang.


Saat menuju tempat parkir, ada seorang nenek tua yang buta. Ia terjatuh. Krisna meletakkan barang-barang yang dibawanya. Ia membantu nenek itu berdiri. “Terima kasih nak,”kata nenek itu. Kemudian ada seorang laki-laki yang berterima kasih pada Krisna juga. Sepertinya ia anaknya. Laki-laki itu pun menuntun nenek itu pergi.


Krisna berbalik. Jeny memandangnya dengan kesal.


“Barang-barangku jadi kotor kalau kakak jatuhkan.”kata Jeny sinis. “Aku kan cuma nolong nenek itu. Dia sudah tua dan nggak bisa melihat. Kamu nggak kasihan?” tanya Krisna.


“Nggak lah. Nenek itu kan punya anak. Lagian tadi udah ada anaknya.” kata Jeny dingin.


Krisna tak mau memperpanjang masalah. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Di mobil ia pun terdiam. Ia benci mengakuinya. Ia tidak suka kelakuan Jeny.


“Kak, besok kita jalan-jalan lagi ya.” kata Jeny sambil tersenyum manis.


“Aku nggak bisa. Besok lebih baik istirahat. Kan hari minggu kita berangakat ke hutan.” kata Krisna. Jeny hanya diam saja.


Sampai di rumah Jeny, Krisna sudah tak mau mampir.


“Aku langsung pulang aja ya.” kata Krisna sambil tersenyum menyambut kebebasannya.


“Iya deh kalau itu mau kakak.” kata Jeny langsung masuk ke rumahnya.


Krisna terbengong. Jeny nggak ngucapin terima kasih. Apa itu yang diajarkan keluarganya? Krisna tak tahu.


“Masa bodo! Aku mau pulang. Aku bebas.” Krisna berbicara dengan dirinya sendiri.


Krisna menaiki sepedanya dan melaju di kesepian malam. Tidak hanya malam itu yang ia rasa sepi, tapi hatinya pun terasa sepi. Tidak ada yang membuatnya senang. Kesan pertama yang ia tahu beberapa hari yang lalu itu ternyata salah. Jeny bukanlah cewek yang ia inginkan. Kelakuan dan kebiasaannya tidak membuatnya senang. Jangankan cinta, suka pun tidak. Krisna hanya mengagumi parasnya yang cantik.


Banyak pelajaran yang diperoleh Krisna saat itu. Ternyata orang yang hanya menilai sesuatu dari luar saja tidak akan bahagia. Akhirnya Krisna sadar bahwa hidup ini memang sebuah proses. Jadi semua yang ada harus diawali dengan proses baru dapat diperoleh hasil dan kesimpulannya.


Memandang sesuatu hanya dari luarnya saja akan membawa penyesalan yang hadir pada akhirnya. Namun nasi telah menjadi bubur. Semakin Krisna merasa tersiksa, penyesalan itu akan terus bertambah. Krisna merasa sangat malam yang dingin itu ikut merasakan hatinya yang termakan kebohongan dan membawanya ke jurang penyesalan yang sangat dalam.


“Apakah ini nasibku?” tanya Krisna pada kesunyian malam itu. Ia hampir sampai rumahnya. Karena kebohongan yang ia buat kini ia merasakan akibatnya. Karena kebodohannya pada kesan pertama yang telah salah membuatnya kecewa dan sangat menyesal.


Kebohongan dan kebodohannya itu akhirnya mengubah hal yang baik menjadi buruk bahkan sangat buruk. Ia tahu itu. Tapi apa boleh buat. Ia nggak mungkin memutuskan Jeny. Ia memang menang dari Rudi. Tapi ia tidak bisa mengalahkan kebohongan di hatinya sendiri itu hingga berakhir seperti ini. Akhirnya kini kebohongan mencoba menutupi hatinya.

__ADS_1


Malam itu Krisna sedang berbaring di tempat tidurnya dengan hati tak menentu. Badannya dan pikirannya capek. Ia kemudian terlelap sambil berkata “Kesan pertama? Aku tak percaya, menipu, menyilaukan…” dan ia terlelap pulas.


__ADS_2