
Selalu Disalahkan
“Fris, kamu ditanya-tanya soal rumah dan pahlawan itu nggak?” tanya Erik kemudian.
“Iya lah. Tapi aku bisa jawab semua. Kalau kamu?” tanya Friska sambil tersenyum.
“Aku ada satu yang nggak bisa Fris, masak aku ditanya kapan beliau lahir. Ya aku nggak tahu lah. Nggak hafal kan waktu itu aku belum lahir.” kata Erik cekikikan.
“Dasar kamu Rik. Untung aja aku nggak ditanya itu. Kalau aku yang ditanya, aku juga nggak tahu.” kata Friska sambil tertawa. Erik pun ikut tertawa.
“Aku juga ditanya gini, kenapa patung yang ada di kota itu tangannya yang satu memegang biaola dan yang satu menunjuk entah kemana? Intinya aku ditanya kenapa bentuk patungnya bisa gitu. Kamu tahu nggak aku jawab apa?” tanya Erik.
“Nggak tahu lah. Kamu kan belum cerita.” kata Friska tertawa.
“Ya aku jawab. Itu menunjuk ke rumah ini biar nggak ada yang lupa kalau beliau lahir disini. Kalau biola yang dipegang kan menunjukkan kalau dia seorang komponis.” kata Erik.
“Jawaban kamu benar kok.” kata Erik.
“Tapi ada satu tadi yang aku nggak bisa. Jadi aku lolos nggak ya Fris?” tanya Erik.
“Aku nggak tahu lah. Aku kan bukan senior.” kata Friska sambil menjulurkan lidah.
Krisna mendengarkan mereka dari belakang, gerakan mereka berdua pun tak lepas dari pandangannya.
“Jangan lupa kalian mengamati ornamennya agar nanti bisa menjelaskan pada laporan yang harus kita buat.” perintah Krisna.
Semua anggota regunya hanya diam dan mulai melakukan apa yang dikatakan Krisna. Friska berjalan sambil mengamati setiap hiasan yang ada di gua itu. Tiba-tiba Friska menginjak dasar gua yang licin.
Tubuh Friska hendak jatuh dan dengan segera Erik menolongnya. Erik memegang kedua pundak Friska dan menahannya agar tidak jatuh ke belakang. Mata Krisna langsung terfokus pada mereka.
“Makasih Rik.” kata Friska sambil tersenyum. Erik mengangguk tapi ia tak juga melepaskan Friska.
“Aku udah nggak apa-apa Rik. Jangan pegang aku gitu, aku jadi susah gerak.” kata Friska kemudian dan Erik melepaskan Friska.
Semua yang mereka lakukan tidak lepas dari pandangan Krisna yang ada di belakangnya. Friska pun melanjutkan jalannya dan Erik tetap berada di dekatnya.
__ADS_1
“Rik, lihat ini. Bagus banget.” kata Friska. Erik mendekatinya.
“Iya. Batuan itu seolah-olah bersinar. Lapisannya pun berwarna. Warnanya sedikit kemerahan itu membuatnya semakin indah apalagi kalau ditimpa cahaya.” kata Erik sambil menyorotkan senter ke arah yang ditunjukkan Friska.
Mendengar perkataan mereka Jeny melepaskan tangannya dari Krisna. Ia bergerak menuju tempat Erik dan Friska berdiri. Ia penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.
“Minggir-minggir. Aku juga pengen lihat!” kata Jeny keras.
Erik dan Friska menjauh dari tempat itu. Jeny mendekati dinding gua itu. Tiba-tiba ia menjerit. Krisna berlari ke tempat itu.
“Kenapa?” tanya Krisna.
“Jeny jatuh.” kata Erik datar.
Jeny duduk di dasar gua yang berlumpur itu. Friska sedang mencoba menolongnya.
“Jangan sentuh aku! Aku tahu kamu yang tadi mendorongku kan?” tuduh Jeny seketika.
Friska tidak menanggapi kata-kata Jeny itu. Ia mendekat dan meletakkan tangan Jeny ke pundaknya tapi Jeny malah menepisnya.
“Ini pasti gara-gara kamu!” raung Jeny pada Friska.
“Jangan nuduh dan nyalahin orang lain.” kata Friska datar.
Mendengar kata-kata Friska, Jeny memasang wajah memelas. Krisna kasihan melihat Jeny terus menerus menjerit. Ia tetap berusaha untuk menolong Jeny. Jeny terus menangis.
Ada celah batu yang menghalagi kaki Jeny keluar. Dalam kegelapan gua itu Jeny terus menangis. Lumpur yang menutupi dasar gua tadi menghalangi sinar senter untuk melihat celah batu itu. Krisna meraba dasar gua itu dengan tangannya.
Beberapa batu terasa rata namun di dekat kaki Jeny ada batu yang pecah menjadi dua. Celah itulah yang menjepit kaki Jeny. Krisna mencoba membuka celah itu, namun ternyata retakan batu itu tajam.
“Apa benar kamu yang bikin Jeny jatuh?” kata itu dengan seketika muncul dari mulut Krisna.
“Eh Kak, jangan sembarangan menuduh ya. Aku sendiri ada di dekat Friska saat itu. Jadi nggak mungkin lah Friska mendorong Jeny.” kata Erik membela Friska.
“Aku kan cuma tanya. Kenapa juga kamu belain Friska terus. Kalian pacaran.” kata Krisna keras.
__ADS_1
“Maaf ya Kak. Suatu saat Kakak akan menyesal pernah berkata seperti itu. Aku dan Friska nggak pacaran. Tapi setidaknya aku masih bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah.” kata Erik tak kalah ngotot.
“Kamu berani ya berdebat dengan leader.” kata Krisna mulai emosi.
“Bukan masalah berani dan tidaknya Kak. Aku hanya ingin meluruskan semuanya. Jangan sampai di saat-saat seperti ini kita malah banyak berdebat hal yang tak penting.” kata Erik tak mau kalah.
“Oh jadi kamu sudah mulai berani. Kamu kira kamu yang paling benar?” entah apa yang merasuki Krisna, emosinya meluap-luap.
“Kak, sadarlah! Jangan sampai Kakak menyesal akan hari ini!” bentak Erik.
“Sudah! Sudah! Kita itu satu tim. Buat apa banyak berdebat! Banyak waktu yang terbuang.” kata Erik menengahi.
Erik dan Krisna diam. Hanya terdengar Jeny merintih kesakitan. Dari tadi Friska menangis karena tuduhan yang begitu menyakitkan itu. Kini tak hanya Jeny yang menangis. Namun Friska pun tak kuat menahan sakit dihatinya. Entah kenapa kegelapan gua itu membuat hatinya semakin sakit saat mendengar tuduhan dari orang yang dicintainya itu.
Cabang gua yang gelap itu kini juga di penuhi air mata. Friska menjauh dan menangis sendiri. Sedangkan yang lain membantu mengelarkan Jeny. Beberapa saat kemudian Erik mendekatinya.
“Sabar ya. Aku tahu kamu nggak salah apa-apa.” kata Erik.
“Sekarang kamu tahu kan? Betapa buruknya prasangka dia kepadaku.” kata Friska sambil terisak.
Krisna dan teman-temannya sedang mencoba mengeluarkan Jeny dari celah batu itu. Jeny terus menjerit dan menangis. Sedangkan Friska juga masih menangis.
“Kenapa kamu menangis? Kamu merasa bersalah?” tanya Krisna.
“Iya. Kenapa sih kamu jahat banget sama Jeny?” tanya Aldi.
Friska tidak menjawab sepatah kata pun. Ia hanya terdiam dan menunduk dengan air mata terus menetes.
Saat itu pula Friska merasa benar-benar berada dalam gua yang sangat gelap dan hanya dirinya sendiri yang ada disana menangis. Ia merasa tidak ada seorang pun yang mempedulikannya.
Perasaannya semakin hancur saat Krisna menuduhnya berkali-kali dan teman-teman yang lain ada pula yang menuduhnya. Bahkan menyentuh Jeny untuk menolong, ia pun di salahkan.
Friska merasa hanya Erik yang tahu perasaannya saat ini. Friska mengusap air matanya berusaha untuk kuat. Erik menepuk bahunya menenangkannya.
“Jangan hanya nangis dong! Tanggung jawab. Ayo bantuin. Erik juga, ngapai malah mojok di situ.” kata Krisna.
__ADS_1