CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN

CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN
37 Hilang


__ADS_3

Krisna masih terus berteriak. Ia sangat panik saat tak bisa melihat dasar kurang itu. Wajahnya semakin gusar dan terus berteriak.


“Friska!!!” teriak Krisna.


Beberapa anggota yang lain ikut berteriak memanggil nama Friska kecuali Jeny. Namun, tak ada jawaban dari Friska. Melihat jurang bebatuan itu, hati Krisna sangat miris.


“Aku akan cari Friska. Kalian lanjutkan perjalanan.” kata Krisna.


“Tapi gimana dengan perjalanan kita Kak. Waktu kita hampir habis. Nanti kita bisa gugur semua.” kata Aldi.


“Tapi bagaimana dengan Friska?” tanya Krisna panik.


“Aki sebenarnya khawatir dengan keadaan Friska, tapi aku juga berpikir bagaimana nasib kita. Berhari-hari kita hidup di alam liar hanya untuk bisa jadi anggota. Apa semua harus sia-sia kak?” tanya Irwan sedih.


Krisna masih diam. Dia tersadar akan omongan Erik. Namun, ia tak bisa membiarkan cintanya begitu saja. Baru saja perasaannya diterima oleh Friska.


“Kenapa harus seperti ini???” gerutu Krisna dalam hati.


Kini Krisna dihadapkan dengan pilihan yang rumit. Menolong Friska dan mengorbankan semua anggota kelompoknya atau meninggalkan Friska agar kelompoknya terselamatkan. Waktu yang mereka miliki tinggal sedikit. Krisna masih diam tak bergeming.


“Kak, aku coba kasih solusi. Bagaimana kalau kita lanjut aja. Kakak masih ingat kan saat Friska terjatuh dulu. Ada tim dari senior yang tahu. Ya mungkin mereka dapat menolong Friska. Nanti kalau kita udah sampai ke garis finish. Kita bisa balik lagi ikut nyari Friska.” kata Irwan panjang lebar.


“Aku tadi juga sempat berpikir seperti itu.” Erik menambahkan.


“Kenapa sih kalian egois banget? Kalau Friska kenapa-kenapa siapa yang mau tanggung jawab? Aku juga kan! Tolong ngertiin aku juga. Aku leader. Aku nggak ingin mengorbankan kelompok ini. Tapi aku juga tak ingin mengorbankan Friska.” kata Krisna mulai emosi.


“Semua yang kamu katakan kayanya bukan karena kamu leader deh. Tapi karena kamu cinta sama Friska kan?” tanya Jeny.


“Ini bukan masalah cinta atau tidak. Siapapun yang jatuh kayak gitu, aku nggak bakalan tega meninggalkan dia lah.” Krisna semakin emosi.


“Aku nggak peduli. Lagian Friska jatuh juga karena kesalahannya sendiri. Siapa suruh ia ceroboh. Yang lain jalan pelan-pelan kok dia malah ceroboh.” kata Jeny ketus.


“Semua itu kecelakaan. Kamu jangan asal bicara soal Friska!” Krisna semakin marah.


“Nah, sekarang kelihatan, kamu udah jatuh cinta sama dia. Seperti saat kamu jadi pacarku, aku salah pun kamu tetap membela.” kata Jeny.


“Heh! Asal kamu tahu ya, aku nggak pernah cinta ke kamu!” bentak Krisna.


“Sudah kak. Sudah. Nggak ada gunanya kita bertengkar saat ini. Lebih baik kita pikirkan solusinya.” Erik menengahi pertengkaran Krisna dan Jeny.

__ADS_1


Mereka semua diam dan balutan pikirannya masing-masing. Krisna mengambil napas dalam-dalam.


“Sudah aku putuskan. Aku akan cari Friska. Kalian lanjut. Nanti kalau ada yang mempermasalahkan ini, aku akan bilang, ini urusan kemanusiaan karena menyangkut nyawa Friska juga.” kata Krisna.


Krisna berdiri. Ia mencari tali di tasnya untuk menuruni jurang yang curam itu. Tiba-tiba ada seseorang datang menepuk pundaknya.


“Udah kamu nggak perlu repot-repot. Kami melihat semua kejadiannya. Semua bukan salah siapa-siapa. Ini karena kecelakaan. Beberapa tim senior masih mencari Friska di bawah sana.” kata Andre.


“Nha mendingan kita lanjut perjalanan kan kak?” tanya Jeny pada Andre.


“Soal itu kalian lanjut aja nggak apa-apa. Ini biar kami yang ambil alih.” kata Andre.


Krisna masih diam membisu. Ia masih tak tega dengan keadaan Friska. Bagaimanapun juga ia sangat khawatir. Cintanya telah tersampaikan beberapa jam yang lalu, tapi ia harus berpisah lagi begitu cepat.


***


Di dasar jurang Friska tergeletak tak sadarkan diri. Sebagian dari tubuhnya tertutup dedaunan kering yang ikut jatuh bersamanya. Kepalanya dan beberapa bagian tubuh lain berdarah.


Beberapa menit kemudian jemari tangan Friska bergerak perlahan. Friska mencoba membuka matanya. Ia panik dan berusaha bangun, tapi badannya terasa sakit. Ia mengatur napasnya agar lebih tenang.


Friska mengumpulkan kesadarannya karena dari tadi ia merasa pandangannya kabur. Friska mencoba bangun, ia menahan rasa sakit dan perih di tubuhnya. Akhirnya Friska bisa duduk.


Friska masih terus berusaha berdiri. Namun, ketenangannya seketika hilang saat mendengar suara langkah kelompok **** hutan dari arah selatan. Dari suaranya sepertinya banyak.


Suara itu semakin dekat, tapi badan Friska tak bisa berdiri. Jangankan untuk memanjat pohon, berdiri saja ia tak bisa. Friska memejamkan mata dan mengatur napasnya.


“Rio, aku harus bagaimana?” kata Friska lirih.


Tak ada waktu lagi untuk Friska. Ia membuka mata lagi dan masih terus mencari tempat persembunyian yang aman. Tiba-tiba ia melihat tembok tebing itu memiliki celah seperti gua.


Friska menelan ludah membayangkan isi lubang itu. Sebenarnya ia takut kalau di dalamnya ada ular atau makhluk lain. Namun, ia tak punya pilihan lain.


Friska menggunakan seluruh kekuatannya untuk ngesot ke tempat itu. Tak lupa ia memeluk daun daun kering yang berserakan. Dengan susah payah akhirnya Friska sampai di tempat itu.


Friska membuka tasnya, mencari senter dengan terburu-buru. Ia tak mau ceroboh lagi. Akhirnya ia menemukan senter dan segera mengecek keadaan dalam lubang itu.


“Aman!” bisiknya girang.


Dengan sisa kekuatannya yang masih ada, ia merangkak masuk ke lubang itu. Ia bergerak mundur, memasukkan kakinya terlebih dahulu dan menyisakan kepalanya di dekat pintu lubang itu.

__ADS_1


Friska meraih daun-daun yang ia kumpulkan tadi, ia menutupi lubang itu dengan daun. Meski tidak tertutup sempurna, Friska berharap persembunyiannya aman.


“Aku harus bertahan.” Friska menyemangati dirinya sendiri.


Lubang kecil itu kini penuh dengan tubuh Friska yang tengkurap. Beberapa saat kemudian rombongan **** hutan yang cukup banyak melewati daerah itu. Friska menguatkan dirinya sendiri agar tidak berteriak.


Napas Friska sesak. Bukan karena kekurangan oksigen, tapi karena posisinya yang tengkurap dan panik membuatnya susah bernapas. Ia selalu berdoa dalam keadaan itu agar rombongan hewan liar itu segera lewat.


Harapan Friska pudar ketika ada beberapa **** hutan yang mengendus-endus daerah itu dengan moncongnya. Wajah Friska pucat, takut kalau **** hutan itu mengetahui persembunyiannya.


Benar saja, tak lama kemudian tiga **** hutan sudah sampai di depan lubang tempatnya bersembunyi. Moncong mereka mengendus lubang yang telah ia tutupi daun semakin membuat Friska takut.


Dengan sisa kekuatan, Friska menahan rasa sakit dan perih di tubuhnya serta menahan rasa takut. Ia mencoba tak bersuara sedikitpun. Lima belas menit berlalu, rombongan hewan itu putus asa karena merasa tak menemukan apapun.


Mereka pergi meninggalkan persembunyian Friska. Friska menarik napas lega di sisa-sisa tenaganya dan kesadarannya. Friska kembali pingsan di dalam lubang kecil itu.


***


Di tempat Krisna berada semua masih diam. Krisna masih bingung meski Andre sudah berkata demikian.


“Sudah kami tenang aja. Ini sudah keputusan kami. Kalian harus mencapai finish.” Andre mencoba meyakinkan Krisna.


“Kak, boleh nggak aku ikut nyari sekarang?” tanya Krisna dengan wajah memelas.


“Nggak boleh. Namanya kamu nggak tanggung jawab dengan kelompokmu. Friska sudah kami urus dan kamu harus bertanggungjawab membawa reguku ini sampai garis finish.” kata Andre tegas.


Krisna mengangguk pasrah. Hatinya tak karuan. Namun ia tak bisa melawan Andre. Krisna mengomando anggotanya untuk melanjutkan perjalanan. Mereka berjalan bersama. Langkah Krisna terasa berat sehingga ia ada di paling belakang.


Tiba-tiba HT yang dipegang Andre berbunyi. Krisna sontak mengalihkan pandangan.


“Ada apa?” kata Andre.


“Kami sudah sampai di dasar jurang. Kami tak menemukan apapun. Anak itu hilang.” kata suara dari seberang sana.


Krisna langsung berbalik dan melangkah mendekati Andre. Andre memandang Krisna yang panik.


“Cari terus ya. Kalau sampai malam belum ketemu, kita minta bantuan tim SAR.” kata Andre tegas.


“Siap!!!” jawab beberapa orang serentak.

__ADS_1


“Kak, yang aku dengar tadi Friska hilang? Apa itu benar kak?” tanya Krisna panik.


“Iya. Tapi kamu harus konsisten dengan keputusanmu yang tadi. Di saat seperti inilah kamu diuji. Sekarang cepat menuju garis finish kalau memang kamu mau membantu Friska!” kata Andre tak bisa dinego lagi.


__ADS_2