
Kemarahan Jeny
Beberapa saat kemudian Irwan mendekati Krisna dan membersihkan darah dan kotoran yang ada pada lukanya. Setelah Irwan selesai, Krisna berbalik arah memandang Jeny.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Krisna.
“Nggak apa-apa. Cuma agak pegel. Kamu nggak marah sama aku?” tanya Jeny malu.
“Nggak lah. Lagian aku juga nggak pernah cinta sama kamu.” kata Krisna datar.
“Lalu kenapa kamu nembak aku?” tanya Jeny heran.
“Aku dan Rudi sudah menjadi rival sejak kami masih TK. Kami nggak mau kalah dalam segala hal. Beberapa waktu yang lalu Rudi menantangku siapa yang bisa jadi pacarmu. Itu aja.” kata Krisna.
Jeny berjalan mendekati Krisna. Ia menampar Krisna.
“Dasar laki-laki pembohong!” jerit Jeny.
Krisna memegang pipinya. Bekas tamparan Jeny terasa sakit.
“Seharusnya kamu ngak harus nampar aku kayak gini, sebelum ngomong gitu coba lihat diri kamu dulu. Kamu malah penghianat.” kata Krisna datar.
Jeny hanya terdiam menyadari hal itu. Kini hubungannya dengan Rudi telah terbongkar. Dalam hati Jeny sangat marah. Ia tidak terima kalau ia hanya dijadikan bahan untuk bersaing. Jeny hanya terdiam setelah itu.
“Selamat tinggal! Aku bebas.” teriak Krisna di dalam kegelapan.
Jeny memandang Krisna dengan penuh dendam.
“Udah kak. Kita harus melanjutkan perjalanan. Masalah kita anggap selesai saja.” kata Irwan mencairkan suasana.
Mereka kemudian berjalan. Erik berjalan mengiringi Friska yang berjalan sambil menghapus air matanya.
“Rik, makasih. Kamu udah nolong aku.” kata Friska.
Erik hanya tersenyum. Kini Friska seperti berada di alam mimpi. Ia masih belum percaya apa yang dilakukan Krisna itu benar-benar terjadi. Friska berjalan sambil memikirkan hal itu. Ia masih kurang percaya hal itu. Namun saat ia melihat telapak tangannya yang penuh darah itu, ia tersenyum.
Mungkin tidak ada yang dapat melihat senyuman Friska dalam kegelapan itu. Tapi saat itu Friska benar-benar senang. Ia senang karena hal yang ia nanti-nantikan telah datang. Meski tak seindah di novel yang pernah ia baca tapi ia sangat bahagia.
Sebaliknya Jeny, ia sangat marah karena tahu kalau ia hanya dijadikan mainan oleh Rudi dan Krisna. Ia tidak terima karena semua itu. Ia ingin membalaskan dendamnya. Tapi Jeny sendiri bingung harus melampiaskannya kepada siapa. Ia berjalan dengan penuh kemarahan.
__ADS_1
Saat Krisna dan teman-temanya berjalan, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara orang berlari dari belakang. Ternyata itu Rudi dan teman-temannya. Lagi-lagi mereka melewati perjalanan dengan berlari.
“Aku duluan!” teriak Rudi ketika ia melewati Krisna.
Krisna dan anggota regunya hanya terdiam. Jeny pun hanya memandang Rudi sinis. Tapi sepertinya Rudi tak menghiraukan itu. Mereka berlari dengan cepat. Dasar gua yang tidak rata itu kadang membuat salah satu dari mereka terjatuh. Namun mereka yang terjatuh langsung bangun karena takut ketinggalan teman-temannya atau mungkin memang bersemangat.
“Itulah Rudi. Kalau udah punya keinginan harus dilakukan. Dia begitu egois sejak kami masih kecil.” kata Krisna.
Semua regu Krisna memandang Rudi dan teman-temannya berlari hingga bayangan mereka hilang. Namun Krisna tetap berjalan seperti biasanya. Tidak ada perubahan langkahnya. Bahkan ia semakin menikmati keindahan dalan gua itu. Ia mengarahkan senternya ke dinding-dinding gua untuk melihat ornamen gua yang ada.
“Apa perlu kita lari Kak?” tanya Irwan.
“Tidak. Kaki Jeny masih belum sembuh. Nanti dia tertinggal malah repot. Lagi pula medan yang kita lalui juga berbahaya.” kata Krisna.
“Lalu bagaimana kalau kakak kalah sama Rudi?” Aldi ikut perhatian perihal persaingan Krisna dengan Rudi itu.
“Nggak apa-apa. Sekarang aku sadar. Tidak selamanya persaingan itu dapat membawa kita ke jalan yang lebih baik.” kata Krisna.
“Syukurlah kalau begitu. Aku berharap perjalanan kita akan lancar setelah ini.” kata Erik.
“Kamu kok diam aja? Kamu belum maafin aku?” tanya Krisna memandang Friska.
“Ternyata kamu masih saja keras. Ya udah aku bakalan nunggu kamu sampai benar-benar maafin aku.” kata Krisna sambil tersenyum.
Sebenarnya jauh di lubuk hati Friska ia sudah memaafkan Krisna. Ia malu untuk merubah sifat keras yang sudah menjadi kebiasaannya itu.
“Rik, makasih buat semuanya. Kamu telah nyadarin aku.” kata Krisna.
“Iya kak. Sama-sama, aku juga berterima kasih sama kakak.” kata Erik.
“Kenapa?” Krisna heran.
“Kakak udah bebasin aku dari kebohongan yang membelengguku. Tadi saat kakak bilang selamat tinggal, aku juga mengatakan hal itu di dalam hati.” kata Erik sambil tersenyum.
“Ternyata kebohongan sangat menyiksa. Walaupun itu sedikit tapi tetap menyiksa dan menuntut untuk bertambah banyak seiring bertambahnya waktu saat kita menyimpannya saja.” kata Krisna.
“Sekarang langkahku ringan banget kak. Kebohongan itu beratnya tak terhingga.” kata Erik sambil tertawa.
Krisna pun tersenyum karena merasakan hal yang sama. Mereka berjalan pelan. Krisna selalu memperingatkan agar mereka tetap berhati-hati. Mereka berjalan sambil mengamati keadaan dalam gua.
__ADS_1
Mereka berjalan tanpa sepatah kata pun. Mereka sedang disibukkan dengan pikiran mereka masing-masing. Friska menatap dinding atas gua. Ia mengernyitkan kening.
“Ada yang aneh?” tanya Erik.
“Ada suara dari atas. Entah suara apa, aku kurang bisa mendengar. Seperti ada sesuatu yang jatuh diatas gua ini.” kata Friska.
Erik berhenti dan mencoba mendengarkannya. Beberapa anggota yang lain juga mengikutinya.
“Suara ini sepertinya merata di seluruh atas gua.” kata Erik.
“Ada apa ini kak?” tanya Aldi mulai panik.
“Mungkin hujan.” kata Irwan.
“Celaka. Siapa yang tahu kapan hujan mulai?” tanya Krisna.
Semua diam. Mereka tidak mendengar apapun karena sedari tadi mereka tidak memperhatikan suara alam. Hanya ada suara pertengkaran dan derap langkah Rudi bersama teman-temannya yang mereka dengar tadi.
“Aku nggak dengar suara mulainya. Tapi saat aku menangis tadi, aku merasakan debit air semakin bertambah. Coba semua cermati kaki kalian.” kata Friska.
“Iya. Sudah bertambah sekitar 10 cm.” kata Krisna kemudian.
Tanpa berkata apapun Krisna mendekati dinding gua dan mencoba memanjatnya. Tapi baru dia akan memulainya ia terpelset karena licin. Jeny kelihatan panik sekali. Aldi pun tak kalah panik.
“Kita harus gimana kak?” tanya Erik.
“Kalau hujannya tidak begitu deras, kita nggak akan tenggelam kok.” kata Krisna.
“Gini aja kak, untuk amannya kita buat rencana. Kalau debit airnya bertambah tinggi sekitar satu meter, kita berjalan dengan bergandengan tangan.” Irwan memberi solusi.
“OK. Aku setuju. Semua ingat itu.” kata Krisna kemudian.
Lima belas menit berlalu. Air semakin tinggi. Jeny dan Aldi sudah bergandengan. Mereka yang paling panik dengan hal ini.
“Ayo kita gandengan. Ini udah lebih dari satu meter dan ingat, jangan panik.” kata Krisna memberi komando.
Jeny menjerit saat air terus menerus tinggi. Mereka berjalan pelan. Saat air sudah mencapai setingi leher, Krisna masih tetap tenang.
“Kalian jangan panik. Ada yang bisa berenang?” tanya Krisna. Ternyata semua bisa.
__ADS_1
“Kalau gitu kita memposisikan diri biar tetap bisa mengambang.” kata Krisna. Semua menganggukan kepala.