CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN

CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN
Cemburu


__ADS_3

Cemburu


Tiba-tiba tangan Friska yang ada di genggaman Krisna bergerak. Segera Krisna melepaskan genggamannya. Krisna dan Erik terkejut dan kemudian tersenyum. Hati mereka berdua lega.


Perlahan Friska memegang dahinya. Ia mencoba untuk bangun. Krisna dan Erik membantunya duduk. Friska memandang sekeliling. Ternyata hari sudah gelap. Erik mengambilkan minum untuk Friska.


“Gimana keadaan kamu?” tanya Krisna.


“Aku masih pusing.” kata Friska.


Ia melihat jari-jarinya yang sudah dibalut perban. Ia heran siapa yang melakukan itu mengingat tidak ada orang yang peduli dengannya. Friska diam dengan bingung.


“Siapa yang menolongku?” tanya Friska.


“Aku. Kenapa sih tadi kamu nggak mau aku tolong?” tanya Krisna.


“Aku nggak mau ngrepotin kamu.” kata Friska.


“Fris, aku boleh tanya sesuatu?” tanya Krisna.


“Apa?” kata Friska datar.


“Aku pengen mengenal kamu lebih jauh. Sebenarnya kamu kenapa? Apa yang menganggu pikiranmu sehingga perasaanmu selalu berubah-ubah?” tanya Krisna menatap Friska.


Friska merasakan jantungnya berdebar kencang saat Krisna mengatakan hal itu dan melihatnya. Friska merasa sangat bahagia saat itu. Tapi kebahagiaannya kemudian sirna karena ia merasa tak ada gunanya bahagia. Dalam pikiran Friska, Krisna menanyakan itu pasti karena ia leader regu itu. Entahlah. Friska bingung menjawabnya.


Friska terdiam. Bagi Friska, kisah pribadinya terlalu berharga untuk diceritakan kepada orang yang baru mau mengenalnya seperti Krisna. Tak ada sedikitpun keinginannya untuk menjawab.


“Kamu nggak mau jawab?” tanya Krisna.


Friska hanya diam saja. Ia masih membeku. Ingatan tentang masa lalunya berkecamuk di kepalanya. Ia memegangi kepalanya yang pening karena ingatan yang menyakitkan itu.


“Ok, kalau kamu nggak mau jawab. Aku akan tunggu sampai kamu mau cerita ma aku.” kata Krisna.


Krisna kemudian mendekati Friska yang duduk di sampingnya. Getaran lembut merayap-rayap di seluruh tubuh Krisna. Ia tidak tahu rasa apa yang mulai merasuki tubuhnya. Krisna pun masih bingung kenapa ia bisa duduk di samping Friska.


“Ngapain duduk di sini?” tanya Friska.

__ADS_1


“Aku pengen nemenin kamu.” kata Krisna.


“Maaf. Aku nggak butuh.” kata Friska datar.


Mendengar perkataan Friska yang masih dingin, Krisna menjauh darinya dan mendekati Erik yang ada di dekat api unggun. Krisna menarik napas dalam-dalam. Hatinya sakit terhadap penolakan itu.


Krisna tak pernah menyangka cewek seperti Friska yang perlahan ia cintai seperti ini. Padahal kalau ia mau mencari cewek di sekolahnya, siapa yang bisa menolak. Bahkan sangat sering Krisna dikejar-kejar cewek di sekolahnya. Namun, Friska berbeda. Friska menolaknya duduk di sampingnya.


Krisna ingin membuang rasa yang tumbuh perlahan itu. Semakin ia mencoba membuangnya malah semakin ia ingin menakhlukan hati Friska.


“Mungkin ini cinta?” tanya Krisna di dalam hati.


Kadang cinta datang tanpa diduga. Cinta datang di manapun, kapanpun dan pada siapapun. Pada dasarnya kita nggak bisa memilih siapa orang yang akan kita cintai. Cinta pertama memang sangat sulit dipahami. Sulit dimengerti.


Keberanian, kasih sayang dan rasa rindu hadir secara tiba-tiba. Krisna kini sedang dilanda kebingungan akan cinta. Petualangannya kali ini mengarungi hutan, gua dan mengarungi hati. Tapi apakah seorang pecinta alam dapat mengarungi hati? Entahlah. Krisna bingung memikirkannya. Ia hanya melakukan apa yang dikatakan hatinya.


Erik memandang leader regunya yang sedang duduk di sampingnya. Erik melihat Friska yang sudah sadar. Ia beranjak menghampiri Friska.


“Fris, aku pengen tanya sama kamu.” kata Erik perlahan.


“Tanya apa?” tanya Friska.


Friska langsung menatap Erik. Dalam hati Friska bertanya apakah Erik juga tahu soal Jeny dan Rudi.


“Aku tadi mendengar pembicaraanmu dengan Jeny.” kata Erik perlahan.


“Lalu?” tanya Friska.


“Kenapa kamu nggak ngasih tahu Kak Krisna sih?” tanya Friska.


“Aku nggak mau ikut campur urusan orang. Biar dia sendiri yang mengetahuinya. Toh, mereka yang menjalaninya.” kata Friska.


“Iya juga sih. Aku juga tadi hampir ngomong sama Kak Krisna, tapi nggak jadi.” kata Erik.


“Aku udah bangun. Sekarang giliranku kan?” tanya Aldi mendekati Krisna.


Krisna melihat jam tangannya. Krisna tertawa.

__ADS_1


“Masih 2 jam lagi.” kata Krisna.


“Aduh… aku kira sekarang giliranku. Aku nggak bisa tidur nyenyak kak. Banyak nyamuk besar yang kesana kemari menggigitku.” kata Aldi.


“Eh, Friska udah sadar?” tanya Aldi dingin.


Friska hanya mengangguk. Aldi pun duduk di dekat api unggun. Erik masih ngobrol dengan Friska. Krisna merasa iri melihat Erik yang bisa duduk bersama dengan Friska. Apakah mereka sudah dekat? Tanya Krisna di dalam hati.


“Sekarang Erik aja yang tidur. Kamu pasti ngantuk.” kata Krisna.


Erik pun beranjak meninggalkan mereka. Tapi Friska melarangnya. Krisna semakin merasa iri. Ia hanya bisa melihat Erik yang kembali duduk di samping Friska.


“Aku pengen ngomong sama kamu.” kata Friska menatap Erik.


Entah mengapa Krisna menyesali hal tersebut. Hatinya bingung mengapa Friska lebih memilih Erik. Krisna juga tidak tahu ada hubungan apa mereka berdua. Kini Krisna hanya duduk dan menebak-nebak apa yang akan mereka lakukan dan hubungan apa yang mereka jalin.


Friska menceritakan semua yang ia ketahui soal Jeny pada Erik. Krisna melihat dari kejauhan dengan kesal. Dalam hatinya ia iri pada Erik yang bisa ngobrol dengan Friska seakrab itu. Bahkan Friska sendiri yang mengajaknya bicara. Krisna merasa cemburu.


“Rik, kita hanya penonton dan kita nggak berhak ikut campur urusan mereka. Bangkai yang disembunyikan pasti akan bau kok. Kita tinggal tunggu tanggal mainnya. Lagian aku juga takut kita nyakiti hati Krisna.” kata Friska.


“Oke. oke. Ngomong-ngomong kenapa kamu mau cerita gini sama aku? Kamu kan dari kemarin dingin sama semua orang.” tanya Erik.


“Kenapa ya? Setelah aku pikir-pikir kamu orang yang jarang mengucilkan aku. Hehehe.” kata Friska sambil tersenyum.


Obrolan mereka masih terus berlanjut. Dari kejauhan Krisna memandangi mereka. Tangannya mengepal menahan amarah. Telinganya mencoba mendengar pembicaraan mereka. Namun, usahanya sia-sia.


Malam yang semakin sunyi itu membuat hati Krisna semakin teriris. Beginikah rasanya ditolak dan dikucilkan. Lama-lama penyesalannya semakin banyak karena selama ini ia tak pernah di samping Friska saat merasakan seperti yang ia rasakan sekarang.


“Kak, Kak! Jangan nglamun ah.” kata Aldi sambil menepuk pundak Krisna.


Krisna tergagap. Ia tersenyum kepada orang yang ada disampingnya itu. Krisna mengusap wajahnya dengan dua tangannya. Menghela napas dalam-dalam. Seharusnya ia tidak mencampurkan perasaan pribadinya di saat seperti ini.


“Kalau kakak capek, tidur aja dulu. Besok perjalan masih panjang.” kata Aldi.


“Sebentar, aku masih ingin menikmati malam.” kata Krisna.


Krisna merebahkan badannya di atas tanah. Ia memandang langit yang sangat luas. Ribuan bintang ada di atas sana. Mereka sama-sama bersinar. Namun, ada beberapa menghilang di kegelapan malam.

__ADS_1


Malam ini, disaksikan banyak bintang, akhirnya Krisna merasakan cinta dan cemburu. Meski rasa itu masih temaram, tapi semua itu semakin terlihat nyata. Meski semuanya belum terasa indah, ia mencoba untuk tetap tegar dalam situasi itu.


__ADS_2