
Kepanikan Rudi
Di sisi lain Rudi bersama kawan-kawannya sedang berlari. Kepanikan Rudi memuncak saat ia tahu regunya tertinggal dari regu Krisna. Ambisi Rudi untuk menjadi lebih baik dari Krisna masih tinggi.
“Cepat! Lari!” Rudi memberi perintah.
Rudi memimpin di depan sambil sesekali menatap peta yang di tangannya. Lereng bukit yang cukup curam ia terjang dengan berani. Dalam hatinya hanya tujuan tertancap dengan jelas. Ia ingin menjadi leader dan tidak mau kalah dengan Krisna. Dengan tujuan itu ia merasa kuat dan tidak merasakan lelah. Tapi lain halnya dengan teman-temannya yang lain.
“Kak, kita capek.” kata salah seorang anggota regunya.
“Kita udah kehabisan waktu. Bisa cepat nggak?” tanya Rudi memandang mereka sinis.
“Kita juga lapar kak. Kakak jangan egois dong.” kata Ardi.
Rudi memandang mereka semua. Mereka benar-benar kelihatan capek.
“Kalian boleh istirahat sambil berjalan pelan-pelan. Tapi kita harus tetap meneruskan langkah kita. Tatap semangat!” kata Rudi dengan senyumannya.
Walaupun memiliki sifat egois dan emosi yang tinggi, Rudi juga memiliki sifat yang seharusnya dimiliki seorang leader. Rudi menarik napas untuk meredakan kepanikannya.
“Sepuluh meter lagi!” teriak Rudi gembira.
Semua anggotanya pun tersenyum senang. Sebenarnya Rudi merupakan calon leader yang baik. Tapi banyak dari anggota regunya yang menyayangkan hal itu. Mereka menganggap Krisna lebih baik dari Rudi kerena sebagai calon leader Rudi terlalu cepat marah.
Rudi mudah sekali marah karena hal yang sepele. Selain itu, Rudi egois. Itu dapat dilihat saat dia ingin sesuatu ia harus mendapatkannya dan tidak menghiraukan teman-temannya.
Rudi dan regunya menuruni tangga batu dan sampai di rumah itu. Seperti yang didapatkan Krisna, Rudi dan kawan-kawannya pun mendapat sapu tangan hijau itu. Kemudian mereka masuk ke rumah itu.
Rudi membaca tulisan yang ada di tembok dengan cermat. Sedangkan hanya dua orang anggota regunya yang mengikutinya. Desi dan Ardi membaca tulisan itu. Sedangkan anggota yang lain duduk beristirahat. Mereka hanya minum air yang mereka ambil dari sungai.
“Kalian baca juga!” bentak Rudi pada mereka.
Mereka sudah menduga hal itu akan terjadi. Rudi sebenarnya tegas tapi ia terlalu cepat marah. Mereka langsung bergegas bangkit dan membaca beberapa tulisan yang dinding kayu itu. Beberapa saat kemudian waktu mereka di rumah itu telah habis. Mereka kembali menyusuri jalan yang semakin menanjak.
__ADS_1
“Kak kami lapar.” kata semua angota regu serentak.
Rudi menatap mereka. Rudi merasa kasihan.
“Ya udah kita cari makan.” kata Rudi.
Mereka pun memperlambat perjalanan mereka sambil melihat sekitar kalau ada yang bisa dimakan. Sambil berjalan mata Rudi menelusuri sekitar.
“Itu ada talas.” kata Rudi menunjuk pohon yang ada di sebelah selatan.
Doni anggota Rudi yang rakus langsung mendekati pohon itu. Ia mengeluarkan pisaunya dan mencoba menggalinya. Hanya ada beberapa talas yang bisa keluarkan dari tanah.
Rudi menyuruhnya mencari lagi di sekitar sana. Akhirnya mereka menemukan lebih banyak tanaman talas. Beberapa anggota regu lain membantu menggalinya. Talas itu mereka kumpulan menjadi satu.
Rudi memerintahkan untuk membakarnya. Beberapa menit kemudian talas yang mereka tunggu-tunggu sudah dianggap matang. Doni yang membakar talas itu ingin cepat-cepat memakannya. Sebenarnya ia tidak tahu talas itu matang atau belum. Mereka duduk melingkar dan memakannya bersama.
“Enak banget kak.” kata Doni rakus.
“Tapi menurutku rasanya ada yang aneh kak.” kata Desi kemudian.
“Sudah. Kalian diam. Aku pengen ngomong sama kalian semua. Aku minta tolong kalian tetap semangat. Kalian tahu sendiri kan ambisiku jadi leader tahun ini. Jadi tolong jangan kecewakan aku.” Rudi mengungkapkan perasaannya.
Semua anggota regu terdiam. Mereka sadar, harapan Rudi sangatlah besar. Mereka tak ingin mengecewakan harapan Rudi itu.
“Iya kak. Kami akan berusaha.” kata Ari anggota regu Rudi yang lain.
Semua anggota regu mengangguk dan tersenyum pada Rudi. Rudi pun tersenyum.
“Kak, boleh aku tanya?” tanya Desi.
“Boleh, tanya apa?” tanya Rudi.
“Kakak dan Kak Krisna sahabatan ya?” tanya Desi.
__ADS_1
“Eh bukan. Mereka itu musuhan. Krisna rival kakak kan?” tanya Doni.
“Jadi gini, aku dan Krisna memang teman sejak kami kecil. Kami selalu bersama ya udah kayak saudara lah. Kami juga sering bersaing, bahkan di semua hal. Mulai dari sekolah, hobi, makan, sampai cewek.” kata Rudi.
“Sampai ke cewek tetep saingan Kak?” tanya Doni.
“Iya. Namanya juga rival.” kata Rudi.
“Tapi kalau untuk masalah perasaan, Kakak hati-hati ya. Rawan kecewa Kak.” kata Ari.
“Iya. Santai aja. Meski kita rival, kita tetap sahabat kok.” kata Rudi.
“Baguslah Kak.” kata Doni.
“OK kalau gitu tetap semangat!” kata Rudi menggerakkan tangannya ke depan.
Teman-temannya mengikuti dan kemudian mereka bersorak bersama. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan. Lagi-lagi mereka dituntut berlari oleh Rudi. Tapi mereka menerimanya setelah tadi Rudi meminta mereka dengan baik karena tidak dengan marah-marah. Selain itu perut mereka pun sudah tidak terasa lapar seperti tadi.
Dengan terengah-engah Rudi tersenyum karena tinggal tiga puluh meter lagi mereka akan sampai. Ia melakukan perjalanan yang cukup jauh itu hanya dengan waktu satu jam. Semangat Rudi saat itu tidak dapat diragukan lagi.
Tidak hanya itu, Rudi masih berharap saat ia kembali dengan cepat, ia bisa melihat orang yang ia cintai. Ia ingin lebih lama lagi memandang Jeny. Ataupun kalau ia boleh berharap, ia ingin bersamanya dan melindunginya.
Kadang dipikiran Rudi tersirat untuk memiliki Jeny seutuhnya. Sebenarnya ia tak ingin menjadi orang ketiga di tengah hubungan Jeny dan Krisna. Namun, saat berada di dekat Jeny, ia tak berani mengatakannya.
Baginya Jeny adalah segala-galanya. Karena itu pula ia rela menghianati sahabatnya sendiri. Entah mengapa cinta begitu buta merasuk ke pikiran Rudi. Baginya Jeny tak lagi sebuah piala untuk diperebutkan dengan Krisna. Namun, ia telah benar-benar mencintai Jeny.
“Aku rindu padamu Jeny.” gumam Rudi.
Mereka terus berlari. Mereka mengikuti Rudi meski sudah sangat terengah-engah.
”Sedikit lagi!” teriak Rudi dari depan.
Rudi masih terus berlari tanpa mengurangi kecepatannya. Fisiknya yang sudah terlatih membuatnya tidak merasa lelah. Berbeda dengan anggotanya yang masih tertinggal di belakang.
__ADS_1
Semua anggota regunya terlihat sangat capek. Semua yang dilakukan Rudi adalah untuk keinginannya. Walaupun ia harus mengorbankan semua anggota regunya. Namun entah sampai kapan anggota regunya dapat mengikuti Rudi yang sudah terlatih secara fisik itu. Anggota regu Rudi hanya bisa berharap itu semua segera berakhir.
Akhirnya mereka sampai di depan goa itu. Mereka duduk untuk beristirahat sambil menunggu giliran di wawancara. Mata Rudi menyusuri tempat itu. Ia tak lagi menemukan Jeny.