
Pertolongan Pertama
Erik yang mendengar teriakkan tadi mempercepat larinya. Hari yang mulai gelap tidak ia pedulikan. Ia berlari menuju arah suara Krisna.
“Friska!” kembali terdengar teriakan Krisna.
Erik telah sampai di dekat Krisna. Melihat leadernya yang panik dan frustasi itu, Erik ikut panik.
“Ada apa kak?” tanya Erik.
Krisna tersadar dari segala kegundahannya. Ia mencoba terlihat tegar di depan anggota kelompoknya itu.
“Friska jatuh ke jurang.” kata Krisna sambil menghapus air matanya.
Erik terkejut. Dalam keadaan gelap Erik tak melihat apa yang dilakukan Krisna. Yang paling Erik tahu, leader kelompoknya itu sedang panik dan bingung. Arik masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, tapi ia tak mau menanyakannya saat ini.
“Kamu bawa senter?” tanya Krisna.
Erik memberikan senternya. Krisna menyoroti sungai di bawahnya. Ia tidak melihat Friska. Tapi dari suara arusnya sungai itu tidak terlalu deras.
“Aku akan turun.” kata Krisna.
“Aku ikut.” Erik mengikutinya.
Mereka turun melewati jalan yang berada jauh di depan mereka berdiri tadi. Kemudian mereka menyusuri sungai itu. Saat Krisna melihat banyak-banyak batu besar hatinya serasa dihujam panah beracun. Ia tidak bisa membayangkan seperti apa keadaan Friska kalau terbentur batuan yang banyak ini.
Dalam hati Krisna menyalahkan dirinya. Krisna memaki dirinya yang terlalu bodoh hingga membiarkan hal itu terjadi pada orang yang tak pernah ia lindungi itu. Dengan rasa khawatir yang sangat dalam Krisna mencari Friska dalam kegelapan. Erik membantunya. Mereka berdua berjalan di atas batuan yang licin. Kadang mereka terpeleset dan kadang pula kaki mereka masuk ke dalam air.
Mereka berdua mencari Friska dengan susah payah. Erik menyusuri tepian tebing itu. Tiba-tiba Erik melihat tubuh Friska yang tergeletak di dekat tebing. Friska tergeletak dan tubuhnya sedikit ditutupi tanah yang berguguran dari tebing tempat ia jatuh. Mereka kemudian mendekatinya. Krisna memegang tangan Friska.
“Dia cuma pingsan.” kata Krisna.
“Dahi dan lututnya berdarah kak.” kata Erik.
Krisna mengangkat Friska dan membawanya. Mereka berjalan menuju ke tenda.
***
Di dekat tenda Irwan, Aldi dan Jeny sedang duduk melingar mengelilingi api unggun yang mereka buat.
__ADS_1
“Kak Krisna lama banget. Aku boleh nyusul dia?” tanya Irwan.
“Ih, ngapain sih. Kurang kerjaan.” kata Jeny sinis.
Dalam pikiran Jeny ia berpikir kalau Friska mungkin sudah ada di bawah jurang. Mungkin Erik dan Krisna bingung mencari mereka. Krisna menggendong Friska dan Erik meneranginya dengan senter dari belakang. Sambil berjalan Krisna merenungkan apa yang tadi dikatakan Friska.
“Sebenarnya apa yang terjadi padamu. Kenapa hatimu seperti terluka amat dalam?” dalam hati Krisna bertanya-tanya.
Krisna sadar ia merasakan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Ia takut kehilangan Friska. Ia merasakan ada sesuatu yang lembut mungkin seperti semut yang sangat kecil merayap perlahan di hatinya dan ia merasa damai. Namun, ia tak ingin menyimpulkan kalau itu adalah rasa cinta.
Tapi rasa itu tidak bisa Krisna ungkapkan karena Friska sekarang pingsan. Krisna ingin sekali mengubah perlakuannya selama ini yang membuat Friska membencinya sampai-sampai tidak mau di tolong.
Krisna mempercepat jalannya. Krisna tidak ingin Friska bertambah parah. Erik mengikuti langkah Krisna. Kini tidak hanya Krisna yang menyimpan kebohongan dihatinya. Tapi kini Erik juga tengah terkukung kebohongan jika ia tidak segera mengatakan hal yang sebenarnya pada Krisna.
Erik memandang Krisna. Ia tahu Krisna sedang dalam keadaan panik. Krisna sangat khawatir dengan keadaan Friska. Erik mengurungkan niatnya untuk membuka rahasia Jeny.
“Rik, menurutmu Friska orangnya gimana?” Krisna memecahkan kesunyian.
“Dia sebenarnya baik kak. Tadi aku ngobrol sama dia. Kalau udah akrab dia baik kak.” kata Erik.
“Tapi dia selalu dingin.” kata Krisna.
“Tadi kamu ngobrol apa sama dia?” tanya Krisna ingin tahu.
“Aku tanya soal keluarganya. Jadi dia anak tunggal. Dua tahun lalu ayahnya meninggal kak. Ayahnya dulu seorang pecinta alam. Ayahnya meninggal saat ia mendaki gunung. Ibunya tidak menikah lagi dan ia pindah ke Jogja saat dia mulai SMA.” cerita Erik.
Krisna terdiam. Hal tersebut belum juga menjelaskan mengapa Friska selalu aneh dan perasaannya sering berubah-ubah. Jalan yang mereka lalui menaik. Tapi Krisna tidak mempedulikan itu. Ia malah memepercepat jalanya.
Beberapa saat kemudian mereka sampai. Krisna membaringkan Friska di tanah dekat tenda cewek.
“Friska kenapa?” tanya Irwan. Krisna dan Erik tidak menjawab pertanyaan itu.
“Cepat ambil kotak P3K. Cepat!” kata Krisna.
Aldi berlari mengambil kotak itu dari tasnya. Krisna membuka kotak itu dan ia membersihkan luka di dahi Friska kemudian membalut lukanya. Ia memeriksa keadaan Friska. Sepertinya dia baik-baik saja.
Krisna terkejut saat melihat jari-jari tangan Friska. Semua kukunya rusak dan banyak kulit yang tersayat. Kini Krisna tahu kalau tangan Friska mencari pegangan di tebing itu.
Krisna juga tau hal yang dilakukan Friska agar laju jatuhnya tidak terlalu cepat. Pemikiran yang bagus saat ia dalam masalah besar.
__ADS_1
Krisna membersihkan jari-jari yang sudah tersayat-sayat itu dengan alkohol. Krisna yakin, luka seperti itu sangat perih. Namun, Friska masih belum bangun juga. Krisna bingung Friska tidak mau ia tolong dan malah melepaskan genggamannya. Beberapa saat kemudian Krisna memeriksa kepala Friska. Ia takut kalau-kalau terjadi benturan keras.
“Apakah Friska benar-benar tidak mau memaafkanku?” tanya Krisna dalam hati.
Krisna memandang muka Friska yang terpejam itu. Ia menyadari Friska tidak begitu cantik. Tapi sebenarnya ia manis dan apa adanya.
“Gimana kak?” tanya Erik.
“Ia cuma pingsan. Banyak luka tapi cuma luka-luka kecil.” kata Krisna.
Krisna duduk di samping Friska. Semua duduk dan diam. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Tadi Friska pergi bersama Jeny. Krisna mendekati Jeny.
“Kamu tadi nggak lihat Friska jatuh?” tanya Krisna curiga.
Ia menatap Jeny tajam. Jeny hanya diam.
“Tadi kamu juga bilang kalau Friska lagi nyuci panci. Tapi dilihat dari tempat jatuhnya Friska belum sampai sungai dan pancinya pun masih kotor.” kata Krisna menguraikan kejadian.
“Kamu nuduh aku?” tanya Jeny.
“Nggak, aku cuma tanya.” kata Krisna bingung.
“Kenapa kamu bertanya seolah-olah akulah yang menjadikan Friska seperti ini?” kata Jeny marah.
“Bisa nggak jangan pake emosi. Kita tunggu sampai Friska bangun dan kita akan tahu yang sebenarnya.” ancam Krisna pada Jeny.
Semua mengangguk. Irwan dan Aldi kembali duduk di depan api unggun. Krisna mengangkat Friska ke tikar yang telah disiapkan oleh Erik. Jeny masih marah dan duduk di dekat api unggun.
Erik menghampiri tubuh Friska dan memegang keningnya. Tiba-tiba ia panik.
“Kak, Friska demam!” kata Erik panik.
Krisna berlari mendekatinya. Ia mengecek keadaan Friska. Apa yang dikatakan Erik benar.
“Cepat ambil air dingin untuk mengompres!” perintah Krisna.
Krisna mengompres kening Friska dengan hati panik. Namun, ia tetap berharap agar tidak terjadi hal yang lebih parah. Bagaimanapun juga ini tanggung jawabnya sebagai leader.
“Semoga pertolongan pertama ini bermanfaat. Aku yakin kamu kuat.” kata Krisna lirih.
__ADS_1