CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN

CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN
Kita Rival!


__ADS_3

Kita Rival!


Yang muncul di pikirannya kini Jeny. Krisna bingung dengan tantangan Rudi. Sebenarnya dia nggak mau menerimanya, tapi dia juga nggak mau kalah dengan Rudi. Akhirnya Krisna mengambil keputusan untuk mendapatkan Jeny lebih awal dari pada Rudi. Julukan rival abadi mungkin memang pantas untuk mereka. Krisna dan Rudi selalu bersaing dan tak ada dari mereka yang gentar atau takut saat ada tantangan untuk mereka.


Selama ini Krisna memang belum pernah merasakan apa itu jatuh cinta. Ia hanya sering mendengar kalau orang yang sedang jatuh cinta itu berdebar-debar saat bertemu orang yang dicintainya. Katanya kalau orang jatuh cinta akan selalu mengingat wajah orang itu setiap saat dan selalu bermimpi tentangnya.


Entahlah, Krisna bingung memikirkan bagaimana rasanya cinta itu. Tapi Krisna tak merasakan apapun saat bertemu Jeny. Walaupun begitu, Krisna tetap akan menerima tantangan Rudi itu.


Barisan pikiran melayang-layang di langit-langit kamarnya itu. Malam itu pikiran Krisna tak menentu. Kini yang ia pikirkan tentang kegiatan minggu depan. Tadi siang Andre tak menjelaskan detail kegiatannya. Itulah yang membuat Krisna selalu menebak-nebak apa yang harus dilakukan minggu depan.


Hal itu penting bagi Krisna mengingat ia ingin menjadi leader tahun ini. Lagi-lagi kembali pada rivalnya Rudi. Ia tak mau kalah. Dalam kamus mereka berdua rival berarti hidup mereka. Jadi tak ada yang mau mengalah untuk berpaling dari tantangan yang ada di depan mereka.


Krisna menginta-ingat kembali kata-kata Andre tadi siang.


“Lokasinya Purworejo? Mana sih?” tanya Krisna dalam hati.


Ia kemudian bangkit menuju meja belajarnya dan membuka laptopnya. Sesaat kemudian ia mulai menjelajahi dunia maya untuk mencari kata “Purworejo”. Krisna mengeryitkan kening, yang ia temukan hanya kota kecil yang berada sebelah barat daya Jogja. Tak ada gunung disana. Hanya ada gua dan tidak begitu terkenal. Bahkan penjelasan untuk perjalanan kesana pun masih sangat sedikit.


“Mungkinkah kali ini menelusuri gua lagi?” gumam Krisna.


“Tapi kenapa tadi Andre bilang kalau perjalanan kali ini untuk menemukan sesuatu?” gerutu Krisna.


Krisna mengingat figur Andre yang telah menjadi pemimpin selama satu tahun ini. Orang itu memang selalu penuh kejutan dan kegiatan yang ia lakukan selalu kreatif dan tidak terduga. Krisna sangat mengakui kemampuan Andre memimpin, merencanakan dan membuat kegiatan patut diacungi jempol. Sampai malam Krisna belum mendapatkan petunjuk tentang minggu depan. Krisna hanya bisa berdoa agar minggu depan dapat berjalan lancar dan orang aneh itu dapat bekerja sama dengan baik.


Sementara di sisi lain seorang sedang berdiam di kegelapan malam kamarnya dengan ditemani dengan sebuah lilin di jendela yang terbuka. Orang itu memandang lilin yang berjuang untuk tetap menyala dalam hembusan angin malam itu.


Orang itu seakan menikmati suasana yang sunyi itu dengan damai. Tiba-tiba lampu kamarnya menyala dan seseorang menyuruhnya tidur. Akhirnya ia mengambil lilin itu dan meniupnya. Perlahan ia merebahkan badannya ke tempat tidur dan mulai tidur bersama air mata.


***


Esok harinya Krisna berangkat sekolah lebih pagi dari biasanya. Ia menghampiri Rudi. Seperti biasa, Rudi selalu kesiangan. Pagi itu saat ia sampai di rumah Rudi, Tante Puspa memberi tahu kalau Rudi baru saja bangun. Akhirnya Krisna berangkat sendiri. Tak berbeda dengan bertahun-tahun lalu. Rudi selalu lebih telat daripada Krisna dalam hal bangun tidur. Tapi tetap saja Rudi tak mau mengakuinya.


Di sekolah masih sepi. Tapi pagi itu ada yang menarik perhatiannya. Ia melihat Friska di bawah pohon duduk membaca buku. Friska duduk sendiri. Ekspresi mukanya kali ini seperti orang sedih dan matanya sembab. Sedikit-sedikit Friska memandang langit.


“Memang orang aneh” gumam Krisna mengintipnya dari balik pohon bogenfil.

__ADS_1


Krisna bahkan tak tahu kelas apa dia. Krisna mencoba mendekat. Sebagai calon leader yang baik ia harus dapat jadi pemimpin yang tahu keadaan rakyatnya.


Krisna duduk di sampingnya.


“Pagi, ngapain kamu disini? Kamu kelas apa?” tanya Krisna dengan memberi senyuman.


“Udah lihat kan. Aku baca buku. Kelas Xb.” jawab Friska datar.


Saat melihat muka datar Friska, Krisna semakin marah melihat kelakuannya kepadanya. Krisna menganggap Friska tak punya rasa hormat karena ia tak pernah menjawab pertanyaannya dengan benar dan santun. Walaupun bagaimana ia merasa lebih tua dan harus dihormati. Biasanya cewek yang ia ajak bicara selalu menebar senyum manis kepadanya. Tapi Friska lain. Ia hanya memasang muka datar yang membuat Krisna makin kesal padanya.


“Sebentar lagi upacara. Aku ke kelas.” kata Friska sambil melangkah pergi.


Krisna hanya mengangguk. Lama ia masih duduk di tempat itu bingung dan merasa harga dirinya tidak ada di mata Friska. Krisna meninggalkan kerisauannya di bangku itu. Krisna melangkah menuju ke lapangan upacara.


“Pagi kak Krisna!” teriak Jeny dari belakang.


“Pagi juga.” jawab Krisna dengan senyum manis.


Jeny tampak bahagia memperoleh senyuman dari Krisna.


“Kamu kelihatan pucat. Kamu sakit?” tanya Krisna.


Mereka berdua berjalan ke lapangan. Dari jauh Rudi mengamati mereka.


“Sial! Krisna nyolong start.” gerutu Rudi.


Rudi mencoba mendekati mereka. Tapi sayang upacara segera dimulai. Walaupun begitu Rudi tetap mengamati mereka dari jauh. Hari itu sangat cerah. Cerah bukan berarti semua murid senang tapi malah kepanasan.


Banyak anak cewek yang pingsan. Krisna berdiri pada barisan kelas XIa dengan peluh bercucuran. Tak jauh dari sana ada Jeny di barisan Xf yang semakin pucat. Tiba-tiba Jeny terhuyung dan hampir jatuh. Dengan cekatan Krisna menerjang barisan dan menangkap Jeny yang hampir jatuh ke tanah.


Banyak mata yang tertuju pada mereka. Tapi ada dua pasang mata yang mengamati detik demi detik gerakan Krisna kemudian. Tentunya salah satu diantaranya adalah Rudi. Krisna menggendong Jeny ke UKS. Tubuh Jeny yang standar itu sangat mudah diangkat oleh seorang Krisna.


Krisna memang seperti seorang pahlawan. Cewek-cewek banyak yang iri melihat Jeny yang bisa mendapat perhatian dari bintang sekolah itu. Sampai di UKS ada Sinta teman sekelas Krisna yang menjadi PMR. Krisna meletakkan Jeny di tempat tidur. Krisna menunggu Jeny di periksa.


“Dia hanya kelelahan dan kurang tidur.” kata Sinta.

__ADS_1


“Katanya dua hari lalu ia kehujanan.” kata Krisna sambil memandang Jeny.


“Itu juga bisa jadi salah satu penyebabnya.” sambung Sinta.


Krisna keluar dari UKS dan hendak menuju lapangan upacara. Tapi ternyata upacara telah usai. Ia melihat Rudi menuju ke arahnya. Rudi ingin ke UKS.


“Lama nunggu Jeny?” tanya Rudi sinis.


“Nggak kok. Ini juga mau ke lapangan.” kata Krisna.


“Udah selesai.” kata Rudi sambil melangkah ke UKS.


Krisna terdiam dan mengikutinya. Rudi dan Krisna duduk di dekat tempat tidur Jeny. Beberapa saat kemudian Jeny bangun. Ia memandang sekitar. Ia langsung sadar sedang berada di UKS. Ia memandang Krisna dan Rudi bergantian. Ia kemudian duduk sambil memegangi kepalanya yang mungkin masih pening.


“Tidur aja dulu.” kata Rudi dengan memberi senyuman yang ia buat semanis mungkin.


“Kamu siapa?” tanya Jeny.


“Aku Rudi. Boleh kenalan?” tanya Rudi kemudian.


“Jeny.” kata Jeny menjabat tangan Rudi.


“Kak Krisna ada disini?” tanya Jeny.


Belum sempat Krisna menjawab, pertanyaan itu udah dijawab Sinta.


“Tadi dia yang gendong kamu kesini.” kata Sinta.


Jeny tersenyum bahagia. Hal tersebut membuat Rudi sedikit tersaingi dan merasa ada di belakang Krisna. Padahal tadi Krisna hanya bermaksud menolong Jeny karena kasihan dan tak ada alasan lain.


Setelah itu yang Rudi terus menerus ngobrol dengan Jeny. Krisna pun tak mau kalah. Lima menit kemudian keadaan Jeny pun sudah membaik.


“Aku yang antar kamu ke kelas.” kata Rudi.


“Aku aja.” Krisna tak mau ngalah begitu aja.

__ADS_1


“Kamu pilih siapa Jen?” tanya Rudi mendesak. Jeny hanya diam.


Kemudian dua orang itu, akhirnya bersama mengantar Jeny ke kelas. Sinta hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua temannya itu. Namun Sinta melihat keanehan pada Krisna. Dia tidak pernah melihat Krisna yang seperti itu. Krisna seperti seorang yang lupa jati dirinya.


__ADS_2