CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN

CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN
Pencarian Friska


__ADS_3

Sekitar pukul 14.00 WIB, regu Krisna sampai di garis finish. Mereka berada di lapangan yang cukup panas. Mereka berteduh di pohon-pohon yang ada di tepi lapangan. Krisna masih terus berdiri.


“Kak, ayolah duduk dulu. Istirahat dulu.” kata Erik.


“Aku kok belum lihat ada senior ya. Apa mungkin di camp itu.” kata Krisna sambil menunjuk tenda berwarna biru.


“Bisa jadi kak. Tapi kita istirahat dulu. Ini ada roti dan air mineral.” kata Aldi yang tadi mengambil di pintu masuk lapangan.


Krisna duduk dan memakan roti itu dengan cepat dan mengobati rasa hausnya. Ia mengecek perlengkapan di ranselnya. Senter, tali, obat-obatan, kompas, dll. Semua sudah siap.


“Oke. Aku pergi. Kalian jaga diri ya. Bantu doa dari sini.” kata Krisna sambil berdiri.


“Iya kak. Hati-hati ya. Semoga Friska baik-baik saja. Kakak jangan panik ya.” kata Irwan.


Krisna mengangguk dan berjalan meninggalkan regunya. Ia menuju camp senior. Di sana hanya ada Rendy. Kebetulan jatah Rendi untuk berjaga di camp. Setelah mengutarakan apa yang Krisna inginkan dan semua itu sudah mendapat persetujuan dari Andre, Rendi mencari informasi dari HP nya.


“Belum ada yang angkat teleponnya. Kamu tunggu sebentar ya. Aku akan terus menghubungi.” kata Rendi.


Krisna mengangguk. Ia duduk dengan penuh kegelisahan. Bagaimana ia harus sabar saat ia tak tahu bagaimana keadaan pacarnya. Berbagai bayangan buruk mengganggu pikirannya. Krisna menggelengkan kepala mencoba menepis semua itu.


Waktu terus berlalu. Sudah hampir satu jam Krisna menunggu. Akhirnya Rendi menghampirinya.


“Aku baru saja mendapat kabar. Friska belum juga ditemukan. Akhirnya kami meminta bantuan dari tim SAR atau relawan yang ada di daerah ini. Nanti kamu bisa bareng mereka saat kesana ya.” kata Rendi.


“Maaih lama tidak Kak?” tanya Krisna yang sudah tidak sabar.


“Sebentar lagi. Mereka sudah otw.” kata Rendy.


Beberapa saat kemudian datang dua mobil jip terbuka dengan masing-masing empat penumpang. Mereka menghampiri camp. Rendy menjelaskan kronologi kejadiannya.


“Kamu mau ikut mencari?” tanya seorang cewek berambut keriting pada Krisna.


“Iya kak. Dia orang penting bagiku.” kata Krisna.


“Baiklah, ayo ikut kami.” kata seseorang yang bertubuh kekar.


Krisna berangkat bersama mereka. Ia duduk berdempetan di kursi belakang bersama dua orang lainnya. Dari obrolan mereka Krisna tahu bahwa mereka adalah kelompok pecinta alam dari salah satu kampus yang ada di kota itu.


“Tenang aja. Kami sudah hafal medannya. Oia kenalkan namaku Vika. Yang menyetir Yuda, di sampingnya Wisnu dan yang di samping kami sebelah sana ada Beni.” kata Vika.


“Aku Krisna kak.” kata Krisna mencoba tersenyum dalam perkenalan itu.


Yuda menyetir mobil itu dengan cepat. Krisna merasa lega karena akan cepat sampai ke tempat itu. Di perjalanan ia melihat tim Rudi sedang berjalan menuju garis finish.


***

__ADS_1


“Kak, kami sudah capek sekali.” keluh beberapa anggota tim Rudi.


“Ayo Kak. Istirahat dulu.” kata Desi.


“Haduh Des, yang bikin semuanya jadi lama kan kamu. Ayolah semangat semuanya. Tinggal sedikit lagi. Kalau sudah sampai sana, kalian bisa istirahat sepuasnya.” kata Rudi.


Tak sabar ingin cepat sampai finish, Rudi menghampiri setiap anggotanya dan meminta barang bawaan mereka. Ia membawakan barang bawaan mereka dan berlari. Anggota timnya sudah tak kuat lagi mengikutinya berlari.


Lima belas menit kemudian Rudi sudah sampai di garis finish. Ia menunggu anggotanya sambil makan roti yang sudah disediakan.


“Pilih tempat teduh dan mari iatirahat.” kata Rudi sambil tersenyum.


Mereka duduk di bawah pohon dekat dengan tim Krisna. Rudi mengamati tim itu. Ia heran tak melihat Krisna. Namun, ia lega melihat Jeny baik-baik saja, hanya mukanya yang lusuh karena perjalanan. Rudi memutuskan untuk menghampiri mereka.


“Hai semuanya. Krisna dimana ya? Dari tadi aku nggak lihat dia?” tanya Rudi.


“Kak Krisna lagi nyari teman kita. Friska kecelakaan. Belum ditemukan.” kata Erik.


“Oalah. Semoga cepet ketemu. Jeny gimana kabar?” tanya Rudi.


Wajah Jeny masih cemberut karena kelelahan. Rudi merasa iba melihat keadaan Jeny.


“Nha itu kakak bisa lihat sendiri. Sepanjang perjalanan dia cuma mengeluh. Sampai sini juga masih kayak gitu.” kata Irwan.


“Maklum lah. Kan kehilangan pacar juga dia.” kata Aldi sambil tertawa.


“Putus kak putus. Dia udah putus sama Kak Krisna.” kata Aldi.


“Kenapa?” tanya Rudi.


“Haduh, kakak masih tanya? Udah lah, sandiwaranya nggak usah diperpanjang. Kakak juga pacaran sama Jeny kan?” kata Irwan.


Muka Rudi merah karena malu rahasinya diketahui oleh tim Krisna. Pikirannya menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi. Ia menatap Jeny.


“Kak, kita ngobrol di tempat yang tenang saja. Aku jelaskan semuanya.” kata Jeny ramah.


“Iya kak. Pesanku hati-hati saja. Bisa saja si Jeny ini beneran masih punya pacar lain di luar sana.” kata Erik.


Aldi, Irwan dan Erik pun tertawa. Rudi dan Jeny menjauh ke tempat yang lebih tenang. Jeny mulai menjelaskan semua kejadian ke Rudi.


“Jadi, sekarang aku sudah putus kak. Hanya kakak seorang pacarku.” Kata Jeny sambil tersenyum manis.


“Beneran kan? Apa yang dikatakan Erik tadi salah kan?” tanya Rudi meyakinkan dirinya sendiri.


“Kakak nggak percaya sama aku?” tanya Jeny memelas.

__ADS_1


“Percaya kok. Hanya saja aku bisa sangat marah kalau ternyata kamu berbohong. Aku sungguh-sungguh cinta kamu Jen. Di setiap perjalanan hanya wajahmu yang terbayang di anganku.” kata Rudi.


Jeny tersenyum senang. Rudi tidak berubah.


“Em, berarti Krisna juga sudah tahu kalau kita pacaran ya? Bagaimana reaksinya?” tanya Rudi.


“Ya biasa aja kak. Karena dia udah jatuh cinta sama si Friska itu.” kata Jeny tak mau menceritakan Krisna yang memang tak mencintainya sejak awal.


“Kok bisa Krisna suka sama cewek aneh itu?” tanya Rudi heran.


“Nggak tahu kak. Aku juga bingung. Udah ah jangan bahasa Krisna terus. Males aku kak.” kata Jeny merajuk.


***


Krisna hampir sampai ke lokasi yang mereka perkirakan tempat Friska terjatuh. Krisna mengikuti relawan itu turun dari mobil.


“Oke. Kita bagi menjadi tiga tim. Dua orang jaga di sini, kita bertujuh melakukan pencarian dibagi menjadi dua tim. Siapkan HT untuk komunikasi.” kata Yuda pemimpin dari mereka.


“Krisna ikut kami.” kata Vika.


Mereka mengaitkan tali di pohon besar dan kami bergantian menuruni jurang menggunakan tali itu. Berkali-kali mereka mengingatkan Krisna untuk hati-hati.


Akhirnya mereka sampai di dasar jurang. Terdengar derasnya arus sungai sebagai tanda daerah itu dekat dengan sungai. Mereka menyusuri daerah itu. Satu jam berlalu mereka masih belum menemukan apa-apa.


“Kita istirahat dulu.” kata Yuda.


“Tapi kak, aku belum capek.” kata Krisna ingin menolak.


“Kami tahu, kamu khawatir dengan cewek itu. Tapi sadarlah. Tak ada gunanya kita tergesa-gesa dan panik. Kita istirahat untuk memulihkan tenaga dan berpikir. Kita kumpulkan petunjuk-petunjuk yang ada.” kata Yuda tenang.


Krisna menunduk. Ia tahu perasaan gelisah di hatinya tidak membiarkan ia tenang walau satu detik saja. Melihat medan yang mereka turuni, angannya membayangkan bagaimana Friska jatuh. Krisna sama sekali tak tenang. Namun, ia tak berani melawan perintah Yuda.


“Oke sekarang kita bahas petunjuk apa yang kalian dapatkan.” kata Yuda.


“Mengingat dasar jurang yang dekat dengan sungai ini, aku rasa ada kemungkinan ia sudah ditolong orang yang kebetulan mencuci di sungai.” kata Beni.


“Ya itu sih mungkin. Tapi kalau sudah ada yang menolong, paling tidak ada laporan. Kalau aku malah takutnya gini, di tengah siang kan sering ada rombongan **** hutan minum di sungai. Aku takut kalau ia pingsan dan diseret ke semak-semak. Makanya susah dicari jejaknya.” kata Vika.


“Oke. Krisna gimana?” tanya Yuda.


Krisna tergagap. Dari tadi ia tak sempat memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Ia terlalu fokus memikirkan Friska.


“Belum ada petunjuk kak.” kata Krisna malu.


“Oke. Kalau aku sendiri lebih berpikir gini, saat anak itu jatuh, ia sempat tersadar dan berpindah tempat atau ada yang memindahkannya. Jadi fokus kita mencari area tempat anak itu jatuh dulu. Nanti kita bisa mencari jejak-jejak di sekitarnya.” kata Yuda.

__ADS_1


Semua mengangguk setuju. Krisna mengakui memang dibutukan istirahat agar mereka dapat berembuk dan mengumpulkan petunjuk. Ia menarik napas dalam-dalam dan menenangkan dirinya agar lebih fokus.


“Kak, ini. Ada goresan di bebatuan tembok jurang.” teriak Krisna.


__ADS_2