
Pilihan yang Tepat
Kita tidak di beri tahu lokasi mana yang harus kita capai terlebih dahulu. Kalau menurut pendapatku, kita lurus dan mencari rumah kelahiran W. R. Soepratman dan setelah itu baru menelusuri gua.” kata Friska.
“Kenapa kamu sok ngatur kita! Emangnya kamu siapa?” tanya Jeny sinis.
Krisna tidak memperhatikan kata-kata Jeny. Krisna mengamati peta tersebut. Memang kedua lokasi sama jauhnya. Selain itu setahu Krisna pada tempat tertentu akan nada senior yang menguji kita dan kemungkinan terbesar dua lokasi itulah tempatnya.
“Fris, kenapa kita harus ke tempat kelahiran W. R. Soepratman dulu?” tanya Krisna.
“Kita kan belum tahu informasi apapun. Padahal tugas kita juga mengumpulkan informasi. Kalau tiba-tiba kita ditanya soal itu kita kan belum bisa jawab kalau belum sampai tempatnya. Nah, setelah kita mengumpulkan informasi kita bisa menelusuri gua dengan tenang.” kata Friska.
“Lalu tanda merah dan hijau ini bagaimana?” tanya Erik.
Friska terbelalak. Secara kebetulan ia memang mengusulkan untuk ke tempat dengan tanda hijau lebih dulu.
“Kalau menurutku sih itu seperti simbol. Simbol yang anak kecil pun tahu. Kalau boleh aku menebak. Hijau berarti terus dan merah berarti berhenti. Ya kayak lampu merah gitu.” kata Friska.
“Aku masih kurang paham Fris.” kata Irwan mengeluarkan suara.
“Jadi gini, menurutku kita ke tempat yang hijau dulu biar bisa terus melanjutkan perjalanan ke tempat yang merah.” kata Friska.
“Kamu itu memang sok tahu.” kata Jeny.
“Terserah kalian mau percaya atau tidak. Itu usulan dan pendapatku.” kata Friska datar.
Krisna terdiam mendengarkan Friska. Sekarang ia tahu Friska begitu cermat. Bahkan ia belum mengartikan simbol itu, tapi Friska sudah mencoba menebaknya.
“Fris, apa kamu sudah tahu semua rencana dari senior?” pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulut Krisna.
“Semua itu hanyalah instingku kak. Aku cuma mengamati semua rute yang ada di peta ini dan aku mencoba menyimpulkannya.” kata Friska.
Semua mengangguk paham kecuali Jeny.
“Baiklah. Kita lurus dan ikuti rute ini.” kata Krisna sambil menunjuk peta.
__ADS_1
Mereka berjalan lurus mengikuti jalan beraspal. Kira-kita 1 km, mereka belok ke kiri melewati jalan setapak. Selanjutnya jalan yang mereka lewati mulai menaik. Kadang mereka di sapa anak kecil yang sedang bermain di halaman. Regu Krisna tahu perajalanan masih sangat jauh. Krisna memandang jam tangannya pukul 14.00.
Krisna tidak mengizinkan mereka beristirahat karena waktu yang mereka miliki tidak banyak. Jeny berjalan paling belakang dengan di temani Aldi sebagai bodyguardnya. Sedangkan Friska berjalan di depan dengan langkah semangat. Krisna belum pernah melihat Friska sangat bersemangat.
Friska seperti kembali ke tempat yang sangat ia sukai. Namun sebenarnya tidak ada yang bisa merasakan perasaan Friska yang sebenarnya karena segunduk kesedihan berumah di hatinya. Kini mereka sudah memasuki hutan. Mereka sudah jarang menemui rumah penduduk.
Mereka melewati samping saluran air dan berjalan terus menaik. Jalan yang mereka lewati berupa tanah yang ada batuannya. Tidak jarang salah satu dari mereka tersandung batu yang tidak rata itu.
Beberapa saat kemudian mereka harus menuruni jurang. Tidak ada alat bantu apapun dan jurang tersebut banyak ditumbuhi tanaman temu lawak yang sangat subur. Tanaman tersebut tingginya hampir menutupi mereka. Tanaman tersebut sangat subur tentunya.
“Semua hati-hati. Kalian pegang tanaman ini dan turun perlahan.” di tengah perjalanan Krisna memperingatkan regunya.
Jeny terus menggandeng tangan Krisna. Sedangkan Irwan, Erik dan Aldi saling bergandengan tangan tidak jauh dari Krisna. Tiba-tiba Krisna teringat Friska.
“Friska!” teriak Krisna.
Tidak ada jawaban. Saat jurang tersebut selesai dilewati Krisna melihat Friska duduk di jalan beraspal menunggu mereka.
“Aku udah lihat sekitar sini. Habis ini kita melewati sungai.” kata Friska berdiri dan berjalan lagi.
“Friska berlari?” tanya Krisna dalam hati.
Sebenarnya Friska tidak berlari. Ia hanya berjalan cepat.
Mereka menyeberangi sungai yang tidak cukup dalam. Banyak batuan yang sangat besar di sungai itu bahkan ada batuan sebesar truk. Kadang mata mereka banyak menyimpan pemandangan yang diberikanNya di alam ini tanpa batasan memori seperti harddisk.
Air sungai tersebut dingin dan sejuk. Krisna membasuh mukanya dengan air yang tampak sangat jernih itu. Semua anggota regunya kecuali Jeny meniru apa yang dilakukan Krisna.
“Kak, seger banget.” kata Erik kemudian.
“Iya. Dingin banget.” Aldi ikut berkomentar.
“Jen, ayo nyoba. Enak banget Jen.” kata Irwan mengajak Jeny.
Tapi Jeny hanya menggelengkan kepala. Setelah melewati sungai tersebut mereka berjalan menaik dan terus menaik. Kemudian mereka dapat melihat beberapa rumah penduduk. Krisna merasa heran karena mereka telah jauh berjalan dari pedesaan.
__ADS_1
“Kenapa masih banyak pemukiman penduduk?” tanya Krisna heran.
“Mungkin masih jauh.” kata Aldi.
“Tapi kita udah jalan sekitar 9 km. Kakiku udah mau patah.” kata Jeny.
“Udah jangan banyak ngeluh. Kita nikmati aja.” kata Friska.
“Benar. Kita nikmati alam yang sejuk ini.” sahut Krisna. Jeny hanya cemberut.
Mereka terus berjalan menaik. Tapi semakin mereka menaik, mereka semakin menemui banyak orang.
“Jangan-jangan rutenya salah.” kata Jeny memandang sinis ke arah Friska.
“Tidak. Coba lihat peta.” kata Friska santai.
Krisna memandang ke arah peta itu. Jalan yang mereka lewati benar. Mereka melewati jalan menaik yang cukup panjang setelah itu mereka berbelok ke kiri.
“Lihat kak. Kita cukup beruntung karena rute yang kita lewati adalah tempat wisata.” kata Friska sambil menunjuk papan nama “Curug Siklotok”.
Krisna tersenyum.
“Kamu benar.” kata Erik senang.
Kata curug berarti air terjun. Melihat tulisan itu semua langsung bersemangat lagi. Ada niat lain dari semangat itu. Bukan hanya ingin cepat sampai tujuan tapi mereka ingin menyaksikan air terjun itu juga.
Baru kali ini Krisna melihat Friska berbicara begitu banyak. Apakah kedinginan di hatinya itu sudah mulai hilang? Lalu sebenarnya siapa dia? Mengapa dia begitu lincah di alam liar di daerah yang belum ia pahami? Berbagai pertanyaan muncul di dalam benak Krisna.
Namun, Krisna merasakan sedikit harapan untuk regunya itu. Ia merasa bahwa pilihan rute dari Friska adalah pilihan yang tepat.
“Semua akan berjalan lancar.” gumamnya.
Tidak hanya Krisna, beberapa anggota regu lainnya juga mulai mengubah sudut pandangnya terhadap Friska. Yang tadinya mereka hanya merasa Friska gadis yang aneh, dingin, dan menyebalkan. Kini mereka tahu bahwa Friska tidak seburuk yang mereka pikirkan.
Lain halnya dengan Jeny. Kekhawatiran Jeny semakin tinggi saat Krisna mempercayai saran Friska. Jeny sibuk dengan pikirannya sendiri. Dalam lelahnya ia tetap memikirkan cara terbaik untuk menutupi rahasianya.
__ADS_1