CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN

CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN
Rasa Apa Ini?


__ADS_3

Rasa Apa Ini?


“Jeny, kamu yang jaga Friska ya.” kata Krisna.


“Nggak. Aku nggak mau. Bukan urusanku ya.” kata Jeny ketus.


“Kamu kan yang sama-sama cewek Jen.” kata Erik.


“Pokoknya aku nggak mau!!!” kata Jeny sedikit berteriak.


“Ya sudah. Gini aja. Kita jaga malam bergantian. Aku yang akan menjaga Friska. Erik, Aldi dan Irwan jaga malam bergantian menemaniku. Sedangkan Jeny tidur.” kata Krisna memberi perintah.


Semua setuju dengan perintah Krisna kecuali Jeny. Krisna sudah tak ada simpati lagi kepada Jeny yang seperti itu. Sikap Jeny selalu membuat hatinya kesal, menyesal, dan marah.


“Kenapa harus kamu yang jaga Friska?” tanya Jeny protes.


“Aku merasa bersalah karena kalian semua anggota reguku dan tanggung jawabku. Tidak hanya Friska, semua merupakan tanggung jawabku.” kata Krisna.


“Kamu kan leader jadi bisa dong ngasih perintah ke yang lain.” kata Jeny tidak mau kalah.


“Susah banget sih jelasin ke kamu. Coba pikir nggak pake emosi.” kata Krisna mulai marah.


“Kamu kan bisa nyuruh Erik atau siapa.” kata Jeny marah.


“Jeny! Bisa nggak kamu biasa aja. Kita semua adalah keluarga dalam Cintalindo.” kata Krisna marah.


“Udah Jen, kamu harus ngerti. Lagian kamu pasti juga nggak mau nunggu Friska sampai sadar. Kamu nggak mau kan?” tanya Erik angkat bicara.


“Nggak lah. Bukan urusanku.” kata Jeny sinis.


“Kamu aja kayak gitu tapi kenapa kamu nyuruh Krisna memerintah anggota lain. Hati-hati kalau bicara Jen. Seharusnnya kita menghormati Krisna karena dia kakak kelas kita dan dia leader regu kita.” kata Erik.


“Kenapa kamu sekarang membela Friska?” tanya Jeny.


“Ini bukan masalah pembelaan. Ini masalah regu kita untuk mencapai hasil yang lebih baik. Kita disini bukan jalan-jalan Jen. Kita disini berjuang untuk menjadi anggota Cintalindo tahun ini.” kata Erik.


Kini semua terdiam. Mereka sadar kata-kata Erik benar. Jeny masuk ke tendanya.


“Kau benar.” kata Irwan.

__ADS_1


Aldi mengamati peta dengan penerangan api unggun.


“Perjalanan kita masih jauh.” kata Aldi.


“Aku harap kalian tetap jaga solidaritas. Jangan sampai kalian ikut memperburuk suasana.” kata Krisna.


Mereka bertiga mengangguk. Lama mereka menunggu Friska bangun. Tapi Friska tidak juga bangun. Krisna memerintahkan Irwan memasak air panas untuk mengompres Friska. Krisna mengompres Friska dengan sapu tangannya.


Ia memandang jam tangannya. Sudah pukul 22.00. Ia melihat anggota regunya sudah mulai mengantuk. Krisna berdiri kemudian melihat Jeny di dalam tenda. Jeny sudah tertidur pulas.


“Erik dan Aldi kalian tidur dulu. Irwan berjaga bersamaku. Nanti kalian bergantian dengan Irwan.” kata Krisna.


Mereka berdua langsung masuk ke dalam tenda dan beberapa saat kemudian terdengar Aldi mendengkur. Krisna hanya menggelengkan kepalanya. Ia melihat Friska. Mengapa dia tidak juga bangun.


“Kak, tadi Friska kenapa?” tanya Irwan.


Krisna menceritakan semuanya dengan Irwan. Irwan pun ikut penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Jam 00.00 Irwan bergantian dengan Erik. Irwan membangunkan Erik dan Erik pun duduk di dekat Krisna di depan api unggun.


“Friska belum bangun kak?” tanya Erik.


Krisna berdiri dan mendekati Friska. Hatinya masih takut akan rasa kehilangan yang tadi pernah menyelimutinya saat Friska masuk jurang.


“Fris, bangun. Aku merasakan hal yang berbeda setelah aku hampir kehilangan kamu.” kata Krisna.


Erik mendengar perkataan Krisna diam saja. Ia tetap memandang ke arah api unggun. Krisna memegang tangan Friska.


“Aku belum pernah merasakan kehilangan yang begitu menyakitkan seperti tadi. Memandangmu seperti ini, aku merasa sedih.” kata Krisna.


Krisna memandang Friska yang masih terpejam. Hatinya begitu sakit. Namun ia tak ingin Erik menyadari perasaannya kepada Friska. Ego Krisna masih terlalu tinggi untuk mengakuinya di hadapan anggota regunya itu.


Krisna terhanyut dalam lamunannya. Kini pikiran dan hatinya di penuhi oleh Friska. Ingatan tentang pertemuannya sampai saat ini tergambar seperti film di khayalannya. Friska selalu menarik perhatiannya meski kadang ia sendiri menyebut gadis itu aneh.


“Fris, sekalipun kucoba menguraikan cinta dan menjelaskan panjang lebar, namun tak akan tersampaikan karena cintaku begitu besar. Hanya dirimu seorang dan ini yang pertama. Dalam menguraikan cinta ini, akalku terbaring tak berdaya mengapa kau yang ku pilih. Hanya cinta ini sendirilah yang dapat menerangkan cintaku padamu.” kata Krisna dalam hati.


Krisna tidak tahu, kenapa kata-kata itu tiba-tiba muncul di dalam benaknya. Padahal sebelumnya ia tidak pernah menyatakan cinta dengan kata-kata semanis itu pada cewek manapun. Meski kata-kata itu hanya terucap di dalam hatinya, Krisna masih bingung pada dirinya sendiri.


“Inikah cinta? Inikah rasanya? Inikah rasanya cinta pertama?” tanya Krisna dalam hati.

__ADS_1


Krisna tidak pernah merasakan perasaan seperti ini kepada Jeny. Yang ia rasakan adalah harus terus menerus berbohong. Berbohong akan perasaannya yang sebenarnya. Krisna masih terus berpikir.


Erik memandang Krisna. Ia mendekati Krisna. Krisna tertunduk malu.


“Kakak suka sama Friska?” tanya Erik. Krisna terdiam dan menundukkan kepala.


“Kakak nggak salah kok. Cinta itu nggak tahu kapan dan dimana datangnya.” kata Erik.


Krisna memandang Erik. Ia heran karena Erik malah mendukungnya dengan Friska. Krisna sendiri belum menyakini kalau yang ia rasakan itu cinta.


“Kenapa kamu bilang gitu?” tanya Krisna.


Erik tergagap. Ia tidak tahu harus bagaimana. Ingin rasanya ia membuka rahasia Jeny. Tapi apakah itu sudah waktunya. Bagaimana kalau nanti Krisna marah dan situasi bertambah kacau. Padahal tadi Krisna sudah mengatakan kalau mereka tidak boleh membuat suasana lebih kacau lagi.


“Boleh aku tanya kak?” Erik balik bertanya.


“Lho ditanya kok malah nanya. Kamu mau tanya apa?” Krisna menjawab.


“Seberapa besar cinta kakak ke Jeny.” tanya Erik.


Pertanyaan Erik itu serasa menghujam hati Krisna. Seberapa besar cintanya pada Jeny? Krisna sebenarnya sangat tahu jawaban dari pertanyaan itu. Namun, ia terjebak dalam dilema saat harus menjawabnya.


Kalau Krisna menjawab ia sangat mencintai Jeny, ia harus menambah kebohongannya selama ini. Kalau Krisna menjawab tidak mencintai Jeny, apa yang akan mereka katakan dan bagaimana kelanjutan hubungan mereka. Bagaimana juga dengan Rudi, pasti ia akan menertawan dirinya.


“Aku sangat mencintai Jeny kok.” kata Krisna kemudian.


Erik masih menatap lekat wajah Krisna. Erik merasa jawaban leadernya itu tidak jujur. Krisna gelisah dengan kecurigaan Erik itu.


“Ya memang Jeny itu sifatnya manja dan kekanak-kanakan. Dia juga sering marah-marah dalam perjalanan ini. Tapi itu semua mungkin karena dia belum terbiasa.” kata Krisna menutupi kebohongannya.


Erik diam. Ia mengurungkan niatnya untuk menceritakan kelakuan Jeny. Biarlah Krisna yang mengetahuinya sendiri, pikir Erik.


“Ada apa Rik?” tanya Krisna.


“Nggak apa-apa kak. Aku cuma penasaran aja. Semoga hubungan kakak dan Jeny selalu langgeng.” kata Erik sambil tersenyum.


“Oh ya. Makasih ya Rik.” kata Krisna heran.


Krisna sebenarnya menaruh curiga dengan pertanyaan Erik tadi. Namun, ia tidak ingin membahas masalah itu lebih panjang lagi.

__ADS_1


__ADS_2