
Rumah W.R. Soepratman
“Aku nggak tahu pasti. Tapi rasanya ada yang dorong aku dari belakang.” kata Friska.
Semua diam. Krisna mengamati muka Jeny yang mulai berkeringat. Semua mata juga mengamati Jeny. Krisna sebenarnya tidak ingin menuduh, tapi kecurigaannya hanya tertuju pada Jeny.
“Kamu yang dorong?” tanya Krisna memandang Jeny.
“Kenapa kamu nuduh aku?” Jeny balik bertanya.
“Anak kecil pun juga tahu kamu yang paling jadi tersangka dalam kasus ini.” kata Erik.
Krisna menunggu jawaban Jeny. Jeny hanya diam. Tetap saja dia tidak mau mengaku. Krisna lelah menunggu Jeny mengaku. Sepanjang perjalanan ia hanya diam.
“Udah kak. Nasi udah jadi bubur. Jangan kakak ungkit-ungkit lagi. Kata kakak kita tidak boleh memperburuk suasana.” kata Irwan memberi solusi.
“Benar. Makasih.” kata Krisna sambil menarik napas dalam-dalam agar amarah di hatinya hilang.
Sekitar pukul 10.00 mereka telah sampai di sebuah rumah yang ada di bawah jurang yang mereka turuni. Rumah itu tinggi dan seluruh bangunannya terbuat dari kayu jati. Senyum regu Krisna mengembang saat melihat salah satu senior yang ada disana.
“Selamat kalian telah sampai di rumah kelahiran W. R. Soepratman. Selanjutnya kalian boleh masuk selama setengah jam dan cari informasi yang kalian perlukan. Kemudian pakailah ini di leher kalian.” kata senior itu dengan memberi mereka masih-masing sapu tangan besar berwarna hijau.
Rumah itu tampak sederhana. Tidak tampak seperti rumah seorang yang kaya. Di depan rumah halamannya tidak lebar. Sedangkan di belakang rumah ada jalan setapak yang tadi mereka lewati dan di barat jalan itu ada tebing yang mungkin siap longsor jika hujan.
Di di depan rumah sebelah kanan ada sebuah bangunan kecil kira-kira 80cmx50cm yang mirip dengan gubug dengan empat tiang. Ada tanaman puring yang mengelilinginya. Di salah satu tiangnya ada tulisan yang menunjukkan tempat itu adalah tempat penguburan ari-ari/plasenta dari W. R. Soepratman.
__ADS_1
Mereka berenam memakai sapu tangan itu dan masuk ke dalam rumah itu. Di dalam rumah tidak ada hiasan yang menarik. Namun banyak tempelan kertas di dinding yang bertuliskan mengenai sejarah singkat pencipta lagu Indonesia Raya tersebut.
Friska dan Krisna membacanya dengan teliti. Sedangkan Erik dan Irwan melihat seluruh isi-isi rumah. Berbeda dengan Jeny dan Aldi yang duduk karena kecapekan.
“Kalian juga baca.” kata Krisna memandang mereka.
Mereka perlahan berdiri dan membaca tulisan sebentar dan berpindah ke tulisan lain. Tiba-tiba Krisna menyenggol Friska yang masih membaca tulisan itu. Kedua mata meraka beradu. Namun, dengan segera Friska memalingkan wajahnya. Krisna merasa sakit, tapi ia diam saja dan melanjutkan membaca.
Bangsa Indonesia memiliki lagu kebangsaan yang berjudul Indonesia Raya yang diciptakan oleh Wage Rudolf Soepratman atau yang sering kita kenal W. R. Soepratman merupakan seorang pemuda yang lahir di Dukuh Trembelang, Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo. Tempat kelahiran beliau ini sempat diperdebatkan karena banyak perbedaan pendapat dari berbagai sumber.
Cacatan sejarah semula Wage lahir di Meester Cornelis Jatinegara Jakarta, namun sejak seperempat abad terakhir ditemukan dan diperoleh kesaksian bahwa beliau dilahirkan di Somongari, tepatnya pada Kamis Wage 19 Maret 1903. Ibunya bernama Siti Senen asal daerah Somongari, ayahnya seorang serdadu KNIL Jumeno Kartodikromo asal Yogyakarta.
Sebagai serdadu tugas Jumeno berpindah-pindah, suatu saat ketika ada perselisihan keluarga, dalam keadaan hamil tua Siti Senen pulang ke Somongari. Di rumah Soprono kakaknya, Siti Senen melahirkan anak yang diberi nama Wage, sesuai hari kelahirannya Kamis Wage. Kemudian sekitar dua bulan sesudahnya, dengan membawa anaknya Siti Senen kembali ke Jatinegara dan nama anaknya dilengkapi dengan Soepratman.
Sesudah ibunya wafat, Wage ikut kakaknya yang tertua yaitu Roekiyem Soepartiyah yang bersuami orang Belanda Van Eldick. Saat di Makasar, Wage ditempa pendidikannya termasuk bakat seni musiknya. Pada usia 19 tahun, Wage mahir memainkan biola. Nama Rudolf didapatkan saat beliau memainkan drama sebagai tokoh Rudolf dengan bagus dan memukau penonton.
Dan pada Konggres Pemuda II tahun 1928 lagu itu diperdengarkan mengiringi tercetusnya “Sumpah Pemuda”. Namun saat lagu itu disebarluaskan, pada tahun 1929 lagu it dinyatakan dilarang oleh pemerintah Kolonial Belanda. Hal inilah yang menyebabkan Wage harus berhadapan dengan polisi. Bahkan sekitar tahun 1935 diburu/dikejar sampai ke Somongari.
Wage kemudian jatuh sakit dan dari Bandung beliau dipindanh ke rumah kakaknya di Surabaya. Beliau akhirnya wafat pada 17 Agustus 1938 dan jenazahnya dimakamkan di Kampung Kapas Surabaya.
Kemudian makamnya di pindah ke jalan Kenjeran Tambaksari Surabaya dan dijadikan Monumen Nasional Pecipta Lagu Indonesia Raya. Atas jasanya Wage diangerahi Bintang Mahaputra dan gelar Pahlawan Nasional dari Pemerintahan RI pada tahun 1971 dan lagu Indonesia Raya diteguhkan sebagai lagu kebangsaan dengan peraturan pemerintah No. 44 Tahun 1958.
Sedangkan di Somongari, saat ini tinggal saksi bisu berupa tempat ari-ari (plasenta) Wage yang ada di samping rumah Soprono. Oleh pemerintah Kabupaten Purworejo, tempat ini dicanangkan sebagai Monumen Tempat Lahir (MONTALA).
Setengah jam berlalu. Senior yang berjaga tadi memberi tahu bahwa waktu sudah habis. Mereka keluar dari rumah itu.
__ADS_1
“Kamu, kenapa?” tanya senior itu melihat luka Friska.
“Aku jatuh Kak. Terpeleset.” kata Friska.
“Masih bisa lanjut??? Kalau sakit berhenti sampai sini saja. Kalian belum telusur gua kan?” tanya senior itu.
“Belum Kak. Aku masih bisa lanjut kok.” kata Friska.
“Iya Kak. Kami masih bisa melanjutkan perjalanan.” kata Krisna sambil mendekati Friska dan Erik.
“Oh ya. Kamu leadernya kan? Jangan sampai ada anggota yang jatuh lagi ya. Ya jadi leader memang berat tanggung jawabnya. Memang menghendel banyak orang itu nggak gampang, tapi setidaknya cobalah menjadi yang lebih baik.” kata senior itu.
“Iya Kak. Aku akan berusaha.” kata Krisna.
Mereka pun melanjutkan perjalanan. Kali ini mereka menaiki bukit tadi dan menuju ke arah timur. Jalan yang mereka lalui terus menaik. Krisna mengajak mereka duduk di bawah pohon yang cukup rindang.
Sambil berjalan Krisna masih terus merenungi apa yang dikatakan seniornya tadi. Ia semakin menyesal mencampurkan ururan pribadi dengan kegiatan seperti ini. Ia juga sadar semua ini salahnya.
“Friska,,, gimana keadaan kamu?” tanya Krisna ingin mencoba memperbaiki semuanya.
“Bisa dilihat kan? Baik-baik aja. Udah lah biarin aja.” kata Jeny.
“Iya benar kata Jeny. Semakin kamu tanya ke aku, semakin kesal juga si Jeny. Jadi udahlah, aku bisa urus semuanya sendiri.” kata Friska ketus.
Bukan malah hubungan mereka semakin baik, tapi semakin memburuk. Krisna menepuk jidatnya, tak tahu apa yang harus ia lakukan.
__ADS_1
“Aku gagal.” gumam Krisna.