CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN

CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN
24 Belenggu Kebohongan


__ADS_3

Belenggu Kebohongan


Setengah jam kemudian mereka melihat ada sebuah tenda yang berwarna hijau tua yang berdiri disana. Disana ada sekitar sepuluh senior. Saat kami sampai Andre sendiri yang menyambut mereka. Ia tersenyum ramah.


“Bagaimana perjalanannya?” tanya Andre.


“Lumayan capek, pegel-pegel, nyebelin, pokoknya gitulah.” kata Jeny mengeluh.


Andre hanya tersenyum sinis mendengar keluhan Jeny. Ia mendekat dan mengamati regu Krisna.


“Silakan kalian istirahat lima menit saja. Nanti masing-masing dari kami akan ada yang mewawancarai kalian.” kata Andre.


Regu Krisna duduk di bawah pohon mahoni yang tak jauh dari situ. Tiba-tiba mereka melihat dari arah timur ada regu Rudi. Krisna tersenyum. Ia merasa bangga karena ia telah sampai terlebih dahulu.


Rudi hanya melihat Krisna sinis dan sejenak melihat keadaan Jeny. Jeny membalasnya dengan senyuman. Erik mengamati kejadian itu secara seksama. Rudi dan kawan-kawannya pun juga disambut oleh Andre.


Lima menit kemudian Rudi dan kawan-kawannya berjalan cepat seperti tergesa-gesa. Melihat hal itu Krisna heran. Krisna bangun dari duduknya. Ia mendekati Andre.


“Kenapa mereka pergi?” tanya Krisna tiba-tiba.


“Haruskah aku menjelaskannya padamu? Tentunya ada yang berbeda antara regu kamu dan Rudi.” kata Andre. Krisna masih bingung.


“Aku masih belum tahu kenapa mereka pergi.” kata Krisna jujur.


“Sebagai seorang calon leader kamu harus lebih teliti. Mungkin ini masalah sepele. Tapi apakah kamu tidak merasa. Lalu bagaimana kamu bisa menentukan tempat mana yang akan kamu datangi dulu?” tanya Andre heran.


Krisna tersadar apa yang dimaksud Andre. Ia kembali mengingat-ingat penampilan regu Rudi. Mereka belum mengenakan sapu tangan hijau di lehernya. Dapat disimpulkan kalau mereka sedang mencari rumah itu.


“Jadi mereka mencari rumah itu sekarang?” tanya Krisna.


“Iya.” jawab Andre singkat.


Kini Krisna tahu kalau analisa Friska membuahkan hasil. Ia menyesal menganggap Friska orang aneh. Krisna kembali dengan senyuman.


“Ada apa kak?” kata Aldi penasaran.

__ADS_1


“Setiap peserta harus sampai di rumah itu sebelum memasuki gua.” kata Krisna.


“Berarti kita beruntung dong.” kata Jeny.


“Semua kan karena Friska.” kata Erik.


“Kenapa kamu nyebut-nyebut nama dia? Kamu ingin kita semua berterima kasih sama dia?” tanya Jeny sambil melotot.


“Bukan gitu Jen. Tapi emang iya kan. Saat kita nentuin rute kan yang punya ide ini Friska.” kata Erik bersikukuh.


“Iya Jen. Aku juga masih ingat. Friska yang nyuruh kita ke rumah itu dulu.” kata Irwan ikut membela.


“Udah-udah, jangan bertengkar. Gunakan waktu istirahat ini sebaik mungkin.” kata Krisna kemudian.


Mereka duduk sambil memakan buah yang tadi mereka petik. Tak lama kemudian ada enam senior mulai berjalan ke arah mereka.


“Makasih Fris.” kata Krisna kemudian.


Semua anggota yang lain pun berterima kasih pada Friska kecuali Jeny. Jeny cemberut dan memalingkan muka. Saat senior itu tiba, mereka mengajak masing-masing anggota regu Krisna ke tempat yang berbeda.


“Apakah yang kamu lakukan sudah pantas diangap sebagai calon leader?” tanya Andre.


“Menurutku sudah pantas. Tapi ada satu hal yang sangat mengangguku dalam perjalanan ini. Sebelum perjalanan ini aku membohongi hatiku sendiri dan saat ini aku merasa terganggu dengan kebohongan itu.” kata Krisna jujur.


Sepertinya Andre tidak ingin mencampuri urusan pribadi Krisna. Ia melanjutkan ke pertanyaan selanjutnya.


“Siapa yang memilih rute ini?” tanya Andre.


“Salah satu anggota dari regu.” kata Krisna.


“Sebenarnya kamu calon leader yang cukup berkompeten, tapi kenapa kamu tidak bisa sampai ke tempat ini lebih awal? Apakah medan yang kamu lalui terlalu sulit.” pertanyaan Andre kemudian.


“Bukan masalah medan. Tapi salah satu anggota regu ada yang terluka dan kita berjalan lambat. Bukan hanya itu, anggota dari reguku kurang kompak.” kata Krisna.


“Apakah kamu tahu kenapa Friska bisa jatuh?” tanya Andre kemudian.

__ADS_1


Krisna tercengang kenapa Andre bisa tahu hal itu. Krisna menunduk malu. Ternyata kegagalannya diketahui oleh para senior juga.


“Aku sudah menyelidiki hal itu. Dugaanku Jeny yang melakukannya. Kalau boleh tahu kenapa kakak bisa tahu?” tanya Krisna. Andre tersenyum.


“Semua yang kalian lakukan kami bisa tahu. Setiap sudut dari wilayah ini diawasi. Kalian mungkin tidak menyadari. Tapi seleksi yang kami lakukan cukup ketat untuk menilai siapa yang layak. Kami tidak ingin asal pilih. Saat kalian keluar dari lapangan itu, kalian sudah mulai diikuti.” kata Andre.


“Apakah yang dapat kamu simpulkan dari sejarah W. R Soepratman?” tanya Andre.


“Mungkin dari pelajaran yang dapat diambil dari sejarah dan perjalanan ini adalah mengenai sikap. Sebagai generasi muda yang cinta tanah air seharusnya menghargai pahlawannya. Namun banyak dari mereka yang melupakan itu. Dari perjalanan ini aku memperoleh banyak pengetahuan tentang bagaimana seorang yang sangat berjasa bagi negara ini terlahir dari lingkungan yang seperti ini. Jadi usaha akan menentukan hasil akhir.” kata Krisna menjelaskan.


Nah, pertanyaan terakhir untukmu. Siapa yang kamu rekomendasikan menjadi anggota tahun ini dari kelompokmu?” tanya Andre.


Krisna terdiam sejenak dan mulai berpikir. Ia belum menentukan pilihannya. Tapi ia tidak punya waktu untuk berpikir lama karena Andre sedang menunggunya. Krisna terdian cukup lama.


“Cobalah kamu tanya hati dan pikiranmu. Kami sangat berharap kamu menilainya secara objektif. Di setiap organisai tidak memandang saudara, pacar ataupun hubungan yang lain. Apalagi kamu calon leader. Jadi kamu harus lebih tegas terhadap dirimu sendiri. Jangan biarkan kebohongan menguasai pikiran dan hatimu.” Andre angkat bicara.


Krisna sadar Andre pasti sudah tahu semua tentang hubungannya dengan Jeny. Sebenarnya Krisna sangat menyesal akan hal itu. Ia tahu, mungkin Andre sedikit kecewa dengannya karena ia pernah membeda-bedakan anggota regunya.


“Aku pilih Friska, Erik, dan Irwan.” kata itu muncul dengan tiba-tiba dari mulut Krisna.


“Oh ya, kamu sedang jatuh cinta? Em, itu memang masalah pribadi kamu sih. Aku nggak akan ikut campur. Tapi sebagai senior dan sekaligus temanmu. Aku ada pesan buat kamu. Jadilah leader yang bisa membedakan urusan pribadi dan urusan tim.” kata Andre.


“Iya Kak. Makasih.” kata Krisna masih menunduk.


“Satu lagi, sekali kamu membohongi hatimu sendiri, kamu akan terus menerus terbelenggu kebohongan itu.” kata Andre.


“Em,,, kalau aku boleh tanya, aku harus gimana Kak?” tanya Krisna pasrah.


“Pertama, melepaskan diri dari belenggu kebohongan yang kamu buat sendiri. Kedua, mulailah jujur, minimal dengan diri sendiri.” kata Andre.


Krisna masih belum mengerti cara melepaskan belenggu kebohongan itu. Namun, ia tak ingin memperpanjang obrolan itu. Ia hanya mengangguk.


“OK, silakan menunggu teman yang lain. Selamat melanjutkan perjalanan.” kata Andre kemudian.


Krisna kembali ke tempat duduknya. Ia duduk sambil merenungkan apa yang telah ia lakukan. Ia memandang langit, terlihat mendung di sebelah utara. Walaupun bulan ini seharusnya sudah musim kemarau tapi perubahan cuaca yang tiba-tiba seperti ini selalu terjadi. Krisna menatap sekeliling. Ia melihat teman-temannya yang sedang diwawancarai.

__ADS_1


__ADS_2