CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN

CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN
Menemukan Cahaya


__ADS_3

Menemukan Cahaya


Dengan kondisi seperti itu, Krisna terus mencoba menenangkan semua anggotanya. Semua berjalan perlahan. Mereka bergandengan tangan dan mencoba melewatinya.


“Ahggh..!” Jeny menjerit ketika mereka melewati dasar gua yang lebih dalam.


“Jeny tenang.” kata Irwan.


“Aku takut. Aku takut kita nggak bisa keluar dari sini. Aku nggak mau mati disini.” Jeny menagis.


“Jen, kamu jangan banyak gerak dong. Biar kita lebih mudah jalannya.” kata Aldi.


“Aku udah nggak kuat lagi.” kata Jeny sambil bergerak risih membuat jalan kami semakin susah.


Karena gerakan Jeny tadi membuat mereka bergeser ke tempat yang lebih dalam. Jeny semakin panik dan terus bergerak. Beberapa dari mereka tenggelam sampai bagian hidung.


Krisna segera menarik mereka dan mencari dasar gua yang tidak terlalu dalam. Akhirnya mereka bisa selamat dari keadaan terdesak itu. Namun, Jeny masih terus meronta-ronta ketakutan.


“Aku udah nggak sanggup lagi. Aaaagggrrhhh!!!” jerit Jeny.


“Kamu jangan bilang gitu. Kita berdoa aja sambil terus berjalan. Kita pasti bisa kok.” kata Erik.


“Jeny, jangan memperlambat kita. Semua ingin cepat keluar. Jadi kondisikan diri kamu biar kita semakin cepat keluar dari tempat ini.” kata Krisna.


“Ayo kita pegangan lebih erat lagi dan mempercepat langkah kita.” kata Irwan.


Mereka mempercepat langkah. Kadang air yang bercampur lumpur itu sampai ke muka mereka saat mereka menginjak dasar gua yang lebih dalam. Semua barang bawaan mereka basah. Bahkan senter yang mereka bawa tidak menyala dalam air.


Hanya senter yang di bawa Krisna yang menerangi mereka. Senter itu ia angkat tinggi dengan tangan kirinya. Mereka tetap berjalan untuk bertahan hidup. Dinginnya hujan di lorong yang gelap itu tak lagi mereka rasakan.


Mereka terus bergandengan dengan erat. Mereka saling menguatkan, hanya Jeny saja yang banyak mengeluh selama mereka berjalan. Krisna dengan sabar menenangkan mereka.

__ADS_1


“Aku nggak mau kayak gini lagi. Gelap, dingin, banyak air. Aku pengen keluar.” rintihan Jeny terdengar setiap waktu.


Lapar dan dingin yang mereka rasakan menjadi satu. Semua yang mereka bawa basah. Mereka lupa untuk mengisi perut karena pertaruhan dengan nyawa itu. Air dan lumpur di dasar gua itu sudah tidak terlalu tinggi.


Kira-kira setengah jam mereka berjalan. Cahaya pada sebuah lubang di depan mereka sudah mulai kelihatan. Tapi tiba-tiba Jeny melepaskan gandengan tangannya dengan Erik dan Aldi.


“Kak, Jeny pingsan.” kata Aldi yang menangkap tubuh Jeny itu.


Aldi dengan susah payah merayap membawa tubuh Jeny yang lemas itu ke dinding gua. Ia membaringkan Jeny di dinding yang itu. Semua mendekat. Friska memegang tubuh Jeny supaya tidak jatuh. Sedangkan Krisna memeriksa keadaan Jeny.


“Ia pingsan.” kata Krisna.


“Lalu gimana dengan perjalanan kita?” tanya Irwan.


“Kita tunggu Jeny siuman.” kata Aldi.


“Gampang banget kamu ngomong. Kita nggak tahu dia sadar kapan. Al, kita udah sampai sini. Lihat cahaya udah nunggu kita disana.” kata Irwan.


“Lalu Jeny gimana? Aku nggak mungkin ninggalin dia.” kata Aldi.


“Kamu jalan di depanku. Pilihkan aku jalan yang tidak terlalu dalam.” kata Krisna pada Aldi.


Mereka pun mulai perjalanan lagi. Kini mereka berjalan tanpa mengunakan penerangan. Mereka berjalan lurus menuju ke arah cahaya yang tampak. Kadang mereka menabrak stalagmit.


“Aduh!!” teriak Irwan dari depan.


“Hati-hati dong.” kata Erik tertawa.


“Sebenarnya tidak banyak stalagmit di cabang gua ini kan? Jadi lebih hati-hati lagi.” kata Krisna.


“Iya kak.” kata Irwan.

__ADS_1


Mereka berjalan dengan pelan namun penuh harapan akan segera melihat dunia luar. Friska melihat Krisna dari belakang. Ia tidak tahu kenapa Krisna baik sekali dengan Jeny. Ia sedikit merasa cemburu.


Hatinya kacau saat melihat di depannya orang yang sudah mulai ia cintai menggendong seorang cewek. Tapi ketika ia melihat kebelakang gua yang gelap itu, hatinya tersenyum.


Tempat itu tadi telah menjadi saksi atas kejujuran Krisna yang sebenarnya tidak mencintai Jeny. Hatinya lega saat kenangan itu datang. Air lumpur itu semakin dangkal ketika mereka lebih dekat dengan cahaya itu.


“Udah deket kak.” kata Aldi girang.


Tanpa komando mereka semua berlari. Walaupun mereka tidak bisa berlari cepat karena kondisi tempat itu dan letih yang mereka rasakan dari tadi. Saat mereka sampai ke lubang yang bercahaya itu mereka hanya terdiam. Ternyata itu baru sampai di cabang utama gua itu.


“Aduh capek banget kak. Laper juga.” kata Aldi kecewa.


“Kita naik ke jalan buatan ini dulu. Kita istirahat disini.” kata Krisna.


Mereka menaiki jalan yang terbuat dari semen itu. Jalan itu menuju arah keluar. Dari sana mereka dapat melihat ada ratusan cabang gua baik kecil maupun besar dan cabang yang mereka lewati merupakan cabang dengan lubang yang cukup besar.


Jalan yang mereka naiki lebih tinggi dari dasar cabang gua yang mereka lewati. Sepertinya jalan itu sengaja dibuat manusia dan cahaya yang mereka lihat dari kejauhan itu berasal dari lampu minyak tanah yang cukup besar.


Akhirnya mereka tersadar, cabang utama gua tersebut dijadikan tempat wisata. Mereka duduk dan membuka bekal. Krisna menurunkan Jeny dari gendongannya. Ia menyandarkan Jeny di dadanya.


“Kalian makan dulu. Kira-kira lima puluh meter lagi kita keluar dari tempat ini.” kata Krisna sambil memandang arah keluar.


Krisna menatap jalan yang mereka lalui tadi. Di lorong gelap dan sunyi itu dia bisa membebaskan diri dari belenggu kebohongan.


“Selamat tinggal kebohongan. Selamat tinggal rasa sakit. Kegelapan itu adalah saksinya saat ku buang kalian disana. Selamat tinggal. Aku akan mengingat itu sebagai kenangan yang memberi pelajaran dalam hidupku.” kata Krisna lirih.


Krisna menarik napas dalam-dalam. Kemudian ia keluarkan perlahan. Beban dalam hatinya perlahan hilang dan semua menjadi lebih nyaman. Semua kebohongan yang menjadikan dirinya penuh penderitaan itu sudah ia buang.


Jeny masih pingsan. Krisna tetap menjaga Jeny meski ia sudah tahu semua kelakuannya. Rasa marah Krisna kepada Jeny terhapuskan oleh rasa lega telah bebas dari kebohongan. Namun, saat bertemu dengan Rudi lagi, ia tak tahu harus bagaimana.


Sesekali Krisna memandang Friska. Kebetulan Friska juga sedang memperhatikannya. Krisna melempar sebuah senyuman. Senyuman yang ia buat semanis mungkin. Friska pun tersenyum canggung.

__ADS_1


Lorong yang gelap tadi bagaikan kebohongan yang ada di hati Krisna. Kini Krisna sudah berada di titik dimana cahaya ada di gua itu. Krisna mulai berpikir maju ke depan, cahaya apa yang akan mengisi hatinya. Akankah ia perjuangkan cintanya itu?


Krisna kembali memandang Friska yang sedang bersama Erik. Ada secuil rasa malu yang menggelayuti dirinya. Krisna mengingat perdebatannya tadi dengan Erik. Ia merasa semakin bersalah.


__ADS_2