
Menemukan Seseorang
Friska menatap Krisna. Ia tidak tahu apa yang merasukinya. Ada sedikit rasa takut kalau Krisna kembali bersama Jeny.
“Buah yang tadi kita petik kotor. Ada lumpurnya.” kata Aldi memecahkan lamunan Friska.
“Udah lah makan aja. Aku laper banget.” kata Irwan.
Akhirnya Aldi dan Irwan makan dengan lahap. Kadang mereka mengeryitkan dahi karena buahnya masam. Sedangkan Erik pun makan bersama Friska. Mereka dengan sabar membersihkan buah kecil itu.
Beberapa saat kemudian Friska memandang Krisna yang sedang duduk memandang arah luar. Friska tidak bisa menebak apa yang dipikirkan Krisna. Krisna tidak memakan apapun karena ia sedang menunggui Jeny yang belum sadar.
Friska membersihkan buah cukup banyak. Ia menaruhnya di telapak tangannya. Lalu ia berjalan mendekati Krisna.
“Ini. Kakak belum makan apa-apa kan?” tanya Friska sambil menyodorkan buah itu.
“Makasih.” kata Krisna sambil tersenyum.
Krisna mengambil buah itu dari satu persatu dan memakannya. Ia terus mamandang wajah Friska. Friska malu dan menunduk. Erik mengamati mereka dari kejauhan. Ia senang melihat mereka tidak seperti kemarin. Tiba-tiba ia melihat Jeny. Belum ada yang mengurus Jeny. Ia membawa kotak obat dan minuman dan berjalan kearah mereka.
“Kak, Jeny perlu diurus.” kata Erik.
“Iya.” jawab Krisna datar.
Dalam hati Krisna marah karena Erik menganggu waktunya bersama Friska. Krisna tersentak kemudian. Ia berpikir Erik menyukai Friska. Dari kemarin kan Erik selalu dekat dengan Friska dan Erik juga tahu kebih banyak tentang Friska dari pada dirinya.
“Kak?” tanya Erik memecahakan lamunan Krisna. Krisna menatap Erik.
“Kita coba beri Jeny minum.” kata Erik.
“Eh jangan dulu. Dia kan belum sadar.” kata Friska.
“Lalu gimana?” tanya Erik.
“Ada minyak kayu putih?” tanya Friska.
Erik memberikan minyak itu pada Friska. Friska menuangnya di telapak tangannya. Ia mengusapkan ke leher Jeny. Ia menaruh tangannya di depan hidung Jeny. Jeny perlahan terbangun.
“Cepat kasih dia minum.” kata Friska. Erik memberikan minuman itu pada Jeny. Jeny membuka matanya dan meminumnya.
“Jeny, gimana keadaan kamu sekarang?” tanya Erik.
__ADS_1
“Cuma agak pusing.” kata Jeny.
“Kamu pasti lapar. Kalau ada makanan apapun coba dimakan. Nggak usah gengsi. Daripada gini kamu kan jadi sakit sendiri.” kata Krisna.
Jeny hanya terdiam. Beberapa dari mereka memberi Jeny sisa buahnya.
“Nah, sekarang semua bersiap melanjutkan perjalanan lagi. Jeny bisa jalan sendiri? Atau mau di gendong lagi?” tanya Krisna.
“Aku bisa jalan.” kata Jeny sinis.
“Biar aman, Aldi dan Irwan di samping Jeny.” kata Krisna.
Mereka mulai berjalan dengan semangat bahwa hal itu akan segera berakhir. Tiba-tiba ada suara orang merintih.
“Tolong,, tolong..”suara itu merintih tidak berdaya.
“Kalian dengar?” tanya Krisna.
“Iya kak. Dari arah kita tadi.” kata Irwan.
“Jangan-jangan hantu kak. Aku takut ah.” kata Aldi.
“Cepat ambil senter dan Irwan ikut aku.” kata Krisna berjalan masuk kembali ke dalam lubang cabang gua tadi.
“Itu dia!” teriak Irwan.
Krisna memandang tempat yang ditunjukkan Irwan. Ia berlari mendekatinya. Seorang cewek sedang duduk sambil memeluk stalagmit yang ada di dekat dinding gua. Ia duduk dalam genangan lumpur.
“Kamu siapa?” tanya Krisna.
“A,,akku Desi.” katannya kemudian tidak sadarkan diri.
Krisna menggendongnya. Dalam hati Krisna bertanya-tanya, kenapa anak itu bisa tertinggal sendiri. Irwan hanya mengangguk dan mengikuti Krisna dari belakang.
“Dia pingsan. Dia sangat lemah.” kata Krisna.
“Siapa kak?” tanya Erik saat melihat mereka kembali.
“Aku juga kurang tahu. Saat aku tanya dia hanya menjawab namanya Desi.” kata Krisna.
“Desi? Dia satu kelas denganku kak.” kata Friska berlari mendekatinya.
__ADS_1
“Betul. Dia temanku.” kata Friska.
Friska memeriksa keadaan Desi. Tidak ada tulang yang patah dan hanya ada beberapa kaki Desi yang memar. Friska membersihkan muka Desi yang penuh lumpur dengan tisu. Dengan cekatan Friska membuka kotak obat dan membersihkan luka Desi lalu membalutnya.
“Apakah kamu tahu dia regu siapa?” tanya Krisna. Friska mengangguk.
“Rudi.” hanya kata itu yang ia keluarkan kemudian.
Friska memandang Desi kasihan. Tubuhnya penuh lumpur. Bahkan tidak hanya tubuhnya tapi wajahnya pun ada lumpurnya. Pakaian dan rambutnya basah. Wajahnya pucat dan beberapa memar di kakinya sudah mulai membiru. Friska mengambil tas yang dikenakan Desi kemudian membawanya.
“Aku aja yang bawain Fris. Nanti bawaan kamu tambah berat.” kata Erik tersenyum pada Friska.
“Biar aku yang bawa tasnya.” kata Krisna sambil menatap Friska dan tersenyum.
“Di luar udah hampir petang. Mari kita keluar. Desi biar aku yang gendong.” kata Krisna setelah melihat jam tangannya.
“Apa kakak nggak capek?” tanya Erik.
“Iya kak. Biar aku dan Erik saja yang bergantian membawanya.” kata Irwan.
Krisna mengangguk. Jeny dan Aldi tidak berkomentar. Jeny memandang sinis ke arah mereka. Sedangkan Aldi tidak mau tahu tentang Desi. Irwan menggendong Desi dan mereka semua berjalan keluar. Mereka mempercepat langkahnya agar petualangan di gua itu segera berakhir.
Akhirnya mereka sampai di luar. Mereka mengucapkan syukur dan berjalan menaiku tangga yang ada. Kemudian mereka mencari pohon yang rindang dan duduk di bawah pohon itu. Semua memandang sekeliling dengan perasaan rindu. Mereka tersenyum dengan pikiran yang ada di masing-masing otaknya.
Mereka sangat senang karena dapat melihat dunia luar lagi. Jeny tertawa sendiri bisa keluar dengan selamat. Setelah tertawa bahagia ia memegangi kakinya yang tadi terjepit itu. Ia mengelus-elus kakinya sendiri.
Mereka melihat Adel mendekati mereka. Beberapa saat kemudian Adel telah sampai di dekat mereka.
“Selamat. Kalian telah berhasil melaluinya. Sekarang silakan kalian melanjutkan perjalanan ke lapangan kemarin. Kalian punya waktu sampai besok sore kan? Jadi manfaatkan waktu sebaik mungkin.” kata Adel yang berjaga di depan pintu gua itu.
“Iya kak. Tapi ini bagaimana? Dia bukan anggota ragu kami. Dia kami temukan di dalam sudah dalam kondisi lemas.” kata Krisna menunjuk Desi yang dibaringkan di atas tanah itu.
“Coba bawa ke tenda itu.” Adel menunjuk tenda yang ada tak jauh dari sana.
Erik membawa dan membaringkan Desi disana. Kemudian ada beberapa teman Adel memeriksa keadaannya.
“Kalian tahu siapa dia?” tanya Adel.
“Namanya Desi. Dia salah seorang regu Rudi. Kami tidak tahu kenapa dia seperti ini.” kata Krisna.
“OK. Kasus ini kami yang akan menangani. Tapi mungkin setelah acara ini kalian akan di panggil lagi sebagai saksi kalau ada yang kurang jelas. Silakan kalian melanjutkan perjalanan. Biar Desi kami yang mengurusnya.” kata Adel.
__ADS_1
Krisna dan teman-temannya melanjutkan perjalanan mereka. Krisna sadar matahari sudah mulai bersembunyi. Ia menatap anggota regunya. Mereka kelihatan letih dan kedinginan. Akhirnya setelah menemukan tempat yang bagus ia menyuruh mereka istirahat dan mendirikan tenda disana.