
Awal yang Penuh Perdebatan
Tiba-tiba Rudi mendekati regu mereka. Ia menjulurkan tangan ke arah Krisna berniat menjabat tangannya.
“Aku minta maaf.” kata Rudi kemudian.
Krisna heran. Rudi tidak pernah menyatakan maafnya secara resmi seperti ini. Saat Rudi kembali dan tidak marah ia langsung bertingkah seperti tidak ada apa-apa dan tidak meminta maaf seperti ini.
Krisna merasa bahwa itu bukan Rudi yang biasanya. Krisna merasakan ada yang aneh pada Rudi saat itu. Sepertinya Rudi berubah karena sesuatu. Tapi Krisna tidak tahu sebabnya. Walaupun begitu Krisna tetap berpikir positif pada Rudi.
Krisna menjabat tangan Rudi.
“Aku juga minta maaf.” kata Krisna.
Sedangkan Jeny tersenyum pada Rudi. Friska melirik mereka berdua. Tiba-tiba Rudi sadar. Ia melihat muka Friska. Ia kini tahu cewek itu yang melihatnya bersama Jeny di mall kemarin. Tapi Rudi bingung mengapa Krisna tidak marah padanya.
Sepertinya cewek itu tidak bilang pada Krisna. Tapi Rudi menganggap Friska tetap menjadi ancaman untuknya dan Jeny karena Friska dapat sewaktu-waktu membeberkan hubungannya dengan Jeny.
Jeny tahu apa yang di pikirkan Rudi. Ia pun merasa kalau Friska tidak menceritakan hal yang terjadi dengan Krisna karena Krisna tidak marah.
“Kak, nomor undi berapa?” tanya Jeny.
“Ke sembilan. Sial!” kata Rudi.
“Lebih sial lagi kita kak. Kita nomor sepuluh.” kata Jeny mengeluh.
Krisna hanya diam saja.
“Nggak apa-apa. Tetap semangat!” kata Rudi tersenyum dengan Jeny.
Irwan, Erik dan Aldi heran karena Rudi dan Jeny begitu akrab seperti tidak ada masalah apapun. Erik kembali mengingat-ingat yang terjadi saat Rudi ditolak Jeny. Bahkan Rudi mengancam Jeny. Tapi hal yang terjadi saat itu sangat berbanding terbalik.
Erik merasa ada sesuatu yang aneh. Walaupun begitu Erik tidak mau mengambil kesimpulan yang sedang ia pikirkan. Sedangkan Friska hanya diam saja. Ia pun tidak ingin menghancurkan sandiwara Jeny dan Rudi.
Biarlah Krisna tahu sendiri pikirnya. Rudi kemudian kembali ke tempatnya. Semua perserta yang mendapat nomor undi terakhir menunggu dengan gelisah. Mereka mengamati peserta yang mendapat nomor undi awal berangkat. Perjalanan mereka dari Jogja memakan waktu 2 jam. Sekarang pukul 08.30. Regu Krisna akan berangkat pukul 13.30.
“Lama banget.” Jeny mengeluh berulang kali.
Ingin rasanya Krisna menutup telinganya.
“Sabar Jen.” kata Aldi menenangkan Jeny.
Sedangkan Erik dan Irwan mengeluarkan makanan dan memakannya.
__ADS_1
“Kalian bawa makanan?” tanya Krisna.
“Iyalah.” kata mereka hampir bersamaan.
“Itu kan melanggar peraturan?” kata Krisna.
Mereka menujuk pintu keluar. Disana banyak makanan yang disita.
“Nah mumpung belum lewat sana kita mau makan dulu kak. Sisanya biar di simpan di panitia. Ini kesepatan terakhir untuk merasakan nikmatnya makan kak.” kata Erik. Krisna tersenyum melihat kelakuan mereka.
Krisna tahu selama tiga hari mereka boleh mencari makanan apapun di alam bebas. Survival memang harus mereka lakukan dalam setiap perjalanan. Krisna mengalihkan pandangannya dari mereka. Ia melihat Friska. Kali ini Friska sedang membaca buku.
“Baca buku apa?” tanya Krisna. Friska tidak menjawab dan hanya menatapnya.
“Ngapain tanya sama orang aneh.” kata Jeny.
“Jen, jaga bicaramu.” kata Krisna.
“Kenapa kamu membela Friska?” tanya Jeny mulai marah.
“Aku tidak membela siapapun. Aku ini leader regu ini. Aku berhak bertanya pada setiap anggota.” kata Krisna tenang.
Jeny hanya terdiam dan Friska tetap tanpa ekspresi.
“Temen-temen sekarang kalian membentuk lingkaran.” kata Krisna memerintah.
Semua menuruti perintah Krisna. Tentu saja Jeny duduk di sebelah Krisna.
“Memang lama kita menunggu. Tapi kalian harus tetap bersemangat ya.” kata Krisna kemudian.
“Kita udah capek disini kalau gini terus.” kata Jeny mengeluh.
“Kak, rutenya panjang nggak? Terus kita mau gimana nanti?” tanya Erik.
“Nah itu dia yang akan kita bahas. Kita belum tahu medan yang akan kita lalui. Lihat itu. Peta baru akan di bagikan saat kita berangkat.” kata Krisna menunjuk Adel yang membagikan peta pada setiap peserta.
“Lalu gimana kak? Kita nggak ada persiapan dong?” tanya Irwan.
“Setelah kita dapat peta. Kita memilih salah satu rute yang akan kita lewati dan terus berjalan dengan waspada. Ingat, jangan sampai ada yang memisahkan diri dari rombongan. Nanti kalian bisa hilang.” kata Krisna.
“Huh, repot banget ya kak. Aku belum tahu apa-apa.” kata Aldi.
“Aku juga.” sahut Jeny cemberut.
__ADS_1
“Namanya juga petualangan. Nggak asik dong kalau udah tahu.” kata Friska datar.
“Jangan sombog lah! Emangnya kamu tahu?” tanya Jeny sinis.
“Kalaupun aku tidak tahu, aku akan coba cari tahu!” jawab Friska tegas.
“Dasar orang aneh! Keras kepala!” umpat Jeny.
“Sudah!” bentak Krisna.
“Bisa nggak kalian akur? Jangan buat suasana menjadi semakin sulit.” lanjut Krisna.
Semua diam mendengar Krisna marah. Kini Krisna akan semakin tegas dengan semua anggota kelompoknya. Ia sadar, kali ini bukanlah main-main karena taruhannya nyawa dan ia menjadi leader regu itu. Selain itu ia juga sudah berjanji dengan ibu Friska akan menjaga Friska.
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun datang. Setelah regu Rudi berangkat setengah jam yang lalu, kini giliran mereka yang akan berangkat. Regu Krisna beranjak dari tempatnya menuju pintu keluar.
Sebelum pintu keluar mereka disuruh berhenti. Barang bawaan mereka diperiksa satu-persatu. Banyak sekali makanan ringan yang disita dari tas Erik dan Irwan. Sedangkan dari tas Krisna, Friska dan Aldi hanya alat komunikasi mereka yang diamankan. Lain halnya dengan Jeny.
“Aduh, kenapa sih nggak boleh bawa?” tanya Jeny ketika perlengkapan kecantikannya di ambil kakak senior.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Jeny. Selain itu tas Jeny yang berisi banyak sekali baju ganti pun diamankan. Jeny pun menahan marahnya dalam hati. Kemudian Adel memberi mereka peta. Masing-masing anggota regu membawa peta.
Mereka berjalan lurus kearah timur melewati jalan raya. 20 meter kemudian mereka berhenti.
“Kita bahas dulu rute kita.” kata Krisna.
Dalam peta tersebut banyak sekali jalan yang mereka bisa dilalui untuk sampai di gua seplawan. Meskipun begitu tidak ada jalan yang dikhususkan untuk mereka lewati. Hanya ada peringatan
“Kalian harus sampai di tempat dengan tanda merah dan tanda hijau. Ada usul kita mau lewat rute mana?” tanya Krisna.
“Kita lewat yang paling dekat, yang mudah jalannya, yang tidak licin, dan yang tidak banyak jurangnya. ”kata Jeny.
“Kita tahu dari mana?” tanya Erik yang mulai tidak simpati dengan Jeny.
“Ada usul lain?” Krisna tidak memperhatikan usulan Jeny.
Muka Jeny pun semakin kusut. Ia tahu Krisna tidak mempedulikan usulannya.
“Kita lurus aja.” kata Friska. Semua mata memandang ke arahnya.
“Mungkin ada suatu informasi tersirat dari peta ini. Ada nggak yang melihat kejanggalan?” tanya Friska.
“Tidak.” jawab Erik.
__ADS_1