
Bermalam di Hutan Lagi
“Kita istirahat dan tidur disini. Seperti kemarin, cowok mendirikan tenda dan untuk cewek duduk aja. Kali ini nggak ada acara masak kan?” kata Krisna.
Mereka semua menangguk. Mereka tahu bahan makanan mereka hanya bisa dimakan untuk satu kali saja.
“Satu lagi, Erik, Friska, dan Jeny cari kayu bakar aja buat api unggun. Kalian juga kedinginan kan?” tanya Krisna.
“Iya kak.” kata Erik.
Erik, Jeny dan Friska pergi mencari kayu. Mereka mencari kayu bakar di sekitar tenda.
“Fris, aku lega banget. Ini udah hampir selesai. Kamu gimana?” kata Erik.
“Sama Rik. Semua tidak terduga. Tapi baju basah seperti ini bikin aku kedinginan dan nggak tahan lagi.” kata Friska memegang bajunya.
Sepanjang mereka mencari kayu, Jeny tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Erik dan Friska sebenarnya ingin mengajaknya ngobrol.
“Kamu masih sedih Jen?” tanya Erik. Jeny menatapnya sinis.
“Jangan ngurusin aku. Aku nggak butuh perhatian kamu.” kata Jeny.
“Eh, aku kan cuma nanya. Kamu masih patah hati ya?” tanya Erik menggoda.
“Nggak lah. Jeny itu nggak pantes patah hati. Lagian aku juga nggak suka sama Krisna atau Rudi. Asal kalian tahu ya. Aku udah punya pacar. Dia tidak satu sekolah dengan aku.” kata Jeny marah.
Erik dan Friska hanya menggelengkan kepala. Sungguh Jeny memang cewek yang sukanya memainkan hati cowok. Erik sendiri sedikit marah mendengarnya karena ia seorang cowok.
Kini yang masih tinggal di pikirannya apakah Rudi seperti Jeny atau sebaliknya. Jeny berjalan di depan meninggalkan Erik dan Friska.
“Rik kenapa kamu diam aja?” tanya Friska.
“Aku nyesel Fris, aku pernah kagum dengan Jeny. Aku sadar kecantikan bukanlah segalanya.” kata Erik. Friska hanya diam.
“Ngomong-ngomong kamu gimana sama Krisna?” tanya Erik.
“Gimana apanya?” Friska balik bertanya.
“Kamu suka sama Krisna kan?” tanya Erik.
Friska hanya diam saja memikirkan pertanyaan Erik.
__ADS_1
“Kamu jatuh cinta ya?” tanya Erik sambil tertawa.
“Ah, kamu jangan sok tahu.” kata Friska tidak mau mengakuinya.
Friska dan Erik tertawa bersama. Saat mereka kembali Krisna menatap mereka dengan ekspresi datar. Padahal hati Krisna sangat sakit ketika melihat mereka berduaan. Dia iri pada Erik yang selalu dapat perhatian Friska. Jangankan perhatian Friska, ngobrol aja Krisna nggak pernah.
Krisna sangat sedih ketika mengingatnya. Krisna hanya melamun saat teman-temannya membuat api unggun. Ia duduk sendiri. Tiba-tiba ia teringat apa yang ia lakukan di dalam gua.
Ia teringat saat ia meminta maaf dan berjanji pada Friska. Ia bigung mengapa ia bisa melakukannya. Selama ini dia orang yang selau jaga gengsi. Ia juga masih bingung kenapa ia harus berjanji dengan Friska. Ia menatap telapak tangannya yang terluka itu. Seketika mukanya merah dan ia menatap Friska kemudian.
“Apakah aku jatuh cinta? Apakah ini rasanya jatuh cinta?” tanya Krisna dalam hati.
Krisna menanyakan itu berkali-kali pada dirinnya. Krisna mencoba menebak-nebak perasaannya itu. Tubuhnya seperti bergetar dan ada sesuatu yang lembut merayap dikulitnya hingga sampai ke dadanya.
Saat ia membayangkan wajah Friska, ia merasakan ada sepercik kedamaian yang datang menemaninya. Kemudian setelah itu hanya Friska dan Friska yang terbayang di pikirannya. Krisna mencoba meyakinkan lagi bahwa ini merupakan cinta. Kini ia sudah mulai yakin kalau ia benar-benar jatuh cinta dengan Friska. Entah apa sebabnya ia tak tahu.
“Mungkin inilah cinta.” gumamnya.
Namun yang ia lakukan dari kemarin hanyalah menebak di antara dua pilihan yaitu benar atau salah. Krisna hanya berani menebak-nebak bagaimana hubungan Friska dan Erik.
Semakin ia menebak-nebak ia semakin gundah memikirkan kemungkinan mereka sudah berpacaran. Hati Krisna pahit saat berikir tentang itu. Namun ia juga tidak bisa membohongi perasaannya yang semakin tumbuh seiring bertambahnya waktu.
“Apakah mereka saling mencintai?” Krisna kembali menggiring ragu dihatinya.
Ia ragu menyatakan cintanya. Ia takut Friska menolaknya. Ia takut Erik juga mencintai Friska. Kini Krisna bingung apa yang harus ia lakukan. Dengan sabar ia mendekati teman-temannya itu. Ia meletakkan tangannya di dadanya. Ia mencoba mengurungkan niatnya untuk menyatakan cinta kepada Friska.
“Bagaimana?” tanya Krisna sedikit murung.
“Sudah jadi kok. Kak kita mau makan apa?” tanya Aldi.
“Kita cari yang ada di dekat sini aja. Irwan jaga tenda, yang lainnya kita mencari makanan bersama.” kata Krisna.
“Aku nggak mau. Aku mau disini aja.” kata Jeny.
Krisna menatapnya. Wajah Jeny cemberut dan lesu seperti orang kelaparan dan kecapekan.
“Ya sudah. Kamu tinggal disini.” kata Krisna.
Krisna, Friska, Erik dan Aldi berjalan mengarungi jalan yang mulai gelap itu. Friska memegang senter dan Krisna memegang sabit.
Setelah berjalan cukup jauh akhirnya mereka menemukan gerombolan pohon pisang. Friska mengarahkan cahaya senternya ke atas pohon. Ternyata banyak sekali pohon yang berbuah tapi tidak ada yang matang. Kemudian Friska mengarahkan senter ke gerombolan pohon lain yang tidak jauh dari situ.
__ADS_1
“Itu ada yang kuning!” teriak Aldi.
Mereka berjalan mendekati pohon itu. Friska menerangi buah itu. Benar, pisangnya memang sudah matang. Semua pisang itu hampir matang merata. Erik menebang pohon pisang yang tidak terlalu besar itu dan memotong tangkai buah dari pohonnya.
“Ayo kita kembali. Ini sudah cukup.” kata Aldi.
“Tunggu.” kata Krisna. Krisna memeriksa pisang itu.
“Pisang ini sangat keras. Ini pisang batu. Dalamnya banyak bijinya hampir seperti jambu biji. Rasanya memang manis, tapi daging buahnya hanya sedikit.” kata Krisna.
“Jadi kita cari lagi ya kak?” tanya Aldi. Krisna hanya mengangguk.
“Lalu pisang ini dibawa atau tidak?” tanya Erik.
“Bawa saja. Aku mau pisang itu kok.” kata Friska.
Friska terus menerangi bagian atas dari beberapa pohon pisang. Mereka berjalan menjauh dari rumpun pisang itu untuk mencari rumpun pisang lainnya. Akhirnya mereka menemukan pisang yang mereka cari sekitar lima meter dari tempat tadi.
Pisang itu matang walaupun hanya dibagian atasnya. Kira-kira ada lima sisir dan dua sisir paling atas sudah berwarna kuning dan ada sebagian yang sudah dimakan binatang.
Sekarang giliran Krisna yang menebang pohon itu. Pohon itu cukup besar. Krisna menebangnya dari sisi samping saja dan berniat mendorong pohonnya. Namun setelah di dorong, pohon tidak juga tumbang.
Aldi membantu Krisna untuk merobohkan pohon itu. Setelah pohon itu hampir roboh atau miring, Krisna memotong tangkai pisang itu. Pisang itu kelihatan besar-besar. Kemudian mereka kembali.
“Eh kak bentar.” kata Erik menghentikan Krisna berjalan.
“Kenapa?” tanya Krisna.
“Itu dihilangin dulu pisang yang udah dimakan binatang. Nanti Jeny tidak mau makan lagi.” kata Erik.
Friska menerangi pisang itu dan Krisna memotong beberapa pisang yang telah membusuk itu. Erik dan Krisna membawa pisang itu dan Aldi membawa pisang batu tadi. Sedangkan Friska membawa senter. Dengan hati senang karena memperoleh makanan mereka kembali ke tenda.
“Akhirnya kita bisa makan lagi.” kata Aldi.
“Tapi pisang ini banyak yang masih mentah.” kata Erik.
“Semua enak kalau kita lapar. Aku sudah punya rencana.” kata Aldi kemudian tertawa.
“Rencana apa?” tanya Krisna ikut penasaran.
“Ya rencana makan pisang ini dengan caraku.” kata Aldi masih dengan tawanya yang membuat kesunyian malam itu hilang.
__ADS_1