CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN

CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN
33. Sate Pisang


__ADS_3

Sate Pisang


Irwan dan Jeny sudah menyambut mereka. Jeny langsung memilih pisang batu itu ketika mereka mulai makan. Saat membuka pisang itu, Jeny langsung menggigitnya.


“Aduh,,” Jeny berteriak.


“Kenapa Jen?” tanya Irwan.


Jeny memperlihatkan pisang itu. Banyak biji kecil hitam-hitam yang keras seperti batu. Kemudian Jeny mengambil pisang yang besar pada tundunan yang berbeda. Ia sengaja memilih yang paling kuning. Jeny memakannya dengan lahap. Semua makan dengan lahap.


Kini yang tersisa hanya hanya pisang yang hijau-hijau. Beberapa dari mereka sudah kenyang.


“Kak, aku masih lapar.” kata Aldi.


“Iya kak. Aku juga masih lapar.” kata Irwan.


“Ya sudah sana makan semua pisangnya.” kata Krisna sambil tersenyum.


“Ih, pisang mentah gitu. Bisa-bisa kalian keracunan.” kata Jeny sinis.


“Nggak lah. Daripada lapar.” kata Irwan.


Irwan dan Aldi berbisik-bisik sambil mencari kayu. Kemudian mereka mengambil beberapa buah pisang dan menusukkannya pada kayu hingga mirip seperti sate. Kemudian mereka membakar pisang itu.


“Sate pisang, sate pisang.” kata Aldi menirukan tukang sate.


Irwan tertawa. Semua yang ada disana tertawa kecuali Jeny. Beberapa saat kemudian pisang itu sudah gosong. Aldi mencabut satu dari tusuknya.


“Uh panas!” kata Aldi.


“Ya sabar dong.” kata Irwan mengikutinya melepaskan pisang itu.


Mereka berdua meniup-niup pisang yang berasap itu. Aldi membuka pisang itu. Pisang itu matang dan hangat. Ia mencicipi pisang itu.


“Enak. Kalian belum pernah makan makanan seperti ini. Di Jogja nggak ada. Besok aku buka restoran sate pisang.” kata Irwan sambil tertawa.


“Eh, ada deh kayaknya. Makanan hits kekinian. Pisang panggang tapi, dan pisangnya


“Kalian mau nggak?” tanya Aldi pada yang lain.

__ADS_1


“Tapi kan itu pisangnya masih mentah. Nanti kalau aku mau nyoba, aku bakar sendiri aja.” Erik mulai mencari kayu untuk tusuk.


“Jijik ah. Aku mau tidur aja.” Jeny beranjak menuju tenda.


Sedangkan Friska memakan pisang batu itu. Dia makan dengan membawa daun. Daun itu ia gunakan untuk menampung biji pisang itu. Dengan sabar ia memutahkan biji itu dan memakan daging buahnya. Krisna mendekatinya.


“Kamu makan pisang itu?” tanya Krisna.


“Iya. Ini kan manis kak.” kata Friska.


“Tapi banyak bijinya.” kata Krisna duduk di sampingnya.


Friska menunjukkan biji yang ia tampung di daun itu. Friska memberikan daun kepada Krisna. Krisna mengerti kalau Friska megisyaratkannya untuk mencobanya. Krisna mengambil satu pisang dan meniru apa yang dilakukan Friska.


Lama Krisna memakan pisang itu dan duduk di samping Friska. Tapi mereka hanya saling diam. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Friska masih tidak percaya apa yang dilakukan Krisna padanya. Ketika mereka bergerak dan saling tatap, hanya kebingungan yang mereka tampakkan.


“Kak, makasih ya.” Friska memberanikan diri mengeluarkan suara.


“Makasih buat apa?” tanya Krisna heran.


“Kakak dah mau ngertiin keadaanku.” kata Friska.


Krisna tahu, itu karena selama ini dia selalu menganggap Friska orang aneh. Setelah itu kedaunya hanya diam. Krisna ingin sekali mengatakan kalau ia sebenarnya cinta pada Friska tapi ia ragu.


“Kakak sakit? Kok diam aja.” kata Friska menatapnya.


Krisna terkejut dari lamunannya. Jantungnya langsung berdebar-debar ketika ia sadar Friska menatapnya.


“Aku nggak sakit kok. Fris, kamu mau nggak… jadi…” kata Krisna putus-putus.


Krisna belum sempat meneruskan kata-katanya. Sebenarnya ia ingin menyatakan perasaaannya. Tapi rasa ragu yang menyelinap di hatinya itu muncul lagi.


Beberapa detik terlewat, Krisna belum juga menyatakannya. Ia masih bimbang. Sedangkan Friska sedang menantikan apa yang akan dikatakan Krisna. Hatinya sudah berbunga-bunga ketika ia membayangkan kalau Friska menyatakan cinta padanya.


Kini Friska hanya menunggu dengan setia apa yang akan dikatakan Krisna. Ia sangat berharap kalau Krisna menyatakan cinta kepadanya.


“Kamu mau nggak jadi teman baikku?” tanya Krisna.


Krisna menyatukan kedua tangannya. Ia tahu rasa bingung sedang menghantuinya. Ia juga tak tahu kenapa lidahnya bergerak untuk mengatakan kata-kata itu. Ia sangat menyesal tapi ia juga tidak mungkin menyatakan rasa cintanya sebelum tahu hubungan Erik dan Friska yang sebenarnya.

__ADS_1


“Mau kak.” jawab Friska datar.


“Apakah aku terlalu rendah untuk jadi kekasihnya. Apakah Krisna melakukan hal kemarin hanya karena ingin jadi teman baikku?” tanya Friska dalam hati.


Entah kenapa beribu pertanyaan kini menghantui Friska. Rasa kecewa pun mulai menusuk-nusuk hatinya. Friska sadar ia mencintai Krisna. Krisna kemudian melajutkan makan pisang yang ada di tangannya. Beberapa saat kemudian Erik mendekati mereka.


“Aduh, enaknya berduaan.” kata Erik sambil tertawa. Krisna hanya tersenyum.


“Kamu mau nyoba pisang bakar nggak Fris?” tanya Erik kemudian.


“Nggak Rik. Aku makan ini aja. Ini manis banget.” kata Friska menunjukkan pisang batu itu.


“Manis kayak kamu?” Erik mencoba menggoda Friska.


“Kamu bisa aja.” kata Friska tersenyum.


“Oia, kamu belum ngantuk Fris? Lihat tuh Jeny udah ngorok.” kata Erik kemudian.


“Aku belum ngantuk kok.” kata Friska.


Krisna hanya terdiam melihat keakraban mereka. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia seperti menjadi pengalang antara mereka berdua kalau ia tetap di tempat itu. Tiba-tiba terdengar Jeny menjerit. Mereka semua langsung melihat Jeny.


“Aku capek dengan semua ini. Aku ingin pulang. Gelap, dingin… aku nggak mau mati disini.” Jeny berbicara sendiri sambil tertidur.


“Besok juga pulang kali.” kata Erik seenaknya.


“Erik, diam. Kasihan Jeny.” kata Irwan.


“Nanti kalau Jeny mengigau lagi kalian bangunkan dia dan kasih dia minum. Rupanya siksaan di alam ini membuatnya ketakutan. Tapi dia selalu menutupi semua itu.” kata Krisna.


Krisna merasa sangat lelah saat itu. Ketika memikirkan cintanya yang sulit ditebak itu. Selain itu Jeny ternyata sangat ketakutan di alam ini adalah tanggung jawabnya sebagai leader regu itu. Berbagai macam pikiran mulai membentuk bukit-bukit di dalam otaknya dan meminta Krisna untuk mendakinya.


Namun Krisna masih terlalu capek untuk menyelesaikan semua masalah itu atau paling tidak membuat masalah menjadi berkurang. Krisna menarik napas mencoba melupakan semuanya. Namun ia tidak bisa.


“Aku agak letih. Kamu, Aldi dan Irwan bisa jaga untuk malam ini kan?” tanya Krisna kemudian.


“Iya kak. Itu bisa diatur. Kakak istirahat aja.” kata Erik. Krisna berjalan ke sebelah tenda cowok.


Ia merebahkan badannya dan terlentang memandang langit. Kemudian Krisna memandang ke arah Friska. Friska sedang asik ngobrol dengan Erik. Kini cemburu mulai menelusuri hatinya. Ia memalingkan pandangannya ke arah Aldi dan Irwan. Mereka berdua sedang makan. Krisna tersenyum mengingat mereka sangat rakus.

__ADS_1


Ia kembali menatap langit. Malam itu langit utara begitu terang dipenuhi bintang. Sedangkan dari arah lain mendung mulai berjalan ingin menguasai langit. Tidak ada gambaran yang jelas apakah malam itu akan hujan atau tidak. Krisna terus memandang langit itu.


“Semua yang ada di dunia ini tidak ada yang akan terlihat jelas sebelum kita mencobanya.” gumamnya lirih.


__ADS_2