CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN

CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN
36 Jawaban Friska


__ADS_3

Jawaban Friska


“Aku mau kak.” kata Friska sambil tersenyum.


Krisna menggenggam erat tangannya. Friska hanya tersenyum. Mereka berdiri dan melihat pemandangan di pagi itu. Matahari sudah tersenyum dari arah timur. Cahaya menelusuri daun-daun pohon dan akhirnya sampai di tanah. Berjuta embun berkilauan ditimpa cahaya.


Dari bukit itu mereka dapat melihat kota Purworejo yang mulai diterangi cahaya pagi itu. Di selatan kota mereka melihat birunya air laut di pantai selatan. Kemudian terlihat gunung Merapi, gunung Sumbing, gunung Sindoro. Ketiga gunung ini akan terlihat jelas ketika pagi hari. Gunung-gunung itu berpayung awan kelihatan sangat indah. Selanjutnya burung-burung mulai berkicau menghibur mereka. Mereka berdua tersenyum.


“Semua ini saksinya Fris. Saksi kejujuranku dan saksi atas cinta pertamaku. Meski perjalanan yang kita lalui begitu sulit, tapi aku tetap akan menjadikan perjalanan ini sebagai suatu kenangan yang tidak akan terhapus di pikiranku.” kata Krisna.


“Aku juga. Ini adalah awal aku tersenyum sejak kejadian itu. Terima kasih atas semuanya.” kata Friska.


Krisna tersenyum dan mengangguk. Mereka berdua melayangkan pandangan sejauh mungkin untuk melihat keindahan itu. Cahaya matahari yang semakin cerah itu menyadarkan mereka kalau hari beranjak siang.


Kini Krisna merasakan apa yang dinamakan cinta pertamanya itu dan ia sangat senang karena cintanya terbalaskan. Krisna meletakkan tangan Friska yang digandenganya itu ke dadanya. Dalam hati ia bersyukur telah bisa mendapatkan cinta Friska.


“Kita turun sekarang.” kata Krisna kemudian.


Friska mengangguk. Friska menatap tangannya yang digandeng oleh Krisna. Sepertinya baru kemarin ia mengenal seorang Krisna yang menyebutnya orang aneh. Tapi hanya dalam penjelajahan ini, hatinya menemukan suatu ketenangan setelah sekian lama dinaungi kesedihan.


Mereka berjalan menuruni bukit itu. Sampai di tempat mereka berkemah, teman-teman mereka masih menata barang bawaan. Krisna dan Friska langsung membantu mereka.


“Kalian dari mana?” tanya Jeny.


“Kami, kami baru saja jalan-jalan.” kata Krisna bingung.


“Jalan-jalan?” Jeny heran.


“Tadi katanya kalian mau olahraga kan? Udah jalan sampai mana?” Erik mencoba membantu Krisna.


“Nggak jauh kok.” kata Krisna sambil tersenyum.


Jeny hanya cemberut. Ia sangat kesal dengan perubahan sikap mereka. Kini perhatian untuknya tinggal kenangan dan Friska mengambil alih perhatian regu ini termasuk Krisna.


“Aduh! Udah cukup! Aku nggak tahan. Udah lima kali lebih.” kata Jeny menjerit-jerit.


“Kenapa Jen?” tanya Krisna heran.


Krisna mendekati Jeny. Tiba-tiba Krisna mencium bau yang sudah tak asing baginya. Krisna segera menutup hidungnya. Friska ingin mengikuti Krisna.


“Jangan kesini Fris!” teriak Krisna.

__ADS_1


“Kakak udah tahu kan. Aku nggak betah kak. Dari tadi aku mencium bau ini.” kata Jeny kesal.


“Kamu nggak tahu ini bau apa?” tanya Krisna.


“Nggak lah. Erik, Aldi dan Irwan ditanya juga diam aja.” kata Jeny marah.


Krisna, Erik, Aldi, dan Irwan tertawa bersama. Krisna sadar, ketiga anggota regunya itu pasti tidak berani bercerita dengan Jeny. Friska hanya bingung menyaksikan hal yang terjadi. Ia tidak mengerti masalah apa yang dialami Jeny.


“Kalian malah tertawa sih. Bukannya malah nyari apa yang bau, malah ketawa.” Jeny duduk cemberut.


“Jen, itu bau kentut Aldi, Erik, dan Irwan.” kata Krisna kemudian.


Jeny langsung berlari menjauhi mereka. Friska tersenyum dari jauh.


“Kalian ini harusnya bilang sama Jeny. Baunya tuh memang nggak nguatin.” kata Krisna pada tersangka bau itu. Mereka hanya tertawa.


“Maaf kak. Itu hukuman buat Jeny.” kata Erik cekikikan.


“Eh, bukan kak. Kami cuma takut kalau Jeny marah.” kata Aldi.


“Ya sudah. Semoga kalian capat sembuh. Tapi untuk lebih amannya, kalian bertiga berjalan di belakang dan jangan mendekati aku, Friska dan Jeny. Kami nanti bisa pingsan.” kata Krisna menjelaskan.


“Iya kak.” jawab mereka hampir serentak.


“Kita jalan lurus aja. 6 kilometer lagi akan ada jalan raya.” kata Krisna.


“Kak, menurut aku kita lebih baik lewat jurang ini aja kak. Kita turun ke bawah 2 kilometer dan kita akan sampai di jalan raya sebelah sini. Selanjutnya kita hanya menyusuri jalan raya dan sampai di lapangan.” kata Friska menujukkan peta yang dipegangnya.


“Eh, tunggu. Kalau jalannya nggak bagus gimana?” tanya Jeny kurang percaya.


“Dari kemarin kan nggak ada jalan bagus kayak di kota.” kata Krisna.


“Bukan gitu! Ntar kalau jurangnya terlalu curam kan juga susah lewatnya.” kata Jeny nggak mau kalah.


“Udah deh. Jangan bingung. Kita jalan lewat yang paling pendek aja lah. Kalau sampai di lapangan lebih cepat kan bisa istirahat lebih lama.” kata Erik dari belakang.


“Iya kak. Kami sudah lapar lagi.” kata Aldi.


“Dasar rakus.” kata Irwan menatap Aldi.


“Kamu kan juga rakus.” kata Aldi.

__ADS_1


“Udah-udah. Kita ikut rute yang diberitahu Friska.” kata Krisna sambil tersenyum pada Friska.


Friska membalas senyuman Krisna. Sedangkan Jeny heran melihat hal itu.


“Mengapa perubahan ini begitu aneh?” tanya Jeny dalam hati.


Jeny mengamati Krisna dan Friska sepanjang perjalanan itu. Mereka berdua saling berbalas senyum. Entahlah Jeny tak mau pusing memikirkan mereka. Sebenarnya ia masih memikirkan sesuatu.


Mereka berjalan menuruni jurang yang cukup tinggi. Mereka berpegangan dengan tanaman yang tubuh disana. Jeny paling lama dalam hal ini. Sedangkan Friska dengan cekatan memimpin perjalanan itu di depan. Krisna menuntun Jeny. Ia berjalan bersamanya karena tanggung jawabnya sebagai leader regu itu.


Friska tetap tersenyum pada Krisna dan tidak menunjukkan cemburunya saat Krisna bersama Jeny. Friska tahu itu sudah tanggung jawab Krisna. Dalam hati Friska berdoa agar Krisna dapat menjadi leader tahun ini. Friska tau itu adalah impian Krisna selama ini.


Mereka menerobos semak belukar. Setengah jam sekali Jeny pasti menjerit karena mecium bau kentut tiga orang itu. Krisna hanya pasrah dan mengarahkan Jeny agar tidak lengah melewati jalan itu.


Erik, Aldi, dan Irwan saling menyalahkan sambil tertawa saat salah satu dari mereka kentut. Mereka selalu membahas pisang bakar itu.


“Ini kenangan yang tidak akan terlupakan Rik. Besok kalau aku punya anak, pasti akan aku beri cerita petualangan ini.” kata Irwan sok serius.


“Eh, mikirnya jauh banget ya. Punya pacar aja nggak, udah mikir punya anak. Emang ada yang mau sama kamu.” kata Aldi cekikikan.


“Perencanaan itu perlu tahu. Kamu juga nggak punya pacar kok ngatain aku sih.” Irwan nggak mau kalah.


“Udah-udah. Lihat tuh jalan kalau nggak mau jatuh.” kata Erik.


Krisna di depan tersenyum mendegarkan mereka. Ternyata kebersamaan mereka yang hanya tiga hari ini mampu menjadikan mereka seperti keluarga. Mereka bertiga sudah sangat akrab.


Sayang, hanya 3 anggota yang harus ia rekomendasikan. Krisna menatap mereka bertiga. Dia kasihan dengan Aldi, karena ia tidak bisa merekomendasikannya.


“Apakah aku salah menghalangi pertemanan mereka?” tanya Krisna dalam hati.


Krisna berpikir mencari solusi yang paling baik agar setelah ini dia dan regunya tetap punya hubungan baik. Matahari pagi itu semakin tinggi.


Kira-kira satu kilometer lagi mereka sampai jalan raya. Celana yang mereka gunakan basah karena embun yang ada di semak-semak yang mereka lewati. Tak jarang mereka menemui ular di semak-semak itu. Krisna selalu memilih jalan yang lain jika itu terjadi.


Krisna memilih tidak berhubungan dengan hewan itu. Namun jerit Jeny tidak akan hilang begitu saja. Jeny paling histeris. Ia begitu penakut. Tak hanya itu, burung-burung kecil juga mengiringi langkah mereka.


Beberapa saat kemudian mereka sampai di tempat yang didominasi oleh batu dan batu cadas. Krisna memerintahkan mereka untuk berhati-hati walaupun itu musim kemarau. Bekas hujan kemarin ditambah embun pagi ini menjadikan tempat itu lumayan licin.


Setelah melewati tempat itu mereka sampai di jurang yang ditumbuhi pohon mahoni. Dan dari sana mereka dapat melihat jalan beraspal. Mereka tersenyum bahagia.


“Asik. Kita akan berjalan dengan nyaman. Meski perutku udah lapar.” kata Aldi.

__ADS_1


Seperti biasa Friska menuruni jurang itu dengan cepat. Friska bagaikan berlari dan tiba-tiba ia terpeleset.


“Friska!!!” teriak Krisna keras sekali.


__ADS_2