CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN

CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN
38. Ramalan Seorang Nenek


__ADS_3

“Ayo kita percepat langkah kita. Kalau bisa berlari!” kata Krisna sambil terus berjalan.


“Aku nggak bisa kalau berlari.” kata Jeny ketus.


Tak ada yang mempedulikan keluhan Jeny sepanjang jalan. Setelah menuruni semak-semak, mereka sampai di jalan raya. Krisna merasakan kalau pengamatan Friska benar. Akhirnya mereka menemukan jalan yang mudah dilewati, tapi Friska malah tidak bersama mereka.


“Friska memang benar ya. Kita udah dapat jalan yang enak. Jalan raya. Semoga Friska baik-baik aja. Aku yakin dia kuat dan pintar.” kata Erik sambil mendekati Krisna.


“Iya kak. Kakak yang sabar ya. Kami semua berdoa untuk keselamatan Friska.” Irwan menambahkan.


Bahkan Aldi yang dari dulu tak pernah simpati dengan Friska saja ikut bersimpati. Hanya Jeny yang memasang wajah muram karena capek. Sepanjang perjalanannya ia terus mengeluh.


“Terima kasih semuanya. Semoga Friska baik-baik saja.” kata Krisna mencoba tersenyum meski hatinya kecut.


Mereka menyusuri jalan raya itu. Kira-kira masih lima kilometer lagi mereka harus berjalan. Rasa lapar dan lelah tak lagi Krisna rasakan. Ia berjalan terus meski anggotanya sudah merasa lelah dan lapar.


“Kalian boleh berjalan pelan, tapi tidak boleh berhenti.” kata Krisna.


Krisna terus berjalan cepat, di depannya ada seorang nenek yang sudah tua menggendong kayu bakar di punggungnya. Tangan nenek membawa pisang setandan yang masih hijau. Nenek itu berjalan pelan sekali. Sesekali nenek berhenti mengambil napas.


Melihat itu Krisna merasa tak tega. Hatinya memang sedang susah dan gelisah memikirkan cintanya yang belum ditemukan itu. Namun, ia tak bisa melihat pemandangan yang membuatnya iba.


“Nek, boleh saya bantu?” tanya Krisna.


Nenek itu tersenyum senang. Krisna melihat keringat nenek bercucuran di wajahnya yang sudah keriput itu. Krisna berjalan bersama nenek itu hingga anggotanya menyusulnya. Melihat apa yang Krisna lakukan, Erik mendekat membawakan pisang yang dibawa nenek.


“Kalian ada kegiatan apa di desa ini?” tanya nenek itu.


“Kami ada kegiatan dari sekolah nek.” kata Erik.


“Nanti mampir rumah nenek sebentar ya. Kalian terlihat letih dan lapar.” kata nenek sambil memandangi mereka.


Beberapa saat kemudian mereka masuk ke jalan setapak sekitar 20 meter dan mereka sudah sampai di rumah nenek itu. Terlihat rumah joglo sederhana. Lantainya masih tanah dan temboknya juga masih kayu. Di teras rumah ada bangku panjang. Krisna dan rombongannya duduk di sana.


“Sebentar ya. Nenek ada sedikit cemilan.” kata nenek memasuki rumah.


Mereka menunggu nenek keluar. Wajah Krisna terlihat sedih. Meski ia ingin terus melanjutkan perjalanan, ia memandang beberapa anggota regunya sudah lelah dan kelaparan. Akhirnya ia mencoba untu bersabar. Nenek keluar membawa dua piring yang berisi singkong rebus.

__ADS_1


“Kebetulan nenek tadi merebus singkong banyak. Tadinya nenek pikir cucu nenek mau kesini. Tapi semakin siang tak datang-datang. Jadi nenek ke kebun nyari kayu.” kata nenek.


Nenek menyuruh salah satu dari mereka untuk masuk mengambil air minum dan pisang. Erik membuntuti nenek dan keluar membawa ceret yang berisi air putih dan pisang. Nenek membawakan gelas.


“Nah, silakan dimakan. Jangan sungkan. Nenek cuma tinggal sendiri di sini.” kata nenek sambil tersenyum.


Aldi, Irwan, dan Erik makan dengan lahapnya. Jeny hanya mengambil pisang dan memakannya malu-malu. Krisna hanya menenggak air putih dan diam termenung dengan pandangan kosong.


“Cah bagus, kenapa malah melamun. Ayo dimakan.” kata nenek.


“Iya nek.” jawab Krisna masih dengan wajah sedih.


“Ada masalah apa nak?” tanya nenek penasaran.


Nenek duduk di samping Krisna. Erik menceritakan semua kejadian yang mereka alami. Nenek mengangguk-angguk mencoba memahami perasaan Krisna.


“Kalau boleh nenek tahu, siapa nama temanmu itu cah bagus?” tanya nenek pada Krisna.


“Friska nek.” kata Krisna.


Nenek memejamkan matanya. Beberapa menit berlalu, nenek masih diam. Semua anak memandang nenek itu. Sunyi. Mereka masih bingung apa yang nenek lakukan.


“Dari mana nenek tahu?” tanya Aldi heran.


“Nenek sebenarnya bisa melihat masa depan. Kalau di tipi katanya indigo atau indra keenam atau apalah. Dari kecil nenek sudah seperti ini.” kata nenek.


“Wah, beneran nek? Nek tolong ramal aku. Jodohku besok seperti apa?” pinta Irwan.


“Hush, kamu ini. Kita kan harus buru-buru. Mending kita tanya soal Friska aja.” kata Erik.


“Hadeh, oke deh.” Irwan menyerah.


“Kenapa sulit ditemukan nek?” tanya Krisna.


“Yang nenek lihat, dia berada di tempat yang gelap dan sempit. Kalau kau ingin mencarinya jangan di sampai hari gelap ya. Nanti akan lebih susah.” kata nenek.


“Nek ada petunjuk lain nggak?” tanya Krisna.

__ADS_1


“Sementara tidak ada. Cuma yang nenek khawatirkan sesuatu buruk akan terjadi kalau sampai gelap anak itu belum sadar. Meski saat ini ada arwah yang menemaninya.” kata nenek.


Tiba-tiba Jeny menjerit. Ia ketakutan. Aldi, Irwan, Krisna dan Erik masih diam saja. Sunyi dan suasana menjadi horor.


“Haduh nek. Aku jadi merinding.” kata Aldi. Nenek hanya tertawa.


“Nek, kenapa ada arwah yang masih mengikuti Friska?” tanya Erik.


“Udah lah Rik. Ubah topik. Ubah topik. Aku takut tahu!” kata Jeny histeris.


“Kenapa nek? Aku juga pengen tahu.” tanya Irwan.


“Em, menurut kenyakinan nenek, seseorang yang sudah meninggal tapi masih belum diikhlaskan oleh yang masih hidup kadang arwahnya masih belum tenang. Makanya sebisa mungkin kita sebagai manusia yang masih hidup harus mengikhlaskan apa yang seharusnya sudah diambil oleh Yang Maha Kuasa.” kata nenek.


Erik dan Krisna tertegun diam. Mereka sama-sama tahu kenyataan yang dialami Friska. Namun, mereka hanya bisa menduga-duga tanpa berani menceritakannya. Mereka mengabiskan suguhan yang nenek berikan. Nenek terlihat bahagia melihatnya.


“Nek kami pamit dulu. Terima kasih atas semuanya nek. Maaf kalau kami kurang sopan dan banyak merepotkan nenek.” kata Krisna.


“Iya sama-sama. Nenek juga senang bisa berjumpa dengan kalian. Ngomong-ngomong nenek belum berkenalan dengan kamu cah bagus. Siapa namamu?” tanya nenek sebelum kami pergi.


“Krisna nek.” jawab Krisna.


Kami berpamitan dan mencium tangan nenek. Kami mulai berjalan meninggalkan rumah nenek.


“Cah bagus!” nenek tiba-tiba memanggil Krisna.


Mereka menghentikan langkahnya. Krisna membalikan badan dan mendekati nenek.


“Kamu anak baik. Kelak kamu akan menjadi orang yang penting. Wong gedean sing nduwe drajat kang duwur. Sura dira djoyodiningrat, lebur dening pangastuti. Datan serik lamun ketaman, datan susah lamun kelangan. Sopo weruh ing panuju sasat sugih pager wesi.” kata nenek sambil tersenyum.


“Matur nuwun nek. Tapi saya belum tahu artinya.” kata Krisna sambil tersenyum.


“Sudah yang penting diingat-ingat. Kapan-kapan kalau kamu tidak sibu, dicari sendiri artinya. Terakhir pesan nenek, jangan banyak berbohong dengan diri sendiri. Semoga teman kamu segera ditemukan.” kata nenek sambil tersenyum.


Krisna teringan dengan Friska. Ia mengangguk dan berjalan bergabung bersama rombongan. Mereka melambaikan tangan kepada nenek tanda perpisahan.


“Ayo kita percepat perjalanan ini.” kata Krisna.

__ADS_1


“Siap kak.” jawab mereka serentak.


Krisna meletakkan tas ranselnya ke depan. Sambil masih terus berjalan, ia mengambil notes kecil dan pulpennya. Ia mencatat beberapa pepatah nenek yang masih melekat di pikirannya. Setelah selesai menulisnya, ia mengisi pikirannya dengan Friska. Orang yang paling ia cintai.


__ADS_2