CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN

CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN
Kelaparan


__ADS_3

Kelaparan


“Lapar kak.” keluh Aldi.


“Iya nih. Makanan nggak ada. Air pun tinggal sedikit. Bisa mati kelaparan nih.” kata Jeny.


“Kak, ayo cari makanan.” kata Irwan.


Krisna mengangguk. Irwan dan Erik pun pergi mencari. Tiba-tiba mereka melihat ada pohon jambu batu yang buahnya mungkin hanya tiga. Irwan memanjat pohon yang tingginya sekitar 3,5 meter itu. Erik menangkap buahnya dari bawah.


“Kak, kami dapat tiga.” kata Irwan girang.


“Ayo kita makan bersama.” kata Krisna.


“Aku nggak mau. Buahnya aja masih keras banget gitu.” kata Jeny.


“Daripada lapar Jen.” kata Aldi.


“Terserah, kamu mau makan atau tidak. Mungkin kamu nanti akan menemukan ayam bakar di hutan ini atau malah kelaparan.” kata Krisna megeluarkan pisau dan membelah 3 jambu itu masing-masing menjadi dua.


Jambu biji yang masih keras itu terbelah mejadi dua dan warna daging buahnya sudah kemerahan. Jeny hanya meliriknya. Sebenarnya ia juga lapar saat itu. Namun ia malu dan nggak mau mengakui itu.


Friska, Aldi, Irwan, Erik dan Krisna memakannya. Jeny hanya melihat mereka. Masih tersisa satu bagian.


“Buat aku aja ya Jen.” kata Aldi mengambilnya.


Jeny hanya diam menahan lapar. Tapi sebenarnya ia gengsi untuk makan makanan seperti itu. Mereka berenam melanjutkan perjalanan. Jalan yang mereka lalui terus menanjak dan matahari pun semakin menunjukkan dirinya. Lapar yang mereka rasakan membuat jalan serasa semakin lama.


Tanah yang mereka lalui kering dan agak basah karena cuaca bulan itu memang sedang tak menentu. Sebenarnya bulan itu sudah musim kemarau. Namun entah mengapa kadang hujan juga turun.


Mereka melewati hutan yang banyak ditumbuhi pohon mahoni. Jalan yang mereka terus menaik. Panas yang mereka rasakan saat itu sangat manusuk ke dalam kulit. Kadang di jalan itu mereka menemui talang yang terbuat dari bambu. Sepertinya talang itu merupakan saluran air dari sebuah mata air. Kadang talang tersebut tersumbat oleh dedaunan.


Saat air di botol yang mereka bawa habis, mereka mengambil air dari talang tersebut ataupun dari sungai yang mereka temui. Namun air saja tidak cukup untuk mengisi perut mereka. Bahkan kebanyakan minum air akan membuat mereka kembung dan banyak kencing.


Keringat yang menetes di tubuh mereka sudah tidak mereka hiraukan lagi. Namun hal itu tidak berlaku ada Jeny. Jeny selalu menjaga penampilannya. Terutama bagian wajahnya. Ternyata ia menyelipkan cermin kecil disakunya yang tidak ikut diamankan.


“Kak, aku masih lapar.” keluh Aldi.


“Aku juga tahu itu. Tapi mau gimana lagi. Lihat aja nggak ada yang bisa kita makan. Kamu mau makan batu?” tanya Krisna sambil tertawa.

__ADS_1


“Ya nggak lah.” Aldi cemberut.


“Kak, kita harus cari makanan sebelum masuk ke gua nanti.” kata Friska.


“Cari makanan apa?” tanya Jeny sinis.


“Apa saja. kita mau makan apa dalam gua nanti?” Friska balik bertanya.


“Kita jalan dulu. Nanti kalau ada makanan kita kumpulin.” kata Krisna menengahi sebelum Jeny marah-marah.


Erik mengamati peta yang ia pegang. Ia mengusap peluhnya.


“Kak, kira-kira 50 meter lagi kita sampai gua.” kata Erik kemudian.


“Syukurlah.” Irwan bernapas lega.


Mereka mempercepat langkah sambil melihat tempat sekitar mencari makanan. Sepuluh meter kemudian mereka sampai di sebuah tempat di atas bukit yang banyak ditumbuhi tanaman duwet atau yang sering disebut jinten.


Pohonnya hampir mirip seperti pohon mangga dan daunnya seperti daun jambu tapi lebih tebal dan halus. Beruntung pohon yang mereka lihat itu berbuah lebat meskipun masih banyak yang berwarna hijau.


“Kak, banyak makanan.” kata Aldi girang.


“Nggak lah. Buahnya aja mirip anggur.” kata Irwan mendukung Aldi.


Friska berjalan ke depan dan memetik buah yang sudah berwarna ungu kemudian memakannya. Semua melihatnya.


“Heh! Anak sok tahu. Ngapain kamu makan. Kalau keracunan ntar kan ngrepotin kita tahu!” kata Jeny membentaknya.


Friska memandang Jeny sejenak. Friska menahan amarahnya kepada Jeny. Ia memetik beberapa buah lagi.


“Ini jamblang. Yang berwarna ungu itu matang, yang berwarna merah itu setengah matang dan yang hijau masih mentah.” kata Friska datar.


“Aku tahu. Aku pernah baca.” kata Erik mendekati Friska.


Mereka berdua memetik buah yang sudah masak dan memakannya. Krisna melihat mereka sinis.


“Udah jangan makan terus. Mari kita petik dan mengumpulkannya untuk bekal nanti.” kata Krisna menatap tajam ke arah Friska.


Friska sadar ia sedang disalahkan karena kelakuannya itu. Friska mengajak Erik ke pohon yang bercabang banyak. Friska menyuruh Erik naik ke pohon. Ia memegang tas plastik di bawah. Anggota regu yang lain mengumpulkan buah yang tidak terlalu tinggi.

__ADS_1


“Rik, cepet dong metiknya! Kita masih dapat sedikit nih.” teriak Friska dari bawah.


“Indah banget di atas sini Fris.” kata Erik.


Rupanya Erik memanjat terlalu tinggi hanya untuk melihat pemandangan. Friska tidak sabar menunggu Erik yang duduk santai di atas pohon. Friska memanjat pohon itu.


“Mana pemandangan yang indah?” tanya Friska setelah sampai di atas pohon.


“Friska!” teriak Erik kaget sampai hampir terjatuh.


“Kenapa?” tanya Friska yang sedang memetik buah itu.


“Kamu bisa manjat? Tangan kamu gimana? Udah turun aja. Nanti sakit.”tanya Erik.


“Nggak apa-apa. Bisa kutahan. Aku penasaran pas kamu bilang pemandangannya bagus.” kata Friska.


Friska hanya tersenyum. Friska kemudian melihat sekeliling dari atas. Aldi dan Irwan berada di sebelah kanan. Mereka hendak memanjat pohon. Sedangkan Krisna dan Jeny memetik buah yang tidak terlalu tinggi. Friska memandang jauh ke arah selatan.


“Rik, benar katamu. Memang benar-benar indah. Kita bisa melihat perkotaan, sawah-sawah dan kemudian pantai dengan air birunya. Garis pantai selatan tampak indah dari atas sana dan waduk Sermo yag berada di Kulon Progo pun kelihatan.” kata Friska.


“Benar kan? Tapi kamu hati-hati ya.” kata Erik.


Krisna memandang mereka dengan kesal. Dalam hatinya, ia sangat iri dengan Erik yang bisa sedekat itu dengan Friska. Kenapa mereka begitu akrab? Apa Erik dan Friska punya perasaan lebih.


“Fris, kamu turun sekarang. Anak perempuan di bawah saja. Takutnya nanti jatuh.” kata Krisna.


“Nggak mau. Aku baik-baik aja.” kata Friska datar,


Friska mencari batang yang agak nyaman dan duduk. Ia memetik jamblang dan memakannya sambil menikmati pemandangan yang ada. Angin yang sepoi-sepoi membawanya ke kenangan masa lalu.


“Ayo kita jalan lagi lah. Aku udah bosan di sini.” kata Jeny.


“Oke. oke. Semuanya turun dan bersiap melanjutkan perjalanan.” kata Krisna.


Beberapa di antara mereka mulai turun. Tiba-tiba saat Friska melihat kearah selatan yang lebih dekat dengan lokasi mereka. Tiba-tiba Friska langsung panik.


“Semua! Cepat naik pohon lagi. 10 menit lagi **** hutan akan lewat!” teriak Friska keras.


Semua memandang Friska. Aldi dan Irwan memanjat lebih tinggi.

__ADS_1


__ADS_2