CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN

CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN
23 Panik


__ADS_3

Panik


“Aku nggak bisa manjat sayang. Paling dia hanya bohong.” kata Jeny.


“Erik! Benar nggak?” tanya Krisna.


Friska sangat kacau saat itu. Ternyata Krisna tidak mempercayainya. Ia menatap Krisna dengan penuh kebencian.


“Mana Fris?” tanya Erik.


“Arah selatan ada dua ekor **** hutan. Yang satu kecil dan yang satu besar. Mungkin ibu beranak. Mereka sedang minum di sungai.” kata Friska. Erik memandangnya.


“Iya kak!” kata Erik ketakutan.


Krisna memanjat pohonnya. Ia memandang sekeliling.


“Aku gimana sayang?” tanya Jeny manja.


“Ya manjat dong. Pohonnya kan banyak cabangnya.” kata Krisna.


“Aku nggak bisa.” kata Jeny.


“Kenapa kamu nggak nyoba dulu?” tanya Krisna.


Krisna menarik tangan Jeny dan menyuruhnya memanjat duluan. Jeny tidak mau. Krisna pun memanjat pohon itu. Setelah sampai di cabang kedua Krisna mengulurkan tangannya ke arah Jeny.


“Ayo cepat. Aku bantu.” kata Krisna sabar merayunya.


Jeny tetap tidak mau naik.


Hati Friska hancur saat Krisna meragukannya. Ia tidak tahu mengapa ia begitu tidak dipercaya. Kini ia hanya diam termangu. Ia melihat kejadian yang membuatnya sedih itu. Krisna masih merayu Jeny. Ia mengarahkan pandangannya pada kedua **** tadi.


“Celaka! **** hutan yang kecil mulai berjalan kemari.” teriak Irwan yang juga memperhatikannya.


Friska hanya diam mengamati. Ia melihat anak **** tersebut meninggalkan induknya. Jeny bingung. Krisna menarik tangan Jeny. Tapi sayang, saat Jeny menginjakkan kakinya pada cabang pertama, hewan itu sudah melihatnya dan berlari cepat ke arah Jeny. Jeny menjerit histeris.


“Cepat! Kamu pasti bias!” kata Krisna.


Jeny berusaha lebih keras lagi. Jeny merasa kakinya kaku karena takut. Jeni terus menjerit histeris.

__ADS_1


“Jen, cepet! Itu udah kelihatan.” kata Aldi sambil menunjukkan hewan hitam yang mengendus itu.


Hewan itu berlari mendekati Jeny. Friska dan Erik tidak mengeluarkan sepatah kata pun saat menyaksikan kejadian itu. Suasana semakin tegang. Jeny terus berusaha menuju cabang kedua. **** hutan itu sudah berada di bawah Jeny.


“Ahhgggg!!!! Pergi! Pergi!” teriak Jeny ketakutan.


Binatang itu tidak pergi tapi malah semakin ingin menyeruduk Jeny. Binatang itu melompat-lompat seakan ingin memanjat. Namun binatang itu tidak juga bisa memanjat.


Waktu terus berlalu. Sekitar lima menit binatang itu masih menunggu di bawah pohon. Jeny hanya berani memanjat sampai cabang pohon ketiga. Cabang itu cukup besar dan cukup untuk Krisna dan Jeny duduk.


“Induknya udah mau jalan kemari.” kata Erik memecah keheningan.


“Semua diam. Jangan ada yang bersuara.” perintah Krisna kemudian.


Benar kata Erik. Beberapa saat kemudian terlihat **** betina yang lumayan besar. Binatang itu seperti kebingungan. Jeny ketakutan dan ingin menjerit. Tapi dengan segera Krisna membungkam mulutnya dengan tangannya itu. Jeny berontak panik.


“Tenang.” bisik Krisna.


Jeny perlahan mengatur napasnya. Semua menyaksikan kejadian itu termasuk Friska. Mulutnya memang diam, wajahnya pun tetap biasa, tapi hatinya tidak dapat menipu dirinya sendiri kalau ia kesal melihat semuanya. Friska merasa kesal dan sakit saat melihat perlakuan Krisna ke Jeny.


Friska menghela napasnya dalam-dalam. Baru saja hatinya tersayat karena Krisna tidak mempercayainya, kini Krisna kembali menabur perih dihatinya. Friska bingung mengapa ia bisa sesakit ini. Apakah aku cemburu? Tanya Friska di dalam hati.


“Sabar ya. Aku tahu kamu mulai cemburu.” bisik Erik sambil tertawa.


“Hush! Nggak ya. Aku tuh cuma sebel aja. Bikin ribet.” bisik Friska.


Krisna memandang ke arah Erik dan Friska. Ia memasang jari telunjuknya di depan mulut, tanda agar mereka diam. Wajah Krisna terlihat marah.


Induk **** itu berlari mendekati anaknya. Ternyata binatang itu mencari anaknya. Saat induknya mendekat **** kecil itu pun mengendus ibunya. Induk **** itu berbaring dan menyusui anaknya itu.


Tiba-tiba Jeny menjerit. Ia merasakan kakinya sakit karena tidak terbiasa di atas pohon. Induk **** itu seketika berdiri mencari sumber suara itu. Induk **** mendekati pangkal pohon Krisna dan Jeny.


Suasana masih tegang karena induk **** itu terus menyeruduk batang pohon. Pohon semakin bergoyang-goyang dan Jeny semakin histeri. Krisna menutup mulut Jeny.


“Kalau kamu nggak diam, dia akan terus begitu.” bisik Krisna.


“Aku takut.” bisik Jeny sambil menangis.


Beberapa saat kemudian Jeny sudah diam. Induk **** itu masih terus menyeruduk batang pohonnya. Anak **** mendekati induknya. Induknya kembali berbaring di tanah dan anaknya kembali menyusu.

__ADS_1


Semua diam melihat kejadian itu. Kira-kira sepuluh menit kejadian itu berlalu. **** kecil itu mengikuti induknya pergi dari tempat itu. Friska memanjat semakin tinggi.


“Mereka udah jauh kok.” katanya kemudian.


Krisna pun memanjat pohonnya semakin tinggi untuk memastikannya. Ia mengangguk. Friska menata hatinya untuk sabar karena Krisna lagi-lagi tidak mempercayainya. Sesaat kemudian mereka semua turun dari atas pohon. Buah yang sudah mereka kumpulkan dijadikan satu.


“Ayo kita lanjutkan perjalanan.” kata Krisna mulai melangkah.


“Bentar lah sayang. Kakiku masih pegel. Aku juga masih takut.” rengek Jeny.


“Justru itu! Kalau kita kelamaan di sini, **** hutannya balik lagi, kamu mau manjat lagi.” kata Krisna marah.


“Iya Jen. Lagian kamu juga nggak bisa manjat pohon.” kata Aldi.


“Kamu bisanya cuma teriak-teriak histeris.” ejek Erik.


“Heh, aku kan emang nggak biasa sama kejadian kayak tadi.” kata Jeny marah.


“Sebenarnya yang ngrepotin itu bukan Friska, tapi kamu. Kamu aja yang nggak nyadar.” kata Erik.


“Oh, sekarang kamu udah belain Friska. Kenapa? Kalian pacaran?” tanya Jeny.


“Pacaran atau nggak bukan urusan kamu.” kata Erik.


“Udah-udah. Nggak usah adu mulut. Mending kita melanjutkan perjalanan.” kata Krisna.


Friska mendengar semuanya. Ia semakin membenci Krisna. Erik membelanya di depan Jeny tapi Krisna menganggapnya adu mulut. Kenapa Erik bisa bilang kalau Krisna suka aku? Ia saja tak pernah peduli padaku. Ratapan Friska dalam hati.


Krisna mempecepat langkahnya. Semua mengikutinya. Mereka tahu banyak waktu yang telah terbuang. Buah yang tadi mereka kumpulkan di masukkan dalam tas yang Aldi bawa.


Jalan yang kami lalui tak lagi mudah seperti kemarin. Kadang di antara kami ada yag terpeleset. Sepanjang jalan, yang sering kami dengar hanya rintihan Jeny. Krisna terus menggandeng tangan Jeny agar Jeny lebih mempercepat langkahnya.


“Makasih ya Kak.” kata Jeny lembut.


“Iya.” jawab Krisna datar.


Dalam hati Krisna tidak bermaksud memanjakan Jeny atau karena ia sayang dengan Jeny. Ia hanya ingin mereka berjalan lebih cepat. Krisna semakin menggenggam erat tangan Jeny sambil menariknya.


Berbeda dengan pandangan anggota regu yang mengira leadernya itu sangat sayang dengan Jeny. Friska juga berpikir seperti itu. Krisna sebenarnya tahu pandangan mereka, tapi pikirannya terlalu fokus untuk menyelesaikan misi perjalanan mereka. Ia tak ingin banyak waktu terbuang hanya karena Jeny.

__ADS_1


__ADS_2