
Semuanya Terbongkar
Akhirnya regu Rudi sampai di tempat yang tadi. Mereka duduk sejenak untuk istirahat. Sesaat kemudian mereka didatangi para senior dan mulai diberi pertanyaan masing-masing.
“Apakah semua yang kamu lakukan hanya sebatas persaingan dengan Krisna?” tanya Andre.
“Tidak hanya karena itu. Aku juga sangat ingin menjadi leader. Masalah persainganku dengan Krisna itu sudah sejak kami kecil dan persaingan itu abadi.” kata Rudi.
“Jika kamu tidak menjadi leader tahun ini apa yang akan kau lakukan?” tanya Andre menatap Rudi tajam.
“Aku akan membantu leader itu.” jawab Rudi singkat.
“Aku harap jawaban kamu yang terakhir ini dapat dipertanggungjawabkan. Aku pegang kata-katamu.” kata senior itu.
Rudi mengangguk. Ia tahu mereka pasti telah mempelajari kepribadiannya dan mau tidak mau dia harus tetap profesional.
“Pertanyaan selanjutnya, apa yang menarik dari rumah sang Pahlawan itu? Bagaimana sikap kamu sebagai generasi penerus bangsa ini?” tanya Andre.
“Menarik pada bangunannya yang berasal dari kayu jati semua. Selain itu lokasinya yang sangat jauh dari kota itu pun menarik. Banyak orang yang tidak akan menyangka kalau pahlawan pencipta lagu Indonesia Raya itu lahir di tempat yang terpencil itu. Kalau yanga harus dilakukan generasi muda sekarang mungkin dengan menjaganya dan mengingatnya. Selain itu harus tambah bersemangat untuk mengejar cita-citanya walaupun banyak keterbatasan maupun rintangan yang mereka temui.” jawab Rudi dengan tergesa-gesa. Rudi dapat menjawab semua pertanyaan dengan mudah tapi tergesa-gesa.
“Kenapa kamu tergesa-gesa?” tanya Andre.
“Aku nggak mau kalah sama Krisna.” jawab Rudi jujur.
“Aku tahu kekuatan fisik kamu. Tapi cobalah kamu juga pahami anggota regumu. Jangan egois.” kata Andre.
“Iya. Kapan Krisna masuk ke dalam gua?” tanya Rudi.
“Sekitar setegah jam yang lalu. Ini pesanku. Tolong ingat kata-kataku ini. Jangan memaksakan diri. Ingat anggota regumu.” kata Andre mengakhiri pembicaraan itu.
Rudi bergegas ke tempatnya kembali. Ia menunggu samapai teman-temannya selesai. Kakinya bergerak-gerak seperti singa yang bersiap untuk berlari. Rudi tidak merasakan capek sedikitpun. Akhirnya teman-temannya telah selesai. Rudi memandu mereka untuk masuk kedalam gua.
***
Di dalam gua...
Kata-kata Krisna itu semakin membuat perasaan Friska hancur dan terus menangis.
__ADS_1
Melihat keadaan itu Erik tidak tinggal diam. Ia mendekati Krisna.
“Cukup! Aku muak dengan semua kebohongan ini. Aku tahu semuanya.” kata Erik penuh emosi.
“Kamu tahu tentang apa?” tanya Krisna datar. Erik semakin marah.
“Tidakkah kamu sadar apa yang kamu lakukan telah menyakiti hati Friska. Dia tidak bersalah. Aku saksinya!” kata Erik penuh amarah.
“Tapi kenapa selalu ada masalah saat dia dekat dengan Jeny. Siapa yang tak akan curiga.” kata Krisna.
“Asal kamu tahu, Friska itu orang baik! Dia nggak mungkin melakukan hal sekeji itu!” kata Erik.
“Baik katamu? Kamu udah jadian ma dia? Jadi kamu belain dia. Apa kamu nggak bisa lihat? Dia selalu bertingkah aneh. Lagi pula dia sangat kaku.” kata Krisna.
Erik menceritakan semua masa lalu Friska yang menyedihkan itu. Semua regu Krisna mendengarkan hal itu. Krisna hanya terdiam dan yang lain pun tak bersuara. Sedangkan Friska hanya menangis mendengarkan Erik bercerita. Krisna mulai sadar saat ibu Friska berpesan kepadanya untuk menjaga Friska.
Erik semakin marah. Akhirnya dia memutuskan untuk membuka rahasia yang ia simpan selama ini.
“Seharusnya sebagai seorang leader kamu tidak boleh membedakan anggotamu! Hanya karena Jeny pacar kamu?” Erik semakin berani berbicara dengan Krisna.
“Jadi kamu nggak suka aku jadi leader regu ini?” tanya Krisna sinis.
“Kapan kamu sadar! Kamu telah dihianati Jeny sejak kalian berdua jadian.” kata itu terluncur dengan mudah dari mulut Erik.
Friska tersentak. Ia memandang Erik.
“Sudahlah Fris. Kita nggak perlu menutup-nutupi kesalahan orang lain. Setitik kebohongan akan membuat diri kita tersakiti.” kata Erik mantap.
“Apa maksudmu?” tanya Krisna.
“Emang kamu nggak tahu, cewek kamu yang manis ini juga jadian sama Rudi. Bahkan Friska melihat mereka berdua jalan-jalan dengan mesra. Tapi Friska nggak mau merusak hubungan kalian. Friska berpikir kalau itu akan menyakitimu.” kata Erik memandang Krisna.
Jeny tidak bisa berkata apa-apa. Ia menundukkan kepala.
“Benar itu?” tanya Krisna kemudian.
Jeny hanya terdiam. Krisna sangat hancur hatinya. Ia kecewa bukan karena penghianatan Jeny, tapi karena ia telah menyakiti Friska.
__ADS_1
“Apa itu benar Jen?” tanya Aldi ikut penasaran. Irwan pun mengajukan pertayaan yang sama.
Akhirnya Jeny menyerah dan menanggukkan kepala. Krisna kecewa melihat hal itu. Ia tak menyangka kalau pacarnya dan sahabatnya tega menghianatinya di belakang. Sakit hatinya bukan karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Tapi karena ia merasa sangat bodoh terjebak pada hal yang seperti ini hingga ia menyakiti orang yang sebenarnya merupakan cinta pertamanya.
Ia menarik napas dalam-dalam. Ia tahu betapa egoisnya ia selama ini menepatkan Friska di sudut terjauh di hatinya. Dalam hati ia menghujam dirinya sendiri dengan marah. Ia begitu marah setelah sadar selama ini kebohongan menguasai dirinya dan menjadikan hidupnya menjadi semakin rumit. Tidak hanya itu sebagai seorang leader regu itu Krisna merasa sangat malu.
Krisna berusaha menghapus rasa kesalnya. Ingin sekali ia melampiaskan rasa marah yang menggunung di hatinya itu. Krisna memegang kedua sisi celah itu. Ia membuka celah batu itu sambil berteriak sekuat tenaga.
Jeny terkejut melihat apa yang Krisna lakukan. Semua melihat apa yang dilakukan Krisna. Akhirnya kaki Jeny dapat dilepaskan. Setelah itu Krisna merasakan perih yang amat sangat di tanganya. Krisna mengangkat tangannya dari dasar gua yang penuh lumpur itu.
Erik mengarahkan senter ke tangan Krisna. Telapak tangan kanan Krisna berdarah dan darah itu mulai keluar. Seketika bau darah melewati hidung mereka. Irwan segera membuka kotak obat.
“Sini kak aku obatin.” kata Irwan mendekati Krisna.
“Nggak usah.” kata Krisna berjalan mendekati Friska yang sedang duduk di atas batu dan masih menangis.
Setelah berada di depan Friska, ia memegang tangan kanan Friska. Friska terkejut dan memandang Krisna. Terlihat wajah Krisna penuh keringat karena apa yang dilakukannya tadi.
“Fris aku minta maaf. Aku janji nggak akan nyakitin kau lagi. Kamu bisa pegang janjiku dan darah ini sebagai jaminannya.” kata Krisna.
Ia meletakkan telapak tangannya yang berdarah itu di telapak tangan Friska. Akhirnya telapak tangan mereka dipenuhi darah. Darah yang bercampur dengan air lumpur itu terus mengalir. Krisna menggenggam tangan Friska dan meletakkannya di dadanya.
Semua menyaksikan kejadian itu. Jeny hanya menunduk menyadari kedoknya telah terbuka. Sedangkan anggota regu yang lain mulai menyadari kebusukan sifat Jeny.
“Kamu bisa jalan sendiri nggak?” tanya Aldi.
“Bisa.” kata Jeny datar.
“Kalau butuh bantuan bilang saja. Tapi jangan kamu sering menuduh orang. Seharusnya kamu minta maaf sama Friska.” kata Erik.
Jeny hanya diam saja. Mereka berjalan ke arah Krisna dan Friska. Friska merasakan ada sesuatu yang mulai tumbuh di hati mereka dalam gelapnya gua itu. Friska masih merasakan getaran itu saat Krisna melakukan semua itu.
Sedangkan dalam hati Krisna merasakan sangat ringan menjalani hidup ini karena akhirnya ia juga akan membuang kebohongan yang selalu menutupi jalan dan matanya itu. Namun ada rasa lain yag membuatnya lebih bahagia.
“Mungkinkah ini cinta?” tanya Krisna dalam hati.
Krisna masih bertanya-tanya apakah ia merasakan cinta. Rasa yang selama ini belum pernah ia temui. Namun rasa itu sekarang semakin mendekat dan gua yang gelap itu menjadi terang dalam bayangannya.
__ADS_1