CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN

CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN
35. Kejujuran dan Keberanian Krisna


__ADS_3

Kejujuran dan Keberanian Krisna


Kemudian tidak ada obrolan antara mereka. Krisna merubah raut mukanya menjadi serius. Ia menyatukan kedua telapak tangannya. Erik hanya menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.


“Rik, aku mau tanya. Tolong jawab jujur. Masalah ini sangat mengganggu batinku.” kata Krisna.


“Iya kak. Masalah apa?” tanya Erik kemudian.


“Kamu cinta sama Friska? Lalu bagaimana hubungan kalian saat ini?” tanya Krisna serius.


Erik tertawa. Kemudian ia memandang leader regunya itu. Erik kembali tertawa. Krisna merasa dipermainkan. Krisna mulai marah.


“Aku bertanya serius!” kata Krisna agak keras.


“Iya kak sabar. Ntar aku jawab kok.” kata Erik yang masih tetap tertawa.


Krisna menunggu hingga Erik selesai tertawa dengan menahan marah.


“Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Friska kak. Aku hanya temannya. Aku cinta dia sebagai teman. Nggak lebih dari itu.” kata Erik.


Kemarahan Krisna mereda. Kini mukanya merah karena malu. Krisna terdiam.


“Kakak suka ya sama Friska?” tanya Erik sambil tertawa.


Krisna masih saja terdiam. Sedangkan Erik malah tertawa semakin keras.


“Kamu kenapa tertawa terus?” tanya Krisna mulai jengkel lagi.


“Kakak lucu. Coba deh kak, buang gengsinya. Akui aja kalau kakak jatuh cinta. Kalau Friska direbut orang kan repot.” kata Erik kemudian.


“Iya deh. Aku jatuh cinta ma dia.” kata Krisna jujur.

__ADS_1


“Nah gitu kak. Em,, terus kenapa kakak nggak nyatain cinta ke dia? Dia kan juga suka sama kakak?” kata Erik mulai sok tahu.


“Kamu tahu dari mana?” tanya Krisna heran dan senang.


“Itu sih cuma perkiraanku kak. Tapi 80% kemunginan besar benar.” kata Erik sambil tersenyum.


Beberapa saat kemudian Krisna terdiam.


“Aku sebenarnya ingin menyatakan cintaku padanya. Tapi kemarin aku lihat kamu sama Friska akrab, aku ragu menyatakan itu. Aku nggak mau menyakiti hati kamu.” kata Krisna menjelaskan.


“Tapi sekarang udah jelas kan kak? Jadi tunggu apa lagi?” tanya Erik.


“Iya Rik. Aku juga udah yakin sekarang. Tapi bagaimana ya Rik? Jujur Friska cinta pertamaku. Jeny bukanlah orang yang dapat mengisi hatiku.” kata Krisna.


“Aduh kak. Coba deh rasain gimana rasanya jatuh cinta itu. Kalau udah, rasa itu kakak transfer menjadi kata-kata. Kakak pasti bisa. Saat Friska belum sadar itu kakak pernah ngucapin apa? Itu kan juga karena cinta.” kata Erik tersenyum.


Krisna hanya mengangguk-angguk. Ia melihat jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 04.30. Tiba-tiba ada sebuah ide terlintas di pikirannya saat melihat Friska dan Irwan bangun.


Kemarin saat ia membuka informasi tentang Gua Seplawan ini ada yang menyatakan kalau di bukit wilayah sekitar gua, ada sesuatu yang hanya dapat dilihat di pagi hari. Krisna memandang sekelilingnya yang sudah mulai terang itu.


“Rik, kamu komando teman-teman kamu. Ntar aku balik kesini kita harus udah siap melanjutkan perjalanan. Aku ada urusan sebentar.” kata Krisna.


Erik bersedia. Krisna pun melangkah mendekati Friska. Erik hanya tersenyum. Sepertinya Erik tahu apa yang akan dilakukan Krisna. Friska bengong saat melihat Krisna mendekatinya. Beberapa saat kemudian Krisna sudah menggandeng tangannya.


“Ayo ikut aku.” kata Krisna mulai berjalan menuntun Friska.


Friska hanya terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Beberapa kali Friska mencubit tangan kanannya dengan tangan kirinya.


“Sakit.” katanya dalam hati.


Friska ingin meyakinkan bahwa ini bukan mimpi. Friska menatap orang yang menuntunnya itu. Kemudian ia mengusap kedua matanya. Ternyata benar Krisna. Friska menunduk dan tersenyum. Entah kenapa hatinya kini dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran.

__ADS_1


Krisna terus berjalan naik ke arah utara. Friska hanya menurutinya saja. Mereka melewati tangga batu yang tersusun rapi. Beberapa saat kemudian mereka masuk ke dalam hutan pinus. Jalan tanah pagi itu sedikit licin karena tetesan embun dari tanaman yang ada di sana.


Mereka berjalan melewati jajaran pohon pinus. Kaki mereka basah karena embun dari rumput yang mereka injak. Jalan yang mereka lalui menaik. Setelah jajaran pinus itu berakhir, mereka melewati batuan yang ditumbuhi alang-alang. Mereka melihat ada bukit batu yang tinggi di depan mereka.


“Ada jalan untuk naik. Mari kita naik.” kata Krisna.


Friska mengangguk. Mereka menaiki jalan batu untuk sampai di atas bukit batu itu. Akhirnya mereka di tempat yang paling tinggi. Ternyata puncak bukit batu itu tidak luas karena hanya berdiameter sekitar 2 meter dan terdiri dari batuan.


Saat sampai di puncak, mereka merasakan hembusan angin pagi yang sangat sejuk dan sekaligus dingin. Dari bukit itu mereka bisa melihat kota yang kemudian di sebelah selatannya ada laut.


Pemandangan di pagi itu sangat indah. Di sisi timur, matahari mulai menunjukkan senyumnya untuk hari yang bahagia itu. Krisna mengajak Friska duduk dibukit itu. Sinar matahari mulai mengintip mereka.


“Saat kita duduk disini. Biar alam mendengarkan pengakuanku, angin memegang janjiku dan mungkin ayahmu juga menyaksikanku.” kata Krisna.


“Fris, aku minta maaf untuk semua kelakuanku yang tidak baik selama ini.” kata Krisna memulai pembicaraan.


“Iya kak. Udah aku maafin kok.” kata Friska. Krisna tersenyum.


“Fris, saat kamu jatuh itu, aku baru sadar kalau aku benar-benar menyayangimu. Aku nggak mau kehilangan kamu. Saat itu pula aku merasakan ada sesuatu menyusuri setiap tubuhku, perlahan tapi indah. Aku ingin kamu tahu apa yang sedang aku rasakan. Kamu mau dengar kan?” tanya Krisna kemudian.


“Mau Kak.” kata Friska lembut.


“Fris, sekalipun ku coba menguraikan cinta dan menjelaskan panjang lebar, tapi tak akan tersampaikan karena cintaku begitu besar. Hanya dirimu seorang dan ini yang pertama. Dalam menguraikan cinta ini, akalku terbaring tak berdaya mengapa kau yang ku pilih. Hanya cinta ini sendirilah yang dapat menerangkan cintaku padamu dan percintaan.” kata Krisna.


Friska hanya tersenyum mendengarnya. Krisna memegang tangan Friska. Friska merasakan tangan Krisna yang luka kemarin tidak dibalut dengan perban. Friska miris saat mengingat luka yang cukup dalam itu. Kemarin saja darah yang keluar sangat banyak.


“Saat setelah itu, hari-hariku disisipi rasa cemburu melihat kamu dan Erik. Saat di gua, aku mulai yakin kalau kamulah cinta pertamaku. Aku tahu mungkin aku bukan cinta pertamamu tapi aku berharap kamu pun bisa mencintai aku dengan baik. Fris, maukah kamu jadi pacarku?” tanya Krisna tanpa basa-basi.


Hati Friska berdebar-debar. Ia tidak menyangka Krisna menyukainya bahkan menyampaikan perasaannya secepat ini. Rasanya Friska masih belum siap. Friska hanya terdiam bingung dengan apa yang harus ia katakan.


“Kenapa diam aja? Kamu nggak punya perasaan yang sama denganku ya?” tanya Krisna.

__ADS_1


“Sebentar Kak, aku masih merasa ini seperti mimpi.” kata Friska lirih.


“Aku mengerti kamu merasa seperti ini karena semua kelakuanku terhadapmu. Aku minta maaf. Aku berjanji akan selalu menjagamu. Aku butuh jawabanmu Fris.” kata Krisna dengan sungguh-sungguh.


__ADS_2