CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN

CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN
Menerka Rasa


__ADS_3

Menerka Rasa


“Jeny?” kata Krisna selanjutnya.


“Jeny Cateriana, you can call me Jeny. Aku kelas Xf. Aku belum punya pacar kak. Kakak yang juara panjat tebing itu ya? Kapan-kapan aku diajarin panjat tebing ya kak.” kata Jeny tersenyum.


“Heh! Siapa yang nanya pacar? Kira-kira dong kalau agresif.” kata salah seorang anggota regu cowok.


Ternyata namanya Irwan. Jeny merengut dan memandang Irwan sinis. Perkenalan selanjutnya diliputi dengan tawa karena Jeny yang selalu merengut ketika digoda Irwan. Anggota regu Krisna terdiri dari Friska, Jeny, Irwan, Aldi, Erik.


Tiga diantaranya laki-laki, memiliki sifat yang hampir sama. Mereka mudah bergaul, kocak tapi tetap dalam kendali Krisna. Sedangkan Jeny, centil dan suka minta perhatian. Yang paling membuat Krisna bingung adalah Friska. Orangnya cuek banget. Senyum aja nggak pernah. Krisna bingung menghadapinya. Sebagai seorang leader dia merasa harus memperhatikan anggotanya. Tapi Friska lain. Ia terlalu sulit bagi Krisna.


Dari jauh Rudi memandang regu Krisna. Krisna tahu yang menjadi perhatian Rudi pasti Jeny. Dari semua peserta yang ikut, Jeny memang paling cantik. Krisna tak mampu membohongi mata dan naluri lelakinya untuk menetapkan bahwa Jeny yang paling cantik. Rudi mencoba tersenyum ke arah Jeny, tapi tak berhasil. Jeny tak melihatnya.


“Kak, kegiatannya apa?” tanya Erik mendadak.


“Kakak, juga nggak tahu. Masih dirahasiakan.” kata Krisna.


“Kira-kira sulit nggak kak?” sambung Aldi.


“Nggak tahu. Tapi menurutku tak ada hal yang sulit jika kita lakukan bersama-sama. Ingat tetap semangat dan jaga kerjasama kalian.” kata Krisna sambil tersenyum memberi semangat untuk mereka. Tapi mereka tak juga tersenyum.


“Kerjasama? Apa kita bisa?” tanya Irwan sambil melirik Friska.


“Aku bisa.” Friska langsung menyahutnya dengan tatapan tajam ke arah semua anggota regu.


Krisna semakin bingung dengan anggota regunya. Tapi seperti lakon wayang, Krisna merupakan seorang kesatria yang dapat mengendalikan situasi. Itulah yang akan dia lakukan. Untuk mencapai impiannya menjadi leader memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Berbagai tantangan harus dihadapi untuk memperoleh mimpinya.


Krisna berpikir keras apa yang harus ia lakukan agar regunya dapat menjadi yang terbaik.


Hari minggu yang cerah itu merupakan titik awal persaingan antara Rudi dan Krisna. Tetapi seperti biasanya mereka pulang bersama. Rumah mereka yang berdekatan dan jaraknya tak jauh dari sekolah memungkinkan mereka untuk berjalan.


“Kris, kamu beruntung banget. Ada cewek cantik banget di regu kamu.” kata Rudi memandangnya.

__ADS_1


“Iya, namanya Jeny.” jawab Krisna.


“Andai aku bisa jadi pacarnya.” kata Rudi sambil senyum-senyum sendiri.


Krisna hanya diam.


“Kenapa kamu cuma diam. Kamu nggak bisa lihat cewek cantik? Buka matamu, rambutnya lurus, kulitnya putih dan wajahnya membuatku senang memandangnya lama-lama. Aku mungkin jatuh cinta dengannya.” kata Rudi.


“Mungkin.” kata Krisna datar.


Rudi berhenti. Dia berdiri di depan Krisna. Krisna menghentikan langkahnya. Rudi memandanginya.


“Krisna!” Rudi memanggilnya sedikit berteriak.


“Aku tahu kamu pasti juga suka sama Jeny kan? Ayolah,, ngaku aja.” tanya Rudi sok tahu.


Krisna diam saja. Sebenarnya dia belum pernah merasakan apa itu cinta. Sampai saat itu pun dia masih belum merasakan sesuatu yang berbeda seperti yang dikatakan orang-orang saat mereka jatuh cinta. Krisna sangat buta dengan hal-hal yang berhubungan dengan cinta. Krisna terlalu serius mengisi hidupnya dengan hal-hal lain. Ia tidak pernah mengisi hatinya dengan yang namanya cinta.


“Aku punya ide bagus. Mungkin memang takdir kita untuk jadi rival abadi. Dari balita sampai kita tua kita adalah rival. Dalam urusan cinta pun kita masih tetap rival. Kalau kita sama-sama jatuh cinta, mending kita cepet-cepetan dapetin Jeny. Siapa yang lebih dulu dapetin Jeny dia yang menang.” kata Rudi.


Rival abadi adalah julukan mereka dari SD. Dulu semua guru-guru mereka tahu kalau Krisna dan Rudi adalah rival abadi. Mulai dari ketua kelas, lomba cerdas cermat, lomba atletik dan lomba lainnya mereka berdua selalu berebut dan kadang mereka berkelahi untuk merebutkan posisi yang mereka inginkan.


Bahkan guru-guru mereka selalu melakukan seleksi untuk mereka berdua agar mereka tidak berkelahi. Namun seiring berjalannya waktu, mereka sudah tidak berkelahi seperti dulu lagi. Mereka kini beralih ke persaingan yang lebih dewasa.


Malamnya Krisna duduk di dekat jendela dan memandang keluar. Dia bingung memikirkan hari itu. Tentang kegiatan minggu depan, cinta, dan kelakuan Friska yang amat cuek. Saat dia memandang keluar, tak sengaja dia melihat Friska menaiki sepeda. Krisna berlari keluar dan memanggilnya.


“Friska!”teriak Krisna.


Friska berhenti. Krisna menghampirinya.


“Dari mana?” tanya Krisna.


“Cari angin.” kata Friska datar.

__ADS_1


“Kenapa kamu ada disini? Rumah kamu mana?” tanya Friska.


Friska tak menjawab, dia hanya mengacungkan telunjuk ke depan.


“Krisna?” teriak bunda dari dalam memanggilnya.


“Emang susah ya ngomong sama orang aneh kayak kamu. Kenapa sih nggak jadi orang yang biasa aja!” kata Krisna melangkah masuk ke rumah.


Ternyata bunda sudah ada di halaman. Bunda tersenyum ke arah Friska. Friska membalasnya dengan senyuman yang baru pertama dilihat Krisna. Lalu Friska pergi.


“Bunda kenal siapa dia?” tanya Krisna heran.


“Dia tetangga baru kita. Rumahnya 30 meter kesana yang temboknya warna hijau muda.” kata Bunda sambil menunjuk ke arah Friska melaju.


Krisna terdiam.


“Kamu kenal dia?” tanya Bunda kemudian.


“Kenal. Dia adik kelasku. Tapi dia orang aneh. Dia satu regu denganku. Nah itu dia masalahku sebagai calon leader bun,, dia susah dimengerti.” kata Krisna mengeluh.


“Itulah tantangan yang harus kamu hadapi. Setahu bunda Friska orangnya baik. Bunda pernah ngobrol dengannya.” kata bunda.


Krisna terheran-heran dan masuk ke kamarnya kemudian membaringkan badannya di tempat tidur.


“Friska, baik? Bunda pernah ngobrol? Nggak masuk akal.” kata Krisna di dalam hati.


“Dasar orang aneh.” gumamnya kemudian.


Hati Krisna bergejolak menghadapi orang-orang yang ia kenal baru-baru ini. Friska, cewek yang sering membuatnya geram dan penasaran. Entah kenapa pikirannya bekerja keras mencari tahu apa yang sebenarnya Friska inginkan dan bagaimana bisa ia selalu aneh di matanya.


Lalu Jeny, meski ia cantik dan ceria. Namun, tak sedikitpun perhatiannya tertuju padanya. Entah apa sebabnya Krisna pun tidak pernah tahu.


Malam itu Krisna sebenarnya ingin segera menutup matanya dan melupakan sejenak semua masalahnya. Tapi matanya seolah tak mau menghiraukan keinginannya. Pikirannya masih berkelana kemana-mana.

__ADS_1


“Aku hanya bisa menerka dan menebak. Begitu dalamnya hati manusia. Tak ada batasan. Ah semakin memikirkan aku harus bagaimana, aku malah semakin tidak ngantuk.” gumam Krisna resah.


__ADS_2