
Berujung Bau
“Aduh, kenapa aku bisa sebodoh ini. Kenapa aku tidak mencobanya.” kata Krisna.
Semua memandang Krisna. Krisna sadar kini semua memperhatikannya. Ia hanya tersenyum ke arah mereka.
Ini bukanlah akhir dari segalanya. Setelah bertahun-tahun ia menantikan sebah cinta hadir di hatinya dan kini ia mendapatkannya, sebenarnya Krisna sangat bahagia. Tapi ia juga tidak mau menyakiti hati Erik kalau Erik ternyata juga menyukai Friska. Akhirnya Krisna sadar hal yang dipikirkannya hanyalah keraguan. Ia tahu itu semua bukanlah pikiran yang pasti.
Krisna kini mendapatkan petunjuk. Ia kini sudah yakin untuk menyatakan cintanya pada Friska. Kini ia perlahan mengusir rasa ragu dihatinya. Ia akan menerima apapun yang akan terjadi meski itu sakit dan ia kan sangat senang kalau Friska menerimanya. Krisna memejamkan matanya dan tersenyum sambil memikirkan bagaimana ia akan menyatakan cinta pertamanya itu.
***
Rudi dan teman-temannya masih bolak-balik di depan tempatnya mendirikan tenda. Setelah mereka berlari dan lelah yang mereka rasakan sudah menumpuk, mereka sadar melupakan sesuatu.
“Bisa-bisanya kalian nggak lihat Desi pergi kemana?” tanya Rudi marah.
Semua diam.
“Kita nggak mungkin balik ke tempat yang sudah kita lewati. Itu akan memakan waktu yang lama. Bisa-bisa kalian semua nggak lolos.” kata Rudi mulai memunculkan sifat egoisnya.
“Tapi bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan Desi?” tanya Doni.
“Nggak mungkin. Kalian tahu saat senior mewawancarai kita? Mereka sebenarnya melihat semua yang kita lakukan dari kejauhan. Jadi kemungkinan besar Desi sudah diselamatkan senior.” kata Rudi.
Semua diam memikirkan kata-kata Rudi. Mereka sepakat dengan pemikiran Rudi itu.
“Ya sudah kalian tidur.” kata Rudi memberi perintah.
Mereka semua mencari tempat tidur yang lumayan enak. Waktu terus berlalu. Tapi semua regu Rudi tak juga tidur. Mereka hanya berbalik ke kanan dan ke kiri. Ada yang memegangi leher.
Ada yang memegangi perut. Rudi bangun. Dia sendiri sedang merasa tak enak. Tapi ia mencoba menyembunyikannya. Rudi mengamati sekelilingnya. Anggota regunya terlihat sangat menderita.
“Kalian kenapa?” tanya Rudi.
“Tenggorokkan kami gatal.” jawab salah seorang regu Rudi.
“Kami juga lapar kak.” kata Doni.
“Ini sudah malam. Tidur dan istirahat saja. Besok pagi kita cari makan. Lagi pula perjalanan kita masih jauh.” kata Rudi.
Semua menuruti kata Rudi. Mereka tidur di atas tanah itu sambil memikirkan apa nasib mereka selanjutnya. Sedangkan Rudi memikirkan Desi. Dengan hilangnya Desi maka persaingannya dengan Krisna semakin meragukan. Dalam hati Rudi berdoa supaya yang akan terjadi adalah yang terbaik baginya.
__ADS_1
Rudi merebahkan tubuhnya kembali. Kini ia teringat Jeny. Ia ingin tahu bagaimana kabar Jeny. Ia merenungi cintanya itu. Rudi benar-benar mencintai Jeny. Tapi ia juga kecewa karena kisahnya berakhir menjadi seperti ini. Sebenarnya Rudi tidak mau menyakiti Krisna. Tapi cintanya dengan Jeny membuatnya begitu.
“Apakah Krisna mau memaafkanku?” gumam Rudi.
Ia kembali menjelajahi ingatannya. Terakhir kali ia melihat Jeny, Jeny begitu muram melihatnya Jeny juga tidak memberikan senyum seperti biasanya.
Rudi kembali mengingat-ingat wajah Jeny. Kini ia merasa bersalah. Jeny berada jauh darinya di saat mereka sama-sama ada di hutan yang jahat ini. Saat Rudi melihat tubuh Jeny sangat lemas. Mungkinkah Jeny tidak makan? Lalu bagaimana kalau dia pingsan? Apakah Krisna akan menolongnya?
Rudi bertanya-tanya dalam hati. Tapi pertanyaan yang paling membuat Rudi takut ialah sampai kapan Krisna dapat dibohongi. Terlebih lagi ada teman mereka yang tahu hubungannya dengan Jeny.
Kini Rudi sendiri yang tidak bisa tidur. Pikirannya dihantui kebohongan yang lambat laun akan terbongkar. Rudi pun mulai memikirkan bagaimana jika itu semua terjadi. Ia memegang kepalanya karena pusing dan kemudian memiringkan tubuhnya ke arah kanan.
Rudi melihat anggota regunya yang tertidur karena sangat capek. Namun di dalam tidur mereka masih tetap merasakan menderita. Rudi melihat dari mereka memegangi perut dan ada beberapa yang memegangi leher. Ada beberapa luka di masing-masing tubuh mereka. Satu hari ini mereka sangat bekerja keras untuk menuruti keinginan Rudi.
Rudi mengebalikan tubuhnya dan memandang langit. Ia merentangkan kedua tangan dan kakinya. Kemudian ia menarik napas perlahan dan mengeluarkannya beberapa saat selanjutnya. Rudi kecewa dengan dirinya sendiri. Ia tidak bisa menjadi seorang leader yang baik untuk regunya. Bahkan untuk menunjukkan cintanya pun ia harus mengarungi kebohongan.
Rudi melamun di tengah kesunyian malam itu. Hanya suara jangkrik dan burung malam yang menemaninya. Perlahan Rudi memejamkan matanya dan mencoba untuk bermimpi.
***
Krisna melihat jam tangannya masih pukul 02.00. Ia bangkit dari tidurnya. Ia memandang sekeliling. Ia melihat Irwan sedang duduk di dekat api unggun. Nyala api itu sudah mengecil dan dengan segera Irwan menambah kayu. Sedangkan anggota regunya yang lain masih tertidur pulas.
“Kamu bagian jaga?” tanya Krisna mendekati Irwan.
“Kamu capek? Biar kakak yang gantikan.” kata Krisna.
“Nggak usah kak. Habis ini aku bangunkan Erik. Dia tugas habis aku sampai pagi.” kata Irwan tersenyum.
“Ya sudah kakak temenin kamu aja. Kamu masih semangat? Apakah kamu bahagia?” tanya Krisna.
“Ah kakak mirip senior aja. Aku juga ditanya gitu kak. Aku masih menikmati ini kak.” kata Irwan tertawa.
Krisna tersenyum. Ia memandang sisa pisang yang hanya tinggal satu sisir.
“Kamu udah kenyang?” tanya Krisna.
“Udah kak. Tapi ada yang aneh setelah aku makan pisang bakar itu.” kata Irwan mengernyitkan kening.
“Aneh gimana? Perut kamu sakit?” Krisna heran.
“Bukannya sakit kak. Aku juga nggak ngrasain tanda-tanda keracunan,,,” belum selesai Irwan menjelaskan tiba-tiba muncul bunyi aneh dan bau mulai menyebar.
__ADS_1
“Nah, itu dia masalahnya kak.” kata Irwan tertawa. Krisna menutup hidungnya.
“Baunya minta ampun.” kata Krisna. Irwan dengan segera meminta maaf.
“Maaf kak. Itulah masalahnya. Kira-kira 3 jam setelah makan pisang bakar itu aku mulai kentut terus kak dan baunya itu lho aku nggak betah sendiri.” kata Irwan menjelaskan.
Krisna menggelengkan kepalanya. Sebenarnya kalau dari awal ragunya sudah kompak, mungkin akan lebih bahagia lagi. Krisna kembali mengingat kemarin.
“Lalu bagaimana dengan Aldi dan Erik?” tanya Krisna.
“Aku nggak tahu kak. Saat aku mulai kentut mereka sudah tertidur pulas. Aku nggak mau bangunkan mereka hanya tanya soal kentut.” kata Irwan.
“Kalau mereka jadi suka kentut kayak kamu, bisa gawat nanti. Bisa-bisa satu regu pingsan semua. Dah gitu kamu mau buat restoran, mau jadi apa coba pelanggan kamu?” kata Krisna sambil tertawa. Irwan ikut tertawa.
Setengah jam berlalu. Irwan mendekati Erik dan membangunkannya. Erik bangun dari tidurnya dan berdiri. Irwan segera merebahkan tubuhnya. Erik melangkah mendekati Krisna. Baru beberapa meter ia berjalan, Irwan sudah terdengar ngorok. Erik tertawa sendiri.
“Dasar anak kerbau.” gumam Erik sambil tetap tertawa. Erik duduk di dekat Krisna.
“Irwan sepertinya capek sekali.” kata Krisna.
“Iya kak. Tapi ngoroknya itu kak bisa ganggu orang lain.” kata Erik tersenyum.
Tiba-tiba terdengar suara “Nduuuuuttt..”. Krisna menutup hidungnya. Erik kaget sekaligus malu.
“Erik?” Krisna heran.
“Maaf kak. Aku nggak sengaja.” kata Erik.
Beberapa saat kemudian Krisna membuka hidungnya. Krisna menjelaskan apa yang tadi Irwan ceritakan.
“Mungkin pisangnya belum matang kak. Pisang yang kami bakar kan kalau dimakan masih sepet.” kata Erik menganalisa.
“Gimana ini kak? Aku nggak mau kayak gini terus. Malu, dah gitu juga bau.” kata Erik risau.
“Aku juga nggak tahu obatnya.” kata Krisna sambil tertawa.
“Kakak malah tertawa bukannya bantu. Ntar kalau Jeny yang nyium baunya bisa-bisa aku di ceramahi sepanjang jalan.” kata Erik.
“Sabar ya Rik. Aku nggak tahu obatnya. Makanya kalau besok Irwan buat restoran pisang bakar, kamu jangan beli.” kata Krisna tertawa.
“Eh, tapi kalau pisangnya matang mungkin nggak kayak gini kak.” kata Erik.
__ADS_1
“Kamu masih belum nyesel?” tanya Krisna.
Erik menggelengkan kepala dan mereka tertawa bersama. Krisna menatap Erik dalam-dalam. Ia ingin sekali menanyakan bagaimana hubungannya dengan Friska.