CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN

CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN
Apakah Ini Rasanya Kehilangan?


__ADS_3

Apakah Ini Rasanya Kehilangan?


“Aku mau lihat Friska.” kata Krisna khawatir.


“Nggak usah! Kenapa sih kamu perhatian banget sama dia.” kata Jeny marah.


“Aku leader!” bentak Krisna.


“Aku nggak sempat mikirin cemburu kamu yang terlewat buta itu. Kamu memang cantik tapi kamu dibutakan dengan cemburu yang tak beradab itu.” kata Krisna berlari menuju sungai.


Krisna tidak peduli dengan Jeny yang semakin lama semakin kurang ajar itu. Jeny duduk di dekat tenda cewek. Irwan dan Aldi pun duduk di dekat Jeny.


“Sabar ya Jen.” kata Aldi.


Sedangkan Erik berdiri bingung. Ia sudah tahu semuanya sekarang. Tapi ia bingung kalau mengatakan semua itu malah akan memperburuk suasana. Ia tahu sebenarnya Jeny benar-benar cewek yang jahat. Tapi untuk saat ini situasi ini akan lebih memburuk jika ia mengatakan semuanya.


Erik berjalan kesana kemari seperti orang bingung.


“Kamu kenapa?” tanya Aldi.


“Aku khawatir dengan Friska.” kata Erik.


“Tadi kak Krisna sekarang kamu. Atau jangan-jangan kamu suka sama Friska?” tanya Irwan.


“Kamu jangan asal nuduh. Aku hanya menganggap dia teman.” kata Erik membela diri.


“Lalu kenapa kamu ikut mikirin dia? Mikirin diri kamu sendiri aja belum beres udah mikirin orang lain.” kata Jeny sinis.


Erik mengarahkan pandangan tajam ke arah Jeny. Dalam hati ia sangat marah dengan Jeny.


“Bisa nggak kalian tidak mikirin diri sendiri. Kalian ngak kasihan sama Friska? Kita dalam Cintalindo ini adalah keluarga.” kata Erik.


Mereka semua diam. Erik meilihat jam tangannya sudah setengah enam. Matahari pun mulai tenggelam dan udara pun mulai dingin. Tapi Friska dan Krisna tidak juga datang.

__ADS_1


“Aku mau nyusul Kak Krisna. Kalian disini jaga Jeny.” kata Erik. Aldi, Jeny dan Irwan pun terdiam.


Erik pergi ke arah sungai dengan membawa senter. Irwan beranjak menyiapkan api unggun dibantu oleh Aldi.


***


Krisna berlari ke sungai. Ia merasa sangat khawatir dengan keadaan Friska. Ia sadar ia belum pernah merasakan hal seperti itu. Ia panik dan ingin berlari secepatnya mencari Friska. Ia tidak mau terjadi apa-apa terhadap Friska. Sebenarnya ia mengakui kalau perhatiannya kali ini lebih dari perhatian seorang leader. Jantung Krisna berdebar-debar. Ia berlari lebih cepat.


“Ini semua tanggung jawabku. Kenapa semua jadi seperti ini.” Krisna berbicara sendiri.


Sedangkan Friska sedang berjuang. Friska merasa bersyukur karena refleknya tadi cukup cepat sehingga ia bisa berpegangan di sebuah batang pohon yang tidak terlalu besar. Ia mengatur napas dan kepanikannya. Ia berusaha meraih beberapa rerumputan yang ada di sekitarnya.


Friska memandang ke bawah, tapi dasar dari tebing itu tidak kelihatan. Tangannya tidak lagi kuat untuk berpegangan pada batang tumbuhan dan rumput itu. Tanah pada tebing itu pun mulai berguguran. Friska berusaha memanjat tapi gagal karena tanah yang diinjaknya gugur ke bawah. Friska tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Ia pasrah dengan apa yang akan terjadi.


Ia melepaskan topi dengan tangan kirinya dan melempar topi itu ke atas. Ia hanya ingin memberi tanda kalau ada yang mencarinya. Namun ia juga tidak banyak berharap kalau ada yang akan mencarinya. Friska tidak tahu apakah ada yang peduli dengannya.


Friska terlalu sadar akan dirinya yang tak pernah terlihat baik di depan teman-teman kelompoknya. Ia bahkan tidak yakin akan ada yang menolongnya. Sekilah ia masih terbayang-bayang semua perlakuan yang ia terima selama ini. Ia menghela napas, memejamkan mata dan berdoa.


Sesaat kemudian Friska menjerit keras. Tanah yang ia pegang gugur ke bawah dan batang yang ia pegang tak lagi mampu menahan berat badannya. Krisna berlari semakin kencang mendengar suara yang ia kenal itu. Tiba-tiba Krisna berteriak


“Friska!” teriak Krisna.


Krisna melihat topi Friska di dekat jalan yang tanahnya runtuh ke bawah. Ia mendekati tebing itu. Hatinya lega saat Friska masih berpegangan pada akar pohon yang ada jurang itu.


“Bertahan aku akan menolongmu.” kata Krisna.


“Nggak usah. Ngapain kamu repot-repot nolong aku?” tanya Friska dingin.


“Aku khawatir denganmu.” kata Krisna mencoba menggapai tangan Friska.


“Karena kamu leader, kamu nyoba memperhatikanku?” tanya Friska.


“Tidak hanya itu. Aku sayang kamu.” kata Krisna.

__ADS_1


“Karena dalam satu kelompok kita semua keluarga. Apalagi di saat kita berada di alam bebas ini.” Krisna cepat-cepat menambahkan kata-katanya.


Krisna tidak tahu kenapa lidahnya begitu mudah mengucapkan kata sayang. Krisna juga tidak tahu kapan ia merancang kata-kata itu untuk dikeluarkan melalui mulutnya. Hati Friska sangat gembira mendengar kata-kata itu. Tapi ia kebenciannya pada Krisna muncul dan memimpin perasaan dalam dirinya.


“Aku nggak butuh kebohongan. Kamu juga termasuk orang yang sering memojokkanku. Saat kamu bersama Rudi, kamu tidak membelaku. Saat Jeny menamparku bahkan sampai dua kali kamu juga biasa aja. Hatiku sakit. Tidakkah kamu tahu apa rasanya sakit hati saat kita dihina, dicaci maki dan disakiti dengan kekarasan.” kata Friska sambil menangis.


Krisna telah berhasil menggapai tangan Friska. Ia menunduk karena merasa bersalah membiarkan Friska begitu menderita seperti itu. Dalam hati Krisna merasa iba dan semakin bertanya-tanya, apa yang membuat hati Friska serapuh ini.


“Aku akan menyelamatkanmu.” kata Krisna.


Tapi Friska menggelengkan kepala.


“Sudah cukup aku merasakan rasa sakit yang selama ini diberikan untukku. Aku tidak butuh belas kasihanmu.” kata Friska.


“Fris! Dengarkan aku!” kata Krisna memasang muka serius.


Namun Friska tidak menghiraukannya lagi. Ia melepaskan tangannya dan jatuh ke bawah.


“Friska!” teriak Krisna sangat keras.


Saat itu Krisna tak lagi bisa melihat wajah Friska. Yang ia lihat hanyalah kegelapan malam itu. Ia bingung ketika merasakan sakit yang teramat sangat di hatinya. Ia seperti kehilangan sesuatu yang berharga. Tanpa disadari Krisna menjatuhkan air mata.


Apakah ini yang sering disebut kehilangan? Seperti inikah? Rasanya aku belum siap merasakan kehilangan ini. Friska, kenapa kamu begitu nekad? Apa kamu dendam padaku? Krisna bertanya-tanya dalam hati.


Seketika tubuh Krisna lemas dan lunglai. Ia bersandar di salah satu batah pohon. Diam. Melihat gelapnya malam yang membuat hatinya semakin kosong dan merasa kehilangan.


“Arrrggghhhh!!!” teriak Krisna.


Ia merasa begitu bodoh. Semua tanggung jawabnya tapi malah semuanya kacau. Krisna memegangi kepalanya. Ia merasa gagal atas semua yang terjadi. Bahkan sebagai leader, ia gagal membuat kelompoknya kompak. Ia menyesal telah mencampur urusan pribadinya di tengah perjalanan ini.


“Friska!!!” teriak Krisna sekuat tenaga.


Tidak ada yang menyahut dari bawah jurang. Krisna semakin panik. Ia terus menerus berteriak memanggil nama Friska. Namun, tak ada jawaban. Baru kali ini Krisna merasakan kehilangan seseorang. Hatinya begitu sedih dan ia tidak bisa berpikir jernih lagi.

__ADS_1


__ADS_2