CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN

CINTAKU TERBELENGGU KEBOHONGAN
Kejahatan Jeny


__ADS_3

Kejahatan Jeny


Mereka menyusuri sungai dan kemudian mereka menaiki tangga lagi tapi kali ini tangga masih berasal dari tanah. Sampai di atas mereka melihat air terjun lagi yang lebih panjang dari yang tadi ditemui. Di sana sepi, jarang orang yang menikmti air terjun ini karena sangat jauh dari tempat parkir yang ada di bawah sana.


Mereka tidak berhenti untuk istirahat lagi. Mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 16.30. Mereka terus berjalan. Kini jalan yang mereka lewati bukanlah jalan yang umumnya dilewati orang pada umumnya. Mereka menerobos semak-semak yang ada di hutan. Krisna memimpin di depan dan Jeny terus menggandengnya. Akibatnya jalan Krisna sedikit kesulitan.


“Bisa nggak kamu jauh dari aku?” tanya Krisna sebel.


“Nggak.” jawab Jeny singkat.


Beberapa saat kemudian mereka tiba di tempat yang cukup lapang untuk berkemah mengingat waktu sudah pukul 16.45. Tempat itu tidak jauh dari sungai. Selain tempatnya juga tidak banyak semak-semak.


“Kita dirikan tenda di sini. Cowok mendirikan tenda dan cewek memasak.” kata Krisna memerintah. Erik, Aldi, dan Irwan membantu Krisna memasang tenda. Sedangkan Jeny dan Friska memasak dengan bahan seadanya.


Mereka hanya bisa memasak satu kali dan malam itu mereka makan nasi untuk terakhir kalinya. Selanjutnya mereka akan survival di alam. Friska menyalakan api di tungku yang dibuat dari batu. Kemudian ia menaruh panci di atasnya.


Jeny hanya melihat Friska. Ia tidak mau membantunya. Friska berdiri dan memetik daun pisang untuk makan nanti.


Nasi matang pukul 17.15. Sedangkan tenda belum jadi. Friska membantu mereka mendirikan tenda sedangkan Jeny hanya duduk. Jeny tengah bingung karena nanti harus makan dengan garam.


Mereka hanya berbekal garam untuk lauk. Jeny belum pernah melakukan itu sebelumnya. Jeny duduk termangu bingung apa yang harus dimakannya.


Beberapa saat kemudian dua tenda telah berdiri manis di dekat tempat memasak. Mereka duduk melingkar dan bersiap untuk makan. Friska hendak memotong-motong daun pisang tapi Krisna melarangnya.


“Dulu saat aku seperti kalian, satu regu makan bersama dalam satu wadah. Udah Fris, itu daun taruh tengah dan nasinya kita makan bersama-sama.” kata Krisna.


“Ih jijik banget sih aturannya.” kata Jeny tidak mau.


“Ya emang gitu kok Jen.” kata Erik.


“Kalian belum tahu ya, kalau makan bersama seperti itu merupakan adat anggota Cintalindo. Hal tersebut agar kita lebih akrab, karena sesama anggota adalah keluarga.” kata Krisna.


“Ayo kita mulai makan.” kata Aldi bersemangat.


“Aku udah lapar banget.” kata Irwan.


Aldi dan Irwan memang paling suka makan dan mereka paling rakus. Friska dan Erik ikut makan. Kini Friska dan Erik mulai akrab. Entah kenapa Erik tidak lagi begitu simpati dengan Jeny. Krisna memperhatikan Erik yang mengajak Friska ngobrol.

__ADS_1


Mereka berdua tertawa bersama. Entah kenapa hati Krisna merasa iri. Ia merasa ingin seperti Erik yang bisa tertawa bersama Friska.


“Rasa apa ini?” tanya Krisna dalam hati.


Di sisi lain ia melihat Jeny. Ia tidak mau makan.


“Kenapa kamu nggak makan. Besok kita sudah tidak bisa makan nasi lagi. Ini kesempatan terakhir kamu.” kata Krisna.


“Aku jijik.” kata Jeny sinis.


“Ayo Jen, makan. Besok kita makan rumput.” kata Aldi sambil tertawa.


“Jeny, ayo makan. Kalau kamu sakit, kamu nggak bisa melanjutkan perjalanan.” kata Krisna lembut.


“Aku mau akan kalau kamu nyuapin aku.” kata Jeny manja.


“Satu kali aja.” kata Krisna datar.


Kemudian ia menyuapi Jeny dan Jeny memakan nasi dengan enggan. Krisna kembali memupuk kebohongannya dengan memperlakukan Jeny seperti pacar yang benar-benar ia cintai. Padahal semua yang ia lakukan hanya bohong.


Setelah makan selesai. Mereka duduk beristirahat sebentar.


“Friska sama Jeny nyuci alat masak tadi dan Erik sama Irwan cari kayu bakar untuk api unggun nanti malam.” kata Krisna.


“Aku gimana?” tanya Aldi.


“Kamu disini jaga tenda sama aku.” kata Krisna.


Mereka kemudian melakukan tugas masing-masing. Friska bersama Jeny menuju sungai yang ada di bawah terpat mereka berkemah sedangkan Erik dan Irwan berpencar mencari kayu bakar.


***


Jeny da Friska belum akrab sedikit pun. Mereka berjalan depan belakang.


“Kamu lihat aku sama Rudi?” tanya Jeny.


“Iya. Bahkan aku lihat kamu meluk Rudi.” kata Friska datar.

__ADS_1


“Lalu kamu bilang sama Krisna?” tanya Jeny penasaran.


“Tidak. Aku nggak mau ikut campur. Kebohongan pasti akan terbongkar dengan sendirinya.” jawab Friska tenang.


Tiba-tiba ada suara ranting yang diinjak. Erik mendengarkan pembicaraan mereka. Jeny melihat sekeliling. Dengan perlahan Erik pun menjauh dari tempat mereka berdua. Erik kini sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Jeny dan Rudi.


Rasa kagumnya untuk Jeny kini hilanglah sudah. Erik bergegas mencari kayu bakar dan ingin segera kembali ke tempat berkemah untuk menyampaikan semua itu pada Krisna.


Putus asa mencari asal suara tadi Jeny meneruskan langkahnya mengikuti Friska. Mereka berdua diam. Tapi dalam hati Jeny masih menyimpan sebongkah dendam untuk Friska. Ia memandang sekeliling yang ternyata sangat sepi.


Tiba-tiba niat jahatnya muncul. Ia menganggap Friska merupakan ancaman untuk dirinya. Menurut Jeny Friska bisa saja membongkar rahasianya sewaktu-waktu. Padahal ia baru saja jadian dengan Rudi.


Jeny berniat membuat Friska kapok dan tidak berani mengganggunya. Jeny kembali memandang sekeliling. Setelah ia pastikan tidak ada orang yang melihatnya, niat jahatnya semakin menguasai dirinya.


Jeny mendorong Friska ke tebing di sisi kiri mereka. Tebing itu mengarah lurus dengan batuan di sungai bawahnya. Friska menjerit dan panci yang dibawanya jatuh ke sungai. Tapi tangan Friska masih berpeganggan badan jalan yang ia lewati tadi.


Sedangkan Jeny berlari kembali ke tenda. Ia tidak menghiraukan apa yang akan terjadi dengan Friska. Sambil berlari Jeny mengusap keringat yang sangat banyak di wajahnya. Ia ingin berlari secepat mungkin agar tidak ada yang tahu kelakuannya itu. Saat hampir sampai ke tenda, Jeny mengatur langkahnya agar tidak seperti orang berlari.


Sampai di tenda ternyata semua telah menunggu Jeny dan Friska. Saat Jeny datang sendiri Krisna heran.


“Mana Friska?” tanya Krisna.


“Lagi nyuci di bawah. Kata dia aku suruh kembali aja.” kata Jeny berbohong.


“Tapi tadi kita dengar cewek menjerit?” kata Erik.


“Oh itu. Tadi aku hampir kepleset di sungai. Batunya berlumut dan licin.” kata Jeny berbohong.


Erik memandangi Jeny dalam-dalam. Ia tak pernah menyangka kalau cewek yang ia kagumi karena kecantikannya itu memiliki kelakuan yang tidak baik. Ia menyesali apa yang pernah ia rasakan itu.


“Al, menurutmu, Jeny benar-benar cinta dengan Krisna nggak?” bisik Erik ke Aldi.


“Kalau menurutku sih iya. Cuma Jeny itu agak manja. Maklum lah anak orang kaya juga.” kata Aldi enteng.


Erik terdiam. Memang Jeny pandai bersandiwara. Buktinya ia sendiri pernah terperdaya oleh senyum manisnya.


“Aku nggak mau ikut campur.” gumam Erik lirih.

__ADS_1


__ADS_2